Ilustrasi: Ananda Al Givari M. ( @algiivar )

Muda dan berpengalaman. Itulah yang pertama kali terlintas melihat profil penulis muda ini. Berbagai pengalaman yang cukup menggiurkan tentu saja bagi anak muda seusianya. Pernah bekerja sebagai reporter di Manado Post dan pernah mengikuti program magang di Komunitas Salihara. Cerpen pertamanya, Solilokui Bunga Kemboja, dimuat di Kompas dan terpilih menjadi salah satu cerpen pilihan Kompas 2010. Selain di Kompas, karya-karyanya juga pernah dimuat di Majalah Sastra Horison dan Majalah Sastra Surah. Pada 2014, ia mengikuti kelas Menulis dan Berpikir Kreatif yang dimentori oleh Ayu Utami. Di tahun yang sama, ia terpilih sebagai salah satu peserta Akademi Menulis Novel yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta.

Dialah Cicilia Oday. Perempuan yang lahir di Kotamobagu pada 2 Agustus 1989, kini dia hadir di Makassar sebagai salah seorang Emerging Writers MIWF 2016. Revius berhasil berbincang dengan perempuan muda alumnus fakultas hukum ini. Berikut ringkasannya:

Ceritakan dong proses awal menulisnya

Saya mulai menulis rutin di tahun-tahun pertama kuliah. Waktu itu saya sengaja ‘meninggalkan’ teman sekamar saya supaya bisa punya ruangan sendiri untuk menulis. Sejak itu, saya biasa mengurung, memadamkan lampu kamar dengan hanya menyisakan cahaya dari layar laptop, sementara kehidupan di luar pintu kamar tetap berlangsung. Itu masa-masa menulis paling intens—yang sayangnya sudah sulit diulang sekarang. Kehidupan saya jadi tidak seimbang, pergaulan pun dikorbankan, tapi saya tidak pernah menyesalinya.

Kalau proses kreatif Cicilia Oday sendiri?

Kebanyakan proses kreatif saya dimulai dari lamunan dan perasaan sepi. cie.

Dari awal proses itu, tentu ada penulis yang berpengaruh bagi kamu. Siapa saja mereka?

Para penulis yang memengaruhi saya: Sherwood Anderson, Haruki Murakami, Banana Yoshimoto, Jhumpa Lahiri, Linda Christanty, Dee Lestari, dan Stephenie Meyer. Saya tidak malu menyebut penulis-penulis yang dianggap populer. Ada kecenderungan belakangan orang malu mengaku membaca si anu, bukan karena jelek tapi karena buku-bukunya populer. Penulis idealku tetap John Steinbeck!

Selain dari mereka, ada tidak hal lain yang turut memengaruhi. Seperti film atau lagu?

Film sangat menginspirasi. Film-film kesukaanku Margot at the Wedding, Lost in Translation, In the Land of Women, Brokeback Mountain, Carnage, Blue Jasmine, A Separation, dll. Kalau dari musik: Coldplay, Dido, Lana Del Rey, Norah Jones, Anggun C. Sasmi, Christina Perry, dll. Ssst… aku juga suka Taylor Swift.

Pendapat kamu mengenai program Emerging Writers sendiri?

Pendapat saya mengenai emerging writers ini tentu positif—makanya saya ikutan, kan, hehe. Sebab para penulis berusia relatif muda dengan potensi dan idealisme masing-masing diberi kesempatan untuk berkumpul, terlihat, dan terdengar.

Rencana setelah ini apa?

Membaca lebih banyak. Memiliki lebih banyak teman penulis. Ingin menerbitkan novel. Apalagi ya…

Secara umum mengenai MIWF, apa harapan kamu bagi festival ini di edisi berikutnya?

Pesan saya MIWF dipromosikan lebih luas lagi ke daerah-daerah pelosok. Dengan begitu, bukan tidak mungkin pada festival tahun-tahun berikut para tamu/pengunjung/penonton juga berasal dari daerah-daerah lain dari kawasan Indonesia Timur. Lalu saran saya bagaimana kalau panitia atau para pengurus memberi kesempatan pada orang-orang untuk merequest penulis atau penyair atau artis atau pembicara siapa untuk diundang mengisi acara. Tokoh yang di-request itu nanti menjadi semacam bintang tamu dan dengan begitu kehadirannya akan dinanti-nantikan. Ini akan membuat acara jadi lebih menarik.


Baca tulisan lainnya

Ibe S. Palogai: Tulis Mi Apa Maumu!

Yang Akan Kamu Temukan dan Semoga yang Kamu Cari di Makassar International Writers Festival 2016

MIWF is For Everyone!

MIWF 2015 Day 1: Tribute to Passion

MIWF 2015 Day 2: Knowledge for Your Imaginations

MIWF 2015 Day 3: Promoting Literature Around the World

MIWF 2015 Day 4: Knowledge & Universe