Teks dan Foto: A. Sri Wahyuni Handayani

Ohio, Amerika Serikat, 1847. Terlahirlah seorang anak laki-laki yang pada usia ke-32- nya berhasil menemukan sebuah lampu listrik untuk pertama kalinya di dunia. Penemuannya ini berawal dari mimpi-mimpi masa kecilnya saat berjibaku dengan buku-buku ilmiah di rumahnya—belajar secara otodidak karena ditolak dan gagal berkali-kali di sekolah.

Perbedaan antara masa di mana hanya ada pelita sebelum dia memikirkan idenya dan masa kita sekarang, ada pada jarak waktu. Di dalam rentetan hitungan waktu itulah, usaha-usaha dibuat, dan mimpi anak laki-laki yang dibuang dari sekolahnya itu, bukan lagi barang baru dan mahal untuk kita nikmati sekarang. Anak laki-laki itulah: Thomas Alva Edison.

Tapi, bagaimana jika seseorang bermimpi, dan masalah untuk mewujudkannya bukan hanya soal waktu? Ishak Salim, dalam satu tulisan merentetkan mimpi-mimpinya tentang aksesibilitas dan fasilitas untuk difabel yang ada di Makassar. Lalu bagaimana jika mimpi-mimpi itu, di suatu tempat yang jauh, telah lama terwujud nyata dan dinikmati oleh difabel?

***

Akhir musim semi tahun lalu, saya tiba di kota Groningen, The Netherlands. Untuk sementara waktu, saya tinggal di salah satu apartemen yang memberikan harga khusus kepada mahasiswa University of Groningen/Rijksuniversiteit Groningen (RuG). Selain mahasiswa, tentu saja apartemen tersebut diisi oleh penduduk setempat. Di lantai paling dasar apartemen terdapat ruang parkir yang dipenuhi berbagai macam kendaraan. Karena ruang parkir berada di ruang bawah tanah, jalan menujunya membutuhkan fasilitas penurunan. Salah satu jalan yang ada dibuat tidak bertangga, namun hanya berupa turunan halus yang dapat dilewati oleh semua jenis kendaraan tadi. Selain jalan manual, apartemen itu juga dilengkapi eskalator yang menjangkau ruang parkir tadi, jaga-jaga jika pengguna skuter atau sepeda kayuh merasa bahaya menggunakan turunan.

Sekali sepekan, saya dan suami kerap menghabiskan waktu di pusat kota Groningen. Entah ke pasar tradisional yang buka tiga kali sepekan, atau ke toko-toko di bilangan bangunan Martini Toren—sebuah bangunan tua yang dikenal sebagai landmark Groningen. Tepat di depan Martini, terdapat pusat informasi untuk para turis yang sekaligus menjajakan berbagai pernak-pernik oleh-oleh khas Groningen. Pusat informasi itu merupakan bangunan segi empat dengan lantai lebih tinggi dari tanah sekitar. Butuh beberapa anak tangga untuk naik ke sana bagi saya. Untuk pengguna kursi roda atau skuter listrik, di sebelahnya disediakan jalan khusus yang aman untuk mereka. Tidak ketinggalan disediakan pegangan besi di samping penurunan dan tangga, untuk mereka para lansia atau difabel yang membutuhkan pegangan saat berjalan.

Di Toko buku bernama Van der Velde, terdapat dua lantai dilengkapi café kecil untuk pengunjung yang ingin sekadar duduk membaca atau mengobrol, juga fasilitas toilet tentu saja. Tidak lupa pula tebaran kursi duduk di sekitar rak buku dengan berbagai desain unik untuk pengunjung yang ingin membaca-baca sekilas isi buku yang ingin dibelinya, jika merasa lelah berdiri.

Jarak antara rak berdiri untuk rak etalase buku-buku dengan meja-meja untuk buku yang disusun bertumpuk dibuat seakses mungkin untuk pengguna kursi roda. Untuk menuju lantai 2, saya selalu menggunakan tangga seperti pengunjung kebanyakan. Namun untuk pengguna kursi roda atau sekuter atau yang memerlukan, disediakan eskalator dengan desain kaca sebagai dindingnya. Tidak hanya itu, toilet yang tersedia juga akses bagi difabel, pun tersedia ruang laktasi untuk ibu menyusui di toilet perempuan. Baik difabel atau pun non-difabel, baik ibu menyusui atau pun anak-anak, semua berhak berbelanja buku di sana. Oh Tuhan, kapan Makassar bisa begini?

Toilet khusus difabel di University of Groningen

Saya tidak akan pernah lupa, kejadian saat berbelanja buku di salah satu toko buku di Makassar. Saat itu, saya hendak membaca cepat isi sebuah buku untuk memastikan bahwa buku itu memang saya butuhkan, dan karena kecapean berdiri, saya pun memilih duduk di lantai depan rak buku. Sesaat saya duduk melantai, petugas datang menegur. Tidak boleh duduk di lantai, katanya. Saya saja yang tidak membutuhkan alat bantu untuk beraktivitas, sulit untuk dapat berlama-lama di toko buku yang ada di Makassar, apalagi teman-teman difabel yang butuh berbagai fasilitas khusus untuk dapat mengakses tempat-tempat keramaian seperti toko buku. Bagaimana mereka bisa leluasa menambah pengetahuan dan memenuhi hak mereka terhadap informasi?

Ini baru soal aksebilitas fisik, belum lagi persoalan akomodasi yang rasional untuk kemudahan dalam menikmati layanan. Sebuah toko buku, misalnya, harus menyediakan ‘komputer bicara’ saat difabel netra ingin mengetahui judul buku tertentu tersedia atau tidak. Atau layanan penerjemah bahasa isyarat bagi difabel komunikasi atau para Tuli. Di Groningen, sependek ingatan saya, semua toko yang pernah saya kunjungi, termasuk toko pakaian hingga alat-alat rumah tangga, sangat akses bagi difabel. Tapi kita bisa jadi akan berpikir, ah itukan cara kapitalis saja menarik semua konsumen untuk berbelanja di tempat mereka. Kalau seperti itu, mari saya melanjutkan cerita tentang ramah dan aksesnya tempat-tempat pelayanan pemerintah untuk masyarakat di Groningen!

Eskalator di salah satu toko buku di Groningen

Bis dalam kota, kereta antar kota, bangunan-bangunan untuk pelayanan dari pemerintah setempat, terminal, stasiun, bandara, kampus, perpustakaan umum, hingga toko-toko di pusat perbelanjaan, semua telah dapat diakses oleh difabel. Di sepanjang jalan dan pusat keramaian, kita akan dengan mudah bertemu dengan difabel. Aksesibilitas fasilitas umum benar-benar menyebabkan Groningen menjadi kota inklusif untuk semua orang. Aksesibilitas memungkinkan mereka beraktivitas dengan leluasa, tanpa terperangkap dan akhirnya hanya memilih mengurung diri di rumah. Selayaknya, dengan mengingat adanya Undang-undang No. 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas, di mana dinyatakan bahwa tiap penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dengan masyarakat lain, menjadikan Makassar—dan Indonesia secara umum—sebagai kota inklusif bukan lagi hal yang musykil dan hanya jadi mimpi di siang bolong.

***

Kembali lagi ke cerita saya selama di Groningen. Tepat di pintu utama yang berdekatan dengan ruang resepsionis, terdapat tangga manual dan eskalator—dua jalan penghubung antara lantai-lantai yang menyusun Harmonie Building, Fakultas Seni dan Fakultas Hukum, RuG. Di sana lah saya mengikuti beberapa kuliah kursus singkat setahun terakhir ini dan tanpa sengaja mengamati berbagai tingkah-pola mahasiswa dan fasilitas-fasilitas berbeda yang disediakan kampus untuk mereka. Tangga manual itu kerap kali saya lewati ketika hendak menuju lantai 1—sebab lantai dasar disebut lantai 0 atau basic floor—untuk mengurus persyaratan administrasi kursus yang akan saya ikuti. Tepat di depan tangga manual, terdapat eskalator.

Saya belum pernah menggunakannya, namun kerap kali setiap hendak masuk atau keluar melalui pintu utama, saya melihat beberapa mahasiswa menggunakannya. Mereka adalah mahasiswa pengguna kursi roda atau skuter listrik, pengguna kaki palsu, atau beberapa yang memakai tongkat untuk berjalan. Di belakang ruang resepsionis, tersedia toilet dengan tiga kamar kecil terpisah. Di depan pintu kamar pertama, terpasang tanda kursi roda yang artinya kamar kecil untuk difabel, sementara dua lainnya untuk laki-laki dan perempuan tanpa kebutuhan khusus. Hampir semua kamar kecil untuk buang air di kampus ini, menyediakan fasilitas dengan tiga kamar terpisah seperti itu.

Di kelas kursus yang saya ikuti pulalah saya bertemu dengan seorang perempuan berkebangsaan Italia. Sebut saja namanya Juana. Dia telah lama menetap di Groningen dengan bekerja sebagai salah satu pegawai di Fakultas Seni dan Hukum, RuG. Rutinitasnya sehari-hari adalah memberikan bantuan pelayanan kepada berbagai mahasiswa difabel. Kami bertemu di kelas peningkatan kemampuan umum bahasa Inggris, tepatnya. Oleh pihak kampus, dia diberi fasilitas diskon untuk kelas tersebut—tidak seperti saya yang harus membayar penuh. Padahal menurut saya, kemampuan bahasa Inggrisnya lumayan bagus. Namun keinginannya untuk meningkatkan kemampuan bahasa didukung penuh oleh pihak kampus. Hal ini tentu saja memudahkan pekerjaannya untuk melayani berbagai mahasiswa difabel dari berbagai negara.

Halaman Depan Pusat Informasi Wisatawan Groningen

Bahrul Fuad, atau yang lebih senang menamai dirinya dengan Cak Fu, seorang mahasiswa doktor Universitas Indonesia (UI) yang sehari-harinya juga bekerja di Pusat Kajian Perlindungan Anak UI, mengalami cerebral palsy sejak usia satu tahun. Cak Fu merupakan alumni master di bidang Humanitarian Action, di fakultas tempat Juana bekerja. Mungkin saja Cak Fu adalah salah satu mahasiswa yang pernah dibantu oleh Juana dulu. Sayangnya, sampai kursus kami berakhir, saya belum pernah mengkonfirmasi ini secara langsung kepada Juana. Secara umum, terdapat unit khusus berupa Student Centre untuk mahasiswa difabel di RuG. Student Centre inilah yang menyediakan buku-buku panduan untuk pengguna kursi roda; jalur-jalur mana saja yang memungkinkan mereka untuk akses naik dan turun ke lantai-lantai gedung bertingkat RuG.

Mahasiswa difabel yang tidak memungkinkan untuk memasuki ruang ujian karena kurang aksesnya ruang ujian, juga dapat melapor ke Student Centre untuk mendapatkan pendampingan ujian di ruang berbeda. Jika ada mahasiswa yang tiba-tiba kecelakaan atau terkena musibah sehingga menyebabkannya membutuhkan alat bantu fisik atau bahkan membutuhkan waktu cuti untuk istirahat, pihak kampus pun menyediakan kemudahan untuk ini. Atas waktu cuti yang diberikan, pihak kampus menyediakan kelonggaran pembayaran tuition fee, juga perpanjangan masa studi mahasiswa yang bersangkutan.

Seperti itulah Groningen mendukung difabel untuk mendapatkan pendidikan layak di perguruan tinggi; mulai dari hulu ke hilir, dari kebutuhan-kebutuhan teknis hingga fasilitas peningkatan kemampuan bahasa. Nah, di Indonesia sendiri, menurut berita terakhir yang dapat saya akses, salah satu universitas yang ada di Malang telah memfasilitasi Tuli dengan baik. Berita ini cukup menggembirakan untuk teman-teman kita yang Tuli dan ingin tetap melanjutkan pendidikannya.

Tapi ini kan di Malang, bukan di Makassar–apalagi di daerah-daerah Indonesia yang makin ke Timur. Dan ini kan untuk teman-teman yang Tuli, bukan untuk non-Tuli lainnya. Tentu masih lumayan segar di ingatan kita, berbagai aksi protes dari asosiasi dan tim advokasi difabel menolak persyaratan SNMPTN tahun 2014 yang tidak membolehkan beberapa kategori difabel mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Baru-baru ini, salah satu badan layanan pemerintah membuka lowongan pekerjaan dan memberikan kesempatan kepada beberapa difabel untuk menempati beberapa posisi khusus. Tapi kita tahu, di Indonesia ini, memangnya ada berapa jenis pekerjaan kerah putih yang masih menerima ijazah lulusan SMA?

Bahkan, jika saat ini tidak ada lagi persyaratan yang menolak difabel untuk mendaftar di perguruan tinggi, saya tidak bisa membayangkan jika ada teman-teman pengguna kursi roda yang berminat mengambil jurusan yang sama dengan jurusan saya saat S1 dulu di Makassar, bagaimana mereka bisa mengikuti perkuliahan dengan baik di gedung dengan dua lantai dan hanya dihubungkan oleh tangga manual? Peluang kerja terbuka, tapi persyaratan tidak terpenuhi, bagaimana caranya? Persyaratan untuk memasuki bangku kuliah dipermudah, tapi fasilitas tidak memungkinkan untuk mengikuti perkuliahan, bagaimana caranya?

***

Sekitar 15% dari populasi manusia di dunia hidup dengan berbagai bentuk disabilitas, tulis Sophie Mitra dan kawan-kawannya di sebuah artikel yang diterbitkan jurnal World Development tahun 2012. Dari 15% tersebut, kebanyakan berusia sekitar 40 tahun dan mereka yang mengalami multi-disabilitas cenderung berada pada taraf hidup menyedihkan yang multidimensional. Memang, beberapa kali menonton berita dari Indonesia, saya kerap menemukan berita kematian atau kepiluan orang tua jompo yang hidup sendirian, dan entah mengapa mereka rata-rata mengalami persoalan kesehatan serius yang berdampak kepada berkurangnya tenaga dan fungsi tubuh lainnya di tengah ruang yang tidak aksesibel bagi lansia. Setelah kerentanan akan usia, melekatnya berbagai ketidakmampuan atas fungsi-fungsi indra, makin memperparah kondisi kehidupan mereka.

Di Indonesia, secara umum, di tahun yang sama saat artikel Sophie Mitra tersebut diterbitkan, Badan Pusat Statistik melansir jumlah difabel di Indonesia sebanyak 6.008.661. Itu sudah hampir lima tahun sejak data tersebut dikeluarkan. Jumlah penduduk di Indonesia, semakin ke sini semakin meningkat, dan kemungkinan besarnya jumlah difabel pun lebih besar dari angka jutaan tersebut. Atas nama agama, suku, dan daerah, rasa-rasanya belakangan ini kita mudah sekali tersinggung dan mati-matian bersuara sebab merasa diperlakukan diskriminatif.

Barangkali, bolehlah di sela-sela panasnya jempol dan mata kita me-scroll berita di sosial media, kita berhenti dan sejenak bertanya pada diri sendiri, kenapa yah kita tidak merasakan ketersinggungan dan kesakitan yang sama, manakala saudara-saudara kita yang difabel tidak mendapatkan hak-hak mereka dan akhirnya diperlakukan diskriminatif di Kota Makassar kita tercinta? Atau jangan sampai, kitalah yang justru diam-diam dan seringkali bersikap diskriminatif terhadap mereka? Bukan hanya dalam perbuatan, bahkan sejak dalam pikiran. Aih!