Oleh: Nurul Aqilah Muslihah ( @aqilah.ticktock )| Foto: Katakerja ( @katakerja65 )

Ada satu kata yang menyebabkan banyak hal berkelebat di benak kita: posesif. Meskipun begitu, pemahaman orang mengenai satu kata tersebut kerap terperangkap di ruang sempit hubungan asmara. Saya juga berpikir seperti itu sebelum bertemu Salju, novel Orhan Pamuk yang saya baca ketika menulis catatan ini.

Salju (Serambi, 2015)—diterjemahkan dari versi bahasa Inggris, Snow (Faber and Faber, 2005)—banyak bercerita ihwal posesivitas. Sifat posesif yang Pamuk tunjukkan melalui ceritanya bukan sekadar masalah hubungan cinta, kecemburuan, ataupun pertengkaran sepasang kekasih di sinetron. Di kisah Pamuk, sifat posesif dapat merenggut nyawa satu atau bahkan sekelompok manusia.

Novel ini berkisah mengenai seorang penyair dan petualang bernama Ka yang dituturkan oleh teman lamanya. Ka melakukan perjalanan ke Kars, kota kecil tak jauh dari Istanbul tempat ia menghabiskan masa kanak-kanaknya sebelum pindah ke Jerman, tempat pengasingan politiknya. Ia kembali ke Istanbul untuk menghadiri pemakaman ibunya. Dengan mengaku sebagai wartawan Republik, Koran ternama di Turki, ia melakukan perjalanan ke Kars untuk meliput berita mengenai pemilihan umum serta para wanita yang bunuh diri. Alasan sebetulnya: mencari wanita yang ia cintai ketika ia masih kecil. Di sisi lain, ia pergi ke Kars karena ingin mendapatkan dunia yang berbeda dari dunia yang selama ini ia kenal.

Ka tumbuh di tengah keluarga kelas menengah ke atas yang kebarat-baratan. Ketika tiba di Kars, ia menemukan banyak hal yang tak pernah ia alami sebelumnya. Ka seorang ateis.

Separuh dari buku setebal 650 halaman ini berisi petualangan Ka di Kars yang ia sebut sebagai kota yang “sangat indah, sangat miskin, dan sangat sedih”. Penduduk Kars menjalani hidup tanpa harapan, meskipun sebelumnya sebagian besar mereka cukup kaya. Perang, pemberontakan, pembantaian, dan kekacauan tidak berkesudahan melanda kota tersebut. Selain itu, orang-orang Rusia bersama kebudayaan mereka datang ketika pemerintah Turki gencar menerapkan proyek westernisasi. Konflik berkepanjangan antara pemerintah yang menganut paham sekuler dan kelompok Islam fundamentalis banyak menyita ruang di novel ini.

*

MENURUT Urban Dictionary, possessive ialah to desire complete control, or attention from someone or something, usually a lover. To want ownership of a situation/person. Sementara pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang posesif adalah “bersifat merasa menjadi pemilik; mempunyai sifat cemburu”. Posesif, secara sederhana, bisa diartikan merasa memiliki dan memaksakan suatu keinginan.

Pemerintah di novel ini bersifat posesif terhadap warganya; menentang segala bentuk penyimpangan yang tidak sesuai dengan paham mereka seperti pelarangan menggunakan jilbab di instusi pendidikan. Mereka bahkan melakukan pemaksaan yang kelak memicu konflik besar dengan kelompok Islam fundamentalis.

Sifat posesif yang ditunjukkan pemerintah memicu tindakan bunuh diri. Seorang warga, gadis berjilbab, tidak tahan dengan tekanan yang ia peroleh dari sekolah. Ia tidak boleh melanjutkan sekolah sebelum bersedia melepas jilbabnya. Melihat teman-temannya menyerah, mereka melepas jilbab, ia putus asa. Ia menganggap dirinya tidak berarti dan ia memutuskan tidak ingin melanjutkan kehidupan.

Si gadis menghabiskan malam terakhirnya dengan menonton. Ia menyeduh teh untuk kedua orang tuanya dan masuk ke kamar, berwudhu, dan bersiap-siap salat. Selepas itu, ia mengikatkan jilbabnya ke cantolan lampu. Ia gantung diri.

Sebelum ia bunuh diri, banyak perempuan lain lebih dahulu melakukan tindakan serupa. Mereka melakukannya karena berbagai alasan seperti kemiskinan, ketidakberdayaan, kebodohan, pemikiran konservatif ayah mereka yang tidak mengijinkan mereka keluar rumah, dan tindakan kekerasan dari suami mereka yang gampang cemburu.

Satu hal yang sama dari tindakan bunuh diri para gadis itu adalah cara mereka mengakhiri hidup tanpa ritual atau peringatan. Mereka melakukannya secara mendadak di tengah-tengah kegiatan rutin mereka.

Saya kutip satu bagian dari halaman 17 sebagai contoh:

“..ada pula gadis 16 tahun lain yang bertengkar dengan dua orang adiknya soal siaran televisi dan akhirnya berhasil merebut remote control. Ayah mereka datang dan melerai dan memberikan dua pukulan keras pada gadis itu. Kemudian, si gadis langsung berlari ke kamarnya, menemukan sebotol besar obat ternak, Mortalin, dan menenggak isinya seperti meminum soda.”

Konflik antara pemerintah sekuler dengan kelompok Islam fundamentalis mencapai titik klimaksnya pada saat pementasan drama Tanah Airku atau Jilbabku. Sandiwara tersebut bercerita ihwal seorang wanita, Funda Eser, penari perut terkenal, yang pada mulanya memakai jilbabnya kemudian melepaskan jilbab tersebut sebagai simbol kemerdekaan. Funda Eser melemparkan jilbab ke dalam baskom seolah-olah ingin mencucinya. Para pendukung Islam fundamentalis mengira ia melakukan itu untuk membersihkan jilbabnya. Tetapi, ia kemudian mengeluarkan jilbab dari baskom, lalu mengibaskan seolah-olah akan menjemurnya.

Tidak ada yang menyangka apa yang akan dilakukan Funda Ester selanjutnya. Ia mengeluarkan korek api dan membakar salah satu sudut jilbab tersebut. Ia akhiri adegan pembakaran tersebut dengan melemparkan jilbab yang masih menyala ke luar panggung.

Bukan hanya karena si gadis berjilbab diperankan seorang penari perut yang menyulut kemarahan kelompok Islam fundamentalis. Para pendukung Islam garis keras di cerita itu juga digambarkan begitu buruk dan mesum. Mereka, misalnya, menjambak dan ingin membunuh si gadis yang telah membakar jilbabnya.

Di sisi panggung, banyak penonton dari pihak Islam fundamentalis melontarkan cemohan—diwakili oleh siswa-siswa Madrasah Aliah. Para pejabat pemerintah, bersama istri mereka, meninggalkan acara sebelum pementasan selesai. Keadaan yang semula lengang berubah menjadi keributan tak terkendali. Beberapa kali tembakan dilontarkan oleh militer dan menewaskan sejumlah siswa Madrasah Aliah.

*

KEPEMILIKAN dan kekuasaan adalah perkara rumit dan berbahaya. Di luar novel Pamuk, di masyarakat kita, timbul banyak persoalan karena sifat-sifat posesif manusia—yang selama ini kerap kita anggap hanya sebagai bumbu hubungan asmara.

Ibu dan ayah saya, misalnya, sering terlalu mengkhawatirkan saya karena pulang dari kampus pada malam hari. Mereka takut terjadi apa-apa dengan saya. Mereka sering membaca berita mengenai aksi kriminal dan tindakan brutal para begal di jalanan.

Apa yang ditunjukkan orang tua saya bisa dibaca sebagai sifat posesif mereka terhadap anak. Tetapi, dalam bentuknya yang lebih merisaukan, para pemuda yang melakukan tindakan kasar di jalanan bisa jadi adalah korban dari tindakan posesif orang tua mereka. Bukan mustahil mereka adalah anak-anak yang tumbuh di keluarga yang menerapkan kekuasaan yang tidak setara. Mereka sejak kecil tidak pernah diberi ruang untuk memilih dan menentukan hal yang mereka inginkan—sehingga melampiaskan kekesalan mereka, misalnya, di jalanan. Mereka tidak mendapatkan ruang untuk menunjukkan kemerdekaan dan tanggung jawab mereka sebagai manusia.

Kita amat sering mendengar atau membaca penerapan tindakan-tindakan posesif semacam itu. Seorang ayah memaksa anaknya masuk pesantren atau memaksa memilih jurusan tertentu di universitas yang tidak diinginkan anaknya. Dalam skala yang lebih besar, seperti yang ditunjukkan Orhan Pamuk di novelnya, konflik yang terjadi karena satu kelompok dengan paham tertentu memaksakan keyakinan mereka kepada kelompok lain.

Sifat posesif bisa dilakukan dengan alasan karena cinta, misalnya orang tua terhadap anak mereka. Namun, di sisi lain, posesivitas bisa menelan dan menghilangkan jiwa dan kehidupan manusia. Tindakan posesif bisa berubah menjadi darah di atas salju. []

*Buku ini bisa kamu baca atau pinjam di katakerja, BTN Wesabbe Blok C/64, Makassar.

Orhan Pamuk_Salju_ReviusJudul Asli: Snow | Penulis: Orhan Pamuk | Penerbit: Serambi | Tahun: 2015, September | ISBN: 978-602-290-043-6

Baca artikel lainnya terkait dengan katakerja

Khotbah yang Tak Terbungkam

Jean ‘Scout’ Louise dan Feminisme

Menyimak Puisi dan Musik Bekerja

Kota, Musik, dan Cita-Cita(ta)

Diet, Sehat yang Jahat