Ilustrasi: Randy Rajavi (@randy_rajavi)

SYNOPSIS

Jesse adalah perempuan urban yang hidup di dunia yang normal, kecuali satu hal: di dunia ini setiap orang hanya bisa mengucapkan 130 kata dalam sehari. Tidak lebih. Ini berlaku bagi siapapun, terlepas dari asal-usul, latar belakang ekonomi, pendidikan ataupun jabatan politik. Bagi Jesse yang memiliki karakter introvert, ini bukanlah masalah. Hingga dia menjalani hari yang membuatnya butuh mengatakan lebih dari 130 kata.

CASTS & CREWS

Genre: Fiksi Ilmiah/Drama

Sutradara, Produser, Penata Kamera, Editor dan Efek Visual: Deli Luhukay

Pemeran: Jesse Rezky, Fadly Hamsy, Adi Yuda.

Penulis skenario: Jesse Rezky, Deli Luhukay, Aan Mansyur.

Penata Musik: Myxomata, Iqbal Abdi, Deli Luhukay.

Durasi: 26 menit 8 detik.

 

THE REVIEWS

Dunia yang Lengang adalah film pendek perdana karya Deli Luhukay. Pada 2013, Deli yang berprofesi sebagai videografer ini mengajak seorang temannya, Jesse Rezky, untuk membuat film pendek. Ketika mereka sedang menggarap ide cerita, mereka bertemu dengan Aan Mansyur. Obrolan santai kemudian berkembang menjadi diskusi yang lebih serius. Ketika Aan Mansyur menunjukkan puisinya yang berjudul Dunia yang Lengang, Deli dan Jesse langsung suka dan merasa cocok dengan ide cerita yang mereka sedang rencanakan. Mereka pun akhirnya sepakat untuk meminjam beberapa ide di dalam puisi tersebut ke dalam film pendek yang sedang mereka garap, termasuk judulnya tentu saja.

Setelah lebih 2 bulan melalui masa produksi, film ini akhirnya rampung dan dipertontonkan di beberapa acara pemutaran film, baik di Makassar maupun di kota lain.

Dua tahun setelah film rampung, tepatnya pada Sabtu malam (19/09) lalu, di Prolog Building, Dunia yang Lengang diputar dan ditonton bareng untuk entah keberapakalinya. Sekitar 50-an praktisi dan penikmat perfilman Makassar, di Makassar En Scene, berkumpul untuk menyimak dan mendiskusikan film ini bersama sang sutradara, Deli Luhukay.

Revius meminta tiga orang dengan latar belakang berbeda, untuk memberikan komentar dan hasil pengamatannya tentang Dunia yang Lengang. Ketiga pengulas tersebut adalah Hafsani Latief, yang tulisannya mungkin pernah anda baca di sini; Alfian Meidianoor, Editor in Chief webzine andalan Samarinda undas.co; dan Aan Mansyur, yang tulisan-tulisannya bisa kamu baca di sini.

Hafsani Latief

Deli Luhukay menyajikan satu bentuk interpretasi visual dari puisi Dunia Yang Lengang karya Aan Mansyur. Sebuah puisi yang politis namun dikemas dalam bentuk yang manis. Dalam filmnya, Deli menampilkan kedua lapisan puisi tersebut. Bukan hanya lapisan pertama yang memberi corak ironi bagi pasangan yang terpisah jarak, juga menampilkan lapisan kedua. Hidup di dunia di mana pemerintah sangat mengontrol kebebasan masyakarakatnya, yang dalam kedua bentuk karya ini adalah kebebasan berbicara verbal.

Jesse Rezky menjadi representasi masyarakat yang harus pandai menggunakan 130 kata untuk hal yang penting saja. Jesse mengawali harinya dengan hal yang cukup lazim namun setiba di tempat kerja berubah menjadi hari yang buruk. Rekan kerja yang tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai deadline dan hal kecil seperti dispenser yang macet. Mood yang menjadi buruk tidak tertinggal di tempat kerja. Di perjalanan pulang dia harus menggunakan 5 kata untuk dijemput teman karena mobilnya mogok. Jesse tidak perlu memberitahu di mana dia harus dijemput. Sama tidak pentingnya dengan membuang 2 kata untuk mengucapkan ‘terima kasih’ kepada si teman.

Di penghujung hari Jesse tentu saja menghabiskan seluruh kuota katanya untuk membagi cerita dengan kekasihnya di tempat yang jauh. Memiliki kondisi yang sama dengannya, saya membayangkan diri saya menjadi orang yang ‘pendiam’ di tengah masyarakat yang tidak banyak bicara. Saya akan mengirit kuota kata saya untuk saya bagi dengan kekasih lewat telpon. Apa lagi kebiasaan saya yang selalu meminta kekasih ‘menemani’ sebelum tidur.

Dalam kehidupan sosial kemampuan berbasa-basi menjadi keahlian yang harus dimiliki. Namun terkadang basa-basi yang berlebihan membuat beberapa orang tidak nyaman. Ketika bertemu seorang teman, tak sah rasanya tidak menanyainya ‘kamu dari mana?’ meski sebelumnya telah banyak berbincang lewat teks. Hidup di tengah masyarakat dengan rasa ingin tahu yang tinggi banyak mengikis waktu personal. Ketika berada di tempat umum dan tak ingin diganggu, biasanya saya akan memakai headset atau membaca buku. Namun hanya sedikit orang yang bisa mengerti.

Kebanyakan orang seolah tidak mengerti bahwa beberapa orang cenderung lebih suka menghabiskan waktunya sendiri dan tidak terlalu suka berbicara dengan orang lain. Apa lagi mengekspresikan apa yang dia pikirkan dengan panjang lebar. Ketika kamu menjawab tidak lebih dari tiga kata, kamu akan mendapat label cool. Dunia Yang Lengang hadir sebagai dunia yang dimimpikan oleh orang-orang introvert di mana kamu tidak perlu takut dengan jawabanmu yang singkat dan meninggalkan kesan dingin pada lawan bicaramu. Karena berada dalam Dunia Yang Lengang memang mewajibkanmu untuk pandai mengirit kuota kata.

Terlepas dari bagaimana repotnya menabung kata hingga penghujung hari, Dunia Yang Lengang hadir sebagai dunia yang damai. Di mana kamu tidak perlu mendengar hal yang tidak penting, apalagi curhat panjang dengan cerita yang berulang. Ekspresi kekesalan seperti ‘ededeh’ akan jarang terdengar, apalagi umpatan yang memancing amarah.

Alfian Meidianoor

KATAKANLAH Deli Luhukay adalah sineas yang cold blooded, apa yang ia wujudkan dari bait puisi ke dalam suara dan gambar bertajuk Dunia Yang Lengang menjadikannya visioner. Digerakkan oleh ironi dan mungkin harapan tertinggi dari esensi saling memahami. Menikmati film ini seperti waktu luang personal yang diharapkan di penghujung hari, individu, dan perangkat elektronikanya. Pendar cahaya dan tatapan nanar ke layar monitor, komunikasi dua arah yang terwakilkan dengan algoritma QWERTY dan emoticon. Sebagian dari penonton akan dibuat mati rasa selama 26 menit, disentak dengan betapa meruginya penggunaan kata yang tidak efektif. Lalu beku dalam sunyi, menakar apakah kita benar-benar sudah membuat orang lain mengerti apa yang sudah terucap dari lisan? Serupa berlalu di antara kerumunan tanpa sapa dan gurauan, namun mereka tahu secara pasti kondisi emosi kita. Bukankah itu kondisi masyarakat yang sempurna?

Diangkat dari puisi karya M. Aan Mansyur dengan judul yang sama, lewat puisi kita bisa membaca melankolia seorang fatalist di tengah kondisi Orwellian. Di film ini, Deli menghadirkan interaksi sosial kondisi tersebut dalam satu hari. Dengan catatan kita perlu merekonstruksi kembali makna sosial di tengah semakin mudahnya kita mengalienasi diri dengan gawai. Dunia Yang Lengang terjadi di suatu masa di mana komunikasi verbal dibatasi hanya 130 kata per harinya, dunia abu-abu yang hampir nirkata. Adalah Jesse, seorang atasan dan kekasih yang terpisah jarak, dengan karakter minim ekspresi dan emosi yang mendalam, 83 kata dihabiskan olehnya untuk urusan pekerjaan dan insiden mobil mogok. Semua interaksi sosial di semesta Dunia Yang Lengang benar-benar dilakukan seefektif mungkin. Tak perlu menyapa antar sesama rekan kerja. Tak perlu mengucap “Terima kasih” untuk bantuan yang diberikan. Musik yang juga nirkata. Evaluasi kerja bisa disampaikan lewat vocalize software, berada di satu meja tapi tanpa emosi. Efektif, langsung pada inti. Lalu ada Adi, bawahan Jesse yang teledor dengan jatah kata tersisa 33 di awal hari dan kemudian menghabiskannya dengan tanya dan berkilah. Ketika tersisa 0 kata setiap individu yang tidak cermat dan pandai menggunakan kata akan menjadi nonaudible kala bertutur. Incommunicable. Tak berharga.

Dengan 47 kata yang tersisa di penghujung hari, Jesse dan rokoknya ternyata masih punya afeksi yang harus dibagi untuk kekasihnya di ujung gawai. Kekasih yang tampaknya berjarak ribuan kilometer darinya dan terbiasa tak disapa dengan ucapan manis, walau sekedar “Halo”. Jika Aan Mansyur mampu berujar “Aku mencintaimu” sebanyak lima belas kali di semesta puisinya sebelum tak bisa lagi berkata-kata. Deli dengan dingin memaksa kita harus percaya di ranah afeksi kita tak serta-merta menjadi efektif di hadapan cinta, atau dengan tersirat kita cenderung lebih suka mengeluh. Jesse tak sempat mengucap ekspresi afeksinya, dua kata yang punya makna emosional yang mendalam ketika diucapkan kepada pasangan. Ironi? Bisa jadi, ketika kamu masih menganggapnya dua kata itu sakral dan tidak dengan mudah dilontarkan kapan pun dan ke siapa pun hingga tak berarti lagi.

Apa yang ditakutkan dari pembatasan kata sebenarnya? Jika kebebasan berkata-kata kadang dilecehkan dengan seenaknya. Bagaimana pendar layar gawai lebih seduktif dari perubahan raut muka kawan bicara kita. Mungkin kita perlu terbiasa dengan pergeseran verbal menjadi ketuk keyboard QWERTY dan gambar sarat makna, sehingga kata-kata verbal menjadi primitif yang diucapkan dengan tulus.

Aan Mansyur

DELI LUHUKAY sengaja membuka film Dunia yang Lengang dengan mengutip beberapa kalimat dari novel Aldous Huxley, Antic Hay. Hal itu merupakan pilihan yang menarik untuk memberi tahu penonton mengenai apa yang hendak dia sampaikan. Lebih dari itu, siasat tersebut juga adalah pintu masuk yang terbuka untuk mengenal siapa Deli Luhukay—termasuk di mana dia ingin berdiri di dunia film.

Di dunia sastra, Aldous Huxley, pengarang Brave New World, novel distopia terkenal itu, kerap dianggap sebagai sastrawan yang menghasilkan “novel ide”. Dalam karya-karya fiksinya, Huxley selalu tampak lebih berambisi mendiskusikan gagasan-gagasan besar tentang dunia daripada bercerita demi menghibur pembaca. Untuk menyebut beberapa contoh, penulis lain yang berada di barisan yang sama ada Anthony Burgess (novelnya, A Clockwork Orange, lebih banyak dikenal karena difilmkan oleh Stanley Kubrick), Ayn Rand (dua novelnya yang terkenal: The Fountainhead yang juga sudah difilmkan dengan sutradara King Vidor dan Atlas Shrugged yang akan diadaptasi menjadi trilogi, bagian pertamanya sudah rilis dengan sutradara Paul Johansson), dan Marcel Proust (novel tebalnya yang tujuh volume, In Search of Lost Time, juga sudah beberapa kali diadaptasi jadi film dan serial TV di antaranya oleh Volker Schlöndorff, Raúl Ruiz, Chantal Akerman, Fabio Carpi, dan Nina Companéez).

Saya tidak bermaksud memamerkan bacaan dan tontonan saya. Tapi, jika Anda merasa asing dan tidak tertarik dengan judul-judul novel di atas, saya bisa memastikan bahwa Anda bukan penonton utama yang dibayangkan Dely Luhukay ketika mengadaptasi puisi saya, Dunia yang Lengang, menjadi film. Novel-novel yang saya sebutkan di atas, juga film-film adaptasinya, bukan karya yang mudah untuk dinikmati. Tapi, saya berani bilang—dan saya yakin Deli Luhukay setuju—bahwa novel-novel tersebut penting untuk Anda baca.

Saya mengenal Deli Luhukay kira-kira sejak enam tahun lalu. Dia sahabat yang menyebalkan—baik dalam arti negatif maupun positif. Dia bukan seorang yang gampang berbasa-basi, tidak senang membicarakan hal-hal yang tidak penting, pembaca dan penonton yang serius (kami sering bertukar referensi buku atau film dan tidak jarang saya kewalahan mengikuti karya-karya yang dia rekomendasikan), dan senang mendiskusikan bacaan dan tontonannya yang berat dan aneh.

Kurang lebihnya, Deli Luhukay melalui karya-karyanya—terutama Dunia yang Lengang sejauh inilebih berhasrat untuk mengajak penonton berpikir ketimbang memuaskan mereka dengan karya menghibur. Deli Luhukay adalah sutradara yang lebih senang menyodorkan gagasan dan menghasut pikiran penonton daripada menghamparkan cerita yang hendak menghibur dan menginspirasi mereka. Namun, sebagaimana para penulis yang saya sebutkan di awal catatan ini, meskipun lebih mementingkan gagasan daripada bentuk, sama sekali bukan berarti karya-karyanya tidak menyenangkan untuk dinikmati. Deli dengan sadar menggunakan teknik dan perangkat-perangkat tertentu dalam Dunia yang Lengang—perhatikan, misalnya, teknik pengambilan gambar yang melulu long shot, penggunaan musik ambience, atau karakter yang minim—untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Deli Luhukay senantiasa memiliki gagasan yang menarik, cara pandang terhadap dunia yang unik, dan penguasaan teknik yang baik. Dan, saya pikir, hal itu merupakan keistimewaan yang tidak banyak dimiliki oleh sutradara seusianya.

REVIUS’ RATINGS:

Revius bukan IMDB, kami tidak memberi rating. Kami cuma merekomendasikan 2 hal: (1) Simak Dunia yang Lengang di video di atas; dan bila berkenan, (2) ceritakan pada kami, kira-kira akan seperti apa hidupmu bila berada di dunia Jesse?