Goorinda bersama saudara-saudaranya adalah murid baru di salah satu International School bernama Endonesia. Tak ada yang tahu bahwa Goorinda dan saudara-saudaranya yaitu Kargo, Peks, Pete, Pean adalah bangsa vampir. Goorinda terkenal sebagai anak yang sangat kaya, membuatnya arogan dan manja. Di kelas itu ada juga yang bernama Phedy. Dia adalah sosok kurus, ramah, dan santun. Phedy juga tidak banyak bicara dan sama sekali tidak nampak seperti murid International School, yang suka mengenakan pakaian branded dan mahal ke sekolah, membuatnya sering diejek “kampungan” oleh teman-teman kelasnya, terutama Goorinda. Satu-satunya kesamaan Goorinda dan Phedy adalah kedua anak ini sama-sama menyukai satu gadis manis bernama Rakyat. Rakyat adalah anak semata wayang sang pemilik sekolah. Hal aneh dari pemilik sekolah, meski masih hidup tapi tak seorangpun pernah melihatnya. Kepala sekolah, guru-guru, dan siswa Endonesa International School hanya tahu namanya, Ibu Tiwi.

Suatu hari, hari pertama tahun ajaran baru. Zoo Zee Lo (ketua kelas terpilih tahun ajaran sebelumnya) memberitahukan agar dilakukan pemilihan ketua kelas yang baru. Kasak-kusuk di kelas untuk menentukan 2 nama yang bisa menjadi ketua kelas berikutnya. Sebagian mendukung Goorinda karena telah dijanjikan pengurus kelas. Sebagiannya lagi menjagokan Phedy karena mereka melihat Phedy rajin dan gemar bersosialisasi. Sebagai anak pemilik sekolah, Rakyat lah yang akan menentukan siapa yang menjadi ketua kelas terpilih.

Untuk memikat hati Rakyat, baik Phedy maupun Goorinda diberi giliran untuk menjelaskan visi dan misi mereka bila terpilih nanti. Kedua calon pun diberi kesempatan untuk berdebat satu sama lain di depan Rakyat. Debat berlangsung dengan alot. Untungnya pada akhir-akhir debat, Rakyat sudah bisa melihat siapa yang pantas menjadi ketua kelas, yaitu Phedy.

Kemenangan Phedy tidak tidak bisa diterima Goorinda dan teman-temannya. Mereka beramai-ramai ke ruang guru untuk protes ke Wali Kelas. Apa daya, keputusan selalu ditolak karena tidak ada indikasi kecurangan dalam pemilihan itu. Selanjutnya mereka maju lagi ke Badan Konseling Sekolah, tetapi dimentahkan lagi.

Karena kecewa atas keputusan Wali Kelas dan Badan Konseling Sekolah akhirnya Zoo Zee Loo dan Goorinda menyusun rencana jahat. Adu mulut dan argumentasi antar keduanya menghasilkan satu keputusan yaitu Zoo Zee Loo mengutus Goorinda untuk mencari dan mengambil darah suci yang terdapat dalam tubuh Rakyat. Ada sebuah mitos yang berkembang turun-temurun di sekolah mereka, jika darah suci dari gadis tercantik di sekolah mereka bisa diambil maka yang berhasil akan menjadi ketua kelas abadi dan tak tergantikan. Tujuannya agar teman-temannya bisa sebagai penerusnya di masa akan datang, kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan kepentingan kelas mulai pengadaan pot bunga hingga perbaikan fisik kelas bisa diatur oleh Zoo Zee Loo walaupun dia sudah lengser. Sementara Goorinda bisa menjadi ketua kelas abadi. Sama-sama menang.

Zoo Zee Loo tahu, jika Goorinda bisa memenangkan hati Rakyat, maka kemungkinan tujuannya bisa berhasil. Kedekatan Zoo Zee Loo dengan Goorinda dicurigai oleh Phedy. Maka di saat mereka berbicara di kantin sekolah yang penuh sesak anak-anak kelas lain, Phedy samar-samar mendengarkan percakapan Zoo Zee Loo dan Goorinda,

Z  : “Goo, gimana nih kelanjutannya?”

G: “Gue juga bingung Loo, gugatan gue ditolak Wali Kelas dan Badan Konseling, ada rencana lain ga?”

Z: “Gue ada usul, kita hisap saja darah suci Rakyat, kelak lu akan menjadi ketua kelas sepanjang masa, gimana?”

G: “Maksudnya, diperkosa gitu?

Z: “Bukan diperkosa dalam arti sebenarnya dodol, perkosa haknya aja dengan cara kamu gigit aja lehernya, hisap darahnya, dan semua kekuatannya akan ada di tangan kamu”

G: “Oh iya, benar. Oke, fix!”

***

Setelah pembicaraan keduanya Goorinda mulai berlagak, tidak seperti  biasanya, kali ini keangkuhannya bertambah, mulai tidak mengikuti upacara bendera hingga mempengaruhi teman-teman kelasnya dengan janji-janji yang sebenarnya tidak benar. Rakyat melihat gelagat perubahan ini akhirnya curiga kepada Goorinda.

Akhirnya, di saat yang tepat Goorinda dan teman-temannya mendekati Rakyat. Bujuk rayu dilakukan oleh Goorinda, nafsu syahwat sudah sampai di kepalanya lalu dia mencoba menggigit leher Rakyat, berusaha menghisap darah suci Rakyat. Rakyat yang semula ketakutan, berteriak selantangnya untuk mencari pertolongan. Mendengar teriakan Rakyat, Phedy coba menolong dari serangan Goorinda dan teman-temannya.

Phedy berjuang sekuat tenaga, serangan-serangan Goorinda dan sekutunya selalu mendarat di wajah Phedy, sementara serangan balik Phedy yang kurus dapat dipatahkan dengan mudah oleh Goorinda. Saat kejadian itu Zoo Zee Loo ada di tempat itu, tetapi akhirnya walk out. Sayang sekali Phedy hanya dibantu 2 orang teman kelasnya. Phedy dikeroyok.

Pertarungan tidak seimbang ini akhirnya menumbangkan Phedy dan 2 temannya. Dengan wajah lebam serta mata yang sulit melihat, Phedy hanya mampu melihat bayangan Goorinda dan teman-temannya menghisap habis darah Rakyat, sampai akhirnya Rakyat lemas dan tak sadarkan diri. Haknya untuk bersuara telah dirampas Goorinda dan sekutunya. Di kejauhan, Zoo Zee Loo hanya bisa berkata, “Maaf Rakyat, aku prihatin”

Rakyat hanya bisa terduduk lemas di sudut kelas, dengan tatapan kosong membayangkan Gorrinda akan menjadi ketua kelas abadi, di sana, di sekolahnya, Endonesia.