Oleh: Kemal Syaputra* (@Mr_Kems)| Sumber Gambar: Salman Khan Films

Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya menonton film yang aktor utamanya Salman Khan. Sama tidak ingatnya saya saat memutuskan untuk berhenti menonton film-film yang ia bintangi. Mind-set saya ketika melihat film-film yang kini dibintangi Salman Khan (bahkan tanpa harus menontonnya) bahwa film-film tersebut dibuat untuk memuaskan ego si aktor utama. Bahwa sebuah film tidak harus punya subtansi, selama aktor utamanya adalah dia. Tapi kemudian ketika saya mendengar bahwa sebuah film yang dibintangi olehnya berjudul Bajrangi Bhaijaan mulai tayang di bioskop, saya terkejut bahwa saya tidak menemukan satu pun review buruk mengenai film itu. Tahun lalu, ketika Kick (film yang juga dibintangi Salman Khan) sukses di bioskop, beberapa reviewer menyambutnya dengan buruk. Namun Bajrangi Bhaijaan tidak. Yang saya temukan adalah banyak sekali orang, bahkan mereka yang pesimis dengan aktingnya, menyukai film ini. Lalu ketika saya menyaksikan film ini, apa yang saya temukan benar. Tidak pernah, dalam puluhan tahun saya membayangkan bakal tersentuh oleh film yang diperankan oleh Salman Khan, dan kini itu terpatahkan.

Bajrangi Bhaijaan dibuka dengan penampakan gadis kecil nan manis, bernama Shahida. Ia berasal dari Pakistan. Suatu hari berangkat bersama ibunya ke India untuk berziarah sembari berdoa di salah satu makam suci di sana. Untuk meminta kesembuhan Shahida. Shahida berumur 6 tahun dan belum bisa bicara, jadi keluarganya berpikir ziarah ini akan menyembuhkan Shahida dari kebisuan. Tapi tidak, ziarah ini tidak menyembuhkan Shahida, ziarah ini melenyapkan Shahida, membuat ia terpisah dari ibunya di perjalanan pulang kembali ke Pakistan. Shahida tertinggal di India, sedang ibunya kembali ke Pakistan namun tak bisa kembali ke India karena alasan visa. Potret awal nan menyeluruh ini membuat saya berpikir, wah, betapa baiknya Salman Khan mengizinkan gadis kecil bersama ibunya mencuri perhatian penonton. Lalu kemudian menebak-nebak di mana kira-kira nanti posisinya dalam usaha mencuri kembali perhatian penonton dari gadis kecil nan bisu ini. Salman Khan memerankan seorang pria taat kepada agamanya, Hindu, bernama Bajrangi, yang ke mana pun ia pergi dan bertemu monyet, ia akan menyembah sembari mengucapkan salam pada monyet tersebut. Bajrangi karakter yang tidak begitu spesial, tak ada yang benar-benar menginspirasi darinya, tapi mudah untuk disukai, karena keluguannya menciptakan kekonyolan. Keluguannya juga mengantarnya mempercayai mentah-mentah apapun yang ditanamkan dalam hatinya. Dan saya rasa karakter seperti inilah yang memang diperlukan Salman Khan, untuk menurunkan sedikit ego-nya.

Bajrangi menemukan Shahida di sebuah festival kuil, memberinya makan lalu berniat meninggalkannya. Tapi Shahida selalu mengikutinya. Putus asa karena kelelahan, Bajrangi membawa Shahida pulang ke rumah. Memperkenalkannya kepada pacarnya, bernama Rasika dan calon mertuanya. Pacarnya menyukai Shahida, calon ayah mertuanya menentangnya, karena pertama menyusahkan, lalu kemudian nanti karena dia orang Pakistan. Keluguan selalu identik dengan kebaikan, dan Bajrangi memiliki kualitas itu dalam dirinya. Dan bermodalkan keluguan itu, dengan halangan dan rintangan yang bersifat manipulatif, Bajrangi memutuskan sendiri membawa Shahida kembali ke Pakistan dengan tantangan tak punya visa dan ditangkap oleh pihak berwajib di sana. Bisa dibilang ego yang kerap melekat pada peran-peran yang Salman Khan bawakan selama ini, berubah menjadi rasa kasih untuk selalu melindungi Shahida.

Bajrangi dan Shahida

Bajrangi dan Shahida

Bajrangi Bhaijaan sebenarnya punya banyak sub-plot menarik yang gagal dieksplor. Seperti fakta bahwa Shahida beragama Islam sedang Bajrangi dan keluarga Rasika beragama Hindu, tidak secara mendalam dijadikan bahan renungan. Atau fakta bahwa kehadiran Shahida sebenarnya mampu mengagalkan rencana pernikahan Bajrangi dan Rasika juga sama sekali tak kelihatan. Tapi pilihan Kabir Khan, sang director, menceritakan satu fokus utama saja, yaitu usaha Bajrangi memulangkan Shahida, begitu efektif menutupi semua sub-plot yang gagak eksplor tersebut. Kabir Khan diberkahi kekuatan menciptakan scene-scene yang manipulatif tapi menyentuh. Jenis scene yang bisa dibilang tidak natural, tidak ditemukan setiap hari di kehidupan kita. Tapi mengandung belas kasih rasa kemanusiaan yang saya yakin kita berharap bakal kita temukan di semua aspek kehidupan kita. Jenis adegan inilah yang dengan mudahnya mengundang rasa haru. Kabir Khan juga tahu, bahwa karakter seperti Shahida; kecil, tak berdaya, namun manis akan selalu mengundang rasa cinta dari penonton, dan karakter seperti Bajrangi; lugu tapi baik hati dan lurus akan selalu dikagumi banyak penonton. Benar sekali, tepat seperti karakter Peekay yang dibawakan Aamir Khan tahun lalu lewat film PK.

Sebanyak sub-plot menarik –walau gagal eksplor– yang Bajrangi Bhaijaan hasilkan, sebanyak itu pula sub-karakter menarik yang ia punya. Sebut saja kekasih Bajrangi, Rasika, diperankan Kareena Kapoor. Semua film Bollywood tak peduli se-Independent apapun karakter utama pria-nya, mereka selalu butuh karakter perempuan sebagai pemanis. Tapi saya rasa apa yang Kareena Kapoor lakukan di sini bukan semata-mata sebagai pemanis, dia punya scene-scene yang bagus, juga dialog-dialog yang sama bagusnya. Kehadirannya membantu Bajrangi meluruskan pengetahuan butanya ke arah yang lebih baik. Belum lagi Kareena tidak dituntut harus tampil luar biasa cantik di sini. Saya suka kerutan tajam di bawah matanya, entah itu kesalahan make-up, entah dia kini memang makin berumur, atau memang sebagai bagian dari cerita bahwa ia karakter perempuan cerdas yang tak butuh banyak make-up untuk bisa dikagumi. Lalu ada Nawazuddin Siddiqui, berperan sebagai reporter Pakistan yang menemani Bajrangi menelusuri Pakistan mencari orang tua Shahida. Siddiqui aktor bertalenta, dia punya banyak film yang istimewa, semua tahu itu. Ia pandai memilih peran, pandai memilih film, tapi yang mengagumkan dari dia adalah dia tak pernah malu-malu hanya bermain sebagai karakter pendukung. Tak peduli seberapa sedikit atau seberapa banyak porsi yang bakal ia tampilkan. Dan ketika ia memerankan karakter pendukung/tambahan seperti di film ini, yang membuat karakter tersebut selalu spesial adalah tentu saja karena Siddiqui yang memerankannya.

Kareena Kapoor

Kareena Kapoor yang berperan sebagai Rasika tidak dituntut harus tampil luar biasa cantik di sini.

Sehari sebelum menonton Bajrangi Bhaijaan, saya sempat menonton Spirited Away terlebih dahulu untuk yang ketiga kalinya. Karakter utama Spirited Away bernama Chihiro, gadis kecil penggerutu, juga tidak begitu kelihatan manis. Tapi ketika Chihiro dihadapkan sebuah masalah, ia punya tekad yang begitu kuat, sekeras baja untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Dan saya jatuh hati pada Chihiro karena ia memiliki kualitas/mental seperti itu dalam dirinya. Dan apa yang saya temukan pada Chihiro kini juga saya temukan pada tokoh yang Salman Khan bawakan di Bajrangi Bhaijaan. Di awal film, saya menonton dan mengobservasi tokoh Bajrangi dengan sangat awas dan waspada, karena saya selama ini sadar seperti yang saya jelaskan sedari awal bahwa karakter-karakter yang kerap dibawakan Salman Khan adalah karakter yang dipenuhi ego oleh si aktor yang memerankannya, tapi seiring cerita bergulir, saya menyukai Bajrangi, karena ketulusan dan kejujurannya. Keluguannya kadang-kadang menyebalkan, tapi kebaikannya yang tak minta pamrih begitu menyentuh saya. Ia karakter yang bukan berarti tak memiliki ego, tapi setidaknya dan yang pasti kini ego itu tidak lagi mendominasi.

Rating: 3.5 / 4 Stars

*Penulis adalah penggiat Cinema Appreciator Makassar

Sutradara: Kabir Khan | Tahun Produksi: 2015 | Genre: Drama/Comedy