“The theater was created to tell people the truth about life and the social situation” –Stella Adler

Dalam kajian ilmu komunikasi, terdapat istilah Komunikasi intrapersoal. Yaitu komunikasi yang dilakukan dengan diri sendiri. Komunikasi bisa saja dalam bentuk verbal atau non-verbal. Jika hal ini dikaitkan dengan seni dan sastra, akan memiliki pandangan yang berbeda. Dalam sastra kita mungkin pernah membaca novel dimana sang tokoh bergumam dengan dirinya sendiri. Begitu pula dengan seni, komunikasi dengan diri sendiri dapat menjadi sebuah pertunjukkan berkelas yang biasa disebut Monolog.

 

quote-two-monologues-do-not-make-a-dialogue-jeff-daly-301255

 

Kala Teater, sebuah komunitas yang berfokus pada bidang seni teater. Komunitas yang berdiri sejak tahun 2006 ini dihuni dan dibina oleh orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi di bidang seni dan budaya. Sejak tahun 2009, Kala Teater memiliki program yang bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas dan memetakan aktor di Makassar bernama Festival Kala Monolog.

Kala Teater pada tanggal 8 sampai 11 mei lalu menggelar Festival Kala Monolog. Festival yang telah memasuki tahun ke-6 ini hadir dengan mengangkat tema Aktor dan Ruang. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Kala Monolog tahun ini memberikan kebebasan kepada peserta untuk memilih naskah yang ingin dipentaskan.

“Tema tahun ini adalah aktor dan ruang. Bagaimana aktor dapat menyikapi ruang untuk memaksimalkan pertunjukannya. Titik tumpunya lebih besar pada aktor. Oleh karena itu, keaktoran menjadi priotas penilaian” Shinta Febriany, Dewan Juri

IMG_2200_2

Dewan Juri: Sutradara Teater yang telah bergelut dalam dunia Seni

Sebanyak tujuh Monologer yang berasal dari berbagai komunitas seni hadir menunjukkan bakatnya. Para monologer dibagi hari pementasannya dari tanggal 8–11 Mei 2014. Di hari pertama, tampil Ratna Muslim dengan naskah “Kenang-Kenangan Seorang Wanita Pemalu” dan Syahrul Awaluddin dengan naskah “Kapok”. Di hari kedua, tampil Arham Rizki Putra dengan naskah yang ditulis oleh Aeng dan Farisal berjudul “Topeng-Topeng“. Di hari ketiga, tampil Ana Taufikah dengan naskah “Ibu yang Anaknya Diculik Itu), kemudian Randika dengan naskah “Bangsat” serta Rizki Indra Irawan dengan naskah “Kaos Kaki Bolong”.

“Sangat bangga karena mendapatkan kesempatan mengikuti festival yang bergengsi ini” –Ratna Muslim, Bengkel Seni Bassi (Peserta)

Alunan gitar akustik dan biola secara harmonis mengiringi pementasan Dwi Lestari Johan dan Fadli Amir sebagai tamu spesial di hari terakhir. Pementasan yang berkualitas pun berhasil mereka tampilkan. Terlebih kepada aktor Fadli Amir dengan naskah “Wakil Rakyat yang Terhormat”. Naskah yang membahas tentang wakil rakyat ini menggunakan momen pasca Pemilihan Umum lalu dengan sangat pas. Kepiawaian Fadli dalam menghayati perannya pun sukses membuat tamu yang hadir terkesima. Riuh tepuk-tangan pun mengakhiri pementasan yang naskahnya ditulis oleh Putu Fajar Arcana.

IMG_2189_2

Fadli yang penuh ekspresi dalam naskah Wakil Rakyat yang Terhormat

“Event ini bagus, karena dapat meningkatkan keinginan seseorang untuk berakting, khususnya di bidang seni monolog” –Wulandari Pertiwi, Pengunjung

Pengumuman aktor terbaik menjadi agenda penutup rangkaian Festival Kala monolog ini. Aspek keaktoran, penyutradaraan dan keartistikan menjadi poin utama penilaian. Para juri yang terdiri dari Fahmi Syarif, Ram Prapanca dan Shinta Febriany pun sepakat untuk memberikan nominasi aktor terbaik kepada Arham Rizki Saputra dari Lentera FSB UNM (Fakultas Budaya dan Sastra, Universitas Negeri Makassar) sebagai yang penampil terbaik. Disusul oleh Randikadari dari Sipakainge’ Art di urutan kedua dan Farisal dari BUI Teater di urutan ketiga.

Untitled-1

Tiga peserta terbaik. Sumber: Akun twitter @kalateater

“Festival ini luar biasa sekali. Terus terang sejak pertama kali menonton monolog, saya bertekad untuk harus ikut mencobanya. Monolog itu adalah sesuatu yang lebih. Karena kita berperan seorang diri” Arham Rizki Saputra, Juara Terbaik Pertama

Festival ini adalah salah satu event yang dapat membuat kita lebih dekat dengan seni teater. Kegiatan ini dapat memberikan pandangan baru atau sekedar pengenalan kembali terhadap seni yang hampir punah digilas budaya pop modern. Pertunjukkan yang memfokuskan perhatian pada satu titik esensial–yaitu aktor–adalah keunikan yang dapat kita temui di Festival Kala Monolog ini. Semoga kegiatan sejenis bisa lebih banyak hadir mewarnai kota kita tercinta.

IMG_2200_2 (2)

Selamat kepada pemenang!