Oleh: Kemal Syaputra* ( @Mr_Kems )| Sumber Gambar: Universe Films

Ada adegan ketika lima gadis cilik dalam film ini diberi tugas oleh gurunya, saat pulang ke rumah nanti mereka menanyai orang tua mereka masing-masing apa mimpi mereka. Ketika para gadis cilik ini pulang ke rumah lalu menanyai orang tua mereka, orang tua mereka kesulitan menjawabnya, bahkan mengganggapnya pertanyaan konyol. Ini merupakan adegan yang sangat menyengat, powerful, dalam Little Big Master, memperlihatkan kembali bahwa salah satu efek mengerikan terbesar dari kemiskinan adalah ia mampu mengikis dan mengubur mimpi-mimpi.

Jika kamu sudah terbiasa dengan film-film bertema pendidikan yang mengutamakan realitas sehari-hari, seperti Entre Les Murs, Half Nelson, atau Not One Less, maka mungkin Little Big Master akan menjadi film yang sulit untuk ditonton. Walau kisahnya diinspirasi dari kejadian nyata, Little Big Master tidak mengutamakan realitas sehari-hari. Tanpa spontanitas, dengan formula tearjerker. Ada beberapa hal minor di dalamnya yang nampak masuk akal awalnya, lalu tiba-tiba berubah menjadi tidak masuk akal, sebuah gaya bercerita yang selalu digunakan oleh film-film yang mementingkan dramatisasi. Tapi sasaran Little Big Master jelas, ingin menjadi tontonan keluarga. Director-nya, Adrian Kwan menginginkan film ini tidak hanya menyentuh penonton dewasa, tapi juga, melalui kemampuan acting menyentuh nan lucu ke-lima aktris kecilnya, Adrian berharap mampu menyentuh penonton cilik. Di balik dramatisasinya yang kental, Little Big Master sebenarnya juga berhasil membidik poin-poin penting yang menggelitik cara pikir.

Little Big Master berkisah tentang sepasang suami istri yang tengah dilanda kebosanan terhadap pekerjaan masing-masing yang memapankan mereka secara finansial. Bukan karena mereka tidak menikmati pekerjaan tersebut, hanya saja aspirasi mereka dalam bekerja seolah-olah dikendalikan pihak-pihak yang lebih berkuasa dan ber-uang. Sang istri, Lui Wai-hung, memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai kepala sekolah di sebuah TK elit, di mana murid-muridnya diharuskan belajar sangat ketat dan keras. Di masa rehat-nya Lui malah kebosanan, lalu suatu hari lewat sebuat berita tv, ia menemukan sebuah TK dalam kondisi yang parah –tanpa guru tetap, tanpa kepala sekolah– yang akan ditutup karena pemerintah tak mau lagi membiayainya. TK ini hanya dihadiri lima murid, semuanya perempuan, dan semuanya dari keluarga miskin. Merasa tergerak, Lui memutuskan bekerja sebagai kepala sekolah sekaligus guru di sana walau hanya dengan gaji yang sangat sedikit, dengan misi bisa mempertahankan TK ini hingga tahun ajaran baru, sembari mendatangkan murid yang lebih banyak agar tidak jadi ditutup oleh pemerintah.

Little Big Master_Revius (2)

Sang istri, Lui Wai-hung, memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai kepala sekolah di sebuah TK elit dan membangkitkan kembali TK yang sudah dalam kondisi parah.

Little Big Master kurang lebih mampu menjadi cermin dunia pendidikan masa kini. Ketika anak-anak di usia dini terlalu dituntut menjadi pintar dan berotak encer, kita malah lupa untuk memoles karakter mereka menjadi pribadi yang baik nan bermoral. Inilah perbedaan yang tampak antara TK elit tempat Liu dulu bekerja, dengan TK miskin yang ia kelola kemudian. Sementara di TK elit semua murid-nya dituntut oleh guru dan orang tua-nya untuk belajar ekstra keras dan giat, perhitungan dan bahasa, sebuah sistem yang Liu sayangkan. Di TK miskin, kini Liu lebih leluasa untuk membentuk karakter murid-muridnya. Liu menginspirasi mereka membantu mengatasi rasa takut, menguatkan mereka tentang pentingnya sebuah mimpi serta harapan untuk dimiliki dalam kondisi apapun. Bagi Liu, dan bagi siapapun yang sepaham dengannya, anak-anak butuh belajar moral yang baik, sebelum belajar berhitung dan bahasa yang benar. Satu hal lain yang memikat dari cerita ini adalah ada semangat feminisme yang hidup di dalamnya secara tersamarkan, melalui karakter Liu dan murid-murid-nya sebagai center characters. Samar karena film ini tidak sedang berurusan dengan isu gender, walau sebenarnya juga sanggup.

Saya selalu menyukai Miriam Yeung, bukan semata-mata karena pesona yang ia miliki, tapi juga karena spirit yang selalu berhasil ia berikan untuk karakter-karakter yang ia bawakan, termasuk untuk karakter Lui Wai-hung dalam film ini. Tapi jika ada satu hal yang ingin saya ubah dari Miriam sebagai Lui Wai-hung, itu adalah cara dia berpakaian dan berdandan ketika berada di lingkungan miskin tempat TK dan murid-murid-nya berada. Hati-nya berbaur, namun penampilannya memberi jarak. Kemudian ada suaminya, yang diperankan Louis Koo. Mungkin karena Louis adalah aktor papan atas di Hong Kong sehingga peran minor-nya diberi cukup banyak porsi dalam film ini. Padahal porsi yang diberikan untuknya terasa malah memperpanjag durasi saja, tanpa memberi dampak yang signifikan untuk perkembangan cerita.

Miriam Yeung berperan sebagai Lui bukan semata-mata karena pesona yang ia miliki, tapi juga karena spirit yang selalu berhasil ia berikan untuk karakter-karakter yang ia bawakan

Miriam Yeung berperan sebagai Lui Wai-hung bukan semata-mata karena pesona yang ia miliki, tapi juga karena spirit yang selalu berhasil ia berikan untuk karakter-karakter yang ia bawakan.

Paham bahwa saya tidak akan menyaksikan kisah se-real Entre Les Murs atau Not One Less, Paham bahwa narasinya akan manipulatif dan selalu haus akan air mata penonton, maka saya pun sedari awal menyaksikan Little Big Master dengan antisipasi. Tapi sembari menyaksikannya dengan antisipasi, saya juga berusaha menggali dan mencari apa yang layak saya hargai dan rayakan dalam film ini, dan saya berhasil menemukannya. Little Big Master bukan hanya sekedar tipikal cerita yang target utamanya adalah air-mata lalu menyusul sisipan pesan moral, melalui perjalanan karakter utamanya, ia juga berhasil secara tulus menyentuh salah satu kondisi paling rapuh manusia dan menyuarakan perubahan.

  little big master_revius_posterLITTLE BIG MASTER | Sutradara: Adrian Kwan | Tahun Rilis: 2015 | Genre: Drama | Asal: Hong Kong |Rating : 3.5 / 4 Stars

*Penulis adalah penggiat komunitas Cinema Appreciator Makassar


Baca ulasan film lainnya dari Kemal Syaputra

Selera Humor yang Terpelihara di Tengah Kemelut Bertahan Hidup

Ego yang Lenyap dalam Hati Bajrangi

Kesedihan di Tengah Tawa

Roman Hitam Putih Kehidupan Siti

Kegilaan Superhero yang Ingin Tenar Kembali