Oleh: Brandon Hilton

Hal yang paling menyiksa dari rutinitas adalah hilangnya kesempatan untuk menikmati diri sendiri. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya cukup mengerti persoalan ini. Salah satu yang saya lakukan untuk menghadapi tugas-tugas dan tuntutan dosen adalah mendengarkan rilisan fisik yang menyegarkan jiwa. Di antara beberapa yang saya nikmati, Crunch menempati posisi yang istimewa. Album baru tersebut, milik Minor Bebas yang dirilis Honeylime Records beberapa waktu lalu.

Keistimewaan Crunch dimulai dari Artwork-nya: binatang junjungan para kadal, dinosaurus, karya Endra Rintovani. Didominasi oleh warna biru yang di tengah para junjungan para kadal yang menganga seakan memberi pertanda bahwa album ini siap membuat adrenaline Anda akan muncrat ke mana-mana. Saya suka dengan ekspresi T-Rex yang dibuat dengan mata dan raut muka seakan mengatakan “aaa ko liat dulu ini sa main sa pung fender” mengenakan kemeja flanel dan jeans biru langit yang menegaskan ke-grunge-an. Ekspresi Triceratops yang memainkan bass-nya dan terkejut seakan mengatakan “saya ini di mana?” ditanggapi Pterodactyl berwarna thai-tea dengan terkejut.

Primitive dinobatkan sebagai lagu pertama untuk menyapa telinga. Tidak membutuhkan waktu lama bagi band ini untuk memainkan intro yang provokatif ke permainan riff yang agressive. Lagu yang menyinggung pola hidup manusia yang semakin primitive: menebang pohon, tidak peduli akan kondisi udara, mengacuhkan laut yang dipenuhi oli untuk memenuhi tuntutan hidup. Artwork yang dibuat untuk lagu ini didominasi oleh warna biru langit, seolah-olah dipenuhi polusi akibat dari kegiatan primitive manusia modern. Di luar dari betapa adiktif dan berkarakternya lagu ini, wake up! It’s just a matter of our extinction. Pray!

Jika Anda butuh sebuah lagu yang mewakili jeratan ego pribadi dengan spiji atau siapapun, namun tidak ingin lagu yang terkesan mellow, Simply Grey mungkin bisa menjadi jawabannya. Memainkan chords yang terkesan simple, memasukkan lead yang tidak muluk-muluk, dan disambut dengan bebunyian—wajib bagi rata-rata band penganut paham grunge—yang dihasilkan dari gesekan antara gitar dan ampli, mungkin. Hingga tiba pada penghujung lagu, band ini semakin menaikkan tensinya dan kemudian ditutup dengan suara tawa Radhit yang meneduhkan. Melirik bagian sleeve untuk lagu ini yang tidak sama sekali berwarna abu-abu melainkan ungu, dibuat seakan sedang ada pertengkaran, lengkap dengan debu, baut serta bintang yang beterbangan. Never thought myself this way, i can’t stand behind your back. Hanya penggalan lirik, jangan baper. Wakwaw!

Sejak dirilis pertama kali sebagai demo, Astigmatism sudah menjadi standar betapa beringasnya band ini. sekali lagi, riff menjadi kekuatan utama sekaligus karakter bagi lagu ini. Siapa sangka, penyakit atau gangguan pada lensa mata yang menyebabkan pandangan menjadi terdistorsi menjadi inspirasi dan benar-benar berdistorsi. I can’t find my eyes this way, in the streets that have no name. I can’t find my eyes to see, where the lights that go away. Lalu, masuk bagian reff kedua yang seolah meminta himpunan adrenaline sebelum dihempas oleh part yang menegaskan bahwa band ini benar-benar beringas. Sebelumnya, saya mengira bagian sleeve untuk lagu ini juga akan garang seperti lagunya. Nyatanya, yang mendominasi adalah warna kuning dan ada warna biru yang seolah seperti air atau bekas air yang dicipratkan. Saya tidak lihai dalam menafsirkan maksud atau makna pada artwork, namun hanya itu yang saya mengerti.

Terjebak dalam situasi yang canggung tentu bukan hal yang mengenakkan bagi siapapun. Memakai topeng kepalsuan, mau tidak mau harus segera dilakukan. Tetap tidak membuat celah untuk mengendorkan tensi, Minor Bebas membuat Hello Awkward yang menghuni track keempat tetap terdengar bertenaga. Melihat bagian artwork untuk lagu ini, saya teringat serial kartun crayon shinchan ketika anak nakal itu dijitak setelah ia melakukan banyak gerakan tambahan yang tidak perlu.

Untuk yang penasaran siapa saja yang pernah terlibat dalam band yang satu ini, pada bagian tengah di sleeve album, menjadi jawabannya. Berlatarkan warna merah dengan lingkaran-lingkaran biru, terhitung ada delapan orang, termasuk tiga player yang sekarang aktif di band ini. Saya tidak begitu paham dengan apa nama teknik yang memotong lalu menyusun banyak foto dalam satu tempat. Yang saya tahu, model susun-menyusun potongan foto atau gambar seperti itu mirip tugas kliping yang nyaris rutin dilakukan ketika duduk di bangku SD sampai SMP dulu. Ada yang menarik perhatian, saya rasa anak lelaki itu adalah Radhit yang berpose ala RHCP, juga ada Storm Trooper yang bermain gitar dan Darth Vader yang gagah dengan bass-nya.

Jika satu reffrain tidak cukup, maka lagu ini memiliki dua yang cocok menjadi alasan untuk bernyanyi atau teriak bersama. Part lead gitar dibuat tidak muluk-muluk kemudian empat repetisi reff kedua sebelum mengakhiri lagu ini. Warna pink dengan corak jingga menjadi tempat bagi lirik Krone bersemayam. Hey! Where’d you go when you sick?

Hal yang sama juga untuk Fool, track ke enam pada album ini. Namun, yang satu ini terdengar lebih beringas. Provokatif pula. Tidak perlu berlama-lama bagi bass dan drum untuk memberi nuansa terror dalam raungan kecil gitar yang dibuat oleh Radhitya dan Febrizal sebelum kemudian raungan kecil dengan nuansa teror ini menjadi intro yang benar-benar menghantar adrenalin ke puncaknya. Saaahhh! Sahut Radhit menyambut adrenalin kalian sebelum masuk menyanyikan lirik, berteriak di reff, satu repetisi lagi sebelum sadar ada adrenaline treatment yang serupa-tapi-tak-sama dengan Astigmatism. Masuk reff kembali sebelum mereka menuntaskan lagu ini dan menghantar adrenalin turun perlahan. Lagu yang juga berisi kepedulian terhadap lingkungan yang mulai dipenuhi sampah plastik ini dihiasi warna hijau dengan corak putih berbayang pada bagian sleeve. Ada yang tahu maksudnya? Maafkan untuk banyak tidak tahu. Coz I am fool.

Membawa ‘kegusaran 98’ ke dalam lirik yang tertulis dalam lirik Bring Them Back, track ketujuh yang menghuni Crunch. Lagu ini terdengar lebih kompleks dari lagu-lagu sebelumnya. Namun, tetap berkarakter dengan riff yang dimainkan. Minor Bebas tegas mengatakan menolak untuk lupa tentang kisah kelam yang pernah terjadi. Your lose friends and family, refuse to forget. All we need is sign. Hal ini selaras dengan latar warna merah dan dihiasi batu-batu yang seperti terlempar ke mana-mana. Seperti pada aksi unjuk rasa kebanyakan, dengan massa yang didominasi mahasiswa—dalam aliansi yang marah dan tidak ada yang benar di mata mereka—di dalamnya. Refuse to forget. Bring them back!

Sama halnya dengan lagu Primitive, dan Fool yang berisi kritik tentang lingkungan, Help The Rainbow, track kedelapan pada album ini juga berisi tentang kritik soal lingkungan akan tetapi lebih tegas. Membawa perbandingan. Minor Bebas melihat kita hidup dalam masa suram, di mana uang layaknya agama yang punya pengikutnya sendiri, mesin-mesin penghasil polusi, aktif tiap hari, kita menghirup oksigen yang buruk, dan kita masih saja tidak perduli. Tidak perlu masuk organisasi pecinta blablabla—yang akan sudi dibungkam ratusan lembaran merah—untuk peduli dengan alam atau lingkungan hidup. Bagian sleeve dibuat dengan latar hijau lengkap dengan polusi sebagai representasi lagu ini.

Di luar dari prestasi band ini yang berhasil membuat karakter yang kuat untuk tiap lagunya, saya yakin, ada beberapa dari pendengar band ini juga ingin bernyanyi. Radhit banyak menyanyikan lirik yang tidak ada tertera di bagian sleeve untuk lagu Keep Your Head Up yang berwarna kuning dengan tengkorak yang mengantuk.

Di lagu terakhir, unit grunge ini menyisakan satu lagu berbahasa Indonesia. Sebagai pengantar untuk menyudahi perjalanan imajiner bersama adrenalin di dalamnya, lagu ini sungguh tepat. Masih terdengar garang, namun intensitasnya tidak seberingas beberapa lagu sebelumnya. Lagu tentang persahabatan dalam sebuah kelompok kecil sebagai wadah berkumpul dan berkarya. Lagu ini adalah sebagai motivasi bagi anak band untuk terus berjalan bersama tanpa perlu memikirkan ada rintangan apa di depan, apa yang akan terjadi, dan siapa yang lebih tinggi dari yang lain karena kita semua pada dasarnya sama. Selebihnya, silakan liat lirik untuk lagu ini dengan dengan hujan yang berwarna merah yang menjadi latarnya.

Di luar kenikmatan personal, Album ini—mengamini liner notes yang ditulis oleh Bobhy—semoga tidak dipahami dalam sudut pandang privat saja yang ujung-ujungnya tidak akan membuahkan apa-apa, dan yang terpenting, agar karya ini terus dibicarakan!