Sumber Foto: Prasetyo Utomo ((ANTARA))*

Saya ingin menanggapi orang yang menanggapi tulisan teman saya. Teman sosial media saya ini menulis sesuatu dengan judul yang sangat provokatif. Judulnya ingin memberitahukan kepada pembaca bahwa penulis ini sangat membenci salah seorang kepala daerah, Cara penyampaian teman saya ini adalah dikenal dengan gaya penulisan sarkasme atau satir.

Sarkasme adalah suatu  majas  yang dimaksudkan untuk menyindir, atau menyinggung seseorang atau sesuatu. Sarkasme dapat berupa penghinaan yang mengekspresikan rasa kesal dan marah dengan menggunakan kata-kata kasar. Majas ini memiliki karakter menggunakan kata kasar secara eksplisit, dan bukannya melalui sindiran, untuk melukai perasaan.

Tetapi apa yang didapatkan oleh teman saya? Beberapa pernyataan yang sebenarnya mempertontonkan ketotolan sang pemberi pendapat. Salah satu contohnya kurang lebih denga memberi pendapat bahwa orang-orang yang tinggal di daerah bagian timur Indonesia adalah orang yang kasar dan kampungan.

Kami yang tinggal di Indonesia bagian timur tidak pernah membedakan baik kami di timur ataupun keluarga kami yang lain di bagian barat, banyaknya kecaman yang sama bahwa kami orang timur adalah orang keras bukanlah berasal dari kami. Maka jangan salahkan jika Indonesia dibagi menjadi 2 blok saja tidak seperti pembagian waktu Indonesia (barat, tengah dan timur). Blok barat mulai pulau Jawa, Sumatra, serta Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Sisanya blok timur.

Nah, ini yang membuat saya tergelitik, apakah memang orang yang tinggal didaerah timur Indonesia kasar dan kampungan? Apakah ini berarti kami orang timur Indonesia susah menjadi Presiden? Kalau memang kami susah menjadi Presiden mungkin saja karena jumlah kami tidak sebesar sebelah barat.

Berbicara tentang Presiden, mungkin jaman 32 tahun ketika dinasti barat memimpin, kami sudah sering teriak agar pembangunan merata hingga ke blok kami. Tetapi apa lacur? Kami hanya dapat cengengesan dari blok barat. Salah kami jika kami kasar?

Berbicara tentang presiden (lagi), kami blok timur memberi kesempatan mulai 1945 hingga 1998 untuk memimpin kami, adakah keadilan (sedikit) yang kami dapatkan? Salah kami kalau kami kasar?

Ketika blok timur menjabat hanya 1 tahun 5 bulan, orang blok kami membuat 2 keputusan kontroversial.  Keputusan pertama adalah ketika orang blok timur itu melepaskan Timor Leste. Sebahagian orang tidak senang dengan keputusannya, tetapi kami blok timur mendukungnya (bukan karena kami blok timur) tetapi karena kami sadar jika dengan lepasnya Timor Leste, maka Indonesia ikut pula terlepas dari kecaman dunia yang menuduh banyaknya kasus pelanggaran HAM di Timor Leste, terus kasus hilangnya demonstran semanggi 1998 itu kenapa terkesan ditutup-tutuipi dari blok barat hingga hari ini? Salah kami lagi?

Kemudian keputusan kedua terbesar adalah ketika orang blok timur itu memberikan izin seluas-luasnya untuk menyampaikan aspirasi termasuk aspirasi kebebasan pers. Kran ini membuka informasi-informasi dari luar termasuk, bebasnya akses berita online bahkan sampai nge-facebook, nge-twitter dan lainnya hingga sekarang. Karena keputusan orang kami kami sehingga memberi ijin seluas itu, maka hingga saat ini orang blok barat masih nge-facebook lagi dong. Nge-path lagi dong? Bukan tidak mungkin jika keputusan itu tidak disahkan keluarga Bakrie sekarang investasi bodong di Path. Jadi masih salahkan kami? Jadi kami kampungan?

Itu hanya beberapa contoh kecil saja. Kami (blok timur) tidak mau menyombongkan diri bahwa yang pertama kali membuat keputusan mencari pelaku korupsi di Bank Century adalah kami. Tetapi sampai sekarang belum ada keputusan (mungkin karena blok barat menghalangi investiugasinya, mungkin).

Begitu juga ketika mebuat gebrakan agar keluarga Bakrie membayar kerugian warga Lapindo akibat kasus lumpur (yang katanya salah tempat pengeboran), bukan orang blok kami lagi, bukan!

Saya sadar artikel ini akan menuai kontroversi hati pembaca. Saya tidak mencari musuh karena baik blok barat dan timur adalah sama, kita semua orang Indonesia yang bersumpah berbangsa satu, bangsa Indonesia.

Saya tidak men-general-kan semua blok barat seperti itu. Tetapi jika anda hidup di blok barat, coba tanyakan diri anda. “Bagaimana pendapat anda tentang kami di blok timur?”

Semoga kedepannya tidak ada lagi blok barat yang (juga) men-general-kan bahwa kami kasar atau kampungan. []

*Sumber foto dari fotografer ANTARA, penulis dan pecinta bola.