oleh: Andreuw Parinussa(@filmixxx)

Film merupakan media hiburan yang paling efektif menjadi sebuah media propaganda. Berangkat dari hal ini, tak jarang sebuah film dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi para penontonnya, sehingga para pembuat film memiliki tanggung jawab moral dalam segi ide cerita, kualitas dan hal lainnya dalam mendukung lahirnya sebuah karya film yang layak untuk ditonton.

Perkembangan film di kota Makassar mengalami perjalanan yang cukup panjang, dimulai dari era 60-an. Menariknya, produksi film tersebut banyak dilakukan oleh tentara yang secara tidak sadar menjadikan film sebagai hiburan bagi masyarakat kota Makassar.

Beberapa judul film yang diproduksi pada era tersebut antara lain Prajurit Teladan, Teror di Sulawesi Selatan, Di Ujung Badik, La Tando di Toraja, Sanrego, Senja di Pantai Losari, Embun Pagi, Direktris Muda, Jumpa di Persimpangan, Tapak-tapak kaki Wolter Monginsidi, Jangan Renggut Cintaku (Silariang).

Film Prajurit Teladan adalah film pertama yang diproduksi di kota Makassar, film ini melibatkan aktor-aktor teater Makasssar sebagai pemain, sedangkan film Teror di Sulawesi Selatan merupakan titik awal dimulainya produksi film di Makassar secara utuh dan serius, yang membuat film ini semakin menarik karena cerita dan produksi film ini dikerjakan bersama oleh tentara-tentara Kodam XIV Hasanuddin, produsernya pun seorang tentara, Syamsuddin Dg. Lau.

Film-film yang diproduksi pada era 60-an sampai 70-an ini lebih banyak diprakarsai oleh tentara-tentara yang bergabung dalam jajaran Kodam XIV Hasanuddin. Tokoh yang namanya banyak disebut-sebut adalah Djamaluddin Effendy, seorang Intel sekaligus Komandan Laksusda Kopkamtib (Pelaksana Khusus Daerah, Komando Keamanan Ketertiban) ketika itu. Senja di Pantai Losari, Embun Pagi, Direktris Muda dan Jumpa di Persimpangan adalah film yang diproduksi berdasarkan cerita novel yang ditulis oleh Djamaluddin Effendy.

Makassar menjadi kota yang produktif dalam bidang film sehingga menjadi alasan untuk memilih kota Makassar sebagai tuan rumah Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1978, yang saat itu dilakukan secara terbuka di Stadion Mattoanging.

Sinema Makassar dapat dinikmati dalam bentuk film layar lebar antara tahun 1963 – 1990. Film Jangan Renggut Cintaku (Silariang) yang diproduksi pada tahun 1990 disutradarai oleh putra Makassar yang mengenyam pendidikan secara formal di Jakarta, Nurhadie Irawan. Setelah film ini, film Indonesia mengalami mati suri, sehingga banyak penulis-penulis cerita dan aktor-aktor film dari Makassar beralih ke film televisi dan pada saat yang sama, pengusaha bioskop banyak yang gulung tikar.

Semangat independen mulai muncul pada tahun 1998. Perkembangan teknologi sangat membantu penggiat film di Makassar untuk kembali memproduksi film dengan menggunakan kamera video. Semangat ini dimulai dari kampus-kampus, dipelopori oleh Syamsuddin Azis lalu dilanjutkan oleh Alem Febri Sonni, dimana film awalnya adalah sebagai tugas kuliah, berkembang dan menjadi trend sehingga banyak kelompok – kelompok film yang terbentuk.

Melihat perkembangan itu, muncul kesadaran untuk berbagi pengetahuan dan pentingnya tumbuh bersama.  Di tahun 2008, kurang lebih 20 kelompok film berkumpul dan menggagas pembentukan Forum Film (FOR FILM) Makassar yang bertujuan sebagai forum diskusi perihal perencanaan, manajemen produksi film dan membuat bioskop alternatif dengan memberlakukan penjualan tiket.

Dengan menggagas antologi film pendek Makassar, film yang berhasil diproduksi masing-masing: Cinta sama dengan Cindolona’ Tape sutradara Rusmin Nuryadin, Dobel Enam sutradara Ilham N. Bardiansyah, Pamali sutradara Rezkiani, Field sutradara Muhammad Asyraf, Masalahta’ Cika’  sutradara Iking Siahsia dan Dari Mulut Singa ke Mulut Buaya sutradara Arman Dewarti.

Setelah antologi film pendek itu,  FOR FILM kembali memproduksi sebuah film panjang yang berjudul Aliguka sutradara Arman Dewarti, sebuah film panjang yang penciptaannya 100 persen dikerjakan oleh pekerja film di Makassar. Aliguka mengusung tema korupsi dan film ini diapresiasi sekira 2.000 orang melalui bioskop alternatif yang sengaja dibuat pada Gedung Graha Pena.

Pada tahun 2008, Institut Kesenian Makassar (IKM) didirikan. Melalui salah satu program studi yang dibentuk yaitu Film dan Televisi, IKM mampu memberikan warna baru bagi dunia sinema di kota Makassar. Film yang telah diproduksi oleh mahasiswa dan alumninya mampu mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat daerah, nasional maupun internasional.

Dimulai dari film Memburu Harimau sutradara Arman Dewarti yang menjadi 5 terbaik film pendek FFI 2012, film Adoption sutradara Andreuw Parinussa yang meraih First Prize pada ISCA 2013 di Osaka, film Sepatu Baru karya Aditya Ahmad yang meraih “Special Mention” pada Berlinale Film Festival 2014, Film Cita karya Andi Burhamzah yang menjadi nominasi Sapporo International Film Festival 2014.

Film panjang yang terakhir diproduksi oleh mahasiswa IKM adalah Rindu Randa sutradara Rusmin Nuryadin. Film mereka adalah sebuah kebanggaan tersendiri untuk kota Makassar, film yang memiliki kualitas sangat baik dan diproduksi secara independen atau dengan kata lain, film mereka diproduksi tanpa campur tangan dan dukungan dari pemerintah.

Film “Memburu Harimau” sutradara Arman Dewarti yang menjadi 5 terbaik film pendek FFI 2012 (Sumber: memburuharimau.wordpress.com)

Film “Memburu Harimau” karya sutradara Arman Dewarti yang menjadi 5 terbaik film pendek FFI 2012 (Sumber: memburuharimau.wordpress.com)

 

Penikmat film serta sineas Makassar sedang ramai memperbincangkan film Bombe’ karya Syahrir Arsyad Dini alias Rere Art2tonic baik dari sisi positif maupun negatif. Film yang dirilis 6 November lalu ini mengambil setting keseluruhan di kota Makassar yang bercerita tentang permusuhan dan pertemanan 6 orang anak kecil yang berusaha mencari jalan pulang di saat kota tiba-tiba menjadi sepi.

Dengan dialek bahasa Makassar yang kental, film ini memang menjadi tontonan yang menghibur bagi para penonton khususnya yang berada di kota Makassar. Tetapi sayangnya film ini memiliki banyak kekurangan dari pengembangan ide cerita, sinematografi, dan kekurangan beberapa aspek film lainnya yang membuat kualitas film ini jauh di bawah standar sehingga sutradara terkesan tidak memberikan usaha yang keras untuk menjadikan film ini menjadi sebuah tontonan yang layak.

Padahal, film yang didukung penuh oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pemerintah Kota Makassar ini konon kabarnya menghabiskan biaya produksi di atas satu milyar rupiah. Dengan kualitas yang jauh di bawah standar, Bombe’ tidak dapat menjadi barometer kualitas film lokal karya anak Makassar walaupun memberikan semangat yang positif bagi sineas lokal, bahwa film karya sineas Makassar juga layak masuk bioskop.

Melihat perkembangan sinema di kota Makassar, banyak prestasi yang telah diraih oleh sineas lokal kota Makassar. Sayangnya, sineas lokal yang berprestasi tidak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Mungkin ide cerita yang terlihat lebih idealis, sedangkan dukungan tersebut akan diberikan jika kepentingan pribadi dari seorang/beberapa pejabat dapat menjadi latar belakang dari ide cerita film tersebut atau pencitraan! []

 

P.S. Terimakasih untuk Arman Dewarti atas Artikel “Membaca Riwayat Sinema di Makassar”.