Co-penulis: Brandon Hilton (@brandon_cadaver) | Foto: Tim Panggung Kecil

Menyimak perkembangan panggung musik di Makassar, terkhusus pada panggung musik rock dari masa ke masa, tentu saja menarik untuk diobrolkan. Narasi dan cerita tentang panggung-panggung tersebut, mungkin masih bisa kita temui dari cerita-cerita para pelaku atau dari para penyaksi atau dari mereka yang berhubungan dengan riuh panggung saat itu. Ada pula dari berita yang dimuat di surat kabar atau dari zine-zine yang muncul dari tradisi “literasi panggung” yang saat itu menjadi elemen penting dari gemuruh panggung musik. Perkembangan musik rock sekarang di Makassar yang semakin pesat dan dimudahkan dengan kemajuan teknologi, maka sebuah dokumentasi dalam bentuk tulisan atau audio visual merupakan hal yang penting. Hal ini disebabkan rincian informasi untuk dokumentasi musik rock di Makassar masih banyak yang berbentuk verbal dan tersebar di pelakunya masing-masing. Bahkan untuk mengakses informasinya, memerlukan tenaga ekstra dan waktu yang panjang dalam mengumpulkan setiap informasi tersebut, salah satunya dalam bentuk wawancara setiap pelakunya yang masih mengingat masa-masa panggung musik rock kala itu.

Sebagai upaya dalam menjelajahi kembali ruang-ruang ingatan tentang masa-masa tersebut, “Panggung Kecil” yang diinisiasi Musicalab Music Studio dan Kedai Buku Jenny, berupaya menjadi bagian dalam mendokumentasikan narasi dan cerita tentang panggung musik di Makassar yang tersebar di berbagai sumber tersebut. Diskusi dan pertunjukan musik menjadi sajian utama dari Panggung Kecil. Di edisi yang kedua ini, Musicalab Studio dan Kedai Buku Jenny bersama Revius dan Imitation Film Project menghadirkan tema “Geliat Panggung Musik Rock di Kota Makassar Dari Masa Ke Masa”.  Diskusi tentang tema tersebut menghadirkan pembicara yaitu Maman dan Ambi, bassist dan vokalis dari Loe Joe, grup musik rock asal Makassar yang telah hadir sejak tahun 90-an. Selain diskusi, juga ada suguhan karya musik dari dua grup: Speed Instinct ( heavy rap rock) dan SUA ( post rock). Panggung Kecil Vol. 2 dilaksanakan pada hari Kamis, 29 September 2016 di Paola Koffie, Komp. Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Jl. Keindahan Blok AA No. 19, mulai pukul 16.00 WITA hingga selesai.

Menurut salah satu tim Panggung Kecil yakni Zulkhair Burhan yang akrab disapa Boby, kota sebagai ruang sosial mesti menyediakan ruang seperti Panggung Kecil ini, di mana relasi dan praktik sosial menjadi kata kunci interaksinya. “Dan sudah sebaiknya, kota memang tidak mesti dipaksa untuk memoles wajahnya menjadi lebih indah dari pembangunan infrastrukturnya saja, atau terlebih lagi menyingkirkan ruang-ruang interaksi bersama. Dan, di banyak kota, panggung musik dalam bentuk mikro (masih) menjadi salah satu ruang di mana praktik kebersamaan masih bisa kita temukan.” Bapak dua anak yang bergiat di Kedai Buku Jenny ini juga mengungkapkan apabila kita mencermati inisiatif-inisiatif beberapa panggung musik mikro yang memang tumbuh dan berusaha untuk tetap bertahan, itu disebabkan karena kolektivitas antara pelakunya yang berada di atas panggung maupun yang berada di belakang panggung, hingga siapa saja yang masih menganggap bahwa setiap panggung adalah perayaan atas kebersamaan.

“Karena panggung meniscayakan pentingnya kolaborasi, maka ia akhirnya menjadi ruang di mana narasi dan cerita terus diproduksi,” ungkap Boby. Narasi dan cerita yang bertaburan dari ruang sempit studio musik tempat para band memastikan semuanya akan berjalan baik di atas panggung dengan modal kolekan, dari atas panggung sound check dan perdebatan “lazim” tentang kualitas sound yang selalu tak adil, atau cerita para pengumpul set list dan berbagai memorabilia band kesukaannya. Cerita dan narasi tersebut menurut Boby, memang lebih sering kita jumpai berserakan tak beraturan di kepala dan ingatan para pelaku atau jika beruntung kita bisa menemuinya di blog-blog atau kanal online yang tak begitu banyak. “Sayang memang, padahal narasi dan cerita yang tersebar tersebut seharusnya dapat menjadi rujukan kita untuk mengetahui perkembangan musik di kota ini,” ungkap Boby yang juga mengedepankan tentang bagaimana musik menjadi “sesuatu” bagi peradaban kota. Peradaban yang tumbuh dengan semangat “sama-sama”.

Selain mengulik cerita dari para pelaku musik di kota ini, Boby juga mengemukakan bahwa Panggung Kecil juga merupakan salah satu cara untuk menemukan band-band baru yang membutuhkan panggung untuk tampil. “Karena band-band di Makassar perlu regenerasi lebih banyak lagi, salah satunya dengan mengadakan acara seperti Panggung Kecil ini, agar mereka bisa punya ruang berkreasi lebih jauh.”

Segendang-sepenarian dengan upaya tersebut, saya yang juga ditunjuk menjadi salah satu tim Panggung Kecil merasa punya tanggung jawab yang sangat besar untuk menjalani upaya tersebut, terkhusus saat menjadi penanggung jawab untuk mencari para pembicara yang sesuai dengan tema kali ini dan memastikan kehadiran mereka di Panggung Kecil. Terlebih lagi ketika mengingat waktu acara yang sedianya dimulai sore hari, akhirnya mesti ditunda hingga waktu Maghrib selesai karena pembicara masih memiliki kesibukan hingga petang. Maman baru bisa hadir setelah waktu Maghrib mengingat baru pulang kerja di sore hari, sedangkan Ambi sudah mengabarkan kepada saya tidak bisa hadir karena ada urusan keluarga. Walhasil, waktu yang berjalan menuju petang digunakan oleh band-band untuk sound check.

Waktu shalat Magrib telah selesai, Panggung Kecil Vol. 2 akhirnya dibuka oleh MC, Zulkhair Burhan. Ia juga kembali bercerita sedikit tentang Panggung Kecil Vol.1 yang mengangkat tema “Musik dan Jurnalisme” dan mengapa Panggung Kecil kembali diadakan pada edisi ke-2, meski sedikit terlambat dari waktu yang direncanakan. Tak butuh waktu lama, SUA, trio math rock dari kalangan mahasiswa ini berhasil menghipnotis saya dan pengunjung yang lain dengan lagu-lagu yang dibawakan. Beranggotakan Adit (vokal/gitar), Doni (bass), dan Aca (drum), SUA yang mengambil namanya dari kata bersua ini membawakan lagunya sendiri, salah satunya berjudul Hijrah yang cukup memukau telinga saya.

panggung-kecil-vol-2_sua_revius

SUA dalam penampilannya di Panggung Kecil Vol. 2. (Foto: Zulkhair Burhan/Panggung Kecil)

Setelah SUA, saya bertugas sebagai moderator langsung membuka diskusi seputaran musik (rock tentu saja), band, dan situasi yang terjadi saat event musik rock digelar. Maman yang menjadi narasumber di event kali ini belum jua datang setelah Maghrib, sehingga saya mesti memutar otak agar diskusi bisa dimulai tepat waktu. Akhirnya, saya mengajak para band yang tampil dan audience yang tampaknya antusias dalam mengikuti sesi diskusi ini, untuk bercerita seputar pengalaman mereka dengan musik rock dan panggung-panggung musik rock yang mereka datangi. Dengan harapan diskusi seperti ini bisa cair dan menarik, dan semuanya punya sisi pengalaman tersendiri ada yang masih menyimpan memorabilianya, tiket-tiket yang disimpan, dan sebagainya, peristiwa musikal seperti ini yang menarik untuk diulik kembali.

Salah satu cerita yang menarik datang dari Zulkhair “Boby” Burhan, yang telah berada di Makassar sejak tahun 1993 dan tinggal untuk belajar di pesantren wilayah Tamalanrea. Boby mengenal musik rock melalui teman-temannya, walau mesti mendengarnya sembunyi-sembunyi saat di pesantren. Meski menikmati musik rock yang didengarnya, Boby tidak mengingat secara spesifik saat festival musik rock berkembang di Makassar pada era itu. Tetapi, ia mengakui satu atau dua info festival musik tersebut sempat juga sampai masuk ke pesantren. “Saya juga kaget sekali bisa tahu (info) itu,” ungkapnya. Dia juga mengenang banyak bazaar-bazaar musik yang banyak dibuat pada tahun 90-an. “Jadi, dulu ada santri yang keluar dan tidak menyelesaikan studinya, dia punya band punk dan ketika ada bazaar musik di pesantren, santri tersebut datang ke bazaar baru pogo dance sendiri pas musik main, baru kejadiannya di pesantren ini, bayangkan mi itu sendiri,” ungkapnya sambil disambut tawa penyaksi Panggung Kecil yang mendengarkan.

Beranjak melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, Boby justru tidak mengenal musik berdistorsi melalui konser musik, tetapi dari aksi-aksi demonstrasi bersama teman-teman dari komunitas punk. Dia punya kesan tersendiri tentang demonstrasi bersama tersebut. “Misalnya, teman-teman aksi disepakati kumpul jam 10, yang mahasiswa-mahasiswa jangan mi diharap kumpul tepat waktu. Justru, yang tepat waktu itu, teman–teman punk, dan mereka bawa massa sesuai dengan jumlahnya,” Bob sambil menyebutkan nama Aksi Minimalis yang turut bersama-sama membantunya waktu aksi sekitar tahun 2001.

Pada tahun 2005, Boby bersama teman-teman kampusnya membuat Festival Anti-Globalisasi, dan teman-teman punk dari Jalan Sungai Saddang yang membantu dalam persiapan acara waktu itu. “Waktu itu, tidak lama kemudian, digelar No Control yang saya lupa volume ke berapa, di depan Benteng Rotterdam,” ujar Boby. Setelah Aksi Minimalis bubar, menurut Boby, pecahan dari kelompok teman-teman punk tersebut kembali membentuk komunitas “Dan menariknya, komunitas ini adalah komunitas diskusi. Saya pernah ikut, dan diskusinya itu diskusi filsafat,” ungkapnya sambil tertawa. Boby juga menambahkan pengalaman belajar menyablon bersama Enda dari The Hendriks. Interaksi gagasan, diskusi tentang semangat anti kemapanan dari punk juga pernah diobrolkan di salah satu acara gig kecil yang dibuat Boby dan teman-teman Kedai Buku Jenny, yaitu KBJamming edisi ke-18.

Lain lagi cerita dari Michael J. Ludong, bassist dari Next Delay yang juga merupakan salah satu tim Panggung Kecil. “Pengalamanku mengenal musik rock dulu itu karena mendengarkan lagunya Guns N’ Roses dari kasetnya sepupuku,” ujar Michael. Tapi, impresi Michael dengan musik rock justru bermula dengan penampilan musisi rock yang dilihatnya dari poster-poster band. “Perawakannya gondrong, bajunya robek-robek, baru cakep-cakep ki (musisinya),” ungkap Michael yang disambut tawa para penonton saat ia menyebutkan kata cakep. Dari impresi tersebut, Michael malah mendefinisikan musik rock dari penampilannya saja, karena ia belum tahu banyak tentang asal-usul musik rock. Berlanjut setelah mendengarkan musiknya Oasis, Michael baru menyadari bahwa musik rock tidak bisa dinilai dari penampilannya saja. Jamrud dan Sheila on 7 adalah salah dua nama musisi rock yang sering wara-wiri didengarkan Michael ketika bersekolah di tingkat pertama dan menengah. Walau mendengar lagu kedua grup musik tersebut melalui CD bajakan, Michael mengakui referensi musik rock-nya mulai bertambah banyak seiring zaman. Hingga akhirnya ia memperkuat sebuah band, referensinya semakin meluas.

Akhirnya, Maman, sang pembicara Panggung Kecil Vol. 2 yang ditunggu-tunggu, tiba juga di Paola Koffie setelah obrolan lepas yang menarik bersama para audience yang dimulai sejak pukul 19.30 WITA. Maman pun memohon maaf atas keterlambatannya. “Karena semestinya saya sudah hadir pas jam setengah tujuh, tapi karena kesibukan di kantor, saya akhirnya baru pulang setelah jam enam lewat, ditambah lagi perjalanan cukup jauh ke sini,” ujarnya sembari mengucapkan terima kasih sudah diundang untuk berbagi cerita di Panggung Kecil. Maman terus terang agak heran juga bisa diundang untuk berbagi cerita, padahal karir musisi rock sudah ditanggalkannya sejak memutuskan keluar dari Loe Joe sejak 2013. “Hal ini karena saya ada sebuah karir yang saya pilih, untuk pilihan hidup,” ungkapnya yang juga mengajak teman-teman Loe Joe lainnya untuk hadir, namun banyak yang tidak sempat.

Kehadiran Maman tentu saja menambah semangat para penyimak Panggung Kecil dan semakin menghangatkan ruang diskusi yang dimulai sejak satu jam sebelumnya, karena cerita-cerita dari Maman menjadi sajian utama untuk diskusi dalam volume kedua Panggung Kecil. Setelah saya melontarkan pertanyaan personal tentang bagaimana dia mulai mengenal dan menyukai musik, Maman mulai bercerita bahwa dari segi keturunan keluarganya, tidak ada yang berprofesi sebagai pemusik. “Ayah dan ibu saya seorang birokrat.” Sehingga, ia cukup heran bisa mengenal musik untuk pertama kalinya.  Jadi, Maman mengambil kesimpulan, bahwa lingkungan sangat berpengaruh baginya dalam mengenal musik. “Waktu kecil, om saya sering memutarkan lagu-lagu. Karena waktu itu, apa saja yang masuk di telinga kita, pasti cepat terekam di otak kita, jadi itu yang saya bawa dalam mengenal musik.” Setelah sekian lama, setelah ia masuk SD, Maman mulai membeli kaset-kaset musik rock. “Ibu saya ikut heran, biasanya pada jaman itu anak-anak kecil masih suka menonton si Unyil, saya malah suka mendengarkan God Bless dan band lainnya, walau saya belum mendengarkan lagu-lagu band dari Barat, karena bahasanya masih asing terdengar.” Album Semut Hitam dari God Bless yang pertama kali dibelinya, memuat lagu Kehidupan yang sangat disukai Maman.

Memasuki bangku SMP, Maman mulai rajin menyisihkan uang jajan demi membeli kaset pita. “Di dekat sekolah dulu banyak toko-toko kaset. Jadi, saya sepulang sekolah, singgah ke situ. Saya rela tidak jajan di sekolah, agar dalam sebulan saya bisa dapat satu biji kaset. Entah kaset apa saja yang saya suka, saya beli.” Tak berapa lama, Maman kemudian mulai mendengarkan lagu-lagu rock dari band Barat seperti Deep Purple,Mötley Crüe, dan Metallica. Poster band juga dia koleksi untuk ditempel di dinding kamarnya, “harganya 200 rupiah untuk satu poster.” Memasuki kelas 3 SMP, Maman mulai belajar bermain gitar. Lagu yang dipelajari pun dipelajari langsung lagunya Metallica – Nothing Else Matters dari The Black Album. Karena dulu juga belum ada toko musik atau studio musik yang bisa ditongkrongi, Maman menyebut dekker sebagai tempat nongkrong bersama teman-temannya untuk bermain gitar. “Ada yang main bagian melodinya, ada yang kebagian bermain rhythm. Main sampai begadang bersama teman-teman. Dari situ juga, saya mulai mengenal cara bermain bass,” ungkapnya.

panggung-kecil-vol2_revius4

Maman saat berbincang di Panggung Kecil Vol. 2.

Saat masa SMA pada tahun 1992, Maman mulai bergaul dengan teman-teman yang juga minat dengan musik ketika SMA. Awalnya, ia berkenalan dengan teman-teman sekolahnya, termasuk seorang yang punya studio mini di rumahnya. Lalu, mulai rajin main ke rumahnya dan belajar bermain bass. “Walau belum punya band waktu itu, sekadar bergaul dengan teman-teman lainnya.” Tapi pada suatu saat, ada sebuah band yang tidak punya pemain bass, Maman ditawari untuk main. Pada saat itu juga, lagu-lagu dari Dewa19 sedang naik daun. “Setelah dilihat teman-teman band lainnya, ternyata mereka melihat saya bisa bermain bass,” ungkap Maman yang mempelajari bermain bass secara otodidak. “Saya mulai tertarik bermain bass, karena senarnya juga hanya empat ji, hehehe.”

Metode belajar bermain bass yang diterapkan Maman juga pada waktu itu tidak sama seperti metode sekarang, yang dimudahkan dengan mesin pencari.  Tetapi, cara belajarnya adalah mengulik lagu melalui tape player hingga kaset pitanya rusak karena terlalu banyak di-rewind. “Terkadang saya mesti beli dua atau tiga kaset yang sama, karena tergulung-gulung pitanya akibat sering diputar ulang.” Maman banyak berlatih mendengarkan lagu dengan telinga. “Nah, versi pembetulan dari kulikan akord atau riff tersebut, bila ada teman dari Jakarta, bawa kaset video Betamax yang konser band, di situ mi kita lihat bagaimana cara mainnya. Biasanya yang benarnya main berkata, “Itu’, betul mi saya cara mainku toh. Apalagi bila ada teman-teman dari luar negeri yang bawa pulang partitur dari band-band yang disukai, partitur itu seperti kitab sakti yang disembunyikan, hanya yang punya yang boleh tahu. Giliran yang punya sudah tahu (cara mainnya), dia pamer ke kita. ‘Betul mi ini caramu main? begini eh yang betul’ sambil dia tunjukkan ke kita cara mainnya, ” ungkap Maman sambil tertawa.

Tempat live music di Makassar pada tahun 90-an masih sangat kurang menurut Maman. “Studio musik pada saat itu juga, hanya ada di Jalan Kelinci. Saya ingat sekali uang sewanya masih 3.500 Rupiah per jam. lumayan panas juga, karena tidak pakai AC, hehehe,” ucapnya yang disambut tawa audience Panggung Kecil. Memasuki tahun 2000-an, baru ada toko yang berjualan berbagai merchandise musik, Maman menyebut nama toko MMC yang mengubah gaya anak band lebih modis. “Dulu juga untuk dapat baju t-shirt band, mesti pesan dulu di Jakarta, atau tanya teman ta’ yang lagi di sana, belikan sai’ dulu cess. Nah, pas ada MMC mulai banyak masuk mi pernak-pernik band yang disuka. Partitur-partitur juga mulai banyak,” ucap Maman sambil menambahkan MMC juga pada waktu itu mulai menjual video lessons untuk instrumen dalam bentuk VCD.  Hal ini menurut Maman sangat membantu perkembangan musisi di Makassar dalam mengasah skill bermain. “Iya, karena skill itu susah sekali. Belum tentu yang tahu satu skill, mau mengajar yang lainnya.”

Memasuki fase bermain band yang serius, Maman mulai aktif nge-band bersama teman-teman di sanggar seni STIEM Makassar, mulai membawakan cover dari lagu-lagu milik Boomerang yang sedang top-topnya. Hal ini disebabkan musik rock di Makassar semakin terkenal pada waktu itu, karena menurut Maman biasanya festival band yang main itu semuanya beraliran rock, bahkan setiap pekan itu ada festival musik kampus di Unhas, walaupun sering berakhir ricuh. “Dulu itu Makassar dalam hal bermain musik, persis seperti semut yang mencari gula, jadi apa yang top, mainnya semua seperti itu. Karena dulu juga itu belum ada komunitas tiap genre musik seperti sekarang. Setiap konser rock yang ada di Makassar pasti ramai, karena selain dangdut, musik rock sangat banyak penggemarnya di sini. Kalau God Bless, Power Metal atau Gong 2000 yang datang ke Makassar, pasti Stadion Mattoanging langsung full (penonton),” tambah Maman. “Saya juga mulai mengenal kiprah para senior-senior musisi di Makassar, seperti Proeotoel, bandnya om Andrie Tidie, sama The Zebras yang mainnya rock progresif, kemudian muncul Big Mania, Siluet, yang bawa lagu-lagu rock,” kata Maman sambil menambahkan fakta band-band yang memainkan top 40 mulai banyak bermunculan di pertengahan tahun 90-an.

Maman lalu menceritakan pengalamannya bersama Loe Joe. Sebelum ia resmi bergabung dengan Loe Joe pada tahun 1999, Loe Joe sudah ada sejak tahun 1995, tapi masih sering bermain sebagai band baazar musik waktu itu. “Masih ingat ji toh, 5 kupon main 2 lagu?” ucapnya diikuti dengan tawa para audience. Bazaar Musik itu sangat sering sekali diadakan menurut Maman, karena studio di LoeJoe juga waktu itu menyewakan sound system untuk keperluan tersebut. Baazar musik yang cukup membantu bagi penyewaan alat di studio milik Loe Joe juga menjadi berkah bagi bandnya. Jadi, kalau dalam kalender itu 31 hari, alat yang ada di studio bisa keluar 50 kali dalam satu bulan untuk baazar musik itu, serta biaya sewanya masih 150.000 Rupiah sekali keluar. “Saking seringnya itu alat keluar, bisa ji pulang sendiri itu alat saking capeknya,” canda Maman.

Studio di Loe Joe juga terbilang demokratis menurut Maman,  karena menjadi studio yang tidak melarang musik rock dimainkan di dalam studionya. “Apalagi waktu itu sangat terkenal musik thrash metal, dan aliran rock lainnya, akhirnya banyak studio lainnya yang pasang papan di depan studio bertuliskan no thrash, no punk, atau apalah.” Karena musik bisa memupuk persaudaraan, sehingga Loe Joe menjadi studio yang paling sering ditongkrongi musisi-musisi rock di kota Daeng. Secara tidak langsung, Loe Joe juga memberi support pada perkembangan musik rock di Makassar memasuki era millenium. Baazar musik yang cukup membantu bagi penyewaan alat di studio milik Loe Joe juga menjadi berkah bagi bandnya. Tiap personel bisa membeli instrumen masing-masing walau yang bagus masih terbilang langka dan mahal. “Karena, kalo ada mi satu band yang bawa gitar sendiri, bass sendiri, atau double pedal-nya sendiri, edededeh, ini mi jagoannya, hahaha,” ucap Maman sambil menambahkan Top Musik dan Tom’s Musik serta toko-toko olahraga dan musik di sepanjang Jalan Somba Opu sebagai toko alat musik yang menyediakan kebutuhan para anak band ketika itu. “Jadi kalau penyedia sound system disewa untuk sebuah event, harus lengkap alatnya. karena tidak semua band punya alat musik sendiri.” Maman sendiri bersyukur karena manager dari Loe Joe memberi perhatian penting untuk kebutuhan alat musik. “Jadi, semua alat dibelikan untuk setiap personel. Malahan kami sempat jadi band yang ditakuti, hahaha,” ungkap Maman. Para audience Panggung Kecil kembali tertawa mendengarkan cerita tersebut.

Maman juga membagi ceritanya ketika Loe Joe mengikuti Festival Rock Se-Indonesia Log Zhelebour ke-IX (tahun 2001) dan ke-X (tahun 2004). “Itu (Festival Rock) salah satu cita-cita terbesar saya.  Dari SD, saya sudah lihat infonya tentang itu.” Maman sempat berpikir bagaimana caranya bisa sampai pada tahap tersebut. Dan, bisa bergabung bersama Loe Joe bisa menjadi jalan untuk menggapai cita tersebut. Maman juga mengungkapkan bahwa untuk berangkat merekam album di Jakarta, Loe Joe masih belum mempunyai modal banyak. Jadi, Festival Rock se-Indonesia juga menjadi pintu masuk sebuah band rock untuk masuk ke dunia industri rekaman kala itu.  “Berhembus gosip yang saya dengar bakal ada diadakan (Festival Rock) lagi pada tahun 2001. Saya kaget dan senang sekali mendengar kabar tersebut.” Persiapan pun mulai dilakukan Loe Joe, salah satu menciptakan sebuah lagu sebagai syarat bisa ikut dalam Festival Rock. “Dulu, kami bermain musik di Makassar, jarang ada yang mencipta lagu, karena masih ada kebanggaan sebuah band bisa meng-cover lagu band pujaannya dengan sama persis,” ujar Maman. Akhirnya, Loe Joe membuat lagu untuk Festival Rock dengan menggabungkan berbagai influence dari musisi kesukaan, dan jadilah lagu Menggapai Cita. Lagu tersebut pun dibawakan terlebih dahulu di berbagai festival musik di Makassar. “Alhamdulillah, respon penikmat musik untuk lagu itu sangat bagus saat dibawakan di panggung.”

Setelah pengumuman Festival Rock betul-betul diadakan pada tahun 2001, Loe Joe lalu mendaftar dengan membawa Menggapai Cita dan mesti memilih lagu pilihan. Lagu milik Teaser dari Temanggung menjadi pilihan Loe Joe untuk di-cover. “Saat itu festival musik biasa, biaya pendaftarannya 50.000 Rupiah, tetapi untuk Festival Rock mesti membayar 550.000 Rupiah. Jadi, kongsi-kongsinya terbilang banyak waktu itu,” ungkap Maman. Setelah seluruh administrasi pendaftaran dipenuhi, Loe Joe kemudian mengikuti audisi untuk bersaing dengan seluruh band Rock di Indonesia Timur, mulai dari Sulawesi hingga Papua. Sekitar 70 band yang ikut audisi di bioskop Arini yang ada di Jalan Rusa, Makassar.  Dipilihlah 10 finalis daerah yang akan dilombakan di Stadion Mattoangin, termasuk Loe Joe yang kembali lolos untuk tampil dalam acara puncak di Surabaya. “Di sana, kami ketemu lagi dengan 20 band dari seluruh Indonesia. Pressure-nya sangat keras waktu tampil, seperti rasanya penuh dumba’-dumba’ kalo nonton PSM bertanding, hahaha,” Maman sambil menambahkan memang band dari Makassar kuat dalam hal berkompetisi nge-band ketika itu, walau untuk jadi band yang punya album dan ngartis masih susah. “Termasuk mi itu, membuat lagu untuk rekaman, mesti pulang kampung ki’. Pas di sini, keenakan mi ambil job kiri-kanan, dilupa mi target bikin lagu untuk album.” Walhasil, sampai saat ini, Loe Joe belum mengeluarkan album studio penuh, masih mengandalkan lagu-lagu yang dikeluarkan dalam bentuk single dan album kompilasi. “Ada beberapa materi lagu yang sebetulnya dipersiapkan untuk album, tetapi sepertinya sudah kurang semangat untuk direalisasikan,” ungkap Maman sambil menambahkan bahwa band-band di Makassar sekarang sudah mulai banyak yang mengeluarkan album sendiri itu termasuk hal-hal menggembirakan yang diketahuinya.

Boby dari Kedai Buku Jenny kemudian melontarkan pertanyaan tentang keterlibatan media pada waktu itu yang memberitakan soal band dan panggung musik rock di Makassar. “Walau belum spesifik seperti sekarang ada media yang memberitakan musik saja, apakah ada media surat kabar di sini, yang punya rubrik sendiri dalam membahas panggung musik di Makassar?” tanyanya kepada Maman.  “Terus terang, dulu itu untuk diliput di koran, terbilang sangat susah. Ada pi teman (wartawan) ta’, baru diliput ki’.” Syukurnya, Loe Joe pada waktu itu punya teman wartawan bernama Dadang (alm.) dari Harian Pedoman Rakyat yang sangat membantu mereka dalam hal pemberitaan.”Jadi, pada waktu Festival Rock itu, kami mesti menyetor foto untuk pendaftaran. Nah, ini personelnya Loe Joe paling malas difoto. Baru pas pendaftaran, kita tidak setor foto dan ditelepon langsung sama panitianya.” Loe Joe sempat menyetor foto pas mau naik ke panggung untuk sekadar kasih masuk saja, tetapi tidak diterima juga sama panitianya. “Beliau (Pak Dadang)akhirnya menyarankan untuk membuat foto baru saja karena menurutnya, foto yang di panggung tanja’ tukang becak bede’,” kata Maman dikuti tawa para audience. Akhirnya karena keperluan untuk tampil di Surabaya, Loe Joe mesti membuat foto band yang baru sehari sebelum pendaftaran ditutup. “Jadi, pagi-pagi sekali, disuruh mi kumpul semua di studio jam 7 pagi. Ballasi’ gondrong disuruh bangun jam 7 pagi, hahaha.”

Pak Dadang juga yang banyak mendampingi Loe Joe saat di Surabaya, karena harian Pedoman Rakyat pada waktu itu juga merupakan official media partner-nya Festival Rock se-Indonesia. “Jadi pada waktu penyisihan (Festival Rock), Pedoman Rakyat menerbitkan cetakannya dua kali lipat dari yang biasanya. Satu bagian untuk membahas berita seperti biasa, satu bagian lagi khusus untuk Festival Rock. Mulai dari foto hingga ulasan tiap bandnya ada semua.” Pak Dadang menurut Maman secara keseluruhan sangat mendukung Loe Joe, karena di luar festival rock tersebut dan bila ingin ada diliput, Loe Joe tinggal mengirimkan foto tampil di panggung dengan outline untuk artikelnya, yang tinggal dikembangkan nanti oleh Pak Dadang. Bahkan, Pak Dadang sering memberikan saran-saran untuk Loe Joe agar disiplin waktu dan banyak hal, layaknya seorang manager. Selain berita musik tentang Loe Joe, Maman juga sempat melihat banyak juga berita musik lainnya dari Makasssar yang sempat diwartakan oleh Pedoman Rakyat.

Justru media radio yang resmi mengudara di Makassar yang tidak akrab dengan Loe Joe. “Mungkin kami dulu tidak akrab dengan orang-orang radio itu,” ucap Maman sambil menambahkan tentang band Big Mania yang sering live di Madama. Hal ini penyebabnya karena lagu karya sendiri untuk promo belum layak untuk dimasukkan di radio-radio tersebut.”Boleh percaya atau tidak, kami tidak punya media rekam untuk tracking instrumen sendiri. Media rekam pun masih menggunakan kaset pita. Jadi, lagu direkam secara live, dimainkan serentak, diusahakan tidak boleh salah dan tidak pakai metronome, hitung sendiri mi temponya.” Pada waktu itu pula, banyak radio-radio liar yang masih aktif beroperasi. Melalui jejaring radio tersebut, Loe Joe pun menumpang untuk memutarkan lagunya dan syukurnya banyak request memutar lagu tersebut. “Kalo misalnya masuk di chart radio sekarang itu, bisa tonji peringkat satu, hehehe.”

Terkait dengan pertanyaan Hendra dari Musicalab Studio tentang Loe Joe yang kembali reuni di panggung Musik Merdeka lalu, Maman mengungkapkan sebenarnya hal reuni itu sudah sangat lama dicita-citakan. “Walau saya sempat berpikir belum pi jodoh untuk membuat album hingga memutuskan keluar pas 2013, bahkan sering mi saya menolak bila diajak kembali main lagi. Saya ingin Loe Joe yang baru punya sesuatu yang baru juga.” Walau sebenarnya sudah tidak ingin bermain lagi, setelah dipikir-pikir, ternyata ajakan tersebut diterima juga oleh Maman, supaya Loe Joe terasa ‘muda’ lagi dan harapan yang besar supaya Loe Joe semangat menulis lagu kembali.

Selepas obrolan panjang dan menghanyutkan bersama Maman, saya pun menutup obrolan dengan kesimpulan bahwa banyak cerita perjalanan musisi dan band di Makassar seperti dialami oleh Maman bersama Loe Joe yang mesti didengarkan agar perjuangan anak band pada era itu yang tidak mudah dalam banyak hal, patut diapresiasi dalam bentuk  rekam jejak dokumentasi adanya geliat panggung musik rock di Makassar dari tiap zaman.  Hal ini juga merupakan salah satu upaya agar musik bisa diperlakukan serius di kota ini, seperti halnya PSM mengharumkan nama Makassar di kancah sepak bola nasional. Dan, saya pun sempat berucap kepada Maman perihal Loe Joe bisa tampil di Panggung Kecil edisi selanjutnya. “Yang penting ada ji Ippank bisa nanti,”canda Maman yang menyebutkan salah satu road crew dari Loe Joe tersebut.

Speed Instinct sebagai salah satu penampil kemudian menutup Panggung Kecil Vol. 2 dengan tiga lagu. Walaupun tidak diperkuat oleh Leo, sang vokalis yang berhalangan hadir, Speed Instinct tetap tampil trengginas dengan Dennis menjadi pengganti vokalis sekaligus bermain gitar. Ketika saya berkesempatan jamming dengan Speed Instinct membawakan Smells Like Teen Spirit milik Nirvana di lagu terakhir, distorsi gitar semakin menyalak, menyemangati saya dan teman-teman Speed Instinct memanaskan Panggung Kecil. “Saya langsung ingat pas waktu masih dengar Nirvana,” kata Maman  saat menyimak Speed Instinct membawakan lagu tersebut.

speed-instinct_panggung-kecil-vol-2_revius

Speed Instinct ketika jamming bersama saya di Panggung Kecil Vol. 2.

Menyimak pengalaman Maman dan hadirin Panggung Kecil lainnya yang bercerita tentang pengalaman mendengarkan musik dan bermusik karena dipengaruhi lingkungan sekitar, saya pun langsung teringat dengan pendapat Erich Fromm dari obrolan bersama teman di akhir pekan lalu. Erich dalam bukunya Man for himself, an inquiry into the psychology of ethics (1947) mengemukakan bahwa kepribadian manusia tidak hanya dipengaruhi dan dibentuk oleh kekuatan naluri biologis, tetapi kepribadian dipengaruhi oleh aspek sosial dan budaya. Termasuk pula dengan kebutuhan berkarya, karena merupakan cara yang sehat untuk mengatasi keadaan yang pasif.

Cerita dari Maman pula merupakan salah satu bagian penting dari sejarah panjang panggung musik rock di Makassar sejak tahun 1970-an. Bagian-bagian lainnya yang akan segera didengarkan maupun dituliskan kelak, diharapkan bisa menjadi bagian penting dari dokumentasi perkembangan musik rock di Makassar. Walau memerlukan waktu yang panjang dan ketekunan yang kompak dalam mengumpulkan berbagai cerita tersebut. Dan, semoga di lain waktu, kita bisa mendengarkan cerita-cerita dari pelaku musik lainnya di Makassar. Mariki’!

Seluruh penampil dan narasumber beserta tim acara berfoto bersama setelah Panggung Kecil Vol. 2 sukses dilaksanakan. (Foto: Zhaddam Aldhy Nurdin/Panggung Kecil)