Oleh: Imam Rahmanto (@Imam_Rahmanto)* | Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Di luar sedang hujan, entah yang ke-berapa di musim ini. Angin menyertainya. Ke kiri, ke kanan. Deras, melemah. Dari dalam rumah, desau hujan yang bersahut-sahutan dengan angin terdengar berirama. Ini seperti suara nyanyian hujan di tengah badai. Bolehlah hujan kali ini disebut badai. Saya tak peduli. Asalkan hujan masih bisa mengenai tubuh dan membasuh ingatan saya.

Beberapa pagi lalu, saya menemukan empat-lima orang anak bermain bola di tengah jalan kompleks perumahan kost. Mereka menendang-nendang bola di bawah rintik hujan. Saya lewat  saja di celah-celah mereka yang berhenti sebentar karena melihat kendaraan saya hendak melintas. Setelahnya, permainan mereka berlanjut. Hujan-hujanan.

Terkadang, saya suka memainkan rinai-rinai hujan. Bepergian ke luar rumah di tengah guyurannya. Tak membutuhkan payung. Zaman kini, payung agak ketinggalan masa, meski tak ketinggalan nuansa romansanya.

Tik…tik…tik…bunyi hujan

Saya menyengaja banyak hal agar bisa “mandi” gerimis. Berjalan-jalan sebentar ke warung pinggir jalan, demi membeli se-sachet cappuccino. Bagaimana pun, saya suka menikmati hangatnya cappuccino di sela memainkan gitar atau membaca buku di depan beranda. Berjalan ke luar, menyingkirkan perasaan ingin meringkuk di dalam kamar. Menyingkap lengan dan hoody sweater. Kala berkendara, menyengaja tak memakai helm. Memelankan laju kendaraan. Memilih jalan paling panjang sampai di rumah kost.

Dramatis, bukan?

Memang. Saya agak bosan selalu berada di perputaran orang dewasa, yang tak bebas melakukan apa saja. Menjadi orang dewasa, ada batas-batas tak kasat mata yang mesti dipatuhi. Tak baik ini-lah. Tak baik itu-lah. Sekadar menembus hujan saja, terlalu banyak menyela pikiran. Sekali waktu, cobalah berhujan-hujanan, melepaskan keriangan jiwa masa kanak-kanak.

“Sok dramatis begitu, baru tahu rasa nanti kalau demam gara-gara hujan,” seorang teman selalu memperingatkan.

Pada dasarnya saya memang keras kepala. Lagipula, tidak setiap hari kan saya bisa menikmati hujan begini. Hm..iya sih, kalau hujannya sudah melaju deras, siapa pula yang mau berhujan-hujanan. Di samping itu, ketahanan tubuh saya okelah. Nyombong-dikit-boleh. Soal sakit dan perihalnya, biarkan Tuhan yang mengkalkulasi. Hujan tak selalu membuat badan sakit. Justru, orang-orang yang menumbuhkan kenangan lewat hujan yang terbiasa menyakiti batinnya.

Tak baik menggerutu di kala hujan. Bukankah sejak kecil kita diajarkan untuk tak takut dengan hujan? Hujan adalah rahmat. Ingat puisi “Hujan”, yang tersemat di buku pelajaran sekolah dasar dulu.

Walau hujan, aku tetap pergi ke sekolah

Walau hujan, ibu tetap pergi pasar

Walau hujan, ayah tetap pergi ke sawah

Karena hujan adalah rahmat Tuhan

Betapa hujan tak menjadi halangan untuk melakukan aktivitas.

Di waktu kanak-kanak dulu, saya dan teman-teman justru senang bukan kepalang kalau hujan datang. Kami senang bermain di tengah hujan. Menyepak bola. Menyipratkan lumpur. Berlari dan berkejaran. Kesamaan pada diri kami semua hanya satu: tertawa dan menikmatinya.

Kalau sudah kepayahan, kami pulang ke rumah masing-masing, menembus hujan. Di rumah, ibuk, kerap kali merengut melihat anaknya hujan-hujanan. Wajahnya kesal bukan main. Tangannya seolah-olah bergurau hendak memukul. Tentu, ia tak benar-benar melakukannya. Ibuk hanya cemas anaknya bakal sakit. Di masa kanak-kanak, kondisi tubuh memang masih harus berjibaku dengan kesehatan yang labil.

Akan tetapi, hujan tak pernah jadi musuh bagi kami. Kala ibuk menyuruh mandi, saya justru berhujan-hujanan, lagi. Maklum, di dalam rumah, kami tak punya kamar mandi. Di belakang rumah hanya ada dua kolam dengan dua drum bekas tempat menampung air keperluan sehari-hari. Di sebelahnya ada kamar kecil tertutup, bukan untuk mandi. Jadi, kalau hendak mandi, saya akan setengah telanjang di belakang rumah menghadap kolam-kolam yang berisi air itu. Itu dulu, sebelum kami sekeluarga pindah rumah, tak jauh dari sana.

Saya suka mandi di tengah siraman hujan. Seolah itu shower dari langit. Masa kecil dulu, mana pernah saya merasakan mandi pakai shower? Saya hanya bisa membayang-bayangkannya. Sebagaimana wujudnya di televisi yang selama ini mendoktrin pemikiran kami, anak-anak kampung.

Hingga jauh masa ini, saya masih mendapati teknologi instan berkuasa. Tak ada lagi kesenangan masa kecil seperti itu. Anak-anak yang dipelihara era teknologi tak ubahnya orang-orang apatis. Mereka tak lagi mengenal kebahagiaan lahiriah. Kebahagiaan mereka cenderung disetir teknologi instan. Mana ada anak-anak “modern” yang rela berhujan-hujanan di luar ketika mereka bisa duduk kalem menghabiskan waktu dengan Facebook,Ttwitter, Path,Instagram di dalam rumah?

Hujan turun. Anak-anak (hingga orang dewasa) semakin tenang mendekam di posisi teduhnya. Mata mereka tak lepas dari jejaring sosial, game-game di gawai (gadget), dan apa pun yang bisa digerakkannya tanpa beranjak. Akh, semua update status di jejaring sosial juga bakal nyaris seragam ketika hujan turun.

Oleh karenanya, ini bukan tentang memaksa kalian berhujan-hujanan. Hujan yang membasahi pakaian. Menghadang segala laku aktivitas yang padat merayap. Menyirami jalan-jalan kota. Menggusur para pedagang jajanan es dan minuman dingin.

Ini hanya tentang menggenapi rasa takut akan hujan. Sekali waktu, cobalah riang menantang hujan.

Tik, tik, tik, bunyi hujan di atas langit.

Airnya turun, syahdu sekali

Cobalah tengok, hujan-hujanan

Hujannya turun gak bikin sakit*

 

*Lagu kanak-kanak dengan sedikit pengubahan lirik. Bernyanyilah. Saya siap mengiringinya.

 

***

 Di luar masih hujan.

Kalau musim hujan begini, apa kabar ya dengan Bukit Manggarupi? Kata teman saya, yang suka menyendiri, tanahnya yang dahulu gersang akan lembab berubah keren. Hm… yah agak-agak dramatis gitu. Sekali waktu di musim penghujan ini, mari mengunjunginya.[]

*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Penggiat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi UNM