Suatu siang yang cerah, saya menyambangi sebuah ruko lantai 3 di jalan Lamadukelleng, Makassar. Kedatangan saya di Jaxs Barbershop—yang mengklaim dirinya sebagai “The first high class barbershop in town—bukan untuk mencoba potongan slicked back undercut. Pertama, karena Jaxs hanya mendandani pria. Kedua, sudah lama kami ingin mengobrol dengan sang owner, Chandra Tauphan.

Sebelum menggeluti dunia barber, jejaka yang akrab disapa Chano ini lama bereksperimen di dunia musik dansa elektronik, khususnya musik dubsteb. Pada tahun 2012, Di sela-sela kesibukannya menempuh studi di Charles Sturt Univesity, Melbourne, dia merilis album debutnya The Arrival, secara online.

Baru beberapa menit bersua, kami menanyakan “proyek masa lalu”-nya itu dan berlanjut ke perbicangan mengenai Jaxs, bisnis dengan ratusan juta rupiah per bulan. Ini dia sekelebat hasil obrolan dengan pria humoris yang mencoba membuat anak muda Makassar terlihat seperti seorang champ.

562931_10200866490049927_729531085_n

Awal mula ‘kedatangan’ The Arrival ini?

Saya suka buat musik. Itu project (The Arrival) dibuat di Melbourne. Dulu kan sambil kuliah cari uang kecil-kecilan. Saya suka produce musik, main DJ. Saya memang dulu musisi sebelum ini (album The Arrival lahir. Red). Ha ha.

Musisi apa?

Musisi metal. Bandku, Black Jasmine,  tahun 2006 sampai 2009 cukup terkenal di Jakarta. Terus saya solo karir. Pindah ke electronic music, saya bawa dubstep ke Indonesia sampai namanya hype. Nama genre musiknya dubstep jadi naik, lalu mulai banyak haters.

Memangnya sejak kapan dubstep in di Indonesia?

Dubstep sudah masuk di Indonesia sejak 2006 tapi belum hype. Sama istilahnya kayak Skrillex dulu, Skrillex kan yang buat musik dubstep jadi hype, padahal sebelumnya sudah ada. Makanya Skrillex banyak haters-nya dari kalangan senior musik EDM begitu. Mirip dengan kasus saya. Soalnya saya baru datang langsung masuk line up, namaku dicantumkan di bagian atas, dan nama-nama senior dipasang di bawah. Jadi, istilahnya saya dan Skrillex sama kasusnya. Banyak haters, banyak fans juga dulu.

Ceritanya mau mempopulerkan dubstep?

Iya, tapi susah memang jadi musisi di Indonesia. Dubstep cuma bertahan satu tahun.

Sekarang bagaimana?

Masih ada, cuma nda se-hype dulu. Mbak, kalau ngomong musik, jangan debat sama saya. Tolong moderatornya jangan tepuk tangan dulu. Ha ha.

Dubstep itu musik kayak gimana sih?

Dubstep itu sebenarnya music reggae town. Upbeat-nya sama terus dikombinasikan dengan suara robot dan temponya tuh 140 standar, jadi pelan. Tapi, banyak instrumen yang masuk. Eh, kenapa kita jadi ngomong musik sih?

Kan mau bahas proyek masa lalu toh? Ha ha

Oh, saya tau temanya ini. “Dari musisi beralih ke businessman”.  Ha ha.

Ha ha. Pengerjaannya berapa lama?

Untuk proses pengerjaan sebenarnya sudah lama, tapi baru bisa rilis itu sekitar lima bulan. Habis selesai proses mastering, mixing, terus awalnya mau pakai label (major), tapi nda jadi. Akhirnya pakai (label) indie. Terus, masalah promo, marketing, dan launching lancar. Pas rilis, saya tidak di Indonesia. Biasanya kan setiap musisi sehabis merilis album, lanjut tur, main ke mana-mana. Saya nda sempat. cuma rilis online ji. Jadi, saya kurang puas.

Sudah tidak ada niat buat melanjutkan?

Iya, kemarin saya ditawari main sama anak Makassar juga, di acara prom night. Belum pasti sih. Waktu jaman dubstep saya jarang minta fee. Saya main karena memang hobi. Saya nda masalah, yang penting saya senang, yang penting crowd-nya asik. Sekarang saya masih produce banyak materi, tapi sudah tidak murni dubstep lagi, EDM-EDM jaman sekarang. Easy listening yang bisa didengar semua kalangan. Soalnya dubstep kan nda diterima semua kalangan. Cuma kalangan tertentu, kalo orang awam dengar pasti merasa aneh kayak Transformer. Yeah, something like that..

Kenapa mesti diproduksi di Australia dan Indonesia?

Nama Chano itu dikenalnya di Jakarta, sebelum itu. Terus saya bawa ke Melbourne, sempat bolak-balik, bawa main ke Jakarta, balik lagi. Nah, di Melbourne baru bisa produce lagu sendiri. Kalau saya produce lagu harus sendiri. Spend many hours every day, probably 10 hours a day.

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam merilis album ini?

Apa ya? Kalo kesulitan pengerjaan sampai rilis album ini banyak, soalnya setiap kita dengar pakai headsheet kita selalu tidak puas dengan apa yang kita buat. Jadi, ganti sampe mentok sampe benar-benar enak baru seterusnya. Harus nanya sana-sini, gimana komentarnya sebelum rilis. Saya sebenarnya pribadi kurang puas sama The Arrival itu. Karena tiga track doang, dan nda se-booming waktu pertama main dubstep. Gitu.

Ada proyek musik selanjutnya?

Proyek selanjutnya, paling saya mau buat musik yang kayak Disclosure gitu. Dia musiknya elektro, tapi ambient. Ada yang ngajakin, tapi sebenarnya saya sudah produce beberapa materi. Aliran trap, aliran electro house. Banyak yang sudah saya buat, tapi belum rilis. Buat fun saja. Saya lebih serius ke cintaku, ke bisnis. Fokus ke bisnis, musik nda diniatin serius. Soalnya musik di Indonesia susah. Kalau buat hidup, susah.

Lanjut soal Jaxs, waktu berdirinya sama dengan  masa-masa The Arrival itu kan?

Deh, nataunya.. Ha ha. Kalau Jaxs sebenarnya itu brand-nya sudah ada sejak akhir November 2013. Itu konsep sudah matang semua, sudah bikin tempat di Mappanyukki, tapi tempatnya kekecilan. Makanya, saya tulis “Since 2013” maksudnya brand-nya. Rilis awalnya Februari 2014 awal.

What inspires you to become an owner of barbershop, and where did you get the idea?

Idenya itu.. saya kan tinggal di Melbourne. Saya suka lihat fashion trend di sana. Pernah juga saya ke barbershop di negara selain Australia. Konsepnya, culture-nya tuh bagus banget, real barber. Mulai dari kapsternya, style British-nya, cara motong rambutnya, terus sempat mikir, di Indonesia sudah banyak barber, tapi culture-nya belum ada yang megang banget. Di Makassar belum ada, kenapa nggak saya buat? Ya kan? Ya udah bikin konsep, business planning, brainstorming, semuanya. Akhirnya, nyampe di Indonesia langsung ngebut cari lokasi yang bagus, cari kapster, dan lain-lain. Sebenarnya sih saya terinspirasi karena saya sendiri suka.. apa ya? Peduli dengan penampilan gitu sih. Cowok-cowok yang di Makassar juga kasian, motong di mana sebelumnya? Di Madura, di salon.. cowok-cowok juga kalo motong di salon nda puas. Nda bener-bener dimanjain gitu.

Jaxs sudah berjalan setahun, how do you feel about that?

I feel proud of myself, of course. Soalnya ekspektasinya nda segini dari awal. Di hari opening, saya panggil guest barber asal Singapura. Tiga jam sebelum opening, Saya sempat mikir “rame gak ya?” Soalnya konsep kayak ginian belum masuk di Makassar. Takut. Sempat was-was. Terus sempat mikir nanti bikin malu orang tua segala macam. Pas grand opening jam 10, saya kaget sendiri melihat antriannya. “Gilak!” kata saya dalam hati, tentu saja dengan rasa senang. Sampai ada orang yang hari pertama datang, hari ketiga baru bisa motong. Tiga hari menunggu.

jaxs ig

Kira-kira apa yang membuat mereka betah ngantri di Jaxs?

Satu, kualitas. Kualitas itu sudah pasti. Culture-nya. Keramahan tukang motongnya, sebelum bekerja, mereka mendapatkan training dulu, selain teknik memotong rambut, yang paling penting adalah bagaimana berkomunikasi yang baik dengan customer. Customer harus nyaman. Produknya, suasananya asyik. Nda tegang, nyaman. Sampai ada yang ketiduran tadi. Ha ha

Bagaimana Jaxs melihat barbershop lain sebagai kompetitor?

Sebenarnya kita nda anggap kompetitor ya, kalo di culture barber kita selalu saling support. Kalau antrian di Jaxs sedang penuh dan customer terlihat buru-buru, kita arahkan untuk ke barber shop lain, karena kita saling support. Sebelumnya kan saya survei culture barber sampe pas saya ke Eropa, ke Singapura, belajar barber-nya, belajar culture-nya. Sesama barber kita harus saling support.

How do you see barbershop industry in Makassar?

For long term? Kalau saya, barbershop di Makassar tuh bagus buat long-term soalnya dari sebelum-sebelumnya saya sudah survei. Saya banyak nanya ke anak muda di sini, mereka tuh dari dulu pengen nyari tempat buat mereka motong, mereka nyaman, mereka puas. Dan secara jangka panjang bagus. Sudah lima kota yang nawarin franchise Jaxs. Gorontalo, Bali, Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Tapi, saya masih belum berani karena masih baru dan kalau kita kasih, nama Jaxs bisa rusak kalo gak ditanganin langsung di sana. Coba datang (grand opening) kemarin, Sadis antriannya.

Give us reasons why every gentleman in this town should come here.

Sebenarnya simpel aja sih.. Asik. Kalau memang benar-benar butuh penampilan bagus sesuai dengan yang diinginkan, why not try our barbershop? Servisnya nyaman, tempatnya nyaman, kapsternya ramah, daripada coba-coba? Dari harga kita juga masih di bawah loh. Orang bilang harga kita murah banget. Banyak yang bilang “kenapa murah banget di sini?”

Oh iya kalau di keluarga ada yang memang basic-nya barber?

Di keluarga cuma saya yang ke jalur bisnis. Maksudnya, yang lain kontraktor. Cuma saya yang berani buka bisnis sendiri. Pertama juga sebelum buka sempat di-underestimate sama kakak, sama mama. Terus sekarang, mereka oke, bangga dengan hasilnya. Melihat excited-nya orang Makassar tiap kali ngantri. Menurut customer kami, Jaxs dikenal dengan antriannya. Soalnya kita sengaja gak ngasih reservasi, kecuali member.

Any message to others who want to build barbershop business too?

Pesannya kalau mau buat barbershop. Barbershop itu sebenarnya gampang. Maintenance-nya gampang. Bisnis paling gampang. Alatnya nggak mahal. Kalau mau buat sekali ‘wah’ harus main di interior yang cozy, penampilan barber yang representatif, dan marketing yang oke.