Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Beberapa karyanya telah dibukukan. Ide dan imajinasinya sukses ia tuangkan dalam bentuk tulisan dan terbit di berbagai media cetak maupun elektronik. Undangan menghadiri event kepenulisan baik tingkat nasional maupun internasional pernah ia rasakan. Sayembara kepenulisan kerap ia menangkan. Hingga awal Juni lalu, namanya kemudian berada di halaman depan koran Kompas seluruh Indonesia. Gelar baru sebagai pemenang cerpen terbaik Kompas 2014 mengangkat namanya. Seluruh media lalu menyorotkan lampu ke arahnya.

Faisal Oddang, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin. Sastrawan muda yang mulai diperhitungkan goresan penanya. Sosok yang kini besar namun tetap rendah hati. Di tengah aktivitasnya yang padat, Revius berhasil mewawancarai Faisal berikut ini.

Halo Faisal! Bisa ceritakan kepada pembaca Revius, siapa sebenarnya Faisal Oddang ini?

Wah, ini tantangan untuk narsis. Oke! Saat menjawab pertanyaan ini, saya merupakan mahasiswa Sastra Indonesia semester tujuh di Unhas. Apa lagi, ya?  Saya selalu ingin membaca lebih banyak buku dari teman-teman saya, itu kebiasaan yang buruk, tapi kalau ada kebiasaan buruk yang bisa disyukuri, hal itu akan saya tempatkan di posisi pertama

Wah, Nice one! Sebelum melangkah ke pertanyaan yang lebih jauh, saya ingin meminta pendapat Faisal tentang apa sebenarnya makna passion buat Faisal sendiri.

Saya membuka kamus saat menjawab ini untuk tahu makna etimologinya, tetapi, seperti masa depan, jawabannya serba kabur. Jadi begini saja, akhir-akhir ini kegemaran saya bertambah menjadi suka bangun siang dan bermalas-malasan (maklum kuliah tinggal beberapa biji, hahaha!), jika merujuk makna kamus dan merujuk pemahaman umum, bisa saja itu passion. Tapi.., bolehkah saya tidak menjawab passion menurut saya? Nanti kebodohan saya semakin tampak dan itu mengurangi ‘kekerenan’ wawancara ini, hehehe. Boleh, kan?

Baiklah, kalau begitu sekarang saya bertanya to the point saja, apa yang menjadi “passion” Faisal sekarang?

Passion saya? Kok pertanyaannya semakin bertambah susah? Saya jujur tidak tahu jawaban untuk pertanyaan ini (kan saya tidak berpendapat soal passion di pertanyaan sebelumnya), tetapi, selain bangun kesiangan dan bermalas-malasan, saya punya hal lain yang bisa saja kamu anggap passion. Saya belakangan ini sedang belajar menjadi penulis, saya melakukannya hampir setiap hari, setiap malas ke kampus, dan setiap merasa kepala saya seperti tempat sampah yang penuh-sesak. Saya melakukan banyak usaha untuk hal itu: semakin rajin membaca, semakin rajin mengamati dan semakin rajin mengunjungi tempat-tempat baru.

Sejak kapan mulai menyukai dunia menulis?

Saya menulis sejak SMA, pertengahan 2012 kalau tidak salah. Waktu itu saya patah hati, menulis puisi lalu menempelnya di mading sekolah, dan alay-ajaib-dan-untungnya, pacar saya memberi kode balikan, sayangnya: pantang pisang berbuah dua kali, kata Buya Hamka–juga, pantang tak curhat jika saya ditanya soal ini, hehehe. Sesederhana itu awalnya.

Mungkin ini salah satu poin positif dari patah hati ya, Fai! Selanjutnya dari begitu banyak jenis dari menulis, Faisal lebih tertarik dengan apa?

Saya tidak jawab ini nah, karena saya hampir menulis semua jenis, dan menyukai semuanya.

Hahaha. Berbicara soal inspirator, adakah tokoh yang meinginspirasi Faisal dalam berkarya?

Pak Oddang Ranreng, ayah saya! Saya orang kampung dan masa kecil saya minim hiburan, hari ini saya merasa beruntung untuk hal itu. Untuk menghibur saya, Ayah selalu mengimingi cerita-cerita; entah itu karangannya sendiri, kisah I La Galigo, cerita rakyat dari Wajo, dan cerita apa pun, pokoknya cerita–dan Ayah melakukannya setiap hari dan setiap malam. Cerita-cerita itulah yang tumbuh di kepala saya dan membuahkan cerita-cerita yang saya tulis sampai hari ini. Namun, jika tokoh yang dimaksud adalah seorang penulis, jawaban saya akan lebih banyak dari yang kamu kira, dan saya pikir susah memilih dari mereka untuk menuliskannya di sini.

Kalau begitu, biarlah orang yang banyak itu terus menginspirasimu. Lalu, sebesar bagaimana tokoh ini mempengaruhi cara menulismu Faisal?

Saya selalu menganggap diri saya (sebagai penulis) adalah Rumah. Untuk ukuran besar kecilnya, susah saya ungkapkan, namun begini kira-kira menggambarkannya; jika saya Rumah, barangkali pintu dari Dorothy Parker, jendela dari Arundhati Roy, tangga dari Iwan Simatupang, lantai dari Mario Vargas Llosa, kamar dari Sapardi Djoko Damono dan bagian yang lain dari penulis lain pula. Diri saya adalah pecahan-pecahan dari diri orang lain, dan sebagaimana pecahan, hal itu tidak pernah utuh.

Kapan Faisal sadar bahwa hobi menulis Faisal ini dapat menghasilkan uang?

Cerpen saya dimuat koran lokal saat SMA, honornya memang tidak cukup untuk beli jet pribadi sama main golf bareng, tapi masih tetap uang kok, dan bukan uang rakyat. Hehehe.

Terus terus setelah mengetahui dapat menghasilkan uang, apa yang Faisal lakukan? Membeli lebih banyak buku? Atau apa?

Saya membaca rata-rata 40-70 buku pertahun sejak 2012, harga buku berkisar lima puluh ribuan, dan saya tidak hanya ingin membaca, karena itulah saya lebih memilih memiliki buku itu sendiri dibanding menjadi daftar peminjam di perpustakaan, apalagi perpustakaan di kampus saya kurang lengkap dan ah sudahlah! Jadi untuk buku-bukulah kadang hasil menulis saya alihkan, o iya, saya jarang menulis di kamar, saya lebih banyak di kedai kopi, jadi…, ya begitulah.

Masih berbicara tentang uang, bagaimana sejauh ini penghasilan Faisal menjadi seorang penulis?

Bisalah untuk menghidupi diri sebagai anak kosan hemat, semoga ke depannya bisa menghidupi siapa pun yang ingin menemani berumah tangga (catatan: siapa pun yang mendengar dan membaca ini, aminkan, ya!)

Bagaimana pendapat Faisal melihat perkembangan penulis di Makassar?

Penulis di Makassar, banyak dan semakin bertambah, komunitas-komunitas literasi begitu pula, saya senang untuk hal itu, saya merasa akan punya banyak teman dan tempat untuk belajar.

Berbicara tentang karakter kepenulisan. Apa sebenarnya yang menjadi ciri khas dari setiap karya tulisan Faisal?

Saya tidak tahu menjawab hal ini, tetapi kalau ada yang ingin tahu, bisa menilainya di sini. Sekalian promo, hahaha!

Okelah, wawancara ini bisa diselipkan beberapa promo untuk karyamu, Fai. Lalu, selama ini, apa karya Faisal yang paling membuat Faisal bangga?

Saya senang karena semua hal yang berhasil saya tulis. Tulisan-tulisan yang paling mudah saya ingat adalah novel Puya ke Puya (terbit Oktober lalu), juga cerpen Di Tubuh, Tarra dalam Rahim Pohon dan Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku. Jika ini adalah perjalanan cinta, karya-karya itu adalah mantan-mantan yang susah dilupakan.

Siapa orang yang paling mempengaruhi mu dalam berkarya? Yang selalu mendukung?

Seperti jawaban sebelumnya: Ayah dan Ibu saya. Ini barangkali jawaban ribuan anak ketika menghadapi pertanyaan yang sama, tetapi saya tidak ingin berbohong hanya untuk dianggap tidak mainstream.

Saya berharap jawabanmu adalah seseorang yang spesial haha. Lalu, ritual apa saja yang biasa Faisal lakukan jika ingin menggali ide untuk berkarya?

Jika ada hal yang menganggu kepala saya, atau sebutlah ide, saya suka melakukan perjalanan sendiri, nongkrong di kedai kopi berjam-jam dan sendiri, menonton dan bahkan berkendaraan keliling Makassar juga sendiri, dengan hal-hal seperti itu ide saya bisa lebih matang meski tidak selalu saya lakukan. Ketika ide saya pikir sudah matang, saya akan memanggil atau mendatangi teman-teman saya untuk mendiskusikan sebelum menuliskannya. Ribet! Saran saya; kalau ada ide, tulis saja! Hahaha…

Ternyata kesendirianmu membawamu lebih produktif ya! Selama ini, pernah merasa jenuh menjadi penulis?

Pernah!

Sebagai penulis yang telah memiliki banyak fans, (saya bisa melihat dari medsosmu!). Ada pengalaman paling berkesan dalam berhadapan dengan pembaca?

Pembaca itu beragam dan semua ragam itu menyenangkan, saya pernah berhadapan dengan pembaca yang memaksa saya mengakui kisah-kisah yang saya tulis adalah kisah nyata saya, itu menggelikan karena saya menulis tentang banyak hal: LGBT, penyakit seksual, dan banyak pokoknya, betapa lengkapnya hidup saya jika semua hal itu adalah saya yang sebenar-benarnya.

Berhadapan dengan orang yang ingin buku gratis tentu pernah. Bagaimana cara Faisal meyakinkan orang bahwa setiap karya harus dihargai?

Kalau saya memang punya stok buku untuk dibagikan, pasti saya beri, namun jika tidak saya kadang bercanda dengan wah, saya penulisji kodong, bukan penjual buku, minta ke tokonya mi nah. Hahaha.

Bisa tunjukkan tulisan Faisal yang paling favorit? Kenapa?

Saya lupa membuat daftar untuk hal ini, nanti ya, kalau sudah ada.

Oke ditunggu! Kalau perlu tulisan favoritnya bisa dijadikan tulisan di Revius! Hehehe. Kemudian, lima Tahun mendatang, akan jadi seperi apa seorang Faisal Oddang? Adakah target entah itu proyek atau karya yang ingin Faisal capai?

Saya ingin punya perpustakaan pribadi yang semua bukunya pernah saya baca. Saya ingin membaca seribu buku sebelum usia saya tiga puluh tahun, saat menjawab ini, saya dua puluh satu, masih ada sembilan tahun, jadi perntanyaannya boleh diganti jadi ‘target sembilan tahun ke depannya?’

Wah, saya doakan agar impian seribu buku sebelum usia 30 tahun mu terwujud. Ohya, selain memperdalam ilmu dengan buku, jangan lupa untuk mencari pasangan hidup di umur 30 juga Fai! Hahaha. Sukses selalu!

Sama-sama, Revius!


Baca Kisah The Awesomer lainnya

Merayakan Berkah dan Kebahagiaan

Merajut Inspirasi Berkarya Sajama Cut

Di Balik Beranda Banda Neira

Melanjutkan Perjalanan untuk Kisah Langit yang Tersanggah

Panggung Menjadi Ruang-Ruang Kebebasan

Konsisten Plus Nekat!

Saya Suka Karya-Karya Sapardi

Kelelawar Menjadi Inspirasi Saya

Siapkan Mentalmu dalam Bermusik!