Sumber Gambar: Universal Pictures 

Ini sebuah kisah tentang seorang wanita muda yang tumbuh tanpa memiliki panutan untuk menjadi pasangan yang baik. Amy Townsend, seorang penulis kolom di sebuah majalah lifestyle di mana boss-nya akan mengingatkanmu dengan peran Meryl Streep di film Devil Wears Prada. Amy tumbuh dengan percaya bahwa monogamy isn’t realistic.

Ayahnya menanamkan ide tersebut di kepalanya dan saudarinya, Kim Townsend, ketika ayah dan ibu mereka bercerai. Saat tumbuh dewasa, Kim sadar bahwa ia tidak begitu mengagumi ayahnya. Ia memutuskan pergi dari rumah kala masih muda, lalu menikahi seorang duda beranak satu dan berakhir menjadi seorang ibu dengan cinta tanpa batas untuk suami dan putra tirinya. Bedanya, Amy tumbuh menjadi pecinta alkohol yang begitu peduli dengan ayahnya, mengadopsi cara pikirnya, walau kadang-kadang juga memprotesnya.

Amy yang juga diperankan Amy Schumer, merupakan wartawan majalah pria.

Amy yang juga diperankan Amy Schumer, merupakan seorang penulis kolom di sebuah majalah lifestyle.

Ini kemudian yang menggiring Amy untuk percaya bahwa tak ada yang namanya the one, sama seperti ayahnya yang gagal menemukan the love of his life. Yang bisa Amy lakukan hanyalah hubungan one night stand dengan berbagai macam pria. But we cannot control love, right? Suatu hari Amy ditugasi oleh majalahnya untuk mewawancarai seorang dokter yang kerap menangani kasus atlet yang cedera, bernama Aaron Conners. Pertemuan ini menggiring mereka ke sebuah hubungan yang memabukkan tanpa kepastian.

Trainwreck bisa jadi komedi terbaik yang saya tonton tahun ini. Ibarat makanan, it’s filled with nutritions. Ada banyak hal yang bisa membuatmu tertawa, karena memang itu tujuannya, sebanyak hal yang mampu menggelitik pola pikirmu atau memberimu pandangan baru. Yang mengejutkan adalah, ini jenis komedi yang mampu membuatmu sedih, atau ke tahap yang paling ekstrim, menangis. Dalam perjalanan memotret kisah asmara Amy yang saya rasa tak perlu banyak saya jelaskan di sini, sang sutradara, Judd Apatow tidak lupa untuk singgah memotret hubungan Amy dan ayahnya. Parenting sepertinya memang selalu jadi isu favorit Apatow, dengan isu ini, dia tahu benar bagaimana mengomedikan sebuah cerita dengan sentuhan sentimental.

Pertemuan Amy dengan sang dokter Aaron Corners (Bill Hader), malah menggiringnya ke hubungan memabukkan tanpa kepastian.

Pertemuan Amy dengan sang dokter Aaron Corners (Bill Hader), malah menggiringnya ke hubungan memabukkan tanpa kepastian.

Hubungan Amy dan ayahnya bukanlah sebuah hubungan yang begitu manis, mereka seperti terjebak satu sama lain secara sukarela tak peduli betapa saling mengeluhkannya mereka berdua. Amy mungkin kerap gagal menjalin hubungan asmara, tapi bersama ayahnya, itu adalah komitmen terbesar dan paling menyentuh yang bisa ia pertahankan.

Sebagian film menjadikan konflik sebagai kekuatan terbesarnya, sebagian lagi menjadikan karakter utamanya sebagai kekuatan terbesarnya. Trainwreck adalah jenis kedua, menjadikan karakter Amy adalah sebagai sumbu cerita, segalanya berputar mengelilinginya. Amy Schumer, penulis sekaligus pemain utama di film ini juga merupakan stand-up comedian. Saya belum pernah menyaksikan satu pun show-nya, tapi bagi Amerika kini, dia salah satu stand-up comedian paling fenomenal. Pengalamannya jelas sangat membantu dalam menulis cerita dan karakternya sendiri. Schumer bukanlah gadis impian kaum Adam–tough luck, guys!–, well, akui saja dia sedikit gemuk, tapi betapa beruntung bahwa script-nya ditangani sutradara yang tepat. Apatow juga merupakan salah satu dari sedikit director komedi yang menjunjung tinggi kesetaraan gender.

Amy sempat menjalin hubungan dengan Steven (John Cena), seorang penggila gym.

Amy sempat menjalin hubungan dengan Steven (John Cena), seorang penggila gym.

Bersama Apatow, Schumer berhasil membawa Amy ke dalam gambar gerak sebagai perempuan sehari-hari nan normal, tanpa menjadikannya karakter yang bermasalah dengan berat badannya. Amy memikat penonton lewat cara pikirnya yang luas, lugas, tajam, dan real, bukan semata-mata lewat sex appeal. Jika Amy diperlihatkan sebagai pecinta alkohol, saya rasa itu sama sekali tak ada hubungannya dengan tanggung jawab moral, kecintaannya terhadap alkohol hanya sebagai salah satu bentuk identitas budaya Amerika.

Satu hal lain yang patut dirayakan dari Trainwreck adalah pemain-pemain pendukungnya. Tilda Swinton yang berperan sebagai killer boss, membawakan perannya dengan sangat manipulatif dengan hati yang jahat, bahkan Amy tak punya apapun untuk melawannya. Sehingga andai saja ini adalah film drama atau black-comedy, kita seolah-olah sedang menyaksikan Swinton bermain dalam film garapan Coen Brothers.

Lalu ada Bill Hader, yang berperan sebagai Aaron Conners. Ok, we all are realize that Hader isn’t that charming to play a good doctor, tapi Hader tidak perlu bermain charming, dia cuma perlu bermain real sebagai seorang dokter, dan berhasil. Dan ada aktris muda berbakat, Brie Larson. Secara konvensional kita berharap Larson lebih patut memerankan Amy, a leading role, tapi tidak, sungguh tantangan yang unik menyaksikannya berperan sebagai ibu muda yang begitu mengabdi dan bahagia dengan keluarga kecilnya. Kelak jika namanya berhasil dinominasikan di Academy Awards 2016 di kategori best actress untuk film terbarunya, Room, apalagi jika sampai menang, saya berharap Larson akan tetap serendah hati ini dalam mengambil peran.

LeBron James yang tampil sebagai dirinya sendiri juga menjadi pemikat utama dalam film Trainwreck ini.

Bintang basket NBA, LeBron James juga tampil sebagai dirinya sendiri dan sahabat Aaron dalam beberapa adegan Trainwreck.

Industri perfilman Hollywood sebenarnya telah mencekoki pola pikir kita tentang bagaimana harusnya seorang leading actress tampil; mereka harus tinggi, atau pendek, tak masalah asal mereka cantik, dengan senyum menawan, dan (paling penting) tidak gemuk. Hal yang sama kadang-kadang berlaku untuk leading actor. Saya takkan terkejut jika ada beberapa orang yang menyaksikan Trainwreck protes kenapa leading actress mereka harus gemuk, karena memang seperti itulah kita sebagai penonton dilatih, melihat segalanya harus proporsional. Ini menjadikan Amy jadi bagian revolusi karakter, utamanya dalam genre rom-com. Bahwa semua aktris dari berbagai warna kulit dan bentuk tubuh harusnya bisa diberi kesempatan sama dalam memainkan peran utama di sebuah film, tanpa menjadikan warna kulit atau bentuk tubuh mereka menjadi isu yang lagi-lagi mereka harus hadapi dalam film itu sendiri. []

Trainwreck-poster_Revius
Sutradara: Judd Apatow | Tahun: 2015 | Genre: Comedy, Romance | Rating: 4/4 Stars

Baca ulasan film lainnya dari Kemal Putra

Akhir Perang yang Sia-Sia

Renungan Terbaik untuk Sebuah Pilihan Hidup

Kisah Berharga yang Patut Diceritakan

Cermin Dunia Pendidikan Masa Kini

Selera Humor yang Terpelihara di Tengah Kemelut Bertahan Hidup

Ego yang Lenyap dalam Hati Bajrangi

Kesedihan di Tengah Tawa

Roman Hitam Putih Kehidupan Siti

Kegilaan Superhero yang Ingin Tenar Kembali