Foto: Aswan Pratama (@aswan_p)

Sebutan musisi lintas genre sering kali saya lihat saat membaca artikel-artikel yang memberitakan musisi-musisi yang memainkan beragam genre musik. Dan, mengobrolkan perkembangan scene musik di Makassar dengan musisi-musisi yang memainkan genre musik yang beragam, tentu anda sebagai penikmat musik semestinya mengetahui tentang Music For Brighter Day (MFBD). Panggung musik tahunan yang digelar sejak 2010 ini selalu mengutamakan tujuannya untuk menghadirkan musisi-musisi lintas genre Makassar dalam satu panggung. Dalam pergerakannya selama enam tahun terakhir, MFBD berhasil mewadahi puluhan hingga ratusan band indie yang tidak hanya berasal dari kota Makassar, namun juga diikuti oleh band-band dari berbagai kota di Indonesia. Pada tiga edisinya, MFBD juga telah merilis album kompilasi sebagai bukti nyata dukungan terhadap perkembangan musik independen dari Makassar hingga internasional.

Pada 2016, Music for Brighter Day kembali digelar di kota Makassar, tempat pergerakan ini lahir, setelah dua tahun sebelumnya diadakan di Denpasar, Bali. Music For Brighter Day Se7en terasa istimewa karena seperti reuni beberapa band Makassar yang telah berpartisipasi di acara Music for Brighter Day sebelumnya yaitu Standing Forever, Dunce Dance, FrontxSide, Ska with Klasik, Speed Instinct, My Silver Lining, All Confidence Out, The Vondallz, Addict Motion, dan Protocol Afro asal Jakarta. Pendatang baru dalam pergerakan Music For Brighter Day adalah Kapal Udara, Adi Saleh,  Idiot Einstein, Makassar Rock Steady, Eksekutor Mutilasi asal Bajoe (Bone), dan Pygmy Marmoset asal Bali.

Dari informasi yang disampaikan siaran persnya, Music for Brighter Day Se7en diadakan di daerah Perintis Kemerdekaan Makassar, tepatnya di pelataran parkir Rhapsody Café (tepat di samping kampus STIMIK Dipanegara) pada Sabtu, 6 Agustus 2016. Untuk penentuan venue, ada sedikit kendala tentang masalah perizinan untuk memakai area parkir Rhapsody Café dan sebelumnya sempat diumumkan tempat acara pindah ke area parkir Gelael dan Undersiege di Jl. Perintis Kemerdekaan. Namun, karena memperhitungkan kondisi venue yang lebih strategis dan setelah negosiasi dengan pihak venue, Music for Brighter Day se7en akhirnya tetap diadakan di pelataran parkir Rhapsody Café.

Pada hari H, sebelum acara berlangsung, saya sempat bertemu dan berbincang dengan Ryan, inisiator dari Music For Brighter Day. Ia mengingat kembali saat MFBD terakhir dilaksanakan di Makassar pada tiga tahun yang lalu. Pergerakan MFBD waktu itu masih sangat kecil, bahkan menurutnya cenderung merosot karena berputar pada konsep yang sama. “Maka dari itu, saya berinisiatif membawa pergerakan MFBD ke Bali pada dua edisi selanjutnya agar semakin luas diketahui para musisi di sana dan kota lainnya,” ungkapnya. Berkah dari dua edisi sebelumnya yang diadakan di Bali pun menghampiri. Untuk pertama kalinya dua band dari luar Makassar bisa tampil di MFBD tahun ini. Melihat sejarah MFBD yang akarnya betul-betul pergerakan bersama, Ryan berharap banyak dukungan dari musisi-musisi lintas genre, khususnya band-band Makassar bisa ikut serta dengan tampil di MFBD agar pergerakan ini tetap terus ada. “Band luar saja rela jauh-jauh datang ke Makassar untuk pergerakan ini,” ujarnya sambil menegaskan. Rencana MFBD ke depan menurut Ryan saat ini belum terpikirkan. Tapi dia sekali lagi berharap MFBD bisa semakin luas lagi dari segi pergerakan dan dukungan berbagai pihak.

Ryan yang merupakan inisiator dari Music For Brighter Day saat berbincang dengan MC ketika panggung MFBD sedang berlangsung.

Ryan merupakan inisiator dari Music For Brighter Day yang terus berinisiatif membawa pergerakan MFBD semakin luas.

Ryan juga merupakan vokalis merangkap gitaris dari Standing Forever (pop punk Makassar) yang direncanakan tampil di MFBD Se7en. Namun, menjelang detik-detik terakhir acara akan dimulai, Standing Forever memutuskan urung tampil karena Ryan merasa kurang fit untuk bernyanyi. Walhasil, selain Standing Forever, ada empat band lainnya yang batal tampil yaitu Ska With Klasik, Dunce Dance, All Confidence Out, My Silver Lining. Ke empat grup musik masing-masing punya alasan yang berbeda perihal absen di panggung MFBD Se7en. Ada yang beralasan tampil di acara lain pada waktu yang sama, ada pula yang personelnya sakit mendadak menjelang acara.

Budaya ‘jam karet’ yang semakin menjadi hal biasa dalam gelaran musik juga terkena imbasnya untuk jadwal Music For Brighter Day.  Waktu tampil line-up MFBD se7en semestinya dimulai pada pukul 15.00 WITA diundur ke malam hari. Hal ini disebabkan pula diadakan soundcheck bagi yang band-band yang tampil pada sore hari hingga menjelang enam petang. Sehingga, The Vondallz sebagai penampil pertama membuka panggung Music For Brighter Day Se7en pada pukul 19.00 WITA. Kuartet folk rock ini tampil cukup eksentrik dengan sang vokalis, Afdhal yang menurunkan kupluk hingga menutupi matanya saat bernyanyi. Walau tata suara sempat menjadi kendala di awal penampilannya, The Vondallz yang telah mengeluarkan album Gradasi Warna ini cukup berhasil mengajak penonton untuk pelan-pelan merapat ke bibir panggung.

Music For Brighter Day Se7en_6 Agustus 2016_Revius4

Idiot Einstein menjadi penampil selanjutnya. Band yang baru saja mengeluarkan EP Koala and Owl ini semestinya bisa menarik perhatian saya dengan punk/emo/rock yang membaur dalam musik yang mereka bawakan. Nuansa The Ataris dan Sunny Day Real Estate menyeruak dari vokal Evan yang khas. Namun karena penampilan mereka yang sepertinya belum klop satu sama lain di panggung, sehingga saya kurang menikmati lagu-lagu yang mereka bawakan. Sebaiknya mereka sering-sering tampil di panggung-panggung musik serupa MFBD yang selanjutnya.

Idiot Einstein yang memerlukan banyak panggung seperti MFBD agar penampilan mereka semakin klop satu sama lain.

Idiot Einstein yang memerlukan banyak panggung seperti MFBD agar penampilan mereka semakin klop satu sama lain.

Selepas Idiot Einstein tampil, Addict Motion kemudian menghentak panggung MFBD Se7en. Namun, lagi-lagi saya melewatkan penampilan band ini secara utuh karena sedang asyik mengobrol dengan teman-teman band lainnya di belakang panggung. Sayup-sayup terdengar lagu milik Blink-182 yang dibawakan kuartet melodic punk asal Makassar ini dari panggung malam itu.

Addict Motion saat tampil di panggung Music For Brighter Day.

Addict Motion saat tampil di panggung Music For Brighter Day.

Makassar Rocksteady lalu menghembuskan nada-nada mayor dan minor yang melodius di panggung MFBD Se7en. Kelompok yang cukup komplet dengan tujuh orang di atas panggung ini, malah membuat penonton termasuk saya ikut mengerakkan badan mengikuti hentakan irama rocksteady yang mereka bawakan. Tak pelak, nuansa musik rocksteady yang saya kenal setelah mendengar The Skatalites ini menutup dengan manis atmosfer panggung MFBD Se7en.

Makassar Rocksteady di Music For Brighter Day Se7en.

Penampilan Makassar Rocksteady di Music For Brighter Day Se7en cukup mengingatkan saya dengan band-band rocksteady legendaris seperti The Skatalites. Semoga nasib mereka bisa sama seperti pendahulunya.

Pendekar musik blues asal Makassar, Adi Saleh menjadi penampil berikutnya untuk MFBD Se7en. Membawakan Honky Tonk Women milik The Rolling Stones dari empat repertoar yang dibawakannya, Adi Saleh dan cukup mengingatkan saya pada penampilan panggung Debluesfresh, kuartet blues dari Makassar. Di luar dari lagu Monday Morning karyanya yang saya sempatkan dengarkan dari rilis fisik yang dilepas saat Record Store Day 2016, Adi Saleh sepertinya perlu memperlebar jangkauan referensi blues-nya untuk karya berikutnya agar penampilannya semakin berwarna dan menyegarkan. Bolehlah sekali-kali melihat Adi Saleh bisa membawakan blues modern seperti yang diusung Jack White atau The Black Keys.

Adi Blues membawakan musik blues yang solid dalam penampilan di MFBD Se7en.

Adi Blues bersama bandnya membawakan musik blues yang solid dalam penampilan di MFBD Se7en.

Eksekutor Mutilasi yang datang dari Bajoe, Bone tentu tak menyia-nyiakan kesempatan bisa tampil di MFBD Se7en. Kawanan slamming death metal asal Bajoe ini menghajar tanpa ampun repertoar yang mereka mainkan. Bajoe 1998 dan Tragedi Bom Bajo tetap menjadi andalan mereka malam itu. Yang membuat saya semakin salut kepada Eksekutor Mutilasi adalah mereka tetap tampil trengginas setelah menghentak panggung Maximum Noise MMXVI di sore hari yang juga digelar pada hari yang sama.

Eksekutor Mutilasi menghajar tanpa ampun repertoar lagunya di MFBD Se7en.

Eksekutor Mutilasi menghajar tanpa ampun repertoar lagunya di MFBD Se7en.

Keakraban penonton yang merapat ke bibir panggung semakin terasa saat Kapal Udara “mengangkasa” di atas panggung. Band folk asal Makassar ini memberi kesan tersendiri dengan lagu-lagu yang mereka bawakan yang diberi judul cukup unik: Menari, Melaut, dan Menanam. Ditambah dengan membawakan The Cave dari Mumford & Sons yang seringkali mereka bawakan pula, memberi kegembiraan dan euforia tersendiri di panggung MFBD Se7en.

Kapal Udara berpegang teguh dengan musik folk yang dibawakan dan lagu-lagunya yang diawali imbuhan me- di panggung MFBD se7en.

Kapal Udara berpegang teguh dengan musik folk yang dibawakan dan lagu-lagunya yang diawali imbuhan me- di panggung MFBD se7en.

Dengan tembang-tembang yang termuat dari album Kabar dari Hutan, Pygmy Marmoset asal Bali mampu menyihir panggung MFBD Se7en menjadi teduh selepas dari penampilan band-band sebelumnya. Dua personelnya bernama Zenith Syahrani dan I Wayan Sanjaya Putra juga tampil bersama Rizky Pratama, sang additional bassist malam itu. Buaian yang syahdu dan menenangkan Pygmos (singkatan akrab Pygmy Marmoset) membuat saya kepincut membeli album mereka yang juga tersedia saat MFBD Se7en berlangsung.

Pygmy Marmoset asal Bali menenangkan suasana panggung dengan musik folk yang diusungnya.

Pygmy Marmoset asal Bali menenangkan suasana panggung dengan musik folk yang diusungnya.

Penampilan Speed Instinct di MFBD Se7en malam itu akhirnya mampu memecah moshpit MFBD yang didominasi para hardcore kids. Bersama tiga lagu barunya, Regain the Sense, The Way It Is, Theory of Everything, dan How I Could Just Kill A Man dari Cypress Hill menjadi amunisi band rap rock asal Makassar ini. Saya yang tampil bersama mereka pun merasakan atmosfer moshpit MFBD semakin liar saat lagu terakhir dibawakan. Bisa saja karena para hardcore kids semakin tidak sabar menyaksikan Frontxside yang menjadi salah satu dari dua penampil akhir MFBD Se7en.

Kevin X-Leo mengepalkan tangan untuk memberi semangat agar lebih memanaskan para pengendali moshpit MFBD se7en.

Vokalis Speed Instinct, Kevin X-Leo merapalkan tangannya kepada hardcore kids, serupa memberi semangat agar lebih memanaskan bibir panggung MFBD se7en.

Panggung MFBD se7en menjadi singgasana berikutnya untuk Protocol Afro, grup musik inconsistent pop asal Jakarta. Panggung yang juga menjadi panggung pertama untuk Protocol Afro setelah istirahat tampil selama sembilan bulan. Membawakan Freedom, Freedom dan Eclipse (yang termuat di album kompilasi MFBD VI) dari empat lagu yang dibawakan. Band ini juga sempat juga membawakan dengan apik untuk lagu berjudul Maling yang sangat-tidak-Protocol Afro. Lagu ini yang merupakan kejutan mereka dari set list yang disiapkan. Protocol Afro sepertinya menjadi cerminan musisi lintas genre sejati di panggung MFBD malam itu. Selain itu, siasat membagi-bagi kaos dan CD juga sempat dilakukan Protocol Afro di sela-sela penampilan mereka. Salah satu upaya yang baik agar pendengar musik Protocol Afro semakin bertambah di Makassar.

Protocol Afro dari Jakarta betul-betul menampilkan musiknya yang inkonsisten di panggung MFBD Se7en.

Protocol Afro dari Jakarta betul-betul menampilkan musiknya yang inkonsisten di panggung MFBD Se7en.

Penonton yang didominasi para hardcore kids tentu sangat menunggu penampilan Frontxside, kuartet hardcore Makassar yang didaulat menutup panggung MFBD Se7en. Walau tampil dalam dua panggung dalam sehari (Frontxside juga tampil di Maximum Noise pada sore hari) dan tampil tanpa Yuri (bass) yang sementara di luar Makassar, Indhar cs. tetap bersemangat untuk memancing moshpit semakin beringas. Frontxside sukses membawakan lagu-lagu mereka dari EP pertamanya, di antaranya Pencari Kerja dan Blood and Victory, meskipun saya berharap malam itu mereka membawakan lagu terbarunya, UNITEDASONE.

Frontxside tetap beringas walau tampil tanpa Yuri, sang bassist di panggung MFBD Se7en.

Frontxside tetap beringas membakar semangat para hardcore kids walau tampil tanpa Yuri, sang bassist di panggung MFBD Se7en.

Gegap gempita MFBD Se7en malam itu berlangsung dengan aman dan lancar. Sebagian musisi yang saya ajak mengobrol pun mengungkapkan rasa senang bisa tampil walau masih menyayangkan masalah teknis yang masih ada ketika mereka sedang bermain di atas panggung. Hal ini mungkin menjadi evaluasi untuk MFBD selanjutnya. Dan, hal lainnya yang menarik perhatian saya hingga edisi ke tujuh ini adalah MFBD tetap tidak memungut biaya atau tiket masuk alias gratis.

Selain panggung musik, beragam booth-booth yang berada di pintu masuk juga menarik perhatian para pengunjung. Beragam games serta merchandise hingga coffee shop dadakan. Ada pula live painting dan graffiti yang diadakan. Dan, yang spesialnya pada malam itu, festival tahunan Rock In Celebes pun mengumumkan pertama kalinya untuk jadwal satellite show-nya pada 29-30 November 2016.

Terlepas dari MFBD pada tahun ini yang didukung oleh perusahaan rokok untuk pembiayaan produksinya, event tahunan yang dibangun dengan semangat kebersamaan seperti MFBD ini tentunya perlu dukungan lebih dan berarti dari berbagai pihak yang peduli dengan perkembangan para musisi lintas genre di kota ini. Musisi lintas genre yang bergerak di jalur indie masih perlu diberikan banyak panggung seperti ini agar mereka bebas berekspresi membawakan karyanya. Siapa lagi yang bisa diharapkan kalau bukan kita yang memperhatikan scene musik independen di kota Makassar maupun di kota-kota lainnya. Mari bergerak bersama!


Baca tulisan lainnya

Banyak Jalan Menuju Kemerdekaan Bermusik

Musik Untuk Hari yang Lebih Cerah

Our Music For Brighter Day!: The Full Line-Up of Music for Brighter Day Part VI [Compilation]

Musisi Indie Makassar Favorit

Enam Lagu Musisi Makassar tentang Kemenangan

Lima “Rukun” Wajib bagi Musisi