Hiu seringkali menjadi langganan dalam daftar hewan paling menakutkan buat manusia. Dunia perfilman pun mengamininya. Pada tahun 1975, Steven Spielberg mempersembahkan salah satu karya agungnya berjudul JAWS. Film yang menceritakan tentang teror mengerikan Great White Shark yang membuat sebagian penduduk bumi saat itu (mungkin sampai sekarang) berprasangka buruk bahkan takut dengan keberadaan hiu.

Ketakutan tersebut coba dilanjutkan tahun 1999, sutradara Renny Harlin menyuguhkan kita aksi teror hiu raksasa hasil percobaan ilmuwan, dalam film Deep Blue Sea. Kemudian di tahun 2010, sebuah film Australia berjudul The Reef menambah “daftar dosa” hiu di dunia perfilman. Kali ini teror hiu itu menimpa sekelompok orang yang kapalnya karam di kawasan Great Barrier Reef.

Dengan premis yang sama, tahun ini The Shallows yang disutradarai Jaume Collet-Serra (The Orphan, Unknown, Non Stop, Run All Night) membawa kita ke sebuah Thriller Suspense yang berset di pantai tersembunyi (sampai film berakhir, kita tidak tahu apa nama pantainya) di Meksiko.

Protagonis film ini adalah Nancy Adams (Blake Lively), seorang wanita muda yang liburan demi menghilangkan kepedihan hati setelah ibunya meninggal. Nancy adalah mahasiswi kedokteran yang berhenti kuliah dan lebih memilih melarikan diri daripada berjuang meneruskan hidup pasca wafatnya sang ibu. Pantai tempatnya berlibur pun juga mempunyai ikatan emosional dengan diirinya dan ibunya. Lewat penggambaran yang cerdik, kita mengetahui alasannya lewat smartphone milik Nancy.

Gambaran pemudi masa kini terlihat dari sosok Nancy. Dia begitu bergantung dengan Smartphone. Seseorang yang lebih memilih memandangi telepon pintar daripada memandangi keindahan pemandangan dalam perjalanannya menuju pantai. Lewat piranti elektronik itu juga, penonton bisa mengetahui kualitas hubungan Nancy dengan keluarganya yang selalu menganjurkan untuk berjuang melanjutkan hidup.

Diantar oleh penduduk setempat bernama Carlos (Oscar Jaenada), ia akhirnya bisa sampai di pantai. Pantai-yang-tidak-diketahui-namanya tersebut mempunyai suasana dan pemandangan yang sangat indah. Pasirnya berwarna cokelat keemasan yang terlihat lembut dan bersih. Ditambah perbukitan karang yang dipenuhi oleh pepohonan, juga tanaman hijau yang indah dan lebat. Perairannya jernih dengan warna biru kehijauan dengan gugusan terumbu karang, ikan-ikan, lumba-lumba, dan berbagai spesies hewan laut lainnya. Tempat ini adalah surga buat para peselancar. Ombak yang tinggi menantang untuk ditaklukan, menawarkan adrenalin. Sebuah pantai yang sempurna untuk menenangkan diri, dan menghasilkan banyak foto swadiri.

Eits, ada keindahan luar biasa lagi yang bisa dinikmati di sini. Kemolekan tubuh Blake Lively dengan bikini Two Pieces, dieksplorasi oleh kamera. Beberapa adegan slow motion makin membuat kita “menikmati” kecantikan ragawi istri Ryan Reynolds ini. Kita langsung tidak rela, kemolekan ini akan menjadi buruan hiu yang ganas nantinya.

Tidak perlu waktu lama untuk melihat Nancy menikmati aksi berselancarnya. Bersama dua peselancar yang lain, ia menaklukan ombak demi ombak sambil mendapat informasi tentang waktu pasang surut pantai dan letak gugusan terumbu karang yang menyerupai pulau kecil saat surut datang. Namun, tidak ada informasi tentang keberadaan seekor hiu ganas.

The Shallow 2

Saya penasaran, ini memang Blake Lively yang berselancar atau hanya manipulasi digital ya?

Ketegangan dimulai saat Nancy tinggal sendiri di laut menanti ombak terakhir. Dia menemukan bangkai ikan paus berukuran besar. Berarti si pemangsa Paus juga mempunyai ukuran yang tidak kalah besarnya. Saat sedang mengamati bangkai paus tersebut, muncul tokoh antagonis film ini, seekor Great White Shark yang buas dan lapar.

Terluka karena serangan sang hiu, Nancy bertahan dengan luka parah di kakinya. Ia pun mulai berlindung pada bangkai paus, gugusan karang yang makin tenggelam saat pasang tertinggi, sampai Buoy tua yang menjadi harapan terakhir hidupnya. Dengan pengalaman sekolah medisnya, ia memutar otak untuk merawat lukanya, sambil menyisakan tenaga untuk bisa lolos dari sergapan hiu yang seakan tidak berhenti mengejar dan berusaha melahapnya.

Jaume Collet – Serra termasuk sutradara yang pandai mengolah ketegangan di “ruang” yang terbatas. Dia pernah melakukan ini di film Non Stop yang diperankan oleh Liam Neeson. Dalam durasi tidak sampai 90 menit, Jaume berhasil mengembangkan naskah sederhana yang ditulis Anthony Jaswinski dengan rangkaian adegan menegangkan yang solid dan efektif tanpa melupakan unsur drama yang pas.

Penata kamera Flavio Labiano, juga berhasil menyuguhkan gambar-gambar yang  mendukung alur cerita sepenuhnya. Mulai dari sudut pengambilan gambar dari udara, bawah air, atau kamera GoPro. Dinamika ketegangan film ini juga berhasil dijaga oleh editing dari Joel Negron, dan komposisi ilustrasi musik dari Marco Beltrami.

Blake Lively sendiri memerankan sosok Nancy dengan meyakinkan. Walaupun cenderung terlihat bugar setelah mendapatkan luka yang parah dan rasa lelah, dia berhasil berubah dari gadis kota kekinian menjadi gadis yang harus mempertahankan hidupnya dengan cara apapun. Rasa sakit dan lelah yang Nancy rasakan berhasil ditransfer ke penonton dengan mulus oleh Blake Lively. Oia, ada satu karakter yang menjadi “pemecah” ketegangan di film ini. Seekor camar bernama sama dengan aktor film aksi era 90-an. 

Film ini berhasil menjadi film yang menyenangkan, dalam artian tujuannya untuk membuat penonton tegang sepanjang film.  Menariknya, The Shallow juga memiliki bobot dramatis yang sering hilang dari film tentang teror hiu. Kita akan melihat perubahan Nancy yang memikat di awal film, kemudian menjadi sosok yang berjuang demi hidup.

Film ini memperlihatkan apa yang ada dalam pikiran Nancy, apa yang dia rasakan saat berjuang melawan Hiu ganas, ikatan emosional dia dengan keluarganya, dan keinginan untuk tetap hidup. Film ini berhasil membuat kita, “berada” di posisi Nancy.