Foto: Katakerja ( @katakerja65 )

Dear, Kenangan!

Aku tiba-tiba ingat kamu. Aku baru selesai membaca sebuah buku. Aku lupa kapan novel ini tiba. Dialamatkan untuk Faisal Oddang, si penulisnya sendiri. Aku gak perlu menceritakan kepadamu siapa Faisal Oddang, kan? Selanjutnya jika harus menyebut namanya lagi, aku sebut dengan Fay saja yah. Biar gak kepanjangan. Ssst! Itu nama panggilan seseorang kepadanya. Jangan disebarkan yah.

Ampun! Sudah berapa lama sih kita putusnya? Aku lupa kamu bukan orang yang suka ngurusin masalah orang lain.

Maaf, dalam surat ini aku akan mengungkit masa lalu. Yah namanya juga telah berlalu, yah diungkit lah. Kalau masa depan yah direncanakan. Hihi! Tapi percuma juga kan yah? Kamu gak lagi mendapat porsi yang banyak di masa depanku nanti, bukan? Kita sudah sepakat itu. Untung saja kita masih berteman baik. Yah, aku selalu merasa menjadi lebih dewasa karena kita bisa berbeda dengan beberapa pasangan yang tak lagi membina hubungan baik setelah berpisah. Untung kita berhasil melewati fase itu. Kita terbebas dari drama pertengkaran dengan bekas pasangan. Aku masih berteman baik denganmu. Dan beberapa pendahulumu, tentu saja.

Fay menyodorkan buku ini setelah membuka paketnya. Sampulnya warna kesukaanku. Kamu masih ingat? Judul bukunya Pertanyaan kepada Kenangan. Ngeri yah. Berbahaya buat mereka yang belum move on dan masih suka kebayang mantan. Apalagi mereka yang kepo dan masih suka pantau kehidupan mantan. Hihihi!

Iya! Iya!

Aku tahu kamu akan minta aku berhenti ngomong seperti ini. “Pikirin urusan kita saja, gak usah mikirin orang lain.” Aku masih ingat! Tapi aku tahu beberapa orang yang seperti itu kok. Banyak yang suka curhat soalnya.

Sebenarnya si Fay sudah cerita sedikit soal novel ketiganya ini. Tapi cuma nama tokohnya saja, Rinailah Rindu dan Wanua Maraja. Nama mereka keren yah. Wanua Maraja itu dari bahasa Bugis, artinya kampung yang besar. Gak perlu googling, kamu gak bakal dapat arti klausa lengkap Wanua Maraja. Mungkin kamu gak lagi merasa perlu belajar bahasa Bugis. Tapi anggap saja ini buat nambah kosakata bahasa Bugis kamu. Lumayan kan. Bisa jadi bahan percakapan dengan orang Bugis lain yang baru kamu temui.

Oh iya, tokoh lain yang menghidupkan drama cerita ini adalah Lamba Dondi. Buatku saja nama ini juga asing. Kamu ingat aku pernah cerita soal sekelompok temanku yang orang Toraja? Nama mereka Theo, Joseph, Ryan dan Reymond. Gak satu pun dari mereka bernama Lamba. Padahal mereka itu orang Toraja.

Kamu masih membaca sampai bagian ini, kan? Jangan cemberut dulu. Karena aku merasa perlu membagi cerita dalam buku ini ke kamu. Anggap saja ini bonus. Dulu kan kamu suka memintaku bercerita, tapi aku lebih memilih membacakan buku yang sementara aku baca kepadamu.

Menurutku kita sempat memiliki konflik yang sama dengan mereka. Rinai itu orang Jawa. Kebetulan banget! Tapi kita kan pisahnya bukan karena perbedaan budaya. Pada saat itu kita berhasil menghalau jarak kita yang jauh. Tapi akhirnya yang membuatnya kandas justru perasaan kita yang saling menjauh.

Meskipun akhirnya kita berpisah juga, aku merasa cukup beruntung punya mantan kayak kamu. Bukan lelaki seperti Lamba! Yah, aku gak perlu mengalami sejumlah perasaan tidak enak dan terobok saat kamu tiba-tiba muncul di hadapanku setelah tiga tahun gak ada kabar. Dan kamu bisanya cuma menyapa dengan menyebut namaku singkat. Banyangkan! Tiga tahun! Tiga tahun Rinai dibiarkan dengan kebingungannya sendiri atas adat yang tidak membiarkan mereka menikah. Tiga tahun! Dan kemudian si Lamba datang dan bilang “Aku mau menebusnya.” Dan berharap diterima lagi dengan mudah gitu?

Kamu tahu kenapa aku bereaksi seperti ini, kan? Kamu pasti paham ini bukan solidaritas sesama perempuan semata. Maksudku begini loh, kalau Rinai diibaratkan sebuah pintu, Lamba sudah lama menutupnya dan berjalan menjauh memunggunginya. Terus setelah tiga tahun dia datang lagi seolah kunci pintu itu masih sama. Dia gak tahu aja kalau pintu itu sudah riuh oleh ketukan-ketukan. Kamu mau tahu siapa yang memegang kunci yang pas untuk pintu itu? Ah, aku gak perlu lanjutkan yah. Kamu kan suka cemberut kalau aku juga membagi akhir cerita sebuah buku. Hihihi! Kamu lebih memilih menikmati setiap akhir cerita sendiri.

Kamu tahu sudut pandang siapa yang digunakan Fay sebagai narator? Nay. Iya, itu nama panggilan Lamba ke Rinai. Hihi! Seperti nama mantannya temanku yah. Tapi bukan soal Nay yang mau aku bahas sekarang. Menurutku nih, Fay mampu bersuara sebagai perempuan di novel ini. Aku membayangkan kalau aku menceritakan ini langsung, kamu pasti akan motong, “Ah, tapi gak semencenangkan saat mengetahui pencipta karakter Holly Golightly adalah laki-laki.” Yah jangan juga lah kamu bandingkan Fay dengan Capote. Untuk sekarang posisinya masih timpang memang. Tapi kalau Fay lebih ulet lagi pasti bisa lah. Dalam novel ini, meskipun konflik cerita yang diangkatnya kadang dijumpai, tapi setelah diberi beberapa konflik pendukung keseluruhan cerita menjadi menarik dan menuliskannya dengan bahasa ringan. Tapi menurutku Fay lalai dalam satu hal yang mungkin dipikirnya bagian kecil saja. Aku gak perlu tunjukan letaknya pada halaman berapa. Nanti kalau kamu baca bukunya, coba deh perhatikan dialog adik Wanua, Tenri. Khususnya dialog dengan Rinai. Setelah itu kamu pasti tahu apa ketidakcermatan Fay yang aku maksud.

Oh iya! Saat membacanya, aku membayangkan kamu menjadi Rinai. Lewat Rinai, Fay menunjukkan bahwa bebauan mampu merangsang dan menghadirkan kenangan emosional. Seperti kamu yang kadang hadir saat seseorang beraroma musk melintas. Kamu tahu kan di antara kita indra penciumanku kurang sensitif.

Ada satu lagi yang perlu kamu tahu. Aku membagi sedikit cerita dalam Pertanyaan kepada Kenangan sebelum perayaan atas launching buku ini. Acaranya diadakan di ruang baca Katakerja pada hari Minggu besok. Kamu kalau mau bisa datang kok. Aku tahu kamu paling gak bisa membendung rasa penasaran. Mau tahu keseluruhan isi bukunya kan?

Oh iya, gebetan apa kabar? Hihi!

 

Warm hug,

Mantan.

 

P.S. Di launching buku ini akan ada sesi tukaran barang kenangan. Tenang saja, aku gak bakal mau tukarin hadiah dari kamu. Rugi! Lagi pula kenangan gak melulu soal mantan, kan? Hihi!


Baca tulisan lainnya dari Hafsani H. Latief

Pertanyaan atas Puya ke Puya

Khotbah yang Tak Terbungkam

Kamu dan Cerita yang Seharusnya Dibaca di 2015

Sundari dan Petaruh Keberuntungan

Penghantar Tidur untuk Mengenang Kembali