Selalu menarik untuk melihat hubungan dua Negara yang dipadukan ke dalam medium bernama film. Dari tampilan alam, budaya, hingga aktivitas-aktivitas manusia di dalamnya yang berbeda maupun yang memiliki kemiripan.

Apalagi, jika itu berbicara tentang Negara bernama Australia dan hubungannya dengan Indonesia, lebih khusus lagi, Sulawesi Selatan.

Kedekatan Australia dan Sulawesi Selatan akan membawa kita ke sejarah yang jauh. Para pelaut Makassar yang mencari Teripang ke negeri marege. Satu kisah yang terekam dan diwariskan lewat saling pengaruh di antara keduanya, entah itu bahasa, lagu, maupun tarian.

Keterkaitan antara Australia dan Sulawesi Selatan, juga terekam dalam film Melawan Takdir. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata seorang anak yang berasal dari salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan. Bercerita tentang perjuangan hidup lewat pendidikan dan membawanya hingga ke Negeri Kanguru lalu kembali mengabdi di Tanah Kelahirannya.

Film tersebut akan membuka Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI 2018) yang kembali hadir di Kota Makassar (XXI Trans Studio), 27-28 Januari 2018. Selain di Makassar, FSAI 2018 juga akan digelar secara serentak di sejumlah kota besar di Indonesia: Jakarta, Surabaya, dan Denpasar.

 

 

“Ini kali kedua kami menyelenggarakan FSAI di Makassar dan senang bisa mendukung karya Alumni Australia, apalagi yang dari Indonesia Timur, sekaligus menampilkan film-film ternama dari Australia,” kata Konsul Jenderal Australia untuk Indonesia Timur, Richard Mathews, dalam siaran media yang diedarkan panitia.

Selain Melawan Takdir, film-film yang akan hadir di FSAI adalah Marlina the Murderer in Four Acts, karya Mouly Surya. Sedangkan, untuk film-film karya Sineas Australia akan hadir Dance Academy yang bercerita tentang kehidupan penari, Red Dog: True Blue yang menampilkan kehidupan pedesaan, Rip Tide yang bercerita tentang peselancar perempuan, dan drama komedi yang bercerita tentang seorang pria Muslim Australia, Ali’s Wedding.

FSAI 2018 juga menggelar kompetisi film pendek untuk sineas muda Indonesia. Enam film yang lolos sebagai finalis turut ditayangkan di FSAI kali ini. Ada Amak (Ibu) asal Padangpanjang, The Last Day of School dari Solo, The Letter dari Yogyakarta, Rep-Repan dari Bekasi, Pranata Mangsa dari Yogyakarta dan Tuwaga dari Tangerang.

Keenam Finalis tersebut adalah hasil seleksi dari Dewan Juri yang telah menilai berbagai karya sineas muda Indonesia, dan pemenangnya akan berkesempatan untuk ikut Melbourne International Film Festival, tahun ini.

Namun, bukan itu saja, hal berbeda dan cukup unik dari kompetisi film pendek ini adalah penonton bisa ikut berpartisipasi untuk menilai Film pilihan mereka. Melalui People Choice Prize Di FSAI 2018, para penonton berhak turut menentukan Film favorit mereka lewat voting. Satu mekanisme yang menjadikan FSAI 2018 sebagai festival film yang terasa akrab dan penuh apresiasi. Sebagai pelengkap, Film pendek pemenang FSAI tahun lalu, Nunggu Teka, juga akan ditayangkan.

Melihat keragaman jenis dan latar belakang cerita dari film-film yang hadir di Festival Sinema Australia-Indonesia tahun ini, tentu sangat disayangkan jika sampai terlewatkan. Apalagi, FSAI 2018 bisa dinikmati secara gratis.

________

Dapatkan tiket FSAI 2018 di sini: https://www.eventbrite.com.au/o/festival-sinema-australia-indonesia-2018-12273348224