Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Menggelar pertunjukkan musik tentu merupakan salah satu hal yang paling penting bagi musisi jika mau ingin didengarkan karyanya. Saking pentingnya, musisi sebaiknya menjadikan pertunjukkan musik sebagai medan pengembangan diri, dalam menaklukkan rasa takut dan berani melakukan improvisasi dan inisiatif untuk penampilannya. Pertunjukkan musik juga bisa dijadikan tolak ukur popularitas musisi dengan penyimak musiknya. Semakin sukses musisi tersebut menaklukkan panggungnya, maka semakin besar pula panggung yang akan dijalani.

Tetapi, jangan anggap sebelah mata dulu kekuatan panggung musik skala kecil tanpa barikade. Pertunjukkan musik yang sering disebut gig ini nyatanya mampu menjadi sarana interaksi musisi dengan penggemar dari berbagai scene/komunitas/kolektif, yang mengapresiasi karya-karya yang ada.Bukan sekedar pertunjukkan musik, gig juga bisa menjadi waktu yang tepat untuk reuni dan silaturahmi. Panggung skala kecil yang biasanya digelar oleh musisi independen ternyata punya energi yang lebih menggugah dan jarang serta sebaiknya tidak berkedok panggung pesanan sponsor. Musisi yang mengawali pengalaman manggung seperti ini tentunya bisa lebih interaktif dengan penggemarnya. Apalagi jika musisi atau grup musik tersebut merayakan rilisan albumnya.

Bagaimanapun, kebiasaan menggelar pertunjukkan musik dalam merayakan rilisan album di kalangan musisi independen Makassar boleh dibilang masih bisa dihitung jari tiap tahunnya. Masih perlunya sarana dan prasana seperti tempat pertunjukkan yang harganya terjangkau, tempat rekaman yang memadai dan duplikasi album yang lengkap dan mendukung bisa jadi beberapa faktornya.

Di tahun 2015 sendiri, baru ada lima hingga tujuh album yang telah dirilis sejauh ini. Salah satu grup musik Makassar yang baru saja merilis albumnya adalah Tabasco dengan album perdananya, Solitary. Merilis album Solitary yang memuat 13 lagu ini merupakan titik cerah dari EP yang pernah mereka rilis berisikan  After Rain, Sunday Romance, Roller Coaster dan Try pada tahun 2011. Solitary sendiri telah dirilis pada 26 April 2015 lalu bertepatan dengan Record Store Day Makassar.

Perayaan Record Store Day 2015 lalu teryata belum cukup bagi Tabasco untuk selebrasi atas kerja keras mereka mengerjakan Solitary. Kuartet indie pop bernuansa British yang beranggotakan Artha (vokal/gitar), Hamka (gitar), Ilman (bas gitar) dan Rendy (drum) ini berinisiatif melanjutkan pesta rilis berikutnya dengan tajuk Tabasco Solitary Concert. Setelah cukup lama melihat poster coming soon wara-wiri semenjak bulan Juli, akhirnya Tabasco Solitary Concer pun mantap digelar pada 19 September 2015, bertempat di pelataran MusickBus Chapter Store.

Tabasco tentu saja serius dalam menggelar konser ini. Keseriusan ini berdasarkan ucapan Artha yang sempat mengatakan kepada saya kalau Tabasco Solitary Concert ini merupakan momen terbaik untuk Tabasco bisa memainkan seluruh repertoar lagu dari album Solitary. Selain itu, sebagai wujud apresiasi terhadap sesama musisi lokal, Tabasco juga mengajak Eddington dan Melismatis untuk berbagi panggung di Tabasco Solitary Concert.

Saya pun hadir di venue tepat pukul 20.00 WITA sekaligus menjadi waktu dimulainya Tabasco Solitary Concert. Peralatan di atas panggung malam itu terlihat memadai untuk para penampil menampilkan pertunjukkan terbaiknya. Mulai dari sistem suara hingga sistem tata cahaya bakal menghadirkan pertunjukkan audio visual yang wah. Panggung yang diidam-idamkan untuk musisi yang serius terhadap penampilan dari segi teknisnya.

Tabasco Solitary Concert yang dipandu oleh MC Deta Miranti lalu mengundang Eddington untuk tampil membuka panggung malam itu. Eddington yang merupakan kuartet post-punk dimana Artha juga menjadi personilnya, justru mengajak karib musisi lain untuk berkolaborasi dengan mereka. Dennis dari Speed Instinct dan Petra dari Standing Forever pun mampu mengimbangi dengan baik penampilan Babang (gitar), Suwandi ( bas ) dan Asnur (vokal) membawakan lagu-lagu Eddington seperti “Road To The Bright” dan “Glue” yang membawa kita kembali menyimak Joy Division berpadu dengan Interpol.

Eddington membawa audiens ke era kejayaan post-punk Joy Division yang berpadu dengan sound modern dari Interpol.

Eddington membawa audiens ke era kejayaan post-punk Joy Division yang berpadu dengan sound modern dari Interpol.

Penampil selanjutnya tentu saja Melismatis yang pernah mengajak Tabasco tampil di pesta rilisan album perdananya pada 2011 lalu. “Ini merupakan rasa terima kasih kepada Tabasco waktu itu. Sehingga, kami merasa berutang budi jika tidak bisa ikut berpartisipasi dalam Tabasco Solitary Concert malam ini,” ungkap Juang, sang gitaris. Melismatis pun menggeber setlist malam itu sebanyak 4 lagu, di antaranya”Sempit” dan “Bahkan Langitpun Tersanggah”, menjadikan mereka seolah-olah yang memiliki panggung Tabasco Solitary Concert malam itu.

Melismatis bisa tampil sangat memukau malam itu dengan keluaran sistem suara dan tata cahaya yang sangat mendukung penampilan mereka.

Melismatis bisa tampil sangat memukau malam itu dengan keluaran sistem suara dan tata cahaya yang sangat mendukung penampilan mereka.

Impresi saya terhadap Melismatis di Tabasco Solitary Concert ternyata hanya berlangsung sementara. Tabasco yang merupakan empunya pertunjukkan musik, betul-betul tampil menawan malam itu. Menggeber hampir 17 lagu untuk setlist malam itu, Tabasco membawakan 13 lagu dari Solitary. Di sesi pertama, mereka membawakan “Rollercoaster”, “Antenna”, “Radio”, “Paperplane”, “Try” dengan penuh percaya diri. Terlihat seluruh personil bisa menyatukan permainannya dalam menghidupkan aransemen lagu. Memasuki sesi kedua, “Giving Up The Pain”, “Silent Echo”, “After Rain” pun digeber Tabasco setelah Artha sedikit bercuap-cuap menyapa kerabat dan mengucapkan terima kasih sebesar-besar untuk pihak yang telah membantu.

Artha betul-betul lepas dan menghayati tiap lirik yang dinyanyikannya.

Artha betul-betul lepas dan menghayati tiap lirik yang dinyanyikannya.

Sayangnya, penampilan Tabasco malam itu sempat diselingi penampilan garing dari Artha yang tampil solo akustik membawakan “Please, Please, Please, Let Me Get What I Want” dari The Smiths serta lagu baru Tabasco yang saya tidak sempat catat judulnya. Jujur saja, sebaiknya penampilan sesi ini sebaiknya buat kolaborasi dengan teman-teman musisi lain, mengajak salah seorang personil Melismatis atau Eddington.

Ryan Ugahari dari Insidia juga ikut mendukung departemen gitar Tabasco. Pada penampilan Tabasco di panggung-panggung sebelumnya, Ryan juga terlihat sering ikut tampil.

Ryan Ugahari dari Insidia juga ikut mendukung departemen gitar Tabasco. Pada penampilan Tabasco di panggung-panggung sebelumnya, Ryan juga terlihat sering ikut tampil.

Untung saja kegaringan itu tidak berlangsung lama ketika “Street Light” bisa dibawakan Tabasco secara full team. “Street Light” yang merupakan salah satu lagu favorit saya di album Solitary, seolah menjadi wujud rupawan ketika dibawakan langsung oleh Tabasco. Liukan gitar Hamka seolah menari-nari dan menempel di ingatan berpadu dengan permainan drum Rendy yang ciamik malam itu.

Hamka yang jenius mampu melahirkan riff-riff yang bisa menempel di ingatan saya.

Hamka yang jenius mampu melahirkan riff-riff untuk Tabasco yang bisa menempel di ingatan saya.

Repertoar selanjutnya seperti “Spectacle”, “Green Lake” yang berduet dengan Juang dari Melismatis di departemen gitar, “Cerita Ombak Hasan”, “Stand By Me” ( Oasis), “Sunday Romance” dan “Yellow Fragile Heart”, semakin menobatkan Tabasco sebagai band yang sungguh asyik dinikmati penampilannya di mata saya. Penampilan Rendy dan Ilman yang sangat konsisten menjaga tempo permainan menjadi kunci penting bagi Tabasco kedepannya.

Tabasco mengajak Juang dari Melismatis untuk tampil di lagu "Green Lake". Permainan gitar Juang semakin mempertajam liukan riff gitar "Green Lake" yang biasa dimainkan Hamka.

Tabasco mengajak Juang dari Melismatis untuk tampil di lagu “Green Lake”. Permainan gitar Juang semakin mempertajam liukan riff gitar “Green Lake” yang biasa dimainkan Hamka.

Rendy Mulandy, salah satu drummer favorit saya, dengan telaten menjaga tempo permainan Tabasco dari balik set drumnya.

Rendy Mulandy, salah satu drummer favorit saya, dengan telaten menjaga tempo permainan Tabasco dari balik set drumnya.

Menyaksikan penampilan Tabasco malam itu bagi saya seperti kilas balik melihat masa lalu perjuangan Artha menghadirkan mimpi-mimpinya malam itu. Obrolan ngalor ngidul saya dengan Artha waktu SMA tentang membuat band dan merilis albumnya ternyata kesampaian juga.  Jika boleh saya menangis pada malam itu, saya ingin menangis terharu melihat perjuangan Artha bersama koleganya di Tabasco, dalam bisa mewujudkan mimpi-mimpi serta ambisinya tanpa pernah berpikir untuk putus asa.

Hanya saja lagi-lagi disayangkan, penampilan ciamik Tabasco malam itu tidak dibarengi dengan audiens yang ramai memadati depan panggung. Terhitung para kerabat saja yang wajahnya saya kenal memadati shaf-shaf terdepan saat menyaksikan ketiga penampil Tabasco Solitary Concert. Kemungkinan hal-hal yang berkaitan dengan sepinya penonton karena publikasi dari pihak penyelenggara yang mepet. Sebaiknya jika ingin menggelar konser monumental seperti ini harus dijadwalkan publikasi selambat-lambatnya sebulan sebelum acara.

Sekali lagi, selamat untuk Tabasco telah sah merayakan Solitary secara utuh dalam konser rilisan album sebenarnya. Kesabaran dan ambisi kalian dalam mengerjakan album ini bisa terbayarkan juga. But, if you want to believe those about to rock, I salute y’all !

Salute to y'all, Tabasco!

Salute to y’all, Tabasco!


Baca artikel lainnya dari Achmad Nirwan

Semangat Anti Kemapanan yang Terus Berjalan

Membangun Tren Positif dengan Fotografi dan Musik

Banyak Jalan Menuju Kemerdekaan Bermusik

Kisah Kehidupan Sehari-hari

Berlayar dalam Lautan Barang

Bergerak Bersama Demi Musik

Prolog Untuk Semua

Tabuhan Penutup Bunyi-Bunyian di Halaman

Merayakan Usia Ke-dua dengan Cinta dan Kasih Sayang

Panggung Memukau milik Musisi Indie

Panen Hasil Bumi, Panen Kolaborasi

Menuju Kegelapan

“Konsisten Plus Nekat!”

“Musik Kontemporer itu Seperti Virus”

Membisingkan Ide dan Musik dalam Garasi

Berjuang Membangun Halusinasi Secara Nyata

Momen Istimewa untuk Rilisan Musisi Makassar

Rilisan Album Musisi Makassar untuk Record Store Day 2015

Membuka Jejak Semesta dan Rupa Pesona

Bersiasat dengan Bisnis Musik di Era Digital

Pesta dan Ska Sehari Penuh Sukacita!