Gelaran Makassar in Cinema edisi kedua, sudah ditutup. Selama 3 hari screening session, kami senang sekali diberi kesempatan untuk menyaksikan 4 film yang dihasilkan oleh para penggiat film kota Makassar. Berikut komentar Chairiza, Achmad Nirwan, Joem Pelenkahu dan Akbar Zakaria tentang film-film yang mereka simak di Makassar in Cinema 2015.

 

Chairiza

Saya setuju dengan pepatah “Save the best for the last” untuk pemutaran film di Makassar in Cinema kemarin. The Last Thread adalah favorite saya! Film yang diputar paling akhir ini membuat saya kebingungan menebak akhir ceritanya. Ditambah akting memukau dari Luna Vidya. Membuat film ini terkemas sempurna.

Tapi, untuk nilai semiotika film, Dasar Gelap pemenangnya! Banyak simbol-simbol yang membuat saya berpikir keras akan maknanya. Film dengan teknik semiotika bukanlah perkara mudah.


Achmad Nirwan

Saya memilih Dasar Gelap karena film pendek ini membuat saya geregetan menemukan apa motif di balik sang pemeran psikopat untuk membunuh korbannya. Walaupun saya sempat menangkap satu simbol yaitu bunga mawar di pot, saya masih belum bisa menemukan apa yang melatarbelakangi sang psikopat lebih senang melakukan aksi pembunuhan di rumahnya dan membuang korban ke sumurnya, bahkan ibunya pun dibunuh (gila!). Aneh saja kan membunuh tapi tidak ada alasan yang spesifik?

Setelah menonton film tersebut, saya sempat berbincang dengan teman yang juga terlibat dalam produksi film pendek ini. Dia memberitahukan kalau film pendek ini berkisah seseorang psikopat yang disayang sama keluarganya sampai ibunya yang membuang mayat orang yang telah dibunuhnya keesokan harinya sebelum ibunya sendiri yang dia bunuh. Lalu dia memberitahu sebaiknya tonton berulang kali untuk memahaminya. Okay bro, saya tonton lagi di kesempatan berikutnya. Dasar Gelap sukses membuat saya mengernyitkan dahi dan kebingungan!

1429998634390


Joem Pelenkahu

Sebelum membeli tiket, saya sudah sampaikan ke Diqal (salah satu sutradara film yang diputar di Makassar In Cinema) kalau saya suka menonton film film karya anak makassar, dan saya yakin kalau film di Makassar In Cinema tidak akan mengecewakan saya, bahkan kalau disuruh memilih antara film bioskop Indonesia dengan film anak makassar, saya akan lebih memilih menonton film film karya anak makassar, lebih edukatif dan sarat makna dibandingkan dengan film indonesia yang diputar di bioskop.

Menonton 4 film yang diputar di Makassar in Cinema 2015 membuat saya ingin juga terlibat dalam pembuatannya, bagaimana tidak? Nonton saja Burassingang (Bersin), film yang menggambarkan betapa berpengaruhnya sebuah mitos terhadap psikologis seseorang; Pencuri Mangga, film pendek bergaya satir yang menyindir aparatur hukum yang korup; The Last Thread, film yang menurut saya menggambarkan kesedihan seorang ibu yang memiliki anak yang menjadi seorang waria, sebetulnya saya masih mau menonton film ini lagi, berhubung saat film ini diputar saya agak terganggu dengan orang yang lalu lalang dalam capitol theater saat itu; dan favorit saya, Dasar Gelap, film tentang seorang pemuda yang gelap mata, yang menurut saya paling lengkap, karakter pemeran utama yang secara fisik sudah bertampang psikopat, setting tempat dan pencahayaan, kalau soal semiotika tidak perlu dibahas, film ini lengkap.

Keempat film itu layak mendapatkan apresiasi yang setinggi tingginya. Terus berkarya kawan!


Barzak

Saya butuh waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikan 1 judul novel setebal 300-400 halaman. Membaca 1 puisi memang hanya membutuhkan beberapa menit, tapi perlu mood tertentu untuk melakukannya. Membaca komik menyenangkan, tapi sayang komik tidak disertai scoring untuk melengkapi mood cerita. Dari semua medium storytelling yang ada di dunia ini, bagi saya film adalah medium yang paling mudah untuk dinikmati. Inilah sebabnya saya dan kamu lebih sering menonton film dibanding membaca buku. Ya kan?

Menonton 4 film yang diputar di Makassar in Cinema 2015: Dasar Gelap, Pencuri Mangga, Burassingang (Bersin), dan The Last Thread, pada sabtu malam (25/6) mendorong saya untuk berkali-kali mengernyitkan dahi. Beberapa kali karena penasaran, beberapa kali karena benar-benar bingung. Ini bisa berarti positif maupun negatif. Positif, karena menurut sahabat saya Deli Luhukay, “film yang bagus adalah film yang mengajak kita untuk berpikir, dan proses berpikir diawali dengan bingung atau penasaran”. Berarti negatif, bila film tersebut membingungkan penonton karena tidak memiliki pesan yang jelas. Bagaimanapun juga, film adalah medium komunikasi, dan memberi kebingungan bukanlah tujuan manusia berkomunikasi, kecuali anda politisi atau praktisi periklanan.

Anyway, berikut komentar saya tentang 4 film di Makassar in Cinema 2015.

1. Dasar Gelap

Di film ini, hiduplah seorang seorang remaja pendiam yang sangat menyayangi barang-barang miliknya. Bila di toko-toko serba lima ribu kita sering melihat “memecahkan/membuka berarti membeli”, bagi si tokoh utama “menyentuh berarti mati dan masuk sumur”.

Menonton film ini membuat saya bersyukur (1) tidak punya teman yang seperti ini, (2) tidak punya teman yang punya sumur. Saya terlalu sembrono untuk tidak merusak mainan teman saya.

Hal yang membuat saya penasaran, kenapa sang sutradara memilih untuk mengangkat tema ini? Apa ini semacam pesan layanan masyarakat untuk berhati-hati pada barang milik orang lain? atau kampanye untuk berhati-hati pada lelaki pendiam yang kebetulan memiliki sumur?

2. Pencuri Mangga

Tebakan saya ketika menonton Pencuri Mangga adalah, sang sutradara adalah penggemar Stanley Kubrick atau setidaknya A Clockwork Orange. Ada 3 alasan: (1) Musik pembuka dan penutup Pencuri Mangga mengingatkan saya pada musik pembuka dan penutup A Clockwork Orange. (2) Kostum-kostumnya mengingatkan saya pada kostum-kostum di A Clockwork Orange. (3) Meski mengangkat tema yang berbeda, Pencuri Mangga bergaya satir, sama seperti A Clockwork Orange. Tentu saja, ini cuma tebakan.

Pencuri Mangga dengan jelas memberi sindiran pada sistem hukum beserta aparaturnya yang korup. Di meja peradilan duduklah 3 hakim, yang tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, dan tidak bisa berbicara (Ya seperti tiga monyet-monyet itu), Jaksa dan pengacara yang sudah terbeli, dan saksi-saksi pembohong. If you watch enough TV, you should be familiar with this. Sayangnya, Pencuri Mangga tidak ikut menyindir media yang mengaku berpihak pada rakyat.

3. Burassingang (Bersin)

Film yang sederhana, mengajak saya mempertanyakan berbagai mitos yang beredar di masyarakat, dan betapa irasionalnya kita dalam menanggapi mitos-mitos tersebut. Saya jadi ingat seorang teman di masa kanak-kanak. Dia akan marah besar setiap kali saya kentuti, bukan karena baunya (fyi, kentut saya tidak bau), tapi karena “bikin pendek”.

4. The Last Thread

Film terakhir yang diputar, dan juga favorit saya pada malam itu. Tentu saja akting Luna Vidya paling menonjol di sini, tapi kekuatan The Last Thread juga berada pada tema yang diangkat, seksualitas. Meski saya tidak setuju dengan konklusinya, film ini membuat saya membayangkan, apa yang akan saya lakukan, bagaimana perasaan saya bila memiliki anak yang–oleh masyarakat disebut–banci atau waria? Would I accept them as they are? Would you?

*

Film yang bagus ibarat makanan enak: menarik di mata, nikmat di lidah, mudah dicerna, memberi asupan gizi yang lengkap, dan mulus disetorkan ke septic tank. Semuanya mudah, kecuali proses membuatnya. Memilih dan mengumpulkan bahan, meracik bumbu, mengawasi proses perebusan, pemanggangan, pengukusan, atau penggorengan, hingga menghidangkannya. Semua proses ini memakan waktu, membutuhkan ketekunan dan kesabaran, hingga kebesaran hati untuk mengulangi semua proses bila ternyata hasilnya hangus atau terlalu asin.

Saya akan berbohong bila mengatakan semua hidangan di Makassar in Cinema enak di lidah saya. Saya percaya pada pepatah–yang baru saya saya buat–”tidak ada film yang tak ber-plothole“, dan saya tidak akan membiarkan beberapa plothole yang mengganggu mengurangi apresiasi saya yang setinggi-tingginya pada setiap individu yang sudah bekerja keras untuk menghidangkan karyanya di Makassar in Cinema.

Cheers!


Artikel lainnya terkait Makassar In Cinema

 Sumur, Bersin, Mangga dan Jahitan di Makassar In Cinema

Cuplikan Ide Cerita Makassar in Cinema #2

 Siulan, Denda dan Nama di Makassar In Cinema

Lima ‘Bioskop’ Alternatif di Makassar

Tiga Sineas Muda Mengangkat Lokalitas Makassar