Teks: Kemal Putra | Ilustrasi: Herman Pawellangi

Emerging Writers, sebuah program beasiswa yang menghadirkan penulis-penulis muda berbakat dari wilayah timur Indonesia untuk bertukar pengetahuan dengan para penulis lain. Nama-nama seperti Faisal Oddang dan Ibe S Palogai pernah lolos program Emerging Writers ini. Tahun ini, saya berkesempatan untuk mengobrol dengan salah satu penerima beasiswa ini lewat email. Namanya Bayu Pratama, asal Mataram, Alumnus S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Universitas Mataram. Kecintaannya terhadap sastra ditunjukkan dengan aktifnya ia belajar penulisan kreatif di Komunitas Akarpohon, sebuah komunitas berbasis kesenian. Sabtu sore selalu ia habiskan di sana mengikuti kajian sastra dengan agenda pembahasan karya.

Selain menulis cerpen, puisi, opini, dan resensi, ia juga menulis naskah drama dan menjadi aktor teater. Cerpen dan puisinya pernah dimuat di beberapa media termasuk Tempo, Sinar Harapan, Banjarmasin Pos, dan Solo Pos, juga beberapa termaktub dalam antologi Rodin Memahan Le Penseur dan Kembang Mata. Di 2015, ia terlibat pada pementasan Bulan Budaya dalam lakon Sepotong Sisir di Rambut Klimis yang Suka Menari-nari dan terlibat juga di lakon Justisia Simulakra pada  acara yang diadakan Komisi Yudisial dalam sosialisasi anti kekerasan di pengadilan. Sempat menjabat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Universitas Mataram pada periode 2014-2015 dan menggagas diskusi sastra sebagai lanjutan dari acara diklat cerpen untuk mahasiswa universitas se-kota Mataram.

 

Bagaimana kamu melihat MIWF dan apa yang mendorongmu ikut Emerging Writers?

MIWF itu festival literasi bagi para penulis dan profesi sejenis khusus kawasan Indonesia Timur. MIWF sendiri bagi saya adalah wadah yang penting untung perkembangan literasi di Indonesia Timur. Mengenai apa yang menarik dariMIWF sampai saya mendaftar adalah kesempatan bertemu para penulis senior, di antaranya ada yang saya idolakan. Pertemuan dengan mereka mungkin, nanti, bagi saya, berarti sesuatu.

Bolehkah kamu membagi bocoran siapa penulis yang kamu idolakan itu? Dan dalam bayanganmu, apa yang kamu harapkan nantinya setelah selesai mengikuti Emerging Writers ini?

Penulis itu, Budi Dharma. Saya juga baru tahu dari sebuah artikel kalau dia kemungkinan akan datang. Saya merasa senang mendengar kabar itu karena sudah sejak lama, saya ingin bertemu dia. Karya-karya saya juga banyak dipengaruhi dia. Saya tidak membayangkan apa-apa ke depannya. 

Saya sudah membaca tiga karya cerpen yang kamu masukkan ke MIWF. Saya tertarik dengan dua cerpen tentang Benjor. Baik Benjor, Opera Sabun, dan Cerita-cerita dengan Benjor, Pistol, dan Sebutir Peluru menggunakan dua struktur narasi yang mirip. Kisah Benjor diceritakan dalam banyak versi dan sudut pandang. Pada Benjor, Opera Sabun, dan Cerita-cerita, kita mengenal Benjor lewat sudut pandang keluarganya, sementara pada Benjor, Pistol, dan Sebutir Peluru, kita mengalami mimpi buruk Benjor secara berulang-ulang dengan tambahan detail sebagai pembeda, persis seperti menyaksikan Rashomon-nya Akira Kurosawa. Boleh ceritakan dari mana datannya ide tentang Benjor ini? Apa yang membuatmu tertarik menuliskan kisahnya dalam struktur cerita banyak versi seperti itu?

Awalnya Benjor muncul dalam cerita berjudul Cara Memulai Hukuman Mati yang saya tulis. Cerita itu diterbitkan oleh Batam Pos kalau saya tidak salah ingat. Benjor di dalam cerita yang pertama menjadikannya tokoh itu adalah tokoh rekaan dari seorang tokoh penulis yang jadi tokoh utamanya. Pada waktu itu, nama Benjor datang tiba-tiba. Terasa sebagai manifestasi dari keganjilan dan ketidaktahuan yang saya rasakan. Sejak itu, saya sering menggunakannya pada cerita-cerita saya yang memakai sudut pandang orang ketiga. Sejauh ini saya menulis di lahan yang itu itu saja. Absurd, saya katakan kalau saya boleh menilai diri sendiri. Dan benjor rasanya selalu pas untuk cerita cerita itu. Lagi pula, saya malas mencari nama lain.

Dari biodata yang kamu masukkan ke MIWF, saya melihat cerpen-cerpenmu telah banyak diterbitkan di media-media luar NTB (Nusa Tenggara Barat) dan kamu juga terlibat dalam banyak kegiatan literasi dan kesenian lainnya di kotamu. Saya bisa membayangkan namamu sudah cukup populer di Mataram. Apakah benar begitu juga menurutmu?

Tidak ada yang mengenal saya di Mataram, dalam artian populer. Saya sendiri tidak bisa mengukur jawaban yang pas untuk pertanyaan ini.

Semarakkah perkembangan literasi di NTB, khususnya Mataram? Apa tantangan dan pendukungnya?

Awalnya tidak. Alasannya sederhana; susah menjadi anti-materi di tengah-tengah badai materi. Sedang seniman secara umum, dan penulis secara khusus, bukan orang-orang yang punya materi. Tapi dua tahun terakhir, sastra mulai berkembang. Teman-teman mulai menyebarkan karyanya dan banyak yang dimuat di media. Setidaknya itu bisa jadi ukuran. Juga, datangnya orang-orang seperti Afrizal Malna, Nirwan Dewanto, Joko Pinurbo, A S Laksana, Yusi Avianto memberikan riak riak tersendiri. Selain itu, banyak juga kelompok baca yang bermunculan. Walaupun tidak agresif, tapi gerakan literasi itu ada dan terus berkembang.

Sejauh yang saya pahami, hidup dengan cita-cita atau profesi sebagai penulis bukanlah hal yang mudah. Tak ada profesi yang bisa dianggap mudah tentu saja, tapi masih ada saja pandangan meremehkan bahwa menjadi penulis atau seniman secara finansial tidak bisa hidup dengan stabil. Pernahkah kamu mendapati kritikan atau pandangan seperti itu? Lalu, bagaimana kamu menyikapinya?

Tentu saja. Ketika saya masih kuliah, dosen-dosen saya mengatakan apa yang saya dapatkan di komunitas bukanlah hal yang penting. Keluarga saya juga sempat ragu walaupun mereka membiarkan saya karena masih muda. Jadi, mereka menganggap kegiatan menulis saya di komunitas tak ubahnya kelompok pecinta grup band tertentu atau geng motor. Tapi saya sudah melewati itu. Sekarang, saya belum berpenghasilan tetap dan dorongan-dorongan dari luar untuk mencari kerja tentu saja mulai datang. Saya sempat bekerja lalu memutuskan keluar, karena ternyata dunia kerja dan menulis tidak bisa seimbang. Timpang jauh sekali. Saya belum melewati masalah ini. Belum lagi kalau sudah menikah nanti, entahlah. (Terawa)

Diversity jadi tema MIWF tahun ini. Apa Diversity itu menurut kamu dan bagaimana kamu melihat Diversity saat ini di Indonesia dan di kota kamu?

Bagi saya diversity adalah sifat alamiah yang tidak dapat dihindari. Apalagi di Indonesia, hal tersebut sudah kita hadapi sejak lahir. Selain memperkaya cara pandang, diversity pun tak luput dari perselisihan karena memang sifatnya yang heterogen. Satu-satunya cara untuk berdamai dengannya adalah dengan menjunjung toleransi.

Dan jika obrolan kita ini dibaca oleh banyak anak-anak muda lainnya yang bercita-cita menjadi penulis, apa yang ingin kamu sampaikan pada mereka?

Untuk para anak anak muda yang mau jadi penulis, saya sebenarnya masih bagian dari mereka. Tapi kalau boleh mengatakan sesuatu, maka saya cuma mau bilang; Sadarlah, karya kita masih buruk. Selalu buruk.