Oleh: Al-Fian Dippahattang(@pentilmerah)* | Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

 

Buat: Nur Halim

 

Ada cinta dari rindu menggetarkan kulitku beserta tulang-tulangnya.

Mengantarku hadir dalam napasmu. Hadir tuk kau hirup—kau simpan dan kau lepas

dan berulang-ulang kau lakukan. Berulang-ulang juga kuliukkan. Aku membahagiakanmu

dari semua peristiwa yang teralami berubah menjadi cahaya yang tiap waktu mesti bergerak mencari takdirnya. Kemudian, cahaya itu berubah menjadi mawar. Kutemukan ada dalam dadaku. Ada dalam hatiku. Ada dalam kepalaku. Ada dalam ucapanku.

Ada dalam cintaku pada cintamu.

 

Lalu, aku dan rinduku mencipta bayang di matamu.

Agar, kau tahu, tanpa wujudku aku masih ada, ada dan selamanya ada.

Kecuali, satu hal, aku tak mungkin ada pada jatuh airmatamu

yang menakdirkan dirinya mengering.

 

Mencintaimu bukan karena kau memiliki sesuatu yang lebih dari apa.

Selain, semua kenanganmu telah kuterima baik dalam keadaan apapun.

Mencintaimu bukan karena aku ingin bermasa bodoh

dan tak ingin tahu apa-apa tentang kau.

Aku tahu, lukamu juga ada di lukaku.

Malah berlimpah dan bakal jatuh teralami memerah di hati.

Tak ada hal yang cukup menyatakan dan menyatukan cintaku pada cintamu

yang mulanya ada pada airmata merebutmu dari cinta yang lain.

Mencintaimu bukan karena kaulah pemberi cinta yang sempurna.

Hanya saja keyakinanku padamu, bahwa cinta itulah yang menggariskan kesempurnaan

untuk sama-sama dihirup dalam aroma cinta yang berirama.

Mencintaimu bukan karena aku ingin mencecap arak madu

dan manis limau yang berbuah di bibirmu.

Hingga, lesap di bibirku menyimpan kecup yang tiada usai.

Mencintaimu hanya persoalan, bahwa kalimat apapun jadinya

dalam puisi ini, mencintaimulah hal yang paling abadi dalam surga cinta.

 

Cintaku ini jika dinamai ialah terbangun dari ketenangan.

Terbuat dari rumitnya aku membangun aforisme dalam kecemasan

yang kualami dari bibir yang paling menikam lantang mematikan.

Juga, kecemasan Tagore yang tertanam kasih di jiwaku menjadi bahan bacaanku

demi mengungkap apa yang sebenarnya ingin kulakukan.

 

Alangkah wajar kau tahu, cahaya itu berubah menjadi mawar.

Ada pada ketenangan cintamu.

Bukan dari cinta yang bersisa pada ombak yang tak letih

menghantam punggung perahu nelayan yang mati-matian

menahan debar di tengah lebar lautan.

Dan jauh dari permukaan, ada yang setia mendoakannya menemukan kedamaian.

Mungkin ialah yang tiap pagi jelang keberangkatannya selalu menyulam senyum.

Mengecup tangan dan menyapu punggung

agar, menyepakati jalan menuju lautan cinta adalah kehati-hatian.

 

Kupancarkan sinar di matamu, agar kau dan cintamu tahu.

Saat, kau menemukan dan mengalami gelap di hidupmu.

Kau tahu, siapa yang mesti kau cari,

agar kembali menyinarimu selalu dan setia selamanya.

 

Sampai pada waktu-waktu tertentu, aku tak sanggup mencari bukti apapun padamu,

selain mencintaimulah bukti dari rahasia cintaku.

Juga, cintaku ada pada kata yang dipahami hatimu

yang dilahirkan dari sepasang derita yang indah.

Kau tahu, cintaku berawal dari bayangan yang kutulis di pikiranku

dengan bahasa-bahasa yang terhimpun dari bibirmu.

Aku mengecualikan bahasa asing

yang kuanggap mengacaukan bahasa cinta yang terpahami.

Sebab, keistimewaan selanjutnya, kau malah merasakan bahasa cinta

yang mudah dipahami itu berdetak tetap dalam anggukan yang demikian anggun.

 

Mencintamu bukan seperti airmata yang setelah jatuh akan mengering.

Mencintamu ada dalam matamu yang selalu tegar menghadapi bahaya cinta itu sendiri.

Olehnya, aku tak malu-malu menyimpul nama cintaku pada cintamu

agar mudah terpahami. Mudah diucapkan. Mudah dirasupi.

Menyentuh semua yang memerah di hati.

 

Kita, ada dalam satu mawar yang sama.

 

Makassar, 2014

 

*Penulis adalah Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 2014 yang pernah kuliah selama dua tahun di Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar (UNM). Tulisannya ikut dalam antologi pemenang (Jejak Sajak di Mahakam, 2013 Lanjong Art Festival) dan (Ground Zero, 2014 Diva Press). Beberapa essai, cerpen dan puisinya pernah dimuat di koran. Bisa di sapa di akun twitter-nya: @pentilmerah.