Sebuah hobi yang dibalut rapi bersama dedikasi dan totalitas yang ditunjukkan oleh Eksekutor Mutilasi, unit slam metal berbahaya dari Bone, tepatnya di Bajoe berhasil membuat mereka patut diperhitungkan. Band yang digawangi oleh Fahrul (Vocal), Irfan (Bass), Viqram (Gitar), Firman (Drum), dan terbentuk akhir 2011 berhasil menunjukkan taring untuk bersaing dan disandingkan dengan band-band cadas kota Makassar. Telah banyak pentas berskala kecil hingga besar seperti Rock In Celebes yang berhasil dibakar oleh mereka. Bukan hanya itu, band ini mematenkan tempatnya di album Celebes Extreme Musick Compilation yang memuat 30 band dengan musik ekstrem asal Sulawesi yang didalangi oleh Nchoz (Venomous).

Saat saya bertemu langsung dengan Fahrul yang sedang berada di Makassar pada Rabu (27/7) kemarin, ia lalu mengungkapkan seputar Eksekutor Mutilasi dan bagaimana keadaan scene musik di daerahnya. Di balik beringasnya musik yang mereka ciptakan dan mainkan, perjuangan mereka untuk tetap eksis ternyata tidak mudah. Menurut pengakuan Fahrul, Eksekutor Mutilasi justru terkucilkan di rumah sendiri. Sebuah keadaan yang rumit sekaligus tidak menguntungkan bagi mereka, ditambah dengan minimnya dukungan dari masyarakat sekitar, khususnya anak-anak muda. Namun, keadaan tersebut tidak mengendurkan semangat mereka. Mereka pun memutuskan untuk melebarkan sayap dan memperkenalkan musik mereka di kota lainnya. Jarak yang ditempuh mereka dari Bone tentu jauh dan sangat menguras stamina. Sesuatu yang patut diapresiasi.

Launching album The Black dibuka oleh Eksekutor Mutilasi, band yang menganut paham slam dari Bajoe, Kabupaten Bone.

Eksekutor Mutilasi ketika tampil di launching album Dead of Destiny yang bertajuk The Black pada 28 Mei 2015. (Foto: Brandon Hilton)

Music For Brighter Se7en dan Maximum Noise MMXVI menjadi panggung luar kota mereka di akhir pekan ini. Terkhusus untuk MFBD Se7en, mereka mengetahui event ini setelah melihat informasi Music For Brighter Day Part VI yang diadakan di Twice Bar, Bali pada tahun lalu. Eksekutor Mutilasi menganggap Music For Brighter Day adalah sebuah pergerakan yang menarik untuk diikuti oleh mereka. Setelah mengirim demo ke MFBDMVMNT dan terpilih untuk tampil, mereka masih tak mengira bisa ikut serta untuk MFBD tahun ini.

Eksekutor Mutilasi adalah band penganut paham slam yang bisa dikatakan berbeda dari yang lain. Band ini tidak sungkan menunjukkan identitas mereka, dari mana mereka berasal, dan sebagainya. Ini dibuktikan dengan tema-tema lagu yang dipilih. Sepengetahuan saya, rata-rata band penganut paham Slam tidak jauh-jauh dari lirik tentang mayat, pembunuhan, psikopat, monster yang haus darah, sifat-sifat rakus, dan lain-lain. Namun, Eksekutor Mutilasi lebih memilih mengangkat tema Cerita Rakyat atau peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Bone dan Bajoe.

Beberapa karya lagu mereka yang berjudul Bajoe 1998 merupakan suatu kejadian yang di mana kampung mereka terjadi konflik penyerangan pada tahun 1998 silam yang beberapa korbannya adalah keluarga dan kerabat mereka. Lagu lainnya, Tragedi Bom Bajo yang merupakan suatu konflik antar suku yang terjadi di Bajo’e yang berujung pada pengeboman dari suku Bajo. Dua dari beberapa karya mereka ini merupakan persembahan sebagai tanda kesedihan dan untuk selalu mengingat kejadian yang terjadi di kampungnya.

Dengan bertemakan beberapa kejadian di kampungnya dalam setiap karyanya, Eksekutor Mutilasi ingin memperkenalkan tanah asal melalui karya mereka. Ini adalah sebuah inovasi yang anti-mainstream. Patut untuk dicontoh. Kabarnya, band ini akan menggarap EP mereka dalam waktu dekat.

Semoga dengan perjuangan dan kerja keras mereka, setidaknya band-band lain di seluruh Sulawesi dapat menjadikan Eksekutor Mutilasi sebagai inspirasi dan tolok ukur dalam proses berkarya. Tidak peduli seberapa jauh jarak yang ditempuh, jika semua dibarengi dengan konsistensi dan dedikasi, niscaya akan menjadi kepuasan tersendiri untuk jasmani dan rohani.

Saksikan Eksekutor Mutilasi di panggung Music For Brighter Day se7en pada 6 Agustus 2016. Kuartet slam metal ini akan tampil pada pukul 16.00 WITA.

MUSIC FOR BRIGHTER DAY se7en 7_6 Agustus 2016_rundown


Baca tulisan lainnya

Persepsi tentang Kebohongan dan Cita-cita dari  From Hell To Heaven

Penghormatan untuk Lemmy dari Trendy Reject

Perkara Judul dan Kisah Romantis yang Satire dalam lagu Hipotesa Asmara milik The Clays

Mengenang Mixtape bersama Good Morning Breakfast

Death Metal dengan Sentuhan Futuristik dari Nocturnal Victims

Meluluhkan Seluruh Daya dalam lagu terbaru dari Suhu Beku

Sebuah Observasi dan Motivasi dalam video Non Observance milik Theogony

Filastine dan Sebuah Proyek Pembebasan