Ilustrasi: Nurfadli Mursyid ( @tahilalats )

Dalam sepekan saya biasa meluangkan waktu untuk membaca beberapa episode komik di Line Webtoon. Genre favorit saya komedi. Komik komedi dengan rating tertinggi sejauh ini di Webtoon adalah Tahilalats dengan persentase rata-rata 9.65/10 dan jumlah pembaca lebih dari 600.000 orang. Dengan bukti statistik yang fantastis itu dan sejak lama juga saya menjadi pengikut Instagramnya, saya mencoba mengirim e-mail permintaan wawancara ke sang creator.

E-mail permintaan itu saya ketik hanya beberapa baris. Setelah menunggu seharian lebih, akhirnya direspon singkat saja: “bisa, via telepon saja.” Saya dengan refleks girang dalam hati menyebut “Anjay~”.

Tahilalats, nama series komik itu awalnya beredar di Facebook tahun 2014, kemudian dibuatkan akun Instagram dan Tumblr. Berkat ide cerita yang lucu dan konsisten dipublikasikan, suatu hari ada akun meme yang me-repost postingan Tahilalats hingga jumlah peminatnya semakin bertambah. Hingga bulan ini, Tahilalats sudah berhasil mengumpulkan sebanyak lebih dari 587.000 pengikut di Instagram.

Kreatornya –yang punya tahi lalat di wajah- menyebut gaya gambar komik ini sebagai lazy art, suatu jenis gaya guratan-guratan nyeleneh yang sederhana. Gaya seperti ini juga dapat dijumpai di Cyanide and Happiness yang mengusung dark humor. Meskipun kelihatannya seperti coretan anak-anak, perlu diperhatikan bahwa beberapa lelucon di Tahilalats berkategori dewasa.

bg_pc_img

Halo, perkenalan diri dulu sama pembaca Revius.

Nama Nurfadli Mursyid. Biasa dipanggil Fadli atau Lik. Apalagi ya? Umur sekarang 22 tahun. Lahir di Pare-pare, 19 Agustus 1993. Sekarang bekerja di suatu perusahaan grafis, dan selain kerja, bikin proyek pribadi juga yaitu komik.

Fadli lebih suka mengidentifikasikan diri sebagai seniman, komikus, atau apa?

Saya lebih ke creator. Soalnya untuk bisa disebut komikus sih belum. Komikus menurut saya, memang total bikin komik. Komikus tuh bikin yang berseri, yang panjang, sampai buat buku. Tapi, kan saya lebih ke komik digital, komik strip yang tidak terlalu panjang, tidak sampai ke buku. Menurut saya masih ke creator sih.

Bagaimana ceritanya Fadli memulai diri sebagai creator?

Ya, awal mulanya tuh sebenarnya sudah mulai suka gambar. Dari kecil memang sudah hobi menggambar. Kenapa tertarik dengan dunia komik strip, memang dari kecil suka cari komik-komik strip yang di koran-koran itu. Waktu kecil belum tahu kalau itu namanya komik strip, cuma ikut saja. Jadi, suka bikin komik strip di buku tulis, terus SD, SMP, SMA, sering bikin komik strip lah buat teman-teman SMA di kelas. Buat lucu-lucuan. Nah, pas kuliah kepikiran bagaimana kalau bikin komik strip juga biar bisa dibaca luas. Waktu itu kan sudah ada Facebook. Nah, saya coba upload di Facebook waktu itu sama di blog saya. Itu awal 2014, tapi pembacanya masih kurang waktu itu. Makanya saya pikir bagaimana ya biar pembacanya lebih banyak lagi soalnya tujuan saya biar orang-orang bisa lebih luas lagi jangkauannya. Akhirnya, ada nih Instagram. Baru tahu itu pas pertengahan 2014. Tapi, Instagram saya waktu itu tempat upload foto-foto saja. Jadi, saya pikir nah ini bisa tidak sih upload komik soalnya formatnya sangat bagus buat karya-karya komik seperti itu. Jadi, selain foto bisa komik juga. Akhirnya saya coba waktu itu iseng-iseng upload komiknya di Instagram, terus ada yang di-repost sama akun besar nih. Akun meme pokoknyalah. Akhirnya banyak yang berkunjung ke akun saya waktu itu. Mulai saat itu sudah mulai banyak yang baca. Akhirnya saya upload secara konsisten terus, terus, terus sampai sekarang. Itu awal mulanya.

Jadi, pertamanya upload di Facebook ya, terus habis itu pindah ke Instagram.

Bukan pindah ke Instagram sih, cuma menambah akun sosmed. Jadi, dari Facebook, pindah ke Instagram. Di Tumblr juga, dan di Twitter sekarang. Jadi, udah ada empat.

Waktu SD kan sering baca komik strip di koran, itu koran dan komik apa ya?

Orang tua kan ada (langganan) koran, saya cari bagian-bagian komik stripnya. Banyak kan koran di Sulawesi kayak Fajar, Pare Pos, dan sebagainya. Jadi, suka baca-baca saja.

Bikin komik series itu istilahnya bukan pekerjaan utama, jadi kapan punya waktu mengerjakan komik?

Sebenarnya saat ini (komik) itu bukan project utama, sekarang masih kerja di kantor, kan. Jadi, cara bagi waktunya tuh tetap. Kalau misalnya pekerjaan kantor sudah kelar, artinya pindah ke kerjaan saya selanjutnya. Jadi, bagi waktu aja sih. Tidak terlalu ribet juga, soalnya kantor juga masih membebaskan buat melanjutkan proyek saya ini. Tidak terlalu berat. Tetap prioritasnya itu kantor dulu, nah selesai pekerjaan kantor, baru beralih ke komik strip saya.

Seberapa produktif Fadli dalam menghasilkan komik strip itu?

Setiap hari bikin. Untuk di Webtoon, Senin sampai Kamis, dan Jumat sampe Minggu itu untuk di social media. Untuk bikin satu komik itu sebenarnya paling lama tiga jam-an. Mulai dari cari ide sampai proses upload. Cepat sih soalnya biar pekerjaan-pekerjaan lain bisa selesai.

Bagaimana ceritanya bisa kerjasama dengan Line Webtoon?

Jadi ceritanya, kan sering bikin ini nih komik strip di social media. Jadi Webtoon waktu itu lagi cari kontributor di aplikasinya mereka. Mungkin dari pihak Webtoon tertarik mengajak saya menjadi kontributor di perusahaannya. Akhirnya di-e-mail waktu itu, “kami menawarkan (Fadli) ini sebagai kontributor.” Menurut saya itu bisa promo juga akhirnya saya setujui waktu itu. Jadi saya bisa gabung deh sampai sekarang.

Target rencana berapa episode di Webtoon?

Tidak ada target. Cuma sistemnya kayak kontraktor per-tiga-bulan sesuai dengan jadwal terbitnya. Jadi per bulan sekitar berapa kali upload. Mungkin sekitar dua belas kali upload per bulan. Jadi, tidak ada target sih.

Screen Shot 2016-03-06 at 7.35.48 PM copy

Proses bikin komiknya bagaimana?

Jadi awalnya sebenarnya saya kerja komik masih manual di kertas, pakai pen biasa waktu itu. Di-scan. Terus di-upload. Lama kelamaan berkembang akhirnya sekarang pakai pen tablet, masih pakai Photoshop buat coloring. Jadi lebih cepat lagi gambarnya, jadi lebih efektif, cepat selesai, tidak perlu ada scan-scan-an lagi.

Terus dapat inspirasinya dari mana? Fadli kan cuma butuh tiga jam buat kerjakan itu semua.

Saya sebenarnya dapat inspirasi dari catatan-catatan di buku saku saya, kadang juga di Notes handphone. Jadi, saya suka catat-catat kalau lagi ngobrol sama teman, tiba-tiba ada hal yang bisa dijadikan buat komik, yang lucu, harus dicatat. Terus, muncul juga dari akun social media kayak Instagram. Sekarang apa yang lagi happening sih yang bisa dijadikan komik. Kadang juga dari berita-berita yang terjadi saat ini. Suka cari-cari yang begitu sih. Akhirnya saya lihat list-list catatan saya buat yang mana nih buat dijadikan komik.

Pernah tidak iri dengan komikus lain karena style gambar kayak begitu “kayak anak-anak”?

Biasa saja sih. Malah saya kagum sama mereka yang gambarnya keren malah. Bukan iri. Positifnya bisa jadi style tersendiri kan sama kita untuk buat komik. Akhirnya, daripada mencari style lain, bagaimana kalau memfokuskan ke style ini saja dan bisa diterima banyak orang. Jadi, style gambar saya yang masih terlihat kayak goresan anak kecil atau apa mungkin mereka masih kurang mencari tahu komik itu mesti gambar yang kayak gini atau kayak gitu. Terima saja sih kalau ada yang kritik seperti itu.

Screen Shot 2016-03-06 at 7.35.48 PM

Pernah tidak dapat komplain dari pembaca?

Iya, ada sih. Kadang tidak terlalu ditanggapi sih kalau komplainnya memang cuma apa ya. Pikirannya belum terlalu open minded. Tapi, kalau misalnya menurut saya ini serius, nah itu baru saya tanggapi. Misalnya waktu itu saya bikin komik tentang rokok. Lehernya bolong. Nah ada yang komplain “eh, itu kenapa dijadiin komik? Itu kan pernah ada orang Indonesia yang kayak gitu. Kayak gitu kan tidak boleh dijadiin lelucon.” Akhirnya saya bilang, “Sebenarnya di komik ini tidak ada hubungannya sama sekali sama orang-orang yang kena kayak begitu.” Akhirnya, setelah saya balas, dia balas “iya juga sih.” Jadi yang bisa dibalas, saya balas. Itu saja sih.

Project ke depan selain Tahilalats?

Belum ada. Mau fokus di komik ini. Untuk ke depannya akan dijadikan perusahaan tersendiri. Insya Allah.

Perusahaan tersendiri?

Iya, bisa jadi. Jadi ke depannya bakal ada selain merchandise bisa juga buat short cartoon. Jadi, tidak ada project lain. Masih fokus di komik strip ini.

Ada tidak keinginan tergila yang belum tercapai hingga saat ini?

Ingin bikin komik strip yang dikenal pembaca luar, jadi bukan di Indonesia saja. Tentunya bahasanya internasional, jadi pengennya bisa dinikmati universal lah pokoknya.

Nasihat buat pembaca bagaimana menjadi orang yang kreatif?

Sebenarnya semua orang punya sisi kreatif masing-masing. Cuma kadang orang tidak manfaatkan sisi kreatifnya itu. Misalnya kalau lagi macet, pas berpikir bagaimana caranya bisa lolos dari macet tuh sebenarnya proses kreatif namanya. Jadi, semua orang bisa sih. Cuma bagaimana mereka mencari hobinya di mana, passion-nya di mana dan cari lagi orang-orang yang sesuai dengan hobi dan passionnya. Biar jadi influence.

Catatan: 
Pembaca juga bisa membuat avatar Tahilalats di sini.

Baca artikel lainnya dari The Awesomer

Memperbesar Imaji Pendengar Melalui Visual

Kisah Bagus tentang Alkisah

“Gambar itu Sebenarnya Asal Jadi”

“Kelelawar Menjadi Inspirasi Saya”

The Super Duper Grindcore Artworker

“Desain dan Musik menjadi Poligami Saya”

“Little Details Create Perfection”