Oleh: Dhy Saussure ( @dhysaussure )

 “I’m happy to find you in hurt” –Aan Mansyur

Membicarakan hal-hal yang berbau seksualitas dianggap tabu dan dianggap salah bagi sebagian besar orang. Kita akan dilabeli menyimpang dan tidak tahu sopan santun. Seolah-olah membicarakan tentang kelamin atau ekspresi seksual dinilai terlalu liar dan wajib untuk dihindari.Padahal kekuatan media dan teknologi telah memberikan sumbangsih yang cukup besar atas konten-konten yang mengeksplorasi tubuh secara vulgar. Dengan mudahnya film menawarkan scene yang memuat adegan bersetubuh atau menjamurnya situs yang menghadirkan streaming video porno.

Perlu disadari bahwa, seksual adalah kebutuhan dasar manusia. Begitu juga dengan kebutuhan untuk memiliki tempat tinggal yang layak. Sehingga, jika tidak ada pelajaran khusus mengenai pendidikan seks, maka kebanyakan orang akan tetap terjebak dalam ketidaktahuan seksual dan dampaknya akan mengarah pada kekerasan seksual simbolik pada perempuan.

Senantiasa perempuan bahkan sebagian laki-laki, merasa risih jika orang-orang di sekitarnya secara gamblang membicarakan tubuh sebagai arena seksualitas. Bahkan sejak dalam pikiran, kita sudah memperlakukan tidak adil bagian-bagian dari tubuh. Kita merasa lebih nyaman menyebut keindahan mata, kelebatan rambut, atau kehebatan telinga yang mampu mendengar dengan tajam. Kita akan secara sungkan menyebut payudara yang besar berisi, atau canggung menjelaskan tentang penis yang pendek tapi ngangenin. Seakan-akan bagian tubuh tersebut tidak layak diperbincangkan, sementara mereka berada pada tubuh yang sama.

Praktis, anggapan laki-laki lebih superior dibanding perempuan dalam wilayah seksual, menjadi mitos yang susah untuk dihindari. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya jam malam bagi perempuan, dianggap mengakibatkan stigma negatif sebagai perempuan nakal,  atau akibat yang paling parah adalah mereka  bisa saja melakukan praktik seksual dan hamil. Seolah-olah mereka hamil dengan sendirinya. Bukankah untuk perempuan bisa hamil ada peran laki-laki di dalamnya? seharusnya laki-laki juga dilarang keluar malam.

***

Baru-baru ini sebuah film yang cukup laris dan paling banyak dibicarakan adalah  Fifty Shades Of Grey. Sebuah film yang disutradarai oleh Sam Taylor-Johnson yang juga pernah menyutradarai fim Nowhere Boy (2009), kisah tentang John Lennon. Sebuah film yang diangkat dari trilogi novel karya E.L James, seorang penulis berkebangsaan inggris.

Film ini bercerita tentang seorang mahasiswi Sastra Inggris yang bernama Anastasia Steele (Dakota Johnson) yang harus menggantikan rekan sekamarnya untuk mewawancarai seorang pengusaha muda kaya untuk dimuat dalam koran kampus. Pemuda itu adalah Christian Grey yang diperankan oleh Jamie Dornan seorang yang berpenampilan bersih, sopan, teliti, dan sangat formal serta memiliki kesan mengintimidasi menurut pengamatan Steele.

Sejak pertemuan itu, Grey menaruh simpati pada Steele, begitu pun sebaliknya. Diam-diam Steele merasa tertarik pada sosok karismatik Grey.  Grey kemudian memutuskan untuk mendatangi Steele ke tempat kerjanya untuk melanjutkan percakapan yang tertunda sebelumnya dan bersedia melakukan sesi pemotretan untuk koran kampus tersebut. Sejak saat itulah sebuah hubungan yang tak  biasa dimulai.

Seperti film romantis pada umumnya, film ini menyajikan sebuah model romantis yang tidak biasa. Sebuah kencan singkat yang dilakukan dengan menggunakan helikopter mengitari kota dilatari dengan soundtrack romantis Ellie Goulding (Love like you do, lo lo love like you do). Sebagai pria kaya dan tampan, Grey berhasil mencuri hati Steele. Sampai akhirnya, tiba pada sebuah adegan seksual yang melibatkan beragam benda-benda keras yang digunakan untuk mencambuk Steele.

Secara umum film ini mengangkat tema mengenai Sadomasokisme atau dalam dunia pornografi diistilahkan sebagai Bondage Dominance Sadomasochism (BDSM). Sebuah ekspresi seksual yang menjadikan perempuan sebagai budak seksual dan siap menerima hukuman oleh pasangannya seperti dicambuk atau diborgol.

Sebagian besar kalangan menilai film ini sebagai sebuah bentuk kekerasan seksual. Seperti halnya Morality in Media, sebuah kelompok pengamat anti-pornografi, menganggap bahwa hampir keseluruhan isi cerita dari film tersebut membicarakan tentang kekerasan seksual, ketidaksetaraan perempuan dan laki-laki, serta Masokisme sebagaimana yang dimuat dalam Rima News.

Secara budaya mungkin apa yang dijelaskan tersebut diatas adalah benar, namun tak sepenuhnya benar. Dalam seksual, selain identitas dan orientasi, juga dikenal istilah ekspresi seksual. Sebuah bentuk ekspresi dalam menyalurkan hasrat seksual, termasuk BDSM. Setiap orang memiliki fantasi dan kepuasan akan dicapai jika fantasi tersebut tersalurkan.

Film ini menunjukkan sebuah sisi manusia yang memiliki ekspresi seksual berbeda dengan ekspresi seksual pada umumnya yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Film ini mencoba memberikan perspektif lain bahwa ekspresi itu tidak tunggal dan umum. Ada beragam ekspresi yang bisa dilakukan saat melakukan hubungan seksual. Dan, salah satunya adalah BDSM.

***

Ada anggapan yang berlaku secara universal dan diakui oleh keilmuan yang positivis. Seolah segala sesuatu yang terjadi dan di luar kebiasaan normal dianggap sebagai sebuah perilaku yang menyimpang. Lazimnya, kita berjabat tangan menggunakan tangan kanan, sekiranya ada yang berjabat tangan menggunakan tangan kiri padahal orang tersebut “Normal atau tidak sehat” maka berjabat tangan dengan menggunakan tangan kiri adalah menyimpang.

Positivis senantiasa melihat realitas dalam kacamata sistem. Sesuatu yang saling berhubungan satu dengan yang lain. jika salah satu sub sistem tidak melakukan perannya sebagaimana yang lain, maka sistem akan mengalami ketidakseimbangan. Dan mereka subsistem yang gagal menjalankan peran disebut menyimpang (deviant)

Begitu pula dalam dunia seksual. Seolah tahapan seksual sedari kecil seperti oral, anal, pallus dan genital harus dilalui secara linear. Orientasi seksual yang normal adalah penis ke vagina, sementara penis ke anus diangap menjijikkan dan menyimpang. Ekspresi pun menjadi sesuatu yang dicibir, BDSM dianggap sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Padahal ekspresi tersebut merupakan fantasi yang dimiliki setiap orang tidak boleh direpresi atau dikekang.

Mencapai kepuasan dengan sesuatu yang tak lazim dianggap menyimpang. Seolah-olah kepuasan seksual hanya dapat tercapai dengan hubungan yang sederhana antara penis dan vagina. Mengapa orgasme yang didapatkan melalui sesuatu yang dianggap “kekerasan” tidak layak? Ini sama halnya dengan membunuh pilihan kebebasan manusia. Padahal apa yang menjadi ekspresi mereka tidak mengganggu orang lain.

Ada banyak kasus pencapaian orgasme yang tak lazim, misalnya melalui olahraga, ada yang menemukan kepuasan seksual dengan menghisap jempol, melalui persalinan, bahkan hanya dengan menguap seseorang dapat menemukan kepuasan seksualnya. Jadi, bukan hal yang aneh jika ada orang yang menemukan kepuasan seksualnya dengan jalan kekerasan.

Bisa jadi kita saja yang melihat adegan BDSM yang menganggapnya sebagai sebuah kekerasan, sementara mereka sangat menikmatinya. Sesuatu dapat dikatakan kekerasan seksual dalam kasus pemerkosaan, sementara ekspresi BDSM adalah sesuatu yang dilakukan atas dasar suka sama suka bahkan dalam film tersebut menggunakan kontrak. Sekiranya salah satu di antara keduanya tidak menyetujui maka hubungan tersebut dihentikan seperti yang terjadi di akhir cerita film tersebut.

Anggapan mengenai ketidaksetaraan perempuan dan laki-laki dalam film tersebut juga tidak sepenuhnya benar. Apa yang mereka lakukan adalah berdasarkan kesepakatan dan dilakukan secara sadar. Bukankah sebenarnya yang melakukan ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan adalah  budaya kita sendiri. Sedari kecil budaya melakukan pembedaan antara laki-laki dan perempuan tanpa ada kesepakatan. Sedari kecil perempuan lebih sering mendapatkan larangan dibanding laki-laki.

Ekspresi seksual adalah hak segala manusia. Orientasi seksual maupun ekspresi gender memiliki hak untuk hidup bersama tanpa pengucilan. Kita tidak boleh melihat mereka yang berbeda dengan kita sebagai sesuatu yang menyimpang apalagi sebagai sesuatu yang salah.

Image Credit: Fifty Shades of Grey


 Baca tulisan lainnya dari Dhy Saussure

Diet, Sehat yang Jahat

Parade Citra Perempuan dalam Media

Tampil Seksi dengan Bulu Ketiak

Tubuh yang Tabu

Kenapa Cowok Lale?

Pendidikan Tidaklah Seserius Pikiran Orang-Orang

Ada Apa Dengan “Aku Mencintaimu”?