Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Di tahun 2016 ini, Filastine yang merupakan duo yang terdiri dari composer/director Grey Filastine dan vocalist/designer Nova Ruth, merancang tur panjang di kawasan Indonesia, Amerika Serikat dan Eropa mulai bulan Februari hingga Desember 2016. Salah satu tempat turnya tersebut adalah Katakerja di Makassar pada 12 Maret 2016 lalu. Achmad Nirwan berhasil mewawancarai Grey dan Nova Ruth selepas penampilan mereka di Katakerja malam itu.

Jadi, ini kali pertama kalian ke Makassar? Kenapa memilih untuk konser di kota ini?

Nova Ruth (N) : Ya, buat saya ini adalah kali pertama saya ke Makassar.

Grey Filastine (G) : Ini adalah kesempatan yang baik (di Makassar). Kami baru saja menghabiskan satu minggu di pulau Banggai, di atas kapal phinisi, berkolaborasi dengan musisi-musisi lain, mengangkat isu tentang pembersihan lautan dari sampah plastik. Selama berada di lautan kami memproduksi dan merekam musik kami, singgah di banyak perkampungan untuk melakukan pertunjukan, termasuk mempertontonkan video The Miner pada anak-anak kecil setempat.

Arti sebenarnya dari Filastine itu apa menurut kalian?

(N) : Filastine itu sebenarnya Palestina dalam bahasa Inggris. Dalam kitab lama Injil, Filastine berarti “mereka yang tidak mau percaya.” Di Amerika, orang bertanya “are you filastine?” pada mereka yang dianggap barbar. Lebih ke arah itu konsep nama Filastine bagi kami. So we take that name because we don’t like the system. Jadi secara musikal, we bring our music out of the system.

Apakah kalian menganggap diri sebagai aktivis?

(N) : Terlalu banyak yang suka mendengar istilah itu, jadi ya, anggap saja seperti itu. Kami peduli dengan lingkungan. Lingkungan yang dimaksud bukan hanya sekedar wacana belaka, namun beserta dampak-dampak yang diakibatkan oleh globalisasi. Pengalaman pribadi dari perspektif atau kacamata barat dan timur. Karya kami lebih ke arah enviromental justice lewat sudut pandang “kau dan aku”, dua perspektif. Dari bangsa yang paling banyak memproduksi dan dari bangsa yang paling banyak memproduksi.

Kalau harus mempunyai tagline yang bisa menyimpulkan seluruh pesan dari lagu-lagu Filastine dalam satu kalimat, akan seperti apa kalimatnya?

(N) : Waduh, mungkin tidak ada tagline yang cukup cantik untuk merepresentasikan kami sebagai musisi yang menyuarakan pesan anti globalisasi.

(G) : Menurut saya, ini adalah sesuatu yang kami lepaskan pada media. Biarlah para jurnalis yang menyimpulkan. Namun pada dasarnya, proyek musik ini terdiri dari elemen-elemen yang bersifat multimedia: Video-video, pesan-pesan, yang dipertunjukkan secara langsung. Live performance. Dan musik adalah pilar utama kami.

Apa persisnya genre musik kalian?

(N) : Audiovisual positive message electronic music (tertawa). Sebagian orang menyebut musik kami intelligent electronic music, dan masih banyak lagi sebutan lain untuk musik yang kami mainkan. Dan kami biarkan saja mereka mau menganggap kami masuk dalam kategori apa. Karena memang idealnya bukan kami yang memberi nama atau mengelasifikasi musik kami. Para pendengar lah yang paling berhak untuk itu.

(G) : Saat kami mengunjungi Eropa, orang-orang di sana mengategorikan kami ke dalam genre World Music. Mungkin karena aura ketimuran dari musik kami terdengar eksotis bagi mereka di sana. Namun di sini, tentu saja aura ketimuran itu terdengar biasa saja. Yang dominan bagi telinga kalian di sini adalah aura elektronikanya. Jadi sederhananya, sebut saja kami ini bermain musik elektronik dengan aksen lokal.

Bagaimana rupa-rupa reaksi mereka yang menonton Filastine, dari berbagai tempat yang pernah kalian datangi di sekujur bumi ini?

(N) : Tentu saja reaksi mereka yang menyaksikan penampilan kami beraneka ragam. Contoh: Waktu di Prancis, beberapa orang mendatangi saya di backstage, mengatakan kalau mereka tidak begitu mengerti pesan dari musik kami kalau hanya didengarkan lewat CD, karena itu mereka merasa harus datang ke pertunjukan kami dan menyaksikan langsung performance kami untuk bisa lebih mendalami dan memahami. Lalu di Calais, masih di Prancis, kami pernah manggung di kamp imigran yang mereka sebut “The Jungle”, di hadapan sekitar dua ratus ribu orang. Dan sekitar 90% dari mereka hanya melongo. Karena musik dan penampilan kami menurut mereka sangat asing namun di saat yang sama juga sangat akrab terasa. Di Malang, sampai ada yang memaki, entah kenapa. Namun itulah, beda lokasi beda pula reaksi.

Nova, anda banyak menggunakan bahasa Jawa dalam bernyanyi. Apakah pernah mengganti liriknya ke dalam bahasa lain ketika Filastine melakukan pertunjukan di tempat-tempat yang yang mungkin audiens di sana tidak akrab dengan bahasa lirik anda?

(N) : Sama sekali tidak. Karena bernyanyi adalah sesuatu yang datang dari hati.

Tur yang kalian lakukan biasanya ada yang gratis, ada yang dibayar. Bagaimana cara kalian bisa mengadakan tur dan membiayai akomodasinya?

(G) : USA, Eropa, Jepang, Australia, adalah tempat-tempat dimana kami dibayar. Indonesia, Mesir, dan beberapa tempat lainnya tidak begitu. Akan selalu ada event yang mau membayar. Dan akan selalu ada event yang kita tidak merasa perlu untuk dibayar. Memang sulit mencari jalan tengahnya agar semua tetap seimbang dan berjalan. Namun sejauh ini, kami masih bisa mengaturnya.

(N) : Kami juga memiliki kebijakan dalam menjalankan tur. Apabila ada dua tawaran untuk melakukan konser di dua tempat yang berbeda di waktu yang relatif berdekata, kami hanya memilih satu saja. Tidak semuanya kami hajar begitu saja, walaupun sebenarnya secara jadwal itu bisa diatur. Karena setiap penerbangan menghasilkan polusi yang luar biasa dampaknya bagi udara. Setiap kami melakukan perjalanan udara dari satu tempat ke tempat lainnya, setiap itu pula kami merasa mencederai alam ini. Karena itulah kami tidak mau menambah rasa bersalah yang sudah membebani batin kami dengan melakukan terlalu banyak penerbangan, walaupun itu atas nama penyebaran pesan-pesan tentang menjaga keseimbangan alam.

(G) : Satu hal lagi. Sepanjang umur Filastine, kami sudah mengambil begitu banyak influence dari beragam tempat di dunia. Musik-musik dari Indonesia, Amerika Latin, adalah sebagian dari mereka yang kami jadikan sebagai jiwa untuk musik Filastine. Begitu juga dari aspek visual, begitu banyak video kami yang mengambil sumber gambar dari tempat-tempat tersebut. Banyak kultur yang menjadi inspirasi untuk proses kreatif Filastine. Membalas semua kebaikan itu adalah sesuatu yang esensial bagi kami. Jadi sangat masuk akal bila kami tidak meminta bayaran pada mereka yang telah sangat baik dan berjasa menjadi bahan inspirasi kami.

Technically, bagaimana cara kalian mengomposisi lagu?

(N) : Making a song is very, very hard to us. We think too much. Jika inspirasinya tidak keluar, maka tidak satu kata pun yang bisa saya tulis. Pengaruh lingkungan dan atmosfer di sekitar kami juga sangat penting bagi proses kreatif kami. So, one song can take a long time to write and compose. Dan bagi kami, lagu yang baik adalah yang organik. Sekarang kita hidup di zaman di mana semua serba gampang dan artifisial. Orang-orang menggubah lagu seperti memasak mie instan. Cepat dimasak, cepat ditelan, dan cepat dilupakan. We want to make songs people can remember for a long time.

Ada website tertentu di dunia maya yang bisa direkomendasikan bagi kami dan pembaca untuk mencari inspirasi musik?

(N) : Sekarang saya sering berkelana di http://radiooooo.com/ karena yang menurut saya unik adalah di website itu kategori musik dibagi berdasarkan era dan bangsa. I always choose from 50’s, 60’s music and pick Turkey, India and that kind of countries, Indonesia as well. So I listen to old music now, almost never listen to new music. A lot of old music and also acoustic music session like Tiny Desk Concert NPR.

(G) : Untuk saat ini, I heard nothing except jaipong and seruling Sunda.

Terima kasih banyak untuk begitu banyak informasi yang bermanfaat, Filastine.

N.B.: Simak artikel Metafora Protes atas Rasa Kemanusiaan tentang pembuatan videoklip The Miner dari Filastine yang resmi dirilis hari ini. Penulis berterima kasih pula untuk Hafsani H. Latief, Mega Irawan, dan Fami Redwan atas bantuannya selama pengerjaan artikel wawancara ini.

Ilustrasi di atas berdasarkan foto dari Miguel Edwards