Foto: Sofyan Syamsul ( @pepeng__ )

Cinta dan fanatisme adalah dua hal yang berkaitan erat. Kepedulian dan kesetiaan adalah dua hal utama yang melandasi keduanya. Dan dukungan adalah bagian terkecil pernyataan akan kepedulian dan kesetiaan. Termasuk dalam sepakbola.

PSM Makassar sebagai klub tertua di Indonesia, telah lama terkenal dengan fanatisme suporternya. Kultur Siri’ na Pacce turut memengaruhi keberlanjutan hal tersebut. Rasa malu akan keterpurukan tim, dan loyalitas sebagai tim kebanggan tanah kelahiran, menjadikan suporter PSM Makassar adalah salah satu kelompok suporter yang disegani di kancah persepakbolaan tanah air.

Di tengah kebobrokan pengurus sepakbola di negeri ini yang merambat hingga ke pelosok desa. Kemudian berlanjut dengan sanksi dari FIFA. Piala Presiden 2015 menjelma seperti momen menyatakan cinta yang telah lama terpendam di dada para suporter. Sofyan Syamsul kemudian mengabadikan euforia tersebut di dua pertandingan awal yang digelar di Stadion Gelora Andi Mattalatta Makassar.

PP (12 of 13)

Sepakbola, sebagai olahraga terpopuler di Indonesia, adalah media pengungkapan rasa kebanggaan akan fanatisme dan cinta masyarakat dari berbagai kelas sosial. Di sana ada lokalitas, di sana ada nasionalisme. Sayang sekali, jika direnggut oleh kepentingan pihak tertentu.

PP (3 of 13)

Cinta yang berakar oleh kultur, membuat fanatisme tak kenal umur. Meskipun anak-anak dan sepakbola adalah urusan kesenangan. Bukan hanya kemenangan.

PP (10 of 13)

Lingkungan yang fanatik, akan selalu melahirkan figur-figur teladan. Simbol pengakuan bahwa kita sejalan. Seperti cinta yang penuh kompromi. Mengikutkan diri sebagai bukti kepada yang dicintai.

PP (4 of 13)

Pengungkapan selalu butuh saluran. Lahirlah kelompok, lahirlah dirigen. Agar semua bisa satu suara, satu rasa.

PP (13 of 13)

Cinta dan fanatisme dalam sepakbola bukan hanya persoalan di stadion. Namun sampai di jalanan, warung kopi, dan kamar tidur. Sepakbola mengakar ke dalam sendi-sendi kehidupan. Tumbuh menjadi keseharian sebagai budaya. Diiringi rasa yang begitu besar, meski sering menyingkirkan logika.

PP (9 of 13)

Dari logika yang tersingkirkan, tak sedikit nyawa yang melayang. Cinta yang buta memang berbahaya, kematian memang urusan takdir. Namun, sistem yang sehat tentu jauh lebih baik menuntun cinta yang buta dan kematian yang lebih layak.

PP (6 of 13)

Setiap cinta butuh balasan. Meski kenyataan sering tak sejalan. Papan skor lahir sebagai sekecil-kecilnya wujud jawaban akan cinta suporter. Kalah-menang mungkin biasa. Tapi pengelolaan klub yang terhindar dari kepentingan pribadi, perawatan stadion, pembinaan pemain usia dini, dan menempatkan suporter sejajar dengan seluruh elemen klub tentu saja menjadi balasan cinta yang seharusnya.

PP (8 of 13)

Cinta dan fanatisme adalah akar bagi sepakbola. Sorak-sorai, tepuk tangan, dan nyanyian-nyanyian hanya bentuk dukungan yang paling sederhana. Boikot atau kritik adalah wujud cinta yang lain yang sering kita abaikan. Sebab bagaimanapun, mencintai berarti ingin melihat yang dicintai menjadi lebih baik.

Bahwa banyak suporter yang kini tak lagi tertarik datang ke stadion, bukanlah takaran tentang cinta yang berkurang. Bagaimanapun, cinta tak mampu dihitung dengan jarak. Mungkin yang menjauh adalah mereka yang memiliki cinta yang lebih besar. Sebab seperti lazimnya hubungan;

Jika telah hadir kecewa, maka mencintai dari jauh dan diam-diam adalah sebaik-baiknya pilihan. Salam satu merah, PSM MAKASSAR!


Simak Artikel Foto Esai Lainnya

Menanti Arah Setelah Dua Dekade

Kebohongan Hingga Senyuman: Interpretasi Ilustrasi “Dialog Diri”

Portrait of The Spectacles

Hal-Hal yang Luput dan Tersisa dari Kenduri Ramadhan

Kita Adalah Pemilik Sah dari Ruang Publik Kota Ini

Belajar Menjadi Kreatif dari Bayi

Memahami untuk Membasmi

Kepalkan Tangan, Teriakkan Persatuan!

Pesta Rilisan Bersejarah ‘Pasukan Kelelawar’