Banda Neira adalah sebuah pulau yang menjadi bagian dari Maluku. Pulau yang pernah menjadi tempat pembuangan para tokoh-tokoh kemerdekaan seperti Hatta dan Sjahrir. Saking indah dan menariknya masyarakat pulau tersebut, Hatta dan Sjahrir seolah merasa tidak sedang dalam pembuangan. Mereka menikmati berada di sana. Hatta membaca buku ditemani pemandangan cantik, Sjahrir mengajar anak-anak setempat dengan penuh persahabatan.

Nama pulau tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi Ananda Badudu dan Rara Sekar untuk membentuk sebuah duo, eh, mereka menyebutnya band dengan nama yang sama, Banda Neira. Seperti wujudnya sebagai pulau, musik dari Banda Neira juga sangat cantik dan bersahabat. Ibarat perempuan, musik Banda Neira itu lembut, menggemaskan, namun tetap ramah. Latar belakang Ananda yang berprofesi sebagai wartawan dan Rara sebagai pekerja sosial, mungkin menjadi alasan kedekatan-kedekatan lirik tersebut dengan suasana sehari-hari.

Dibungkus dengan kalimat puitis namun tetap sederhana dalam penyampaian makna, tentunya membuat penasaran apa yang mampu membuat mereka seanggun dan sedekat itu dengan para pendengarnya. Revius berhasil mengulik beberapa produk-produk kebudayaan yang mereka konsumsi sehari-hari dan mampu menjadi inspirasi mereka dalam bermusik maupun menjalani kehidupan sehari-hari.

Musik

“Lagi jarang mendengarkan musik luar” Kata Ananda. Dia cukup pusing untuk mengikuti musik mancanegara yang terlalu banyak dan sangat dinamis. Meskipun sekarang sering me-review album-album baru di Indonesia, namun tidak ada yang didengarkan secara spesifik seperti kala dia masih duduk di bangku SMA.

“Keluarga saya suka musik” Rara membuka wawancara. Ibunya guru musik, ayah dan adiknya musisi. Bukan sebuah kebetulan jika di waktu kecil dia sering “disuapi” musik yang “asik” jika dilihat di zaman sekarang. Simon and Garfunkel menjadi favoritnya sejak kecil. Lirik-lirik lagu yang dulu tidak begitu ia mengerti ternyata seiring waktu justru membuatnya semakin sadar akan makna yang dikandung dari lagu tersebut. “Dia mempengaruhi gaya musik aku” Ujarnya. Untuk masa sekarang, Rara mengaku menyukai Bon Iver dan Sufjan Stevens. Untuk nama yang terakhir, dia sangat mengikutinya. Konsep-konsep di albumnya, menurut Rara, menarik. Seperti album terakhir, Carrie and Lowell, Sufjan bercerita tentang ibunya yang skizofrenia dan meninggal. Sementara untuk musik Indonesia, justru yang mempengaruhi kebanyakan dari teman-teman Rara sendiri. Misalnya, Gardika Gigih Pradipta.

Buku

Norwegian Wood, Buku yang judulnya diambil dari salah satu lagu The Beatles tersebut menjadi buku paling baru yang dibaca oleh Ananda. Meskipun menurutnya agak terlambat untuk menikmati karya-karya Murakami, namun novel tersebut cukup memberinya inspirasi.

The Little Prince, Buku karangan Antoine de Saint-Exupery tersebut menjadi buku favorit dari Rara. Sementara buku lain ada The Alchemist dari Paolo Coelho, buku yang ia baca saat SMA dan membuatnya menjadi pendiam untuk beberapa hari dan mulai bertanya tentang tujuan hidup. Saat kuliah, dia mulai membaca karya Krishnamurti yang memberinya pemahaman tentang filsafat. Dan buku yang paling baru dibacanya, Essays in Love karya Alain de Botton, “Bukunya bagus. Bercerita tentang patah hati lalu sembuh namun mampu dijelaskan dengan hal-hal yang rasional”

Puisi

Nama Subagio Sastrowardoyo menjadi nama yang disepakati keduanya sebagai penulis puisi favorit. “Puisinya sunyi, dan itu yang membuat saya suka, seperti nyambung dengan apa yang ada di kepala saya” Kata Ananda. Di luar itu, dia melanjutkan, ada nama Aan Mansyur dan Joko Pinurbo, “Cara mereka menarik dalam memainkan kata-kata”. Sekarang, Ananda mulai lagi membaca karya-karya Sutardji Calzoum Bachri, sesuatu yang diakuinya dulu sulit dinikmati namun sekarang mulai merasa nyaman dan paham.

Film

“Terakhir nonton Escobar” Ujar Ananda yang ditimpali tawa oleh Rara. Namun, bagi Ananda, film yang memberinya banyak inspirasi adalah Dead Poet Society. Selain karena puisi, sesuatu yang disukainya, juga karena pesan yang disampaikan sangat dalam.

Sementara Rara, terakhir nonton The Little Prince. Film yang diadaptasi dari buku favoritnya, dan menurutnya bagus, “Jarang ada film yang mampu sebagus bukunya” Kata Rara. Untuk yang memberinya inspirasi, karya Sebastian Salgado, sebuah film dokumenter yang diangkat dari kisah nyata sang sutradara. Ceritanya mengenai proses Sebastian membuat rumah di hutan yang kemudian hari berkembang menjadi hutan wisata. Selain itu, ada trilogi “before”, dan yang menjadi favorit Rara adalah Before Midnight, “Itu yang bercerita paling real tentang dunia pernikahan, terus aku juga suka film yang banyak dialognya, sih”

Situs Web

Keduanya sepakat menyebut Yotube. Dan secara spesifik, Ananda menambahkan Tempo.co yang membuat Rara kembali melepas tawa khasnya. Ananda sendiri berprofesi sebagai wartawan di koran tersebut. Selain itu, situs-situs yang me-review seni dan sastra menjadi favorit mereka. Terkhusus Rara, dia menyebut Tricycle.com, sebuah situs tentang Buddhist namun terbuka bagi siapa saja yang ingin menulis. Dan Rara banyak menemukan kisah-kisah nan inspiratif di sana. Dia juga rutin membuka New York Times, tepatnya di kolom Modern Love, tempat orang-orang curhat tentang masalah percintaan sehari-hari mereka. “Banyak pelajaran dari sana, terutama mengenai orang-orang dan masalah mereka tentang cinta, pelajarannya misalnya bahwa perceraian bukan sesuatu yang harus dilalui” Tutup Rara.

Dari berbagai produk kebudayaan yang dikonsumsi Ananda dan Rara sehari-hari, sedikit banyak memberi pengaruh terhadap perkembangan Banda Neira sendiri. Semoga mampu memberi inspirasi dan Banda Neira sebagai sebuah band mampu menjadi sesuatu yang seperti disebut Sjahrir dalam catatannya tentang Banda Neira, “Di sini benar-benar Firdaus”.

Sumber Gambar: Djoeroe Rekam


Baca tulisan lainnya dari Arkil Akis

Kumpul di Timur: Lebih dari Sekedar Berkumpul

Beragam dalam Satu, Kumpul di Timur!

Kaos Penyihir

Menghayati “Makan-makan”

MaRI Piknik: Antara Ruang Terbuka, Kuliner dan Bertemu Diri Sendiri

Dunia Ji Ini!

Kincir Angin, Antara New York dan Makassar

Cinta dan Fanatisme

“Saya Suka Karya-Karya Sapardi”

Membaca Konsumerisme

Senja dan Laut

Selamat Menyenangkan Ibadah Ramadan!

Membaca Rumah Baca

Peringatan: Naik Gratis, Turun Bayar

Dari Jalan Layang, ke Puisi Dunia yang Lengang