Mengamati satu festival musik adalah peristiwa yang patut dikabarkan. Apalagi, jika festival tersebut bernama Rock in Celebes. Kata terakhir dari nama festival tersebut tentu mewakili satu skena yang sangat luas. Bukan saja musik satu pulau, namun juga akan bercerita tentang musik Indonesia bagian timur yang gaungnya timbul-tenggelam dan seringkali bunyi kresek-nya lebih besar. 

Usia tujuh tahun turut menjadi alasan untuk mencari bentuk ideal dari Rock in Celebes. Sejak kelahiran dan mampu hidup hingga tahun ini adalah prestasi yang patut diberi tepukan dan teriakan pujian. Tetapi, selayaknya bagi segala yang hidup, RIC 2016 tentu sah dan harus diberi harapan. Sebagai bentuk cinta terhadap Rock, terhadap Celebes, ataupun terhadap festival itu sendiri. Berikut harapan dari kami untuk Rock in Celebes 2016:

Achmad Nirwan 

Berdasar dari pengalaman saya menikmati dan tampil dalam line-up di Rock In Celebes sejak 2011, Rock In Celebes di tiap tahun tentu saja menawarkan sesuatu yang berbeda. Baik dari segi atmosfer maupun teknisnya. Saat saya bisa tampil bersama HILITE di Rock In Celebes 2011, saya sadar bahwa kalau kamu memiliki lagu atau album sendiri, kamu bisa tampil di panggung yang betul-betul menghargai karyamu. Ketika mendapat kesempatan meliput Rock In Celebes di tahun 2013 dan 2014, saya tentu banyak mendapat pengalaman dan belajar banyak hal tentang meliput sebuah event musik, termasuk membiasakan untuk berinteraksi dalam wawancara dengan musisi-musisi yang tampil serta bertukar cerita dengan rekan-rekan media yang meliput di RIC.

Sedangkan tahun 2015 menjadi tahun untuk Rock In Celebes mengambil langkah yang cukup berani dengan mengadakan festival tour dalam lima kota di Sulawesi. Band-band dari seluruh kota di pulau Sulawesi pun diajak untuk tour dan tampil di tiap kota yang mereka pilih. Saya pun turut berpartisipasi dengan Speed Instinct untuk ikut dalam tiga kota. Dari festival tour ini pula, saya memetik pengalaman dan pelajaran yang banyak, mulai dari internal band hingga berinteraksi dengan berbagai pihak yang terlibat di RIC tersebut. Dan, terlepas dari kemeriahannya, satu hal yang bagi saya perlu dievaluasi oleh pihak RIC pada tahun 2015 adalah band-band Sulawesi semestinya diberikan budget yang sesuai untuk kebutuhan akomodasi mereka pada saat tour. Kalau bisa, budget dan akomodasi seperti yang diberikan untuk musisi-musisi yang menjadi penampil utama. Mereka sama-sama musisi, kok, jika dibandingkan dengan musisi-musisi yang namanya sudah dikenal para penikmat musik. Jam terbang panggung dan gaung karyanya saja yang membedakan di skala nasional.

Dan, pada tahun 2016 ini, Rock In Celebes menjajaki kancah nasional bersama dengan festival tour-nya di 14 kota di Indonesia. Hal yang mengundang pertanyaan bagi saya ketika mengetahui perihal tur tersebut adalah: apakah Rock In Celebes masih bersemangat menggaungkan karya-karya musisi dari tanah Sulawesi ke 12 kota selain Makassar dan Palu? Mengingat line-up di 12 kota tersebut tidak terselip satu pun band dari Sulawesi yang diajak berpartisipasi untuk tur tahun ini. Tentu saja, hal itu perlu dicatat dengan cermat untuk penyelenggaraan Rock In Celebes pada tahun berikutnya jika ingin mengadakan hal yang serupa, di luar dari kesuksesan Rock In Celebes menggaungkan namanya kepada penikmat musik di 14 kota tersebut.

Dari pengalaman dan kesan dengan RIC sebelumnya, saya beralih ke perhelatan puncak yang diadakan Rock In Celebes 2016 pada 19 dan 20 November nanti. Saya salut dengan rundown yang dikeluarkan Rock In Celebes yang bisa menempatkan para musisi rock kebanggaan Sulawesi seperti Frontxside dan Dead Of Destiny dalam berdekatan waktu tampil dengan band yang langganan diundang RIC (atau itu-itu saja) untuk tampil yaitu Seringai atau The SIGIT. Selain itu, kita tunggu saja dalam pelaksanaannya, apakah Rock In Celebes 2016 bisa memberikan ruang apresiasi yang sebenarnya untuk band dan musisi dari Sulawesi.

Harapan saya yang besar selanjutnya untuk Rock In Celebes, jika memang ingin mendukung musisi dari Pulau Sulawesi, ada baiknya penyelenggara mulai membiasakan diri untuk memberi mereka ruang yang lebih luas, apalagi secara penuh, misalnya seluruh band dari Sulawesi yang menjadi penampil utama. Seiring dengan itu, kebutuhan teknis para penampil dari Sulawesi juga sama rata dengan penampil dari kota lainnya. Hal ini tentu akan berefek baik kepada penampilan dan promosi karya mereka. Karena jika kita ingin melihat perkembangan musik rock di Sulawesi bisa berkembang seperti di pulau lainnya, kita mesti percaya sepenuhnya kepada kekuatan dan karya musisi-musisinya. Janganlah sampai kita terus tersentralisasi dan berkiblat ke perkembangan musik yang sudah lebih dulu berkembang.

Acoh Wahab

Sampai detik ini, tahun 2016 penuh dengan kejadian yang bikin tidak enak hati. Dari berpulangnya David Bowie, Prince, dan George Martin hingga kalahnya Italia di semifinal Euro. November ini, yang bahkan masih berjalan, adalah penyumbang kejadian termenyelekit tahun ini. Mulai dari tutup usianya Leonard Cohen, terpilihnya Trump, hingga dijadikan tersangka –nya Ahok. 2016 adalah tahun yang paling mengecewakan bagi peradaban dan November ini mengamininya. Beruntunglah Makassar, di bulan ini masih menyisakan music festival tahunan untuk dirayakan sebagai sarana untuk menjadi waras sejenak dan sekejap melupakan kejadian-kejadian bregezerkdtz tadi. Adalah Rock in Celebes yang akan mengadakan perhelatannya yang ke-7 di akhir pekan nanti.

Saya sebenarnya tak pernah datang ke Rock in Celebes. Dan saya tak tahu harus menulis apa di sini. Sebagai orang yang hanya bermodalkan googling line-up+yutub-yutub  melihat antusiasme RIC tahun-tahun sebelumnya sebagai ajang riset kaum milenial, saya ternyata (atau akhirnya) menemukan sesuatu yang sepertinya menarik untuk ditulis, yaitu: ekspektasi. Ya, ekspektasi, yang dari kitab yang pernah saya baca (sebenarnya saya lupa kitab atau jurnal atau twit), mendefinisikan “ekspektasi” dengan cara membandingkannya dengan kata “harapan”. Menurut si pengarang kitab, ada satu unsur yang selalu ada di harapan tapi tak pernah ada di ekpektasi, yaitu: Keikhlasan. Saya tak ingin memberi ruang keikhlasan di tulisan ini. Karena keikhlasan adalah pangkal pembiaran. Dan di republik ini, sudah terlalu banyak pembiaran yang selalu membuat kita menangis di awal dan (hanya) berwujud hashtag di akhir. Terkesan sangat posesif di’ padahal bukan acaraku, hahaha. Mungkin terlalu sayang ka’ dengan ini kota dan menurut banyak orang RIC adalah music festival yang mewakilinya. Atau, mungkin saya yang terlalu gila urusan.

Pengantar di atas tadi sebenarnya hanya untuk memadatkan tulisan pendek ini. Karena ekspektasi saya cuma satu dan apabila dijabarkan hanya muat dalam beberapa baris, yaitu: Setelah bosan di setiap perhelatannya mengimpor band-band dari luar Celebes, saya berharap RIC bisa menjadi tonggak propaganda utama talenta-talenta musik kota Makassar dan seluruh Sulawesi untuk menyalurkan karya dan ide besarnya ke seluruh penjuru semesta. Dan saya rasa ini tidak muluk-muluk. Aamiin.

Brandon Hilton

Setelah melihat line-up Rock In Celebes 2016 yang diisi oleh nama-nama besar seperti Navicula, Steven Jam, Seringai, The S.I.G.I.T, PWG, Revenge, dan sebagainya, saya melihat event tahunan ini sepertinya tidak ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Rock In Celebes yang lagi-lagi menurut saya kurang terasa Celebes-nya karena kembali didominasi oleh band-band ‘papan atas’ luar pulau Sulawesi. Di mana event ini harusnya menjadi rumah bagi band-band Sulawesi untuk menunjukkan how they’re rocking with their music.

Event yang diselenggarakan di Kota Makassar tidak lepas dari penyakit ngaret. Tidak peduli event kecil atau besar sekalipun. Semoga saja, Rock In Celebes tahun ini tidak terjangkit penyakit itu. dengan melihat line-up band yang didominasi oleh band-band cadas bertegangan tinggi, salah satu penyakit di tiap event lainnya adalah kerusuhan antar penonton. Dalam pandangan saya, event yang ‘di-cap’ berskala nasional harusnya punya tingkat keamanan dengan standar yang cukup tinggi. Tidak hanya disiagakan di depan pintu masuk event atau yang paling konyol lagi, pihak keamanan disiagakan di balik barikade. Mestinya, pihak keamanan ditempatkan di tengah-tengah kerumunan penonton tanpa mengurangi kenikmatan mereka dalam menikmati musik. Dan juga yang menyukai moshing.

Apalah arti sebuah event musik berskala nasional jika tidak memberi kontribusi bagi kemajuan skena musik di tanah Sulawesi. Event yang rutin diadakan tiap tahun ini semestinya dapat memantik band-band lokal untuk lebih giat berkarya dan menghasilkan karya yang berkelas.

Dhihram Tenrisau

Bisa dibilang Rock In Celebes memberikan kesan berarti bagi kehidupan bermusik saya. Saya mengikuti festival musik ini sejak tahun 2010 yang menghadirkan Komunal dan Marduk. Bermula dari situ, saya mulai rajin hadir di acara tahunan ini dan bermimpi kelak berada di panggung tersebut.

Tahun 2012, mimpi saya terwujud. Saya dan Bonzai, band saya terdahulu berhasil naik ke panggung yang cukup memiliki prestise di Indonesia Timur ini, dengan perjuangan yang tak gampang. Lewat voting Facebook tepatnya. Ya, saat itu RIC (Rock in Celebes) membuka kesempatan untuk bermain di pentas ini dengan sayembara voting di media sosial. Dengan segala daya dan upaya, band saya saat itu lolos di peringkat pertama tertinggi voternya–terima kasih untuk para swing voters. Di situ saya senang sepanggung dengan beberapa band favorit saya: All Confidence Out, Melismatis, The Sigit, Superman Is Dead, Suffocation, dan Secondhand Serenade. Saya harus mengakui bahwa panggung RIC adalah salah satu panggung yang memberikan penghargaan kepada musisi lokal yang bisa dibilang cukup sulit didapatkan di beberapa event–sebut saja seperti memberikan keleluasaan dalam sound check hingga pemberian fee yang layak. Tahun 2013, saya berkesempatan lagi berada di panggung RIC yang menurut saya semakin membaik dari tahun sebelumnya, menghadirkan sesi diskusi musik sangat edukatif.

Saya selalu percaya bahwa rock adalah salah satu penyelamat dunia–lupakan sejenak pelbagai kebijakan ekonomi politik. British Invasion dan Woodstock bisa jadi contoh, bisa jadi RIC seperti itu. Harapan saya, RIC tahun ini selain menjadi pagelaran musik, dapat menjadi corong untuk menyuarakan problematika bangsa atau lokalitas, meredam kebencian dan prasangka. Mungkin bisa seperti beberapa festival-festival luar ataupun nasional yang memakai tema dan tagline. Selain itu harapannya ada kompilasi rilisan fisik atau digital RIC yang utamanya untuk band-band lokal berkualitas.

Fami Redwan

Kebetulan saat hendak menulis ini, rumah saya sedang diokupasi oleh beberapa orang teman yang sudah jengah berjuang lewat musik. Mereka yang percaya jika di antara musik dan perubahan hanya ada cocoklogi. Iwan Fals sudah pensiun dini. Sid Vicious sudah lama mati. Metallica sedang menjadi bintang di YouTube. Dan saya bertanya kepada orang-orang di sekeliling saya, apa ekspetasi mereka untuk Rock In Celebes 2016? Tentu saja semuanya terdiam. Menciptakan hening yang bisa berkepanjangan sebelum akhirnya satu dari mereka mengubah mindset dan berhasil melihat RIC sebagai merk hiburan. Barulah semuanya berisik. “Andai bisa bertema, misalnya tahun ini metal, tahun depan folklore, tahun berikutnya apalah..” satu orang beropini. Lalu, disempurnakan oleh yang lain lagi, “atau setidaknya rundown-nya yang bertema, dari jam berapa sampai jam berapa genrenya bagaimana, lalu dua jam berikutnya genrenya bagaimana, biar ndak capek ki keluar masuk, pak!” Dan masih banyak lagi yang menurut saya lebih baik diucapkan langsung di depan event organizer-nya daripada ditulis di sini. Namun intinya, di era ketika ide-ide baru adalah segalanya, menjadi yang terdepan berarti juga menjadi pemikul beban terbesar dalam menghadapi kejenuhan orang. Termasuk dalam urusan pagelaran alias konser, ranting dunia musik yang paling dekat konteksnya dengan dunia hiburan.

Ekspektasi saya pribadi: Semoga pelaku musik kota ini menggunakan RIC untuk belajar. Watch and learn. Karena sekeren-kerennya sebuah band, adalah band yang dibentuk setelah menonton konser band. Namaste!