Sumber Foto: Freezer (@freezerbandit)

Menyaring ‘informasi’ yang disuguhkan merupakan suatu hal yang melelahkan. Terutama menata kecurigaan terhadap informasi tersebut. Saya juga tidak ingin larut dalam rumitnya informasi berbumbu, sebut saja, sebagai perangkap modernisasi. Bahkan, musik yang berdistorsi lebih menenangkan hati daripada mendengarkan khotbah di ‘rumah suci’. Betapa berdosanya saya.

Hingga pada waktu saya mengunjungi sebuah event yang diadakan untuk merayakan hari rilisan fisik, saya menyaksikan Freezer, unit hard rock/stoner metal asal Makassar. Mereka memberikan sebuah warna baru di tengah sesaknya gempuran musik cadas yang itu-itu saja. Berlanjut dengan menyaksikan Freezer di berbagai event secara kebetulan, saya mulai menaruh perhatian terhadap band tersebut. Sebuah lagu ciptaan mereka yang bertajuk Albert Einstein, dilepas ke dunia maya dan sukses merayu saya untuk mengunduh dan menyimpannya dalam playlist.

Pada 27 September 2016 lalu, saya berkesempatan bertemu dengan Freezer dan berbincang banyak tentang mereka. Band yang terbentuk sejak tahun 2001 ini ternyata pernah masuk 12 besar Rock Slebor di tahun 2007. Di mana nama-nama besar musisi Rock Indonesia seperti Yoyo, Yockie Prayogo, hingga Ahmad Albar menjadi juri di kompetisi tersebut. Band yang sudah banyak makan “asam garam” dunia musik. Khususnya, musik cadas tidak lepas dari gonta-ganti personel. Hingga kini, mereka mantap diisi oleh Charles a.k.a Ale’ (Vocal), Ojhie (Gitar), Anto (Gitar), Chandra (Bass), dan Prayudi (Drum, Backing Vocal). Band yang terinspirasi dari beberapa band seperti Velvet Revolver, Dream Theater, Metallica, Mastodon, Pantera, Down, dan Sleep ini mengusung genre hard rock yang konsisten dengan suara gitar berdistorsi, namun terasa sentuhan stoner rock/metal, mengadopsi beberapa unsur dari rock n roll hingga blues, membuat mereka menjadi band yang patut diperhitungkan. Menyangkut dengan pemilihan nama band, Ale’ mengakui, “Awalnya si Lerry (eks-personel), ia buka kulkas, mau ambil bakso sapi, tapi lihat juga tulisan Freezer, ya sudah (jadilah dipilih Freezer)” Pemilihan nama yang menarik.

Dengan formasi terbaru ini, dari sekian event yang mereka jajal, event yang paling berkesan menurut mereka adalah Garage Music 3 . Dengan set sound system yang sederhana, namun keluaran sound yang tidak mengecewakan dan suasana crowd yang benar-benar padat, membuat mereka lebih merasakan apa dan bagaimana musik cadas yang sesungguhnya. Dikarenakan sudah mempunyai pekerjaan dan kesibukan masing-masing, waktu adalah kendala yang sering dihadapi oleh mereka. Waktu yang tersisa untuk latihan atau kumpul bersama personel lain hanya tersedia di jam pertama di hari yang baru (selamat mencari artinya sendiri). Termasuk juga untuk persiapan merilis karya berikutnya, Freezer selalu berusaha mencari waktu yang tepat agar tidak menjadi kendala. Untuk menjaga eksistensi dalam bermain musik, mereka mengutamakan asas kekeluargaan, baik dalam membuat karya, menghadapi kendala, hingga menyelesaikan masalah.

Freezer yang menjadi penampil paling akhir di Bising Bising Tetangga pun sukses menutup helatan kolektif ini dengan dua lagu mereka di antaranya, "Albert Einstein" yang mengakrabi kuping saya.

Freezer saat tampil paling akhir di Garage Music Vol.2: Bising Bising Tetangga pada tahun 2015. (Foto: M. Ifan Adhitya)

Freezer juga peka melihat keadaan-keadaan event musik keras berskala kecil hingga besar yang diadakan. Bukanlah hal yang mudah untuk membuat event, ditambah banyak telinga yang alergi mendengar musik miring, dan stigma masyarakat awam yang begitu mudah menilai bagi yang memakai atribut serba hitam a la Metal atau Punk. Namun, hal ini rupanya tidak disadari oleh pengunjung yang malah menjadi dalang kerusuhan. Dalam pandangan mereka, dalang kerusuhan di event-event adalah yang hanya ikut-ikutan dan bukan benar-benar penikmat musik keras yang diperparah dengan minimnya pengetahuan tentang mosh pit dan lain-lain. “Biasanya untuk biang kerusuhan, adalah mereka yang di bawah 17 tahun. Kalau bisa tiap event memasang batasan umur, minimal 17 tahun lah,” ujar Prayudi. Sama dengan yang dikatakan oleh Ojhie, “Untuk saya sendiri, mungkin pola pikir mereka tentang mendengar dan menikmati musik keras, yang mesti merusuh dalam mosh pit. Padahal, tidak seperti itu. Dan, ketika dalam event, buang jauh-jauh pemikiran seperti itu, karena itu cara-cara preman jalanan yang sekadar masuk dan sama sekali tidak tahu musik, malahan hanya mencari gara-gara. Saya pikir mereka yang seperti itu, bukan penikmat musik keras yang sesungguhnya. Hanya ikut-ikutan.”

Freezer dalam waktu dekat ini akan meluncurkan mini album volume 1 yang bertajuk ALBERT EINSTEIN ‘HALO 1’. Beat yang bervariatif, tidak monoton, dentuman Drum yang mampu memacu adrenaline ke titik maksimum, ditambah raungan distorsi dan menyayatnya melodi dengan sedikit sentuhan Blues, ganasnya permainan Bass, dan kuatnya karakter vokal. Saya pribadi merekomendasikan album ini untuk kalian pelaku dan penikmat musik keras.

Sebelum mini albumnya rilis, lagu Albert Einstein dari Freezer bisa didengarkan dalam player SoundCloud di bawah ini. Tentang lagu Albert Einstein, Freezer secara istimewa mengaitkan Albert Einstein dengan rumus terkenal E=mc2-nya itu, bersama tema persoalan sehari-hari tentang debat-debat yang selalu mengarah kepada pembenaran. Seperti dalam liriknya,”teori apa lagi yang kau berikan?”. Selamat mendengarkan!