Tahun 2016 belum usai, tetapi kita sudah disuguhi dengan beragam buku-buku (yang harus dibaca dan perlu) fiksi dan non-fiksi yang diterbitkan oleh penulis-penulis Indonesia. Fiksi seperti novel O dari Eka Kurniawan, Raden Mandasia milik Yusi Avianto Pareanom, Kumcer Bakat Menggongong oleh Mas Dea Anugerah, Tidak Ada New York Hari Ini dari Aan Mansyur, Metafora Padma Bung Bernard Batubara, Mendengarkan Coldplay milik Mario F. Lawi. Untuk non-fiksi, Simulakra Sepakbola milik Kang Zen RS, Memoar Ben Anderson Hidup di Luar Tempurung, biografi Andrea Pirlo yang diadaptasi ke bahasa negara kita. Dan satu lagi, setelah menerbitkan Mencari Marxisme, Martin Suryajaya sukses membuat otak (dan dompet) pembacanya lumayan diperas untuk menebus Sejarah Estetika dan Sejarah Pemikiran Politik Klasik, juga di tahun 2016 ini. Setelah dua buku non-fiksi ini, Martin Suryajaya menjadi debutan sebagai seorang novelis dengan menerbitkan Kiat Sukses Hancur Lebur, diterbitkan oleh baNANA Books.

Ada banyak alasan para pembaca novel debutan Martin ini sangat sedikit yang me-review atau membuat ulasan di media daring. Mungkin karena seluruh isi novel ini betul-betul baru, sulit memercayai racauan penulis hingga membuat alis mengkerut-kerut dan perut berdenyut-denyut butuh mi instan, atau bahkan kita terganggu karena tokoh dan karya Martin Suryajaya yang kita kenal sangat serius mempermasalahkan setiap perdebatan filsafat dan sastra, sementara saat membuka halaman per halaman novel ini, tidak ada Martin Suryajaya (yang seperti biasa) di dalamnya. Atau Anda mungkin punya alasan yang lain?

Setelah membaca dan sebelum mendengarkan penjelasan dari penulis novel ini, saya beranggapan bahwa ini karya yang lahir sangat prematur di era emas karya-karya sastra lirisisme ataupun realisme sosialis. Akan tetapi setelah membaca dan mendengarkan langsung penjelasan penulis perihal proses penulisannya, saya berpendapat bahwa novel ini memang betul-betul prematur, kelahirannya terlalu dini di tahun 2016. Tiga setengah abad lagi mungkin novel ini menjadi rujukan pelajaran sastra di ruang-ruang kelas.

Ya, semoga saja ada yang berani mengantar Kiat Sukses Hancur Lebur ini ke Dewi Lestari. Atau Mbak Dee sudah membacanya juga?

*

Sedikit yang saya rekam dari penjelasan penulis perihal proses dan latar belakang penulisan novel ini, Martin Suryajaya memberi klarifikasi bahwa ini adalah usahanya menumpahkan kejenuhan di sela proses penulisan non-fiksi multifungsi Sejarah Estetika dan Sejarah Pemikiran Politik Klasik. Masih terendap di kepala penulis dan tidak bisa dikanalisasi, bahkan berbungkus-bungkus rokok putih Philip Morris tidak mampu menghilangkan sejenak tokoh-tokoh dan ide-ide yang tunggang-langgang di kepala Martin.

Jatmika sekali pelarian-pelarian atas kejenuhan Martin Suryajaya ini ya, menulis novel, debutan, laris manis. Produktif. Jauh berbeda dengan anak muda seusianya yang merayakan kejenuhan dengan mengisap vapor atau shisa sambil memadu kasih dengan gajetnya.

Upaya Martin Suryajaya dalam penulisan novel ini ingin menghadirkan kebaruan dalam kekayaan karya sastra Indonesia dengan tidak menjadi bagian dari karya sastra yang lirih, atau harus kembali ke zaman realisme sosialis. Kekuatan prosa sebagai prosa seperti karya A.S Laksana dan Yusi Avianto P, bukan prosa yang ditulis dengan gaya yang lirisisme. Dalam kesaksiannya, Martin juga banyak pengalaman dalam membaca karya sastra dari Jose Luis Borges, T.S Eliot, dan penulis-penulis Prancis klasik.

**

Tidak seperti novel-novel yang sangat ketat di aturan-aturan yang ada, tokoh dan plot dalam novel ini tidak mengindahkan sama sekali kaidah-kaidah novel yang berlaku. Sebagai sebuah kebaruan dalam karya fiksi, tidak sepenuhnya fiksi. Tokoh-tokoh yang digambarkan adalah tokoh yang sesungguhnya ada. Martin sangat kreatif menyeleksi huruf-huruf yang menjadi identitas tokoh tersebut menjadi sebuah akrobat, seperti tokoh Edmund Buser, Friedrich Nazi, WC Rendra, Novelis Bukan Pasar Maling Pramoedyawardhani, Taufik Rendang, Penulis Catatan Seorang Demonstran Seksi Soe Hok Ben, dan lain-lain.

Untuk tokoh Anto Labil bergelar Sarjana Filsafat, adalah tokoh yang menjadi sahabat Martin sehari-hari membahas filsafat sewaktu kuliah. Dalam suasana belajar filsafat inilah yang membikin Si Anto Labil ini mengalami gangguan jiwa. Terapi kejiwaan yang sempat diikutinya, Anto Labil sempat mendatangi kamar kost Martin dalam keadaan babak belur setelah mengamen dan terlibat perkelahian yang tidak seimbang. Setelah itu Anto Labil hilang lagi sampai sekarang. Sebelum catatan editor dalam buku ini, Martin Surya Jaya menuliskan:

“Mengenang Muhammad Sholeh (1984 – ….), ia yang lenyap ditelan filsafat”

Thomas Tembong dan Anto Labil adalah dua tokoh yang bolak-balik mengklarifikasi muasal naskah Kiat Sukses Hancur Lebur yang kondisi naskahnya sangat mengenaskan;

“…Seluruhnya berjumlah 113 halaman ukuran kuarto. Di beberapa bagian ada tinta yang luntur akibat tetesan kopi. Ada juga yang berlubang karena kejatuhan bara rokok. Beberapa halaman cuil, sebagian akibat dimakan tikus, sebagian lain akibat ‘dimakan penulisnya sendiri’”

(Selengkapnya silakan baca di halaman Arian 13).

Selain daftar isi, catatan editor, dan daftar pustaka, isi novel ini sebanyak delapan bab, sehingga semua berjumlah 216 halaman. Di setiap bab memiliki tema masing-masing dengan pembagian cerita di tiap bab nya ada yang dua, lima, dan kebanyakan empat. Yang masing-masing bab jika anda urutkan membacanya, insya Allah anda akan menumpuk tiga atau empat buah bantal di bawah kepala anda di akhir membaca novel ini dalam posisi berbaring. Sebenarnya juga tidak haram membaca novel ini dimulai dari bab manapun.

Tidak seperti mereview karya-karya sastra yang lain, novel dengan segala kebaruan nan prematur ini, untuk mereviewnya agar tidak prematur, kesaksian dari penulisnya sangatlah penting. Tesis “The Death of Author” tidak berlaku untuk jenis novel seperti ini.

Satu yang menjadi masukan dari penulis Bernard Batubara, saat kita membaca novel ini dengan terbuka pada kebaruan dan cara membaca yang ditawarkan. Kebaruan yang tak semestinya dalam aturan ketat novel-novel yang sudah menjadi koleksi kita. Meminjam racauan Irwan Bajang, novel Martin ini melangkahi apa yang terstandar dalam novel. Unik hari ini, tiga setengah abad kemudian bisa menjadi novel yang lazim.

Selain tokoh-tokoh yang dijenakakan ala Martin Suryajaya, secara elegan juga penulis mengejek kemapanan orang-orang yang lagi menikmati layanan-layanan kapitalisme yang tak habis-habis membuai konsumen. Di buku ini Martin tidak seserius analisis-analisis kelas yang banyak dianalisa olehnya. Seperti di halaman 33, kelebaian layanan Valet Parking di kota-kota besar. Martin menuliskannya seperti ini:

“…Kedua, gunakanlah valet parking di toilet hewan. Ini jelas menunjukkan kelas Anda. Apa yang perlu Anda lakukan tinggal petentang-petenteng sendirian di sudut cekung mata Anda.”

Kapitalisme dengan segala kelebaiannya memang tidak cukup dengan dikutuk secara serius, juga harus dijenakai. Martin Suryajaya mengawinkan keduanya. Di halaman 77 misalnya:

Komputer adalah adat-istiadat bunga bakung yang cerewet soal fungsi kuadratik talak tiga dan selalu ikut campur urusan orang melalui intervensi electoral berbasis bilangan bulat sempurna dan keofisien klepon anyir”. 

Satu lagi kegelisahan (sekaligus pengakuan) Martin dalam menghadirkan beragam tokoh dan aforisma dalam novel ini, kegelisahan Martin ditumpahkan dengan mengironiskan aforisma-aforisma yang semakin murahan dipakai dan disalahgunakan. Ironi Martin Suryajaya terhadap Avant Garde misalnya, Martin seenak dirinya mengawinkan Avant Garde dengan kata Akuntansi di bab tiga yang diberi judul Akuntansi Avant Garde.

Saya tahu kenapa Martin Suryajaya tidak mengutak-atik nama Haji Muhammad Suharto, karena bangsa ini susah lupa toh daripada beliau? Enak jamannya toh?

Terakhir, di salah satu catatan kaki novel ini: Oi Pace, Su Mandi kah? – Dalai Llama