Anti-Corruption Film Festival—disingkat ACFFest—kembali digelar tahun ini setelah sukses pada helatan pertamanya di tahun 2013. Pada hari Sabtu (20/9) lalu, Anti-Corruption Film Festival menggelar “Movie Day” berupa pemutaran film anti-korupsi dan sosialisasi tentang pendaftaran ACFFest 2014 di Gedung MULO Makassar. Berikut penuturan Achmad Nirwan tentang suasana ”Movie Day” ACFFest 2014 di Makassar ini.

Terlihat sekumpulan anak SD di sebuah desa berada di garis start. Tampaknya mereka sedang mengambil ancang-ancang untuk berlari dalam sebuah lomba.  Lomba lari ini diadakan di sekolah dengan hadiah utama sebuah sepeda. Supri, Yua dan Tri, yang menjadi tokoh utamanya dalam lomba lari itu, berniat memiliki sepeda tersebut dengan caranya masing-masing. Saat peluit tanda lari dibunyikan,  ternyata tidak semuanya berlari dengan jujur seperti yang diharapkan.

Ada-ada saja yang berbuat curang, seperti membonceng sepeda orang tuanya menuju garis finish setelah lelah berlari, ada orang tua peserta lari yang menyogok peserta lari lainnya dengan uang jajanan es dan sebagainya. Gelak tawa pun tidak bisa ditahan-tahan ketika guyonan dan mimik muka menggelitik perut dikeluarkan dari masing-masing tokoh. Akhir dari cerita, yang berlari dengan jujur adalah pemenangnya.

Film "Boncengan" yang mengundang gelak tawa sekaligus menggugah para penonton Movie Day ACFFest 2014 tentang bahaya korupsi sejak dini.

Film “Boncengan” yang mengundang gelak tawa sekaligus menggugah hati para penonton Movie Day ACFFest 2014 tentang bahaya korupsi sejak dini. (Foto: Achmad Nirwan)

Itulah sekelumit cerita fiksi dari film pendek “Boncengan” karya Senoaji Julius yang merupakan salah satu nominator film pendek dari Anti-Corruption Film Festival 2013. “Boncengan” merupakan salah satu film yang diputar pada gelaran “Movie Day” Anti-Corruption Film Festival 2014 di Gedung MULO Makassar, pada Sabtu (20/9) lalu. Film ini sempat saya saksikan bersama “Langkah Receh” dan “Jadi Jagoan A la Ahok” yang diputar pada hari itu juga.

"Jadi Jagoan A la Ahok" juga menjadi film yang diputar di Movie Day ACFFest 2014. (Foto: Achmad Nirwan)

“Jadi Jagoan A la Ahok” juga menjadi film yang diputar di Movie Day ACFFest 2014. (Foto: Achmad Nirwan)

“Movie Day” ini merupakan salah satu rangkaian sosialisasi untuk kompetisi film ACFFest 2014 yang telah dibuka dari 20 Mei lalu dan bakal berakhir masa pendaftarannya pada 31 Oktober nanti. Dengan mengusung tema “Face The Fact, Act Today!”, kompetisi film yang bakal dilombakan meliputi fiksi pendek, dokumenter pendek, animasi pendek dan video citizen journalism. Jadi, bagi siapa saja yang termasuk warga negara Indonesia berhak untuk ikut film festival ini tanpa terkecuali. Bagi pemenang film festival bakal diputar di malam puncak ACFFest 2014, 9 – 12 Desember di Yogyakarta.

"Face The Fact, Act Today!" jargon dari ACFFest 2014. (Foto: Achmad Nirwan)

“Face The Fact, Act Today!” slogan ACFFest 2014. (Foto: Achmad Nirwan)

Gelaran “Movie Day” ACFFest 2014 di Makassar dimulai jam 8 pagi —di mana saya datang sangat telat menjelang jam 12—diawali dengan talkshow tentang “Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi Melalui Media Film” yang turut dihadiri oleh ketua KPK Abraham Samad, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Nu’mang dan Blair A. King dari USAID Indonesia. Setelah talkshow tersebut, dilanjutkan sesi pemutaran film-film yang saya sebutkan di atas.

Ketua KPK, Abraham Samad diapit Agus Arifin Nu'mang, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan dan Blar A. KIng dari USAID Indonesia (Sumber: ACFFest)

Ketua KPK, Abraham Samad diapit Agus Arifin Nu’mang, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan dan Blair A. King dari USAID Indonesia saat menghadiri ACFFest 2014. (Sumber foto: @ACFFest)

Setelah gagal mengikuti talkshow pada pagi hari dan nyaris melewatkan pemutaran film, akhirnya dengan bantuan seorang teman, saya bisa bertemu dengan Blair A. King dari USAID (U.S. Agency for International Development) Indonesia. Di sela waktu istirahat dan makan siang, Blair pun berbincang singkat seputar diadakannya Anti-Corruption Film Festival ini.

Blair mengatakan kepada saya bahwa film festival ini merupakan bagian dari program USAID dengan pelaksananya dari Management System International (MSI) dan bermitra kerja dengan pihak pemerintah Indonesia yaitu KPK bertujuan untuk mencegah korupsi dan mewujudkan transparansi dan meningkatkan budaya akuntabilitas secara umum melalui film. Menurut Blair, pemerintah USA mempunyai prioritas dan tekad yang sama dengan pemerintah Indonesia untuk memberantas korupsi,  serta mewujudkan demokrasi dan tata cara pemerintah yang bebas korupsi.

Blair A. King dari USAID Indonesia yang berharap film menjadi sarana efektif untuk menyadarkan bahaya korupsi bagi masyarakat di kehidupan sehari-hari (Foto: Achmad Nirwan)

Blair A. King dari USAID Indonesia berharap film menjadi sarana efektif untuk menyadarkan bahaya korupsi bagi masyarakat di kehidupan sehari-hari (Foto: Achmad Nirwan)

Festival film ini diharapkan Blair bisa menggugah masyarakat tentang perilaku korupsi itu bisa saja berasal dari hal-hal kecil dan sepele setiap hari. Mulai dari korupsi waktu sampai yang paling parah, korupsi anggaran dana untuk masyarakat. Film-film yang diputar menurut Blair juga tidak muluk-muluk untuk menyadarkan dan bisa menggugah hati yang menontonnya, baik yang suka membuat korupsi apa saja, agar malu melihat perilakunya dan mau mengubah sifatnya.

Blair pun menambahkan, agar festival film ini tetap berlanjut di tahun-tahun yang mendatang. Karena itu pula kemitraan pemerintah Indonesia melalui KPK dengan USAID yang paling penting tetap berjalan agar pesan anti-korupsi bisa menyebar kemana-mana, hingga ke pelosok desa-desa se-antero Indonesia.

Terkait dengan gelaran “Movie Day” hari itu, ada pula workshop video citizen journalism setelah makan siang yang menghadirkan DoP (Director of Photography) kawakan asal Indonesia, German G. Mintapradja (@Gerry_DoP) dan Edwin Nazir (@edwinnazir) reporter yang cukup dikenal lewat layar kaca di RCTI dan Astro TV.

Workshop video Citizen Journalism ACFFest 2014 dengan German G. Mintapradja dan Edwin Nazir (Foto: Achmad Nirwan)

Workshop video Citizen Journalism ACFFest 2014 dengan German G. Mintapradja dan Edwin Nazir. (Foto: Achmad Nirwan)

“Esensi dari Citizen Journalism adalah kontrol sosial”, ujar Edwin Nazir ketika menitikberatkan bagaimana hakikatnya citizen journalism dalam menjalankan perannya mengabarkan kepada masyarakat. Edwin pun memberikan tips-tips tentang citizen journalism yang mudah dipahami oleh audiens.

Edwin Nazir menjelaskan tentang Citizen Journalism kepada audiens ACFFest 2014.

Edwin Nazir menjelaskan tentang Citizen Journalism kepada audiens ACFFest 2014.

“Don’t watch the film, but read the film!” sahut German G. Mintapradja tentang bagaimana cara pengambilan gambar yang bagus tanpa hanya melihat namun juga membaca situasinya. German yang memberikan materinya dengan pembawaan kocak cukup mengundang antusiasme penonton yang cepat bosan pada umumnya ketika mengikuti sebuah workshop yang bermodalkan bincang-bincang saja.

Dengan guyonan segarnya, German pun membawa masuk pemahaman sinematografi yang baik untuk memaksimalkan penggunaan kamera video. Teknis pengambilan gambar yang boleh dibilang rumit untuk pemula dijabarkan German dengan cara persuasif agar memudahkan audiens menangkap maksudnya. Tidak sedikit German memberi contoh langsung kepada audiens agar bisa menjadi jurnalis warga yang baik.

German menyatakan membuat film dan mengambil video itu sebenarnya mudah, tidak perlu pake kamera mahal-mahal sekalipun, tapi bisa juga menggunakan gadget seperti smartphone dan sebagainya.”Makanya itu gadget yang kamu punya dimaksimalkan dong fungsinya, jangan hanya untuk update sosial media saja.”, ujar German.

Berhubungan dengan tema anti-korupsi, German pun menyampaikan video citizen journalism ini sebaiknya memiliki kadar informasi dan hal teknis yang seimbang, agar dapat disimak dengan baik. Tambahnya, Materi mentah video citizen journalism itu maksimal  9 menit sebelum dirampingkan lagi di proses editing menjadi maksimal 3 menit.

German G. Mintapradja dengan guyonan segarnya menuturkan cara pengambilan video citizen journalism dengan baik. (Foto: Achmad Nirwan)

German G. Mintapradja dengan guyonan segarnya menuturkan cara pengambilan video citizen journalism dengan baik. (Foto: Achmad Nirwan)

Kejutan tidak terduga pun datang setelah workshop. MC pun mengabarkan bahwa ternyata ada film pendek yang dibuat saat berlangsungnya “Movie Day” berjudul “Jam Kuliah.” Film pendek ini berkisah tentang korupsi waktu antara dosen yang tidak masuk mengajar karena pergi ke ACFFest 2014, akhirnya langsung didatangi oleh mahasiswanya untuk diminta segera ke kampus. Jadilah, film pendek karya teman-teman Politeknik Negeri Ujung Pandang ini diputar hari itu juga. Kesigapan mereka membaca situasi dan langsung merekamnya dalam bentuk film fiksi pun berbuah hasil riuh tepuk tangan audiens.

Ada satu esensi yang saya tangkap dari semua film yang diputar beserta suasana di “Movie Day” ACFFest 2014, yakni kejujuran. Kejujuran yang merupakan “barang” langka di masyarakat kekinian, berusaha diangkat secara nyata, lugas dan kreatif oleh para sineas-sineas muda yang mengikuti kompetisi festival film ini setahun yang lalu. Nilai-nilai anti-korupsi  bisa dikemas dengan apik dalam bentuk film agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat. []