Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

“CARA paling buruk untuk mendapatkan ide cerita yang baik adalah ketinggalan pesawat,” kata teman saya, seorang penulis, yang akan saya sebut Ferriss di sepanjang cerita pendek ini.

Dua tahun lalu, pada suatu siang, saya menjemput Ferriss di Bandara Sultan Hasanuddin lima setengah jam setelah mengantarnya ke tempat yang sama. Dia sedang tidur dengan amat lelap di ruang tunggu — semoga dia tidak memasukkan tangan ke celananya; saya tahu betul kebiasaan jorok dia— saat pesawat yang sedianya dia tumpangi terbang meninggalkannya. Dia kehilangan kesempatan pertama dan terakhirnya mengunjungi Jakarta dan merasakan perjalanan jauh di udara. Tempat paling jauh yang pernah dia datangi adalah Rantepao, Toraja, delapan jam perjalanan darat dengan bus dari rumahnya di Makassar, ketika menghadiri pesta upacara pemakaman nenek mantan kekasihnya.

Lima hari setelah tertidur di ruang tunggu bandara, pada suatu malam pukul sebelas saat hendak membeli beberapa butir telur bebek buat persiapan sarapan, di depan rumahnya, Ferriss mati tertabrak mobil yang dikendarai ugal-ugalan oleh seorang gadis yang menangis karena habis berkelahi dengan kekasihnya yang, seperti perempuan itu katakan di koran, dia temukan sedang berciuman dengan sahabatnya. Mengenai pernyataan di koran tersebut, saya tidak tahu apakah sahabat yang dimaksud adalah sahabat gadis itu sendiri atau sahabat kekasihnya.

Tentang telur bebek, Ferriss percaya bahwa demi mencapai kualitas hidup maksimal, dia mesti rutin mengonsumsi minimal 30 gram protein setiap hari, 30 menit setelah bangun pagi. Dia memeroleh keyakinan mengenai protein dan sarapan dari Tim Ferriss — seorang penulis yang nama belakangnya semena-mena saya pinjam di cerita ini untuk sementara. Ferriss sering meminta saya untuk mencari artikel-artikel Tim Ferriss di Internet dan saya tidak sekalipun melakukannya hingga sekarang.

Sehari sebelum mati, Ferriss menulis cerita pendek tentang seorang perempuan bergaun tipis merah jambu yang datang di mimpinya saat tidur di ruang tunggu bandara. Perempuan itu, menurut Ferriss, adalah perempuan yang sama yang dia lihat saat mimpi basah pertama bertahun-tahun silam. Dia memaksa saya, sebagaimana sering dia lakukan, untuk membaca dan mengomentari cerita yang baru selesai dia tulis. Saya bilang buruk — dua hari kemudian saya menyesali keterusterangan saya — dan dia bilang akan menyunting atau, jika perlu, menulis ulang.

Cerita pendek ini, sejujurnya, saya tulis bukan dengan maksud mengisahkan ulang cerita pendek yang tidak pernah sempat Ferriss perbaiki itu, melainkan karena saya ketinggalan pesawat dan saya pikir tidak ada salahnya menggunakan sepotong kisah hidup Ferriss sebagai pembuka cerita sekaligus mengabadikannya di salah satu tulisan saya, juga demi menghormatinya sebagai seorang sahabat — lagipula hal tersebut lebih mudah dilakukan daripada mengikuti sarannya untuk mengonsumsi 30 gram protein setiap sarapan. Meskipun lugu dan kadang-kadang sangat menyebalkan, nama Ferriss layak masuk dalam daftar sepuluh teman tidak brengsek dalam hidup saya.

*

SAAT menunggu penerbangan lain menuju Sumbawa yang mungkin akan berangkat kurang lebih empat jam lagi — sebab tidak ada hal yang pasti di bandara — saya berniat menghabiskan waktu di ruang merokok sambil membaca buku, namun bertemu seorang pria berusia kira-kira lima tahun lebih muda dari saya yang memiliki sebaris tato di lengannya. Dia mau berangkat ke Surabaya dan pesawat yang akan dia tumpangi mengalami penundaan jadwal entah karena apa dan berapa lama. Wajah pria itu tampak gelisah, sebagaimana wajah-wajah lain yang saya lihat di bandara dan membuat saya berpikir barangkali itulah alasan kenapa di bandara selalu tampak banyak orang yang mengenakan kacamata hitam besar.

Saya meminjam pemantik api pria tersebut dan, saat mengembalikannya, saya membaca sebaris tato kurang rapi di lengan kanannya: dunia sialan. Jarak kedua kata yang semuanya tertulis dengan huruf kecil itu sangat rapat sehingga saya sempat menganggapnya hanya satu kata. Pria ini punya selera humor yang asyik, pikir saya, dan mungkin menarik untuk sekadar diajak bercakap tentang hal-hal remeh sambil menunggu pesawat berangkat. Sebab, menurut saya, dia sadari atau tidak, tatonya berhasil dengan baik menggambarkan banyak persoalan; mulai dari situasi sosial, politik, dan ekonomi di negeri ini, dan bahkan dunia, juga termasuk tentu saja kebobrokan maskapai-maskapai penerbangan, hingga perihal cengeng semacam kisah cinta saya yang melulu kandas. Dan, menurut pengalaman saya, tato adalah bahan yang bagus untuk digunakan memulai percakapan antara dua orang asing.

Saya memasang senyuman paling alami yang mampu saya capai dan berkata, “Saya pikir juga begitu. Dunia ini memang sialan. Tato yang bagus.”

Pria itu menatap saya dan, karena saya cukup sering mewawancarai orang, saya tahu tatapan tajam dan aneh yang dia tancapkan di wajah saya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres dengan cara saya membuka percakapan — namun sekaligus berarti ada kisah menarik untuk disimak di baliknya. Dan, sekali lagi, menurut pengalaman saya, meminta maaf adalah cara paling cepat untuk menutup pintu keluar bagi cerita menarik dari diri seseorang, sehingga saya memilih diam dan balas menatapnya sembari menunggu dia bicara. Dan, betul saja, beberapa detik kemudian dia bertanya.

“Abang mau ke Surabaya juga?”

“Saya menunggu pesawat selanjutnya ke Sumbawa. Tadi ketinggalan karena sibuk bicara di telepon dengan seorang kawan tentang macam-macam yang seharusnya bisa kami lakukan setelah saya tiba di sana, karena dia yang akan menjemput saya di bandara. Konyol sekali. Saya baru pertama kali ini ke Nusa Tenggara Barat. Pernah ke sana?”

Saya mengatakan lebih dari yang sekadar dia minta dan sengaja meletakkan pertanyaan di akhir penjelasan demi memperpanjang percakapan. Teknik itu saya pelajari dari ayah Ferriss yang, menurut Ferriss, seorang pembual paling handal yang dia kenal.

Pria itu tidak menjawab. Dia malah menyodorkan pertanyaan lain: “Mau jalan-jalan, Bang?”

“Iya, liburan, juga mau cari bahan tulisan. Kawan saya yang menelepon tadi pernah cerita ada banyak orang Bugis sering datang beli kerbau murah di kampungnya untuk dijual lagi di Toraja puluhan sampai ratusan juta. Saya pikir itu cerita yang menarik,” kata saya.

Dia kemudian bercerita tentang seorang teman lamanya yang setelah lulus dari Jurusan Teknik Mesin di Universitas Hasanuddin, sembilan tahun lalu, pulang kampung untuk meneruskan usaha ayahnya sebagai pedagang kerbau.

“Keluarganya kaya raya karena turun-temurun berdagang kerbau di Toraja. Dengar-dengar, sekarang bajingan itu malah jadi anggota dewan,” katanya.

“Bajingan?”

“Ah, sudahlah, cerita lama,” katanya.

Dia berdiri dan mengajak saya pindah ke kafe beberapa meter dari ruang merokok yang pengap dan panas karena disiram cahaya matahari siang dari arah belakang kami. Saya langsung mengambil tas punggung saya dan ikut berdiri. Pada detik itu, saya ingat Ferris, karena sejak pagi saya belum makan apa-apa. Saya tidak pernah bisa tidak mengingat Ferriss saat mengingat sarapan; semoga di surga tersedia banyak telur bebek.

*

SAMBIL menatap dada pelayan kafe berbaju merah yang meletakkan segelas kopi susu dengan sedikit ceroboh di depannya, pria itu bertanya, “Apa yang menarik dari orang Bugis membeli kerbau di Sumbawa?”

“Saya juga belum yakin apa betul begitu, makanya saya mau ke sana, tapi menurut Dedi, kawan saya yang menelepon tadi, pembelian kerbau dalam jumlah besar untuk upacara kematian di Toraja selama bertahun-tahun berdampak buruk terhadap kehidupan penduduk di Sumbawa.”

“Misalnya?”

“Orang-orang di sana, tidak lagi membajak sawah menggunakan kerbau, pola pertanian mereka berubah seratus delapan puluh derajat, dan, konon, kerbau salah satu bagian paling penting dalam acara-acara adat mereka,” kata saya.

“Memang bajingan dia,” katanya.

“Tampaknya kau ada masalah dengan temanmu anggota dewan itu,” selidik saya.

Dia menatap saya dan, dengan balas menatap, saya berupaya setenang mungkin meyakinkannya bahwa saya bisa jadi teman dan pendengar yang baik andai dia mau menceritakan sesuatu yang sangat berat dan rumit sekalipun. Keahlian satu ini tidak saya pelajari dari ayah Ferriss, melainkan dari Ferriss sendiri. Seorang teman kami, saya ingat, pernah dengan kurang ajar bilang bahwa ada untungnya juga Ferriss mati muda, sebab dia orang yang paling banyak menyimpan rahasia busuk kami — dan sekali-kali bisa dia gunakan sebagai senjata untuk memperalat kami — karena kemampuan misterius dia membuat orang lain rela membongkar aib di depannya.

“Tato ini,” katanya sambil memperlihatkan lengan kanannya, “sebenarnya dulu nama pacar saya. Nia namanya. Dia sekarang jadi istri bajingan itu. Mereka menikah saat saya sedang berjuang di tengah hutan. Saya dulu sempat berpikir jahat mau membunuhnya.”

Saya diam, tentu saja, agar dia mau mengatakan lebih banyak lagi. Dia terus memperhatikan tatonya dan bercerita. Setamat sekolah menengah, meskipun dia termasuk pintar di sekolah, dia mengaku jauh lebih pintar dari anggota dewan itu, dia memutuskan tidak lanjut kuliah karena ingin segera bisa menikahi Nia yang ditaksir banyak laki-laki. Tapi, waktu itu, dia tidak tahu bahwa temannya yang selalu dia sebut bajingan juga mengincar calon istrinya.

Namun, ketika menyampaikan niatnya, keluarga Nia meminta uang 150 juta sebagai mahar dan satu-satunya jalan keluar yang terlintas di pikirannya adalah merantau ke Kalimantan. Di sana, pikirnya, mungkin dia bisa jadi seorang buruh tambang seperti paman dan dua kakak sepupunya. Dan, tidak lama setelah tiba di Kalimantan, dia mendapat pekerjaan di hutan yang tidak butuh gelar sarjana dan bergaji lumayan: menebang pohon untuk lahan tempat menanam pohon baru.

“Saya sengaja menulis nama Nia di lengan saya, supaya bisa melihatnya setiap saat. Saya harus terus bersemangat bekerja. Saya ingin cepat bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan pulang untuk menikah,” katanya.

Ketika dia mengatakan hal itu, saya tidak bisa tidak membayangkan dia memegang mesin penebang pohon yang berat dan ribut sambil melihat lengan kanannya yang tegang.

“Kenapa tidak mengubahnya jadi nia sialan saja?” tanya saya.

Dia tertawa sambil mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk.

“Saya pikir tidak masalah menyalahkan dunia atas nasib buruk saya. Mungkin malah lebih baik. Tidak adil menganggapnya salah Nia saja. Istri saya juga bisa marah kalau melihat nama mantan pacar saya,” katanya.

“Sudah menikah?”

“Sudah. Sudah dua minggu anak saya di rumah neneknya di Surabaya. Ibunya juga ikut, makanya saya mau ke sana. Rindu,” katanya. “Abang punya anak?”

“Satu. Baru lima tahun, namanya Ferriss,” kata saya berbohong.

“Anak saya belum cukup setahun. Istri Abang orang apa?”

“Orang Toraja,” kata saya, sekali lagi, berbohong. “Masih kerja di Kalimantan?”

“Sudah lama berhenti. Kerja di hutan berat, Bang, apalagi sudah punya istri. Sekarang kami buka usaha kecil-kecilan, di depan Pasar Pannampu, warung kopi,” katanya.

“Dulu, waktu di Kalimantan, pernah merasa bersalah karena menebang pohon? Maaf, pertanyaan saya mungkin agak mengganggu, tapi saya kira berhubungan dengan persoalan yang mau saya tulis di Sumbawa,” kata saya.

“Sama sekali saya tidak peduli. Waktu itu, pikiran saya hanya mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya secepat-cepatnya. Tapi, seperti Abang bilang tadi, bisa jadi hutan habis di Kalimantan ada hubungannya dengan biaya pernikahan di Bugis yang mahal. Sekarang baru saya memikirkannya.”

“Iya,” kata saya, “bisa jadi.”

Saya tertawa — sambil mengingat nasib saya dua kali gagal menikah karena urusan mahar yang terlampau mahal — dan dia ikut tertawa sambil berdiri karena mendengar namanya dipanggil; pesawat yang akan membawanya bertemu anak dan istrinya sudah siap berangkat.

“Nanti saya yang bayar,” kata saya saat melihat dia ingin merogoh sakunya.

“Terima kasih, Bang,” katanya. “Kalau pulang dari Sumbawa dan ada waktu, singgahlah di warung kopi kami. Cari saja Warkop Teman Lama di depan Pasar Pannampu. Saya cuma tiga hari di Surabaya. Nama saya sudah dipanggil. Sampai ketemu, Bang,” katanya sebelum meninggalkan kafe tergesa-gesa.

Saya mendengar suara seorang perempuan lantang dan bergema di ruang tunggu menyerukan panggilan terakhir kepada Alan Herdiansyah untuk segera naik ke pesawat. Saya tidak bisa menahan tawa dan orang-orang di kafe itu tiba-tiba berhenti bicara dan menatap saya. Menurut hasil analisis kilat saya, awalnya tato yang kemudian menjadi dunia sialan itu pasti namanya dan nama mantan calon istrinya.

*

MASIH ada kira-kira satu setengah jam waktu sebelum pesawat ke Sumbawa berangkat. Sambil menunggu, saya pikir, bagus juga kalau saya mencoba menulis cerita pendek tentang tato dunia sialan yang baru saya dengarkan. Dan, sebagai kalimat pembuka, pernyataan Ferriss perihal cara paling buruk menemukan ide cerita yang dulu, selalu saya anggap lucu, tampaknya cukup menarik.

Makassar, November 2015


Baca tulisan lainnya dari Aan Mansyur

Aku Ingin Membesarkan Diriku sebagai Pembaca

Menghasilkan Tulisan yang Bagus Memang Tidak Pernah Mudah

Sebuah Rencana Membuat Film Kartun tentang Kerbau untuk Kamu

Beberapa Jam Sebelum Seseorang Menemukan Mayatku

Sejumlah Kumpulan Cerpen Indonesia yang Saya Baca Dua Kali atau Lebih

Daftar Tidak Kelar tentang Daftar

Buku, Hari-Hari Kasih Sayang dan Siasat Kecil Mempromosikan Diri

Apa Judul yang Cocok untuk Tulisan ini Menurut Kamu?

Kisah-Kisah yang saya Bayangkan ketika Mendengarkan Alkisah

Menulis Kreatif seperti Memecahkan Soal Matematika tanpa Kalkulator