Teks: Kemal Putra | Foto: Tim Media MIWF 2017

Mei memang istimewa bagi Makassar. Begitu Lily Yulianti Farid membuka Konferensi Pers Makassar International Writers 2017. Bukan tanpa alasan, perempuan yang menjadi direktur MIWF tersebut menyebut bulan reformasi ini spesial bagi Makassar. Kampung Literasi yang diluncurkan 7 Mei lalu, oleh Katakerja dan Kedai Buku Jenny di kawasan wesabbe, ada Pesta Pendidikan, dan juga Makassar International Writers yang hari ini, 17 Mei 2017, resmi dibuka.

Selain beragam acara literasi yang membuat bulan ini menjadi spesial, program-program yang diadakan MIWF edisi ketujuh ini juga berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari menyulap kawasan Fort Rotterdam menjadi tiga taman, berbagai Masterclass, hingga tema yang diusung MIWF kali ini.

Revius, mencoba menggali lagi pesan apa yang coba disampaikan MIWF kali ini. Berikut obrolan Kemal Putra bersama Lily Yulianti Farid:

Tahun ini, MIWF datang dengan tema Diversity dan juga ingin bercerita mengenai Bissu. Bisakah Kak Ly ceritakan dari mana datangnya kedua ide yang sangat menarik ini?

Dari baca. Kalau mau jadi programmer festival itu kita harus jadi pengamat. Jadi kita mengamati, kita baca berita banyak. Kita mengikuti perkembangan. Tema tahun lalu misalnya, Baca, satu kata dan langsung menghentak. Banyak orang yang langsung baca, baca. Nah, itu tantangannya tahun ini harus ada satu kata lagi yang kuat untuk merefleksikan kegelisahan orang-orang yang terlibat di balik festival ini. Karena yang membedakan festival penulis dengan festival musik atau festival fashion, misalnya, adalah penulis itu orang yang gelisah, pasti menggelisahkan banyak hal. Jadi, festival penulis itu adalah festival orang-orang yang gelisah. Berkumpulnya orang-orang yang kegelisahannya sudah berbentuk karya tulis, buku yang diterbitkan, dan juga bentuk ekspesi lainnya. Kenapa diversity atau keragaman? Karena saya melihat atau desakan yang penting sekali atau yang terasa besar sekali untuk membicarakan ini dan membuka ruang ini. Jadi ide awalnya itu sudah ada seperti terbayang. Tahun lalu begitu MIWF 2016 selesai, kan biasanya kita cuma cooling down seminggu, setelah itu saya mulai berpikir lagi apa nih. Nah, sambil berpikir tentang apa, saya menulis proposal ikut di Hibah Kelola, hibah Cipta Perdamaian, lihat benang merahnya di situ, kemudian dikembanglah dari situ. Kemudian banyak peristiwa politik yang menjadi persoalan sosial kemasyarakatan yang besar di mana rasa-rasanya ada satu kelompok yang dominan yang kemudian seperti ingin memaksakan ideologinya, kepercayaannya, cara pandanganya kepada kelompok minoritas lainnya, nah makanya ini penting sekali untuk diangkat.

MIWF sekarang hadir dengan format baru, jika selama ini dlakukan Cuma selama 4 hari, kita berlangsung selama 9 hari. Bisa ceritakan format baru ini?

Ya, mungkin karena secara personal saya orangnya suka tantangan, jadi untuk melepaskan diri saya dari rutinitas, misalkan tiap tahun yah bikin ini lagi, ini lagi, yang sudah ada formatnya. Jadi saya coba bicara dengan tim, mau tidak bikin yang lebih panjang, karena ada beberapa kampanye dan program Rumata’ yang bisa diselaraskan dengan MIWF sebagai magnet utamanya. MIWF sendiri kan peristiwa literasi, intelektual, kebudayaan yang sudah memiliki citra yang kuat sekali. Nah, sekarang sebagai salah satu acara dari Rumata’ yang paling kuat citranya, yah, harus menjadi payung bagi kampanye-kampanye lain yang dikerjakan oleh Rumata’. Nah, Rumata’ pernah mengagas sebuah acara namanya MaRI Piknik kerjasama dengan sebuah mall di Makassar, kita pinjam plaza depannya, terus kita buat pop up Piknik Park, ternyata diuska orang, bisa nyaman, tapi gratis. Nggak mesti masuk ke dalam mall-nya belanja, di situ saja duduk-duduk, jadi bisa piknik dengan baik. Nah, tahun ini kita ingin hadir lagi dengan itu setelah tiga tahun, nah makanya dibuatlah Ke Taman. Nah, ketika harinya jadi lebih panjang, nah otomatis kan standar kerja kita jadi lebih tinggi. Ekspektasi kita jadi lebih tinggi, energi yang harus kita persiapkan juga lebih besar, resource yang kita kerahkan dan pekerjakan juga harus lebih besar. Istilahnya dua kali lipat karena ini kan dari 4 hari jadi 9 hari. Dulu, awalnya ketika saya bicara ke Ita Ibnu, festival manajer, dia bilang “Gila, Kak Ly, terlalu lama.” Coba hitung dulu secara budget dan kemampuan, dan ternyata itu memberikan energi baru, dan bisa membuat rantai rutinitas setelah 6 kali menggelar festival-4-hari, itu membuat kita segar semua, bersemangat. Membayangkannya saja  sudah bikin semangat. Jadi kita tidak bisa memandang enteng, ah ini gampang Cuma 4 hari. Justru karena semangatnya yang baru, konsepnya yang baru,  gairahnya jadi benar-benar terpompa lagi. Nah konsepnya, ketika kami menawarkan bahwa kami nanti di Benteng Rotterdam totalnya 9 hari, nah ternyata banyak orang yang datang dengan ide-idenya yang bisa disinergikan. Misalkan teman-teman dari kalangan musik, film, kuliner, social enterpreunership. Nah, ternyata dengan 8 hari plus sehari mini konser ini, ruang buat berkreasi lebih besar. Tantangannya pasti lebih banyak dan cari sponsornya ternyata bagi saya lebih enak presentasinya ke potensial sponsor, karena saya bilang “kita akan bikin acara 9 hari” Jadi bayangkan kalo misalnya  Kemal ini seorang pengusaha yang punya barang yang ingin dipromosikan di MIWF. Dulu saya bilang nanti kita pasang promosinya 4 hari selama festival, yang datang 8 ribu orang tahun lalu. Kemarin saya presentasi ke beberapa potensial sponsor, saya bilang “ini akan Sembilan hari dan pasti yang datang 20 ribu lebih.” Itu lebih gampang ngomong, semangat kita juga jadi lebih tinggi. Jadi, kita mencoba meningkatkan standar kerja kita dengan membuka lebih lama. Jadi menantang diri sendiri sebenarnya.

Setiap tahun MIWF selalu hadir dengan tema-tema berbeda yang sepertinya disesuaikan dengan apa yang kota ini butuhkan, tahun lalu misalkan, tema BACA adalah untuk mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya membaca sastra, lalu tahun ini Diveristy. Seperti apa kaitan antara Sastra dan Diversity menurut Kak Ly?

Kaitan Diversity dengan sastra sangat erat. Karena biasanya sastra yang menjadi perhatian utama di dunia itu yang sebenarnya menantang narasi tunggal. Jadi dia adalah suara orang biasa, itu kan semua adalah muara dari keinginan agar kita menghargai keragaman. Misalnya, taruhlah kalau kita melihat kembali kenapa Pramoedya sampai hari ini masih relevan untuk dibicarakan, karyanya bukan cuma dibaca tapi diinterpretasi karena kita kan bisa belajar bahwa di situ ada semangat perlawanan dan keinginan untuk mengedepankan sisi kemanusiaan. Jadi nilai-nilai seperti jujur, berani, percaya pada pilihan sendiri, itu kan terkait dengan tema keragaman. Nah, kalo misalnya juga melihat karya-karya sastra yang kontemporer, misalnya dari Indonesia Timur, kita melihat bahwa  dari segi tema, gaya pengungkapan penulis-penulis muda yang muncul yang menarik perhatian itu terasa sekali bahwa mereka berkontribusi memberi keeping-keping Indonesia yang beragam ini. Cerita atau puisi dari Nusa Tenggara, kemudian dari Sulawesi sendiri. Jadi dia tidak hanya didominasi oleh persoalan-persoalan urban yang sangat jakartasentris. Ada karya sastra yang ditulis oleh penulis-penulis muda sekarang yang mengangkat persoalan di daerahnya dan menggunakan ungkapan dan ekspresi yang mewakili nilai-nilai lokalnya; bahasa daerah yang dipakai, terminology, persoalan-persoalan yang khas dari tempat itu sendiri. Nah, itu kan sudah pasti tentang keragaman. Karya sastra dan karya seni lainnya seperti film yang kemudian menjadikan peristiwa suatu konflik, seperti konflik di Ambon, konflik antara pribumi dan non pribumi yang terjadi di Makassar itu ada yang tercermin di dalam karya-karya teman-teman di sini, jadi kelihatan sekali emang bahwa diversity itu atau perbedaan yang dipicu oleh konflik adalah salah satu sumber bagi penulis entah itu karya sastra klasik yang masih bisa kita baca sampai hari ini atau karya sastra dari penulis muda seperti Erni Alajai dalam tulisannya berjudul Kei yang kental sekali tentang konflik di Maluku. Lalu keragaman juga bisa kita lihat yang menjadi inspirasi dari karya-karya Faisal Oddang.

Lily Yulianti Farid bersama Riri Riza dan Salman Aristo memberikan keterangan saat Konferensi Pers MIWF 2017

Telah bertahan selama 7 tahun MIWF mungkin patut berbangga karena menjadi satu-satunya festival bertaraf internasional yang sanggup bertahan selama ini di Makassar. Apa sebenarnya tantangan membesarkan dan mempertahankan festival seperti ini?

Tantangannya banyak. Salah satunya adalah kita harus menentukan pola kerjanya dulu. Pertama, dia harus ada rainforce, dalam hal ini harus ada orang seperti saya yang mau menceburkan diri memikirkan ini setiap hari dan ini tidak ada hentinya karena begitu festival ini selesai, tahun ini saya harus bekerja lagi memikirkan tahun depan ada apa lagi, temanya apa lagi, itu harus sudah dipikirkan. Tapi sekarang termasuk beruntung karena saya bertemu dengan orang-orang yang punya semangat kerja dan punya pandangan dan visi yang sama bahwa kita semua ini masyarakat biasa tapi dalam beberapa hal kita beruntung karena kita bisa belajar dan punya wawasan, punya kemampuan, punya keahlian di bidang-bidang tertentu, punya jaringan dan kalau kita masyarakat biasa ini bekerjasama kemudian membangun sebuah pola kerja yang disepakati bersama, kita bisa bertahan. Dan ini yang kita banggakan, kita independen, kita punya nilai yang kita jaga dengan hati-hati dan kita juga sangat bangga dengan modal kerja lintas generasi. Jadi ada anak-anak muda yang terus berdatangan, bahkan ada yang lebih dewasa lagi, umur 30-an. Mereka berdatangan dan mereka terus ada dalam lingkaran sahabat serta relawan bagi festival ini. saya kira itu syaratnya untuk panjang. Dan yang paling penting membuat orang yang terlibat itu merasa bahwa merasa memiliki festival ini. jadi festival ini bukan hanya milik saya atau Ita atau Rumata’, tapi dia milik banyak orang. Kita membuka banyak ruang untuk menerima masukan dan kritikan, mengajak orang dan membuka ruang untuk membicarakan apalagi yang bisa kita kerjakan untuk tahun depan. Saya juga banyak belajar bahwa mengerjakan sebuah festival seperti ini mengasah kematangan kita sebagai manusia. Saya tidak bisa muncul dengan satu tema jika saya tidak membaca, tidak menjadi pengamat, menghabiskan waktu untuk melakukan riset. Begitu juga Ita. Ita tidak akan mungkin bisa menjadi manajer festival yang efisien kalau dia tidak terus melatih dirinya dengan banyak sekali kemampuan administrasi keuangan, networking, dan komunikasi yang panjang. Hal lain yang membuat kita bertahan karena kita dari awal selalu mengutamakan transfer pengetahuan. Jadi kita selalu ingin memberi apa yang kita punya. Kita ingin membagi pengetahuan kita kepada tim kerja yang datang belakangan. Seperti sekarang yang telah masuk tahun ke-7. Saya merasa lebih ringan. Karena tugas saya bisa melobi, menyusun hal-jhal yang bersifat strategis untuk festival ini. sementara hal-hal yang bersifat produksi dan administrasi, sudah ada tim yang menerjemahkan idenya, sudah ada tim yang mewujudkan konsep, yang sudah saya kirim sebelumnya. Dan ini berlaku dimana-mana. Mesti ada grand-nya, mesti ada orang-orang yang terlibat yang ketika datang mereka merasa bukan untuk menjadi bawahan. Karena kita bukan perusahaan. Kita mau semua orang harus nyaman bekerja dengan kita. Karena mereka datang ke sini tanpa dibayar. Paling tidak mereka ke sini mendapatkan capacity building yang istimewa dan mungkin susah didapatkan di tempat lain.

Telah bertahan selama 7 tahun MIWF mungkin patut berbangga karena menjadi satu-satunya festival bertaraf internasional yang sanggup bertahan selama ini di Makassar. Apa sebenarnya tantangan membesarkan dan mempertahankan festival seperti ini?

Dengan pemerintah nasional kita bekerja sama. Misalnya katakerja sedang bekerjasama dengan diknas menyelenggarakan Kampung Literasi. Kita juga sedang berkerjasama dengan diknas untuk diplomasi budaya dan sebagai sponsor. Kami tidak bekerjasama dengan pemerintah kota dan pemerintah provinsi. Alasannya kami ingin membuktikan bahwa kita bisa memberi satu contoh yang baik bahwa sebuah peristiwa kebudayaan yang dikerjakan dengan serius tanpa perlu dukungan pemerintah setempat itu bisa hadir. Karena ini masyarakat berkumpul untuk memenuhi kebutuhan intelektualnya sendiri. Selain itu sekarang ini berbagai hal bisa dikaitkan dengan politik dan saya tidak ingin terlihat di situ. Dan yang kedua, yang kita butuhkan sebenarnya dari pemerintah adalah melihat. Ketika ada kelompok-kelompok masyarakat yang mengupayakan sendiri kebutuhan intelektual dan kebutuhan literasi, itu sudah menjadi kritikan tajam, dan kalau mereka peka, mereka sudah harus merespon. Dalam hal ini wali kota atau gubernur. Tapi kita kan belum pernah mendengar ada keseriusan untuk hal-hal seperti itu. Yah, paling kata mendukung atau memberikan jargon-jargon. Dan yang paling saya tidak suka adalah, mengapa peristiwa kesenian dan kebudayaan harus ditempeli wajah wali kota di banner-nya. Bukan dia kan yang harus kita lihat? Bukan pesan itu kan yang disampaikan? Dan yang sangat prinsipil menurut saya, katanya ini kota dunia. Tapi tata kelola pemerintah sampai ke masyarakat tidak transparan seperti yang kita harapkan. Contohnya di Jogja, dinas setempatnya ketika bekerjasama dengan film maker untuk membuat suatu acara itu sudah seperti di luar negeri, kegiatan mereka suda terpasang di website pemerintah bahwa ada open call for participant, ada deadline-nya, ada tata laksananya, ada syaratnya. Jadi diumumkan semuanya. Nah, kita belum pernah melihat seperti itu ada yang dikerjakan oleh pemerintah kota di Makassar. Harusnya kan itu sudah dilakukan oleh sebuah kota dunia. Segalanya dilakukan serba terbuka, sehingga ajakan untuk berpartisipasi dalam sebuah kegiatan yang didukung oleh pemerintah kota bukan hanya bisa terwujud kalau ada orang dari pelaksana itu yang dekat atau menjadi bagaian dari lingkaran si penguasa. Saya kira saya tidak ingin menjadi bagian dari hal-hal seperti itu. Misalnya ada ungkapan “Okh tauwah karena dia dekat dengan penguasan makanya dia dibantu”. Itu kan tidak bisa memberi kontribusi apa-apa pada terbangunnya sebuah system yang lebih transparan. Kan pemerintah punya kalender kegiatan setiap tahun, tapi kenapa tidak ada open call for participant di website-nya, untuk pemusik atau pembuat film, misalnya. Bukannya saya tidak pernah dibantu, kita pernah dibantu oleh pemerintah kota, tapi saya pikir setelah beberapa tahun berjalan saya ingin mencoba suatu hal yang membanggakan bagi orang-orang yang terlibat di event ini. saya tidak ingin ada omongan “oh acaranya lily berjalan karena dibantu oleh orang-orang pemkot”. Itu kan tidak memberikan citra/contoh yang baik. Dampaknya kita memang harus bekerja lebih keras untuk mencari sponsor. Saya ingin berbagi pengalaman, bahwa sebagaian besar dan dan sponsor yang saya dapat untuk festival ini itu semua lewat sistem yang transparan. Pertama kita melamar grand. Jadi di website setiap grand itu ada petunjuk, ada syarat-syarat untuk melamar agar lolos seleksi. Kalau kita lolos kita dapat grand. Kalau tidak ya tak apa. Kita bisa coba lagi di tahun berikutnya. Kemudian untuk bekerjasama dengan lembaga-lembaga asing yanga da kantornya di Jakarta, kami sudah melakukan pendekatan dan presentasi sejak tahun lalu. Jadi semua transparan. Dan proses-proses seperti ini selalu saya informasikan ke tim kerja agar nanti jika mereka punya kegiatan juga, punya inisiatif juga, mereka sudah punya contoh pola kerja yang sehat dan transparan, dan mendorong jiwa kompetisi mereka. Kalau mereka melihat contoh pola kerja yang berbeda, berdasarkan kedekatan atau nepotisme, itu bukan contoh pembelajaran yang baik. Jadi ada tanggung jawab yang besar bagi saya untuk menunjukan satu model kerja yang sehat dan membanggakan.