Judul Buku: Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas | Penulis: Eka Kurniawan | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (21+) | Tebal: 252 halaman | Harga: Rp 61.000

Saya sudah sering mendengar nama Eka Kurniawan berseliweran di jagat sastra Indonesia. Pada 2002, novelnya “Cantik itu Luka” mendapat apresiasi yang luar biasa dari sejumlah media maupun kritikus. Novel ini telah diterjemahkan ke Bahasa Jepang, Malaysia, bahkan akan terbit dalam bahasa Inggris. Sebelumnya, novel Eka berjudul “Lelaki Harimau” (2004) juga bernasib sama.

Beberapa kritikus menyebut-nyebut Eka Kurniawan sebagai penerus Pramoedya Ananta Toer.

Kemudian sebuah cover buku bergradasi dua warna yang eye-catching dengan gambar burung tidur menarik perhatian saya. Di cover itu, tertulis judul yang menarik saya semakin kuat: “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”. Kemudian di cover belakang, tertulis beberapa kalimat:

“Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya”

Perkiraan semula saya bahwa ini adalah roman politik penuh dengan kritik dan sindiran, buyar sudah. Novel ini bercerita lebih dari itu. Novel ini jujur, berani dan blak-blakan untuk tetap konsisten menyebut burung untuk kelamin pria bahkan memek untuk kelamin wanita. Seakan tak ada filter, biar penerbit yang mengawasi dengan stiker 21+ di cover belakang buku.

Ajo Kawir adalah pemuda belasan tahun yang kuat dan punya prinsip teguh. Dia dan sahabatnya, Si Tokek, menjalani kehidupan dengan pahit sebab burungnya sudah lama tidak bisa ngaceng. Dia mencintai Iteung dan Iteung pun mencintainya. Walaupun mereka telah berkomitmen kekurangan fisik Ajo Kawir takkan jadi masalah, tetap saja hal itu terjadi.

Buku ini tentang mencari jati diri di tengah hiruk pikuk lingkungan yang keras. Dan bagaimana untuk tetap mempertahankan diri diantara segala hal yang harus dilawan dengan kesungguhan hati. Namun walaupun begitu, hanya penulisnya sendiri yang tahu misi penting apa yang ingin ditulisnya.

Have a nice reading!

(image: bisikanbusuk)