Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Menjadi seorang musisi maupun penikmat musik di era digital sekarang pasti mendapatkan banyak manfaat. Beberapa manfaat itu antara lain arus informasi terbaru tentang musik yang cepat diterima dalam hitungan jam bahkan detik di genggaman smartphone. Cara-cara mendengarkan musik terbaru pun semakin mudah dengan semakin menjamurnya kebiasaan streaming yang didukung oleh faktor koneksi internet yang lebih cepat dibandingkan lima hingga sepuluh tahun yang lalu.

Kemudahan arus informasi yang semakin meningkatkan kebutuhan informasi yang aktual juga membawa musisi untuk lebih mudah mempromosikan bahkan memasarkan musiknya sampai ke pendengarnya melalui media sosial dan platform digital yang berbagai macam bentuknya. Sehingga ketergantungan musisi terhadap cara-cara promosi konvensional yang lihai dikuasai oleh major label mulai berkurang seiring kemudahan berpromosi melalui internet.

Tetapi, berpromosi dan memasarkan musik juga tidak bisa dibilang mudah untuk musisi independen jika tidak punya metode dan taktik yang benar dalam menyampaikan karyanya sampai ke pendengar yang lebih luas, kecuali jika kamu memang tidak peduli karyamu mau didengar atau tidak. Musisi independen yang bisa melihat banyakpeluang dalam mempromosikan karya musiknya dengan baik, diyakini bisa sukses bersiasat dengan bisnis musik yang penuh persaingan di era digital.

Beberapa musisi yang sukses mempromosikan karyanya pada umumnya memiliki kiat tersendiri tentang bertahan dan menghadapi  bisnis musik di era digital ini. Salah satunya dengan berbagi kisah sukses tentang cara mempromosikan musik di era digital yang sempat saya simak ketika menghadiri sebuah talkshow bertajuk Rolling Stone MusicBiz on Campus yang mengangkat tema “Bagaimana Membangun Karier Musik di Industri Musik Era Digital?” yang digelar oleh Rolling Stone bersama Langit Musik dan Telkomsel Digital Lifestyle serta BEM Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin di Auditorium Prof. A. Amiruddin.

Acara bincang-bincang musik yang digelar pada Rabu (8/4) lalu ini menghadirkan salah satu penyanyi jelita kebanggaan Indonesia, Astrid Basjar yang akrab disapa Astrid serta Barry Likumahuwa, salah satu bassis jagoan yang banyak menjadi referensi bassis belia di Indonesia. Tidak lupa pula perwakilan dari Langit Musik yaitu Tengku Ferdi Ferdian yang juga merupakan General Manager Music & Video Telkomsel bersama Agus Mulyadi yang merupakan Vice President Sales and Marketing Telkomsel Area Pamasuka. Selain itu, suguhan musik yang luar biasa bakal ditampilkan oleh salah satu grup folk favorit saya dari Makassar, Theory of Discoustic.

Acara ini pun semakin terasa istimewa karena dipandu langsung oleh salah satu jurnalis musik yang seringkali saya baca ulasannya di majalah Rolling Stone Indonesia yakni Wendi Putranto, yang merupakan Executive Editor RollingStone Indonesia. Wendi pun membuka acara Rolling Stone Music Biz on Campus sekitar pukul 14.00 WITA dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan sedikit tentang tema bincang-bincang di panggung talkshow.

ok revius 01

Acara bincang-bincang RollingStone Musicbiz on Campus ini dipandu langsung oleh Wendi Putranto yang merupakan representatif dari Rolling Stone Indonesia.

Audiens yang hadir ketika Wendi membuka acara pun mulai ramai masuk ke dalam auditorium. Rata-rata audiens yang datang merupakan mahasiswa dari Universitas Hasanuddin dan beberapa musisi indie Makassar yang saya kenal. Antusiasme pun semakin tinggi ketika Wendi mempersilahkan para pembicara untuk hadir satu per satu dalam panggung talkshow.

Audiens yang hadir ketika Wendi membuka acara pun mulai ramai masuk ke dalam auditorium. Rata-rata audiens yang datang merupakan mahasiswa dari Universitas Hasanuddin dan beberapa musisi indie Makassar yang saya kenal.

Audiens yang hadir ketika Wendi membuka acara pun mulai ramai masuk ke dalam auditorium. Rata-rata audiens yang datang merupakan mahasiswa dari Universitas Hasanuddin dan beberapa musisi indie Makassar yang saya kenal.

Astrid serta Barry Likumahuwa yang merupakan musisi yang banyak mengecap asam garam bisnis musik di Indonesia berbicara tentang pentingnya para musisi untuk peduli tentang bagaimana mereka bisa mempromosikan karyanya melalui jaringan digital. Menurut Astrid, royalti dari ring back tone (RBT) juga banyak membantunya menerima pendapatan untuk bisa lebih banyak berkarya. Selain itu, Astrid berpesan untuk semakin melek industri musik, maka kita dituntut untuk tidak berhenti belajar, terlebih teknologi terus berkembang untuk melahirkan era musik digital.

Barry pun menambahkan juga sebaiknya para musisi harus bisa beradaptasi dengan cepat perkembangan teknologi di era digital, salah satunya dengan penjualan musik di platform layanan musik berbayar yang sudah banyak tersedia agar bisa mendapatkan pendapatan yang menunjangnya sebagai musisi.

Astrid serta Barry Likumahuwa yang merupakan musisi yang sbanyak mengecap asam garam bisnis musik di Indonesia pun mulai berbicara tentang pentingnya para musisi untuk peduli tentang bagaimana mereka bisa mempromosikan karyanya melalui jaringan digital.

Astrid serta Barry Likumahuwa yang merupakan musisi yang banyak mengecap asam garam bisnis musik di Indonesia pun mulai berbicara tentang pentingnya para musisi untuk peduli tentang bagaimana mereka bisa mempromosikan karyanya melalui jaringan digital.

Langit Musik dari Telkomsel yang merupakan salah satu platform musik digital berbayar yang ada di Indonesia bisa menjadi pilihan utama bagi musisi Indonesia dalam mempromosikan karyanya. Tengku Ferdi dari Langit Musik pun menjelaskan lebih dalam jika di Langit Musik ada tiga konten musik yaitu NSP (dibayar berwaktu), MP3 (download dan dinikmati), serta streaming lagu secara legal dari Telkomsel. Selain itu ada program My NSP, siapa saja bisa bikin NSP pribadi dan bisa diunduh di situs Langit Musik. Jika beruntung dan diminati banyak pengguna, para musisi bisa mendapatkan pendapatan yang lumayan menurutnya.

Ferdi pun menambahkan bahwa dari sesi bincang-bincang ini Langit Musik bisa memotivasi para musisi maupun pendengar musik di Makassar untuk lebih percaya diri membuat karya lebih kreatif serta saling mendukung melalui layanan musik resmi demi kemajuan industri musik Indonesia. “Kami dari Langit Musik ingin berbagi tentang perkembangan digital musik saat ini. Jadi kami menghadirkan musisi secara langsung untuk berbagi pengalaman menggunakan promosi di era digital dan sejauh mana tren ini bisa membantu,” ujarnya sebelum memasuki sesi pertanyaan.

Barry pun menambahkan juga sebaiknya para musisi harus bisa beradaptasi dengan cepat perkembangan teknologi di era digital, salah satunya dengan penjualan musik di platform layanan musik berbayar yang sudah banyak tersedia agar bisa mendapatkan pendapatan yang menunjangnya sebagai musisi.

Barry pun menambahkan juga sebaiknya para musisi harus bisa beradaptasi dengan cepat perkembangan teknologi di era digital, salah satunya dengan penjualan musik di platform layanan musik berbayar yang sudah banyak tersedia agar bisa mendapatkan pendapatan yang menunjangnya sebagai musisi.

Sesi pertanyaan yang menghadirkan lima penanya pun cukup disambut antusias oleh para audiens. Walaupun saya tidak terlalu menyimak pertanyaannya, beberapa ada yang bertanya tentang kiat-kiat untuk menghadapi kendala dalam bisnis musik sampai pertanyaan tentang pendapat para pembicara untuk tetap mau bersentuhan dengan cara promosi konvensional seperti rilisan fisik di era digital ini.

Pertanyaan yang terkait dengan cara promosi konvensional pun dijawab Barry Likumahuwa dengan jawaban yang cukup tegas. Barry merasa karena musisi sudah hidup di era digital, mau tidak mau harus bisa mengkonversi karyanya ke dalam bentuk digital yang notabene bisa didapatkan dengan mudah oleh publik sekarang. Tapi rilisan fisik yang berasal era analog jangan sampai ditinggalkan begitu saja. Dua cara tersebut harus saling bersinergi satu sama lain jika musisi mau mendapatkan manfaat yang banyak dari promosi karyanya.

Saya pun sempat bertanya kepada Langit Musik tentang seberapa fleksibel untuk platform musik digital berbayar ini bisa diakses oleh musisi lokal dan apa kontribusinya untuk pembangunan scene musik lokal. Ferdi pun menjawab jika Langit Musik dari Telkomsel mengajak kepada seluruh musisi kreatif untuk berkreasi termasuk membuat NSP yang tentunya memberikan benefit yang sangat menjanjikan. Pembagian royalti terhadap NSP yang dihasilkan menjadi hak  pencipta NSP sepenuhnya.

Selepas sesi pertanyaan yang cukup panjang memakan waktu kurang lebih satu jam, Wendi sebagai pemandu acara juga mengadakan kuis serta menyampaikan program Rolling Stone dari yaitu program Gerakan 1000 Gitar untuk anak-anak usia dini di Indonesia dengan membagikan 1000 gitar akustik. Penyerahan secara simbolis pun dilakukan di atas panggung talkshow.

Wendi sebagai pemandu acara juga mengadakan kuis serta menyampaikan program Rolling Stone dari yaitu program Gerakan 1000 Gitar untuk anak-anak usia dini di Indonesia dengan membagikan 1000 gitar akustik. Penyerahan secara simbolis pun dilakukan di atas panggung talkshow.

Wendi sebagai pemandu acara juga mengadakan kuis serta menyampaikan program Rolling Stone dari yaitu program Gerakan 1000 Gitar untuk anak-anak usia dini di Indonesia dengan membagikan 1000 gitar akustik. Penyerahan secara simbolis pun dilakukan di atas panggung talkshow.

Theory of Discoustic yang didaulat untuk menutup acara, tampil setelah sesi bincang-bincang selesai. Mereka mempersiapkan lima lagu untuk set list hari itu yakni “Satu Haluan”, “Negeri Sedarah”,”Alkisah”, “Teras Khayal” dan “Lengkara”. Sayangnya, penampilan mereka yang memukau itu tidak dibarengi antusiasme penonton untuk tetap tinggal duduk di bangkunya. Satu per satu penonton yang rata-rata mahasiswa ini pulang meninggalkan auditorium. Aneh tapi nyata memang. Mungkin saja karena mereka masih merasa asing dengan musik yang disuguhkan oleh Theory of Discoustic.

Theory of Discoustic yang didaulat untuk menutup acara, pun tampil setelah sesi bincang-bincang selesai yang sayang tidak dibarengi antusiasme penonton untuk tetap tinggal di bangkunya.

Theory of Discoustic yang didaulat untuk menutup acara, pun tampil setelah sesi bincang-bincang selesai yang sayang tidak dibarengi antusiasme penonton untuk tetap tinggal di bangkunya.

Selepas mengikuti acara yang cukup memberi banyak inspirasi ini, saya masih melihat banyak celah yang perlu dievaluasi oleh penyelenggara untuk helatan bincang-bincang musik seperti ini. Yang pertama, bincang-bincang musik seperti ini memiliki tema yang cukup luas untuk dihadirkan dalam sebuah sesi bincang satu hari saja. Perbincangan soal musik ini tidak bisa langsung dihadirkan dalam ruang sekali jadi, tapi perlu disosialisasikan melalui focus discussion group (FGD) beberapa hari sebelumnya jika perlu, agar teman-teman musisi dan mahasiswa yang belum paham betul apa sebenarnya yang dihadapi oleh bisnis musik di era digital bisa mengerti secara garis besarnya.

Terkait jadwal penampilan Theory of Discoustic, saya cukup menyayangkan mereka tampil setelah para pembicara selesai dengan sesinya yang berdampak pada penonton akhirnya satu per satu beranjak pulang. Sebaiknya penampilan mereka bisa disuguhkan di sela-sela sesi acara bincang-bincang diskusi agar baik pembicara dan penonton tidak cepat merasa jenuh untuk suasana bincang-bincang formal ini. Selain penonton terhibur dan tidak lekas jenuh, mereka juga dapat referensi musik baru dari Theory Of Discoustic, kan?

Selain itu, acara bincang musik seperti ini memang perlu diadakan secara konsisten dan memiliki tema yang beragam di Makassar. Saya berharap teman-teman musisi Makassar juga punya waktu luang untuk membuat sesi bincang semacam ini agar kita bisa saling berbagi tips dan trik dalam bersiasat dengan perkembangan teknologi di era digital ini. Ewako!

“Bisnis musik adalah bisnis yang keras, dan orang-orang sangat serius mendapat kembali modal yang mereka keluarkan. Kamu merugikan dirimu sendiri bila tidak menghormati fakta bahwa ini adalah bisnis, karena kamu lalu mengira semua orang di sekitarmu adalah “teman”. Kadang mereka memang teman-temanmu, namun yang paling sering terjadi adalah bisnis yang berbicara–dan bila kamu tidak menghasilkan uang bagi mereka, kamu akan ditendang!” -Tori Amos


 Baca tulisan lainnya dari Achmad Nirwan

Pesta dan Ska Sehari Penuh Sukacita!

Mengarungi Semesta Musik Alif Naaba

Hanya Ada Satu Kata untuk Korupsi: Lawan!

Vakansi Akhir Pekan untuk Pelestarian Hutan

Menyatukan Musik Pop dengan Bebunyian Loop

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise