Oleh: Arkil Akis (@masihitu)| Ilustrasi: Aisyah Azalya (@syhzly)

Bonsai, tanaman yang berasal dari negeri China yang dipercaya telah ada sekitar ribuan tahun yang lalu. Disebut pen-zai (pen = pot , zai=pohon). Pada zaman kekaaisaran Kamamura di Jepang, bonsai mulai diadopsi lalu tumbuh menjadi bagian seni dan budaya di jepang.

Bonsai sendiri adalah cara mengerdilkan tanaman untuk membuatnya terlihat lebih indah. Di indonesia sendiri, tanaman ini populer sekitar 35 tahun yang lalu. Yang menandai terbentuknya perkumpulan bagi sesama pecinta bonsai di tahun 1979.

***

Sewaktu kecil, ayah saya punya satu pohon bonsai. Dan saya menyukainya. Bukan karena sisi indahnya, tapi saya hanya tidak mampu memanjat seperti teman-teman saya. Saya menganggap, bermain dengan bonsai seperti menaklukkan pohon yang tidak bisa saya panjat. Iya, saya akrofobia.

Akrofobia adalah fobia terhadap ketinggian. Pengidapnya sering merasa mual dan pusing jika berada di tempat yang tinggi.

Akrofobia, bukan hanya tentang ketakutan berada di tempat tinggi secara fisik. Tapi boleh jadi tentang pikiran, mimpi, dan cita-cita. Masih ingat cita-cita kamu sewaktu kecil? Atau, cobalah bertanya ke anak-anak di sekitar kamu apa cita-cita mereka. Kamu akan menemukan jawaban-jawaban yang beragam, dari yang realistis maupun yang mustahil terjadi semacam menjadi spiderman atau tokoh-tokoh kartun favorit mereka.

Tapi, apakah kamu sadar betapa berani mereka. Tidak mampu dibatasi oleh ketakutan-ketakutan yang membuat mereka menempatkan cita-cita dan mimpinya. Sementara kita, semakin dewasa, semakin takut akan ketinggian cita-cita dan mimpi-mimpi kita. Kita mulai menempatkannya di titik yang rendah sebab terlalu takut tidak mampu meraihnya.

***

Bonsai dan akrofobia berhubungan erat. Orang-orang yang takut ketinggian akan memilih bonsai sebagai alternatif.

Penguasa di berbagai negara di masa lalu hingga di masa yang belum berlalu, menerapkan sistem bonsai sebagai strategi mempertahankan kekuasaan. Dan tentu saja, itu berarti akrofobia. Mereka takut akan “ketinggian” rakyatnya yang mampu mengancam kelangsungan kekuasaan.

Di masa lalu, Hitler dengan nazi, sistem apartheid di afrika adalah contoh. di indonesia, tiga dekade orde baru hingga hari ini, seperti kata iwan fals “orde paling baru”. Dari penguasa nasional hingga lokal, menerapkan sistem bonsai, mengerdilkan rakyat demi sebuah kekuasaan.

Aturan dan sistem yang mengawati kita, menjadikan bonsai. Dalam banyak kasus, bagaimana seseorang dibungkam suaranya agar tidak mengganggu kekuasaan, money politics di mana-mana adalah sebuah usaha mem-bonsai-kan agar tak mengganggu atau untuk melanggengkan kekuasaan.

Penguasa itu juga ada di rumah kita, kita menyebutnya orang tua. Sistem bonsai? Tentu saja. Akrofobia? iya, mereka akrofobia. Berapa banyak dari kita yang dipaksa jadi pegawai? Dipaksa masuk sekolah ini, dipaksa masuk jurusan itu. Kita, sadar atau tidak sering menjadi bonsai yang dibuat orangtua kita sendiri. “gantungkan cita-citamu setinggi langit” , petuah lama yang semakin lama semakin terdengar seperti sebuah hiburan sebelum tidur. Banyak orang tua tidak memutus gantungannya, kita yang ditahan, diikat agar tak mampu menggapai langit. Tidak sedikit orang tua yang sudah mem-bonsai anak-anaknya saat atau bahkan sebelum lahir. Harus jadi dokter, harus jadi polisi, dll.

Seperti bonsai, kita dikerdilkan untuk memenuhi ego orangtua, lalu mengundang puja-puji orang-orang. Padahal kita kehilangan tempat yang semestinya. Habitat di mana mimpi kita tergantung.

***

Saya teringat sebuah dialog film lama berjudul “School of Rock” , “untuk apa sekolah, jika pada akhirnya tunduk pada penguasa?” kalimat ini sangat kontradiktif dengan sistem pendidikan kita, sekolah hari ini mengajarkan kita justru menjadi hamba. Menjadi bonsai  yang dibentuk sesuai selera. Kita tidak dibebaskan menjadi diri sendiri, dipaksa mengikuti sistem yang ada. Coba kamu perhatikan, berapa jam pelajaran dalam seminggu ilmu-ilmu jiwa (seni, agama, dll) diajarkan? Pendidikan hanya fokus kepada ilmu-ilmu pasti.

Di tingkat SMA, jurusan eksakta selalu jadi jurusan favorit. Seolah-olah, yang lebih pintar adalah mereka yang menguasai ilmu pasti. Begitupun di tingkat perkuliahan, petinggi-petinggi kampus begitu sinis kepada aktivis atau mereka yang gemar ber-organisasi, dengan pena yang mereka miliki, suara-suara protes sering dibungkam dengan nilai di daftar indeks prestasi.

Kembali ke rumah, kembali ke masyarakat, kita dibonsai hal-hal tabu. Perempuan yang keluar malam dianggap citranya negatif, sarjana harus jadi pegawai, dan perempuan harus memilih calon suami yang kaya agar mampu bahagia.

Tanpa sadar, hal-hal tabu itu yang membuat kita seolah menjadi bonsai. Kita cenderung lebih percaya apa yang sudah ada, dengan kata lain terlalu takut perubahan.

***

Penguasa yang dekat dengan kita adalah diri kita sendiri, seperti kata Mahatma Gandhi “satu-satunya penguasa yang saya percaya adalah suara hening kecil di dalam hati”. Jangan sampai, penguasa yang ada dalam diri kita adalah penguasa yang akrofobia, penguasa yang takut menempatkan kebahagiaan dan mimpinya berada di tempat yang tinggi.

Diri yang lalu memutuskan mem-bonsai banyak hal, memilih kalah dari anak kecil yang berani bermimpi apa saja. Memilih jalan-jalan pasti yang pintas, takut keluar dari “pot”-nya lalu mencoba kembali ke hutan, ke habitat yang mendukung mimpi-mimpinya.

Kita lalu takut tidak bahagia karena tidak punya ini, karena tidak punya itu, kita takut memilih pasangan hidup yang tidak kaya sebab khawatir tidak mampu hidup dengan bahagia. Dan banyak lagi ketakutan  yang memaksa kita memelihara diri sendiri sebagai bonsai.

Bonsai hanyalah pohon, tapi kita bukan. Bonsai tidak mampu keluar sendiri dari pot, tapi kita bisa. Akrofobia hanya fobia. Bukan penyakit yang tidak ditemukan obatnya. Kita hanya perlu membiasakan diri kita. Sesuatu yang bukan mustahil untuk hilang.

Mari bertanya kepada penguasa di dalam diri kita (satu-satunya penguasa yang harus dipercaya) apa sebenarnya yang kita inginkan, ingin menjadi seperti apa atau ingin berada di mana, pot atau hutan? Jangan sampai kita selama ini merasa aman lalu pura-pura nyaman ada di beranda atau di halaman, dirawat tiap hari sebagai bonsai. Atau justru, membatasi hidup hanya sebuah pot dan kita adalah tanaman yang membonsai diri kita sendiri.