Oleh: Dhy Saussure ( @dhysaussure ) | Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Kehidupan masyarakat urban diliputi suguhan yang beragam dan menarik, namun pada dasarnya sangat terbatas. Pilihan yang hadir merupakan hasil penyaringan terbaik dari persaingan produksi massal berskala besar. Untuk mendapatkan perhatian konsumen, beragam karnaval citra memenuhi ruang publik untuk segera dikonsumsi, kemudian tenggelam menjadi sesuatu yang wajib untuk dibelanjakan. Ruang publik disulap dan diubah menjadi pameran produk-produk unggulan. Bukan hanya pengusaha, bahkan birokrasi juga turut menghujani masyarakat dengan citra semu.

Hampir di setiap ruas jalan, baik jalan utama maupun lorong-lorong kecil, ratusan banner, spanduk, billboard, dan semua tempat yang dapat dijangkau mata, berserakan produk dan citra. Melalui hal-hal itulah gagasan, konsep, dan ideologi tertentu dikemas.

Bangunan megah pusat perbelanjaan dibangun, tidak ketinggalan rumah toko tersebar di sepanjang jalan, mini market, hyper market mengambil posisi rapi di dalam kota. Ini menjadi semacam tanda bahwa kita hanya hidup untuk menjadi konsumen. Tidak ketinggalan, industri rumah tangga saling berebut lahan sempit untuk menjajakan jualan mereka.

Tak pelak, kota menjadi tempat yang tak memiliki spasi. Hampir tak ada lagi ruang yang bisa digunakan untuk bermain dan berolahraga. Lapangan bola anak-anak disulap menjadi lahan bisnis. Lahan sempit di rumah yang seharusnya menjadi tempat bermain anak-anak berubah menjadi tempat parkir.

Masyarakat kota yang modern, sejak pagi dari senin hingga jumat, bekerja mengumpulkan uang, kemudian pada saat akhir pekan mereka gunakan untuk belanja dan memenuhi rumah dengan beraneka macam pernak-pernik yang mewah.

***

Tingkat konsumsi meningkat tinggi. Banyak orang menghabiskan waktu dan uang mereka untuk belanja. Terutama makanan. Banyak toko dan sajian makanan dibuat untuk memenuhi selera konsumsi masyarakat urban. Junkfood menjadi salah satu menu favorit. Kita tidak perlu mengantri begitu lama dan makanan akan disajikan dengan segera.

Junk food store yang berdiri kokoh di banyak ruang kota, membuat ibu-ibu kita perlahan namun pasti mulai meninggalkan dapur. Meski dapur tetap menyala, ibu-ibu telah disiapkan bahan-bahan instan yang juga cepat untuk disajikan. Beragam bumbu masak instan memenuhi laci-laci dapur, sambal dan kecap botol, persediaan mie instan, ikan kaleng, kornet, sosis, ayam kemasan yang siap digoreng, dan banyak lagi.

Aktivitas kerja yang tinggi di era modern, mengarahkan pada pola konsumsi yang praktis dan cepat saji. Junk food dengan kandungan lemak yang tinggi disertai sodium dan gula menjadi menu utama. Gaya hidup seperti itu sangat melekat pada masyarakat kita hari ini.

Hal itu terbukti dengan cukup banyak foto makanan yang di-upload dalam akun-akun istagram dan media sosial lainnya. Sebelum mulai makan, foto makanan sudah di-upload dan dikirimkan kepada teman-teman semedia sosial. Secara tidak langsung, ini merupkan model iklan sukarela agar mereka yang melihat foto tersebut juga mau bergabung menyantapnya kelak.

Kondisi tersebut melahirkan beragam masalah, salah satunya adalah obesitas. Tahun 2012, Data dari WHO menyebutkan bahwa saat ini lebih dari 1 milyar penduduk dunia mengalami masalah kelebihan berat badan. Hal itu juga kita jumpai dalam masyarakat kita.

Kelebihan berat badan kemudian banyak melanda masyarakat kita. Laki-laki, perempuan, anak-anak, maupun dewasa. Parahnya, itu menjadikan banyak kaum perempuan mengalami stress karena memiliki berat badan yang tidak ideal.

Secara global data dari WHO menunjukkan bahwa 2,8 juta orang meninggal setiap tahun akibat kelebihan berat badan dan obesitas. Kondisi ini memancing para pelaku industri untuk mengambil peran yang signifikan dalam memberikan pencerahan guna mendapatkan tubuh yang proporsional.

Industri kemudian berlomba-lomba untuk mendapatkan pasarnya. Resep makanan diet, obat-obatan, dan beragam program diet menjadi komoditi yang sempurna untuk meraup keuntungan dengan dalih kesehatan.

Selain karena kesehatan, faktor tubuh ideal sebagai standar kecantikan juga menjadi alasan. Hampir semua jenis iklan mempertontonkan tubuh ideal yang langsing. Bahkan dalam iklan secara sengaja melakukan kritik, mengejek, bahkan menjadi celaan untuk mereka yang memiliki tubuh gemuk. Mereka yang bertubuh gemuk  seolah merupakan aib, menjijikkan dan harus dihindari dengan produk tertentu.

Praktis, citra perempuan langsing menjadi sebuah keharusan bagi perempuan modern. Maka ramailah di antara mereka untuk  berlomba-lomba menggunakan segala cara  mendapatkan tubuh yang indah. Mereka (perempuan) lalu menyiksa diri menghindari beragam jenis makanan sesuai dengan jenis diet masing-masing. Sekali melanggar, maka semua prosedur diet harus dimulai dari awal lagi.

Pada akhirnya, tubuh ideal menjadi sebuah keharusan. Seperti tanda baca pada kalimat. Maka diet menjadi sebuah kewajiban bagi mereka, perempuan yang memiliki kelebihan berat badan.


Baca tulisan lainnya dari Dhy Saussure

Parade Citra Perempuan dalam Media

Tampil Seksi dengan Bulu Ketiak

Tubuh yang Tabu

Kenapa Cowok Lale?

Pendidikan Tidaklah Seserius Pikiran Orang-Orang

Ada Apa Dengan “Aku Mencintaimu”?