Sutradara & Penulis Cerita: John CarneyPemeran: Ferdi Walsh-Peelo, Aidan Gileen, Jack Reynor, Lucy Boynton, dan Marie Doyle Kennedy | Durasi: 105 Menit

Memiliki saudara dengan jarak usia yang cukup jauh, bagi saya, adalah keberuntungan. Alih-alih terjadi sibling rivalry, justru yang ada adalah penularan informasi. Terutama, tentang hobi.

Masih sering teringat, suasana kamar rumah saya di Jakarta. Waktu itu tengah malam, pertengahan tahun 90-an, saya SD atau SMP, saya lupa tepatnya, dan kakak saya, Iwan Wibisono, yang kala itu kuliah di Fahutan IPB sedang meyelesaikan tugas. Malam itu, seperti biasa, dia mengerjakan tugas sambil memutar lagu-lagu yang masuk seleranya. Entah kenapa, saya sulit tidur. Saya ikut larut dalam lagu-lagu yang terputar dari tape compo kami. Mungkin memang sudah takdir, saya harus mendengar lagu yang hingga sekarang sangat berpengaruh dalam hidup saya: Cinta Kan Membawamu Kembali.  

Kami, saya dan kakak saya, berbagi kamar, dan momen-momen seperti kejadian di atas sering terulang. Akibatnya, saya mengenal Dave Grusin, Bob James, James Ingram, Simply Red, NKOTB, Casiopea, DEWA 19, Funk Section, Kahitna, The Manhattan Transfer, dan lain-lain. Kakak saya senang membicarakan musisi yang dia sukai.

Bukan hanya musik, kakak saya menjerumuskan saya ke dalam kegilaannya pada film. Berbagai judul film saya lahap atas rekomendasinya. Mulai dari faktor sutradara, pemain, dan hal-hal yang menentukan kenikmatan menonton film pun dia obrolkan. Sampai sekarang, kami sering berbincang  tentang film-film yang kami suka. Termasuk mengobrolkan film yang baru saya tonton beberapa hari lalu. Sing Street.

John Carney, seorang sutradara, dan bekas pentolan band dari Irlandia, The Frames, menuntaskan trilogi film penghormatan dia terhadap musik, lewat Sing Street. Dia, sebelumnya mengarahkan film penuh bintang, Begin Again pada 2013, dan Once (2007) yang keren, tapi tidak diketahui oleh banyak penikmat film.

Carney menawarkan kepada kita cerita tentang kekuatan musik yang mampu “meringankan” masalah yang sedang kita hadapi. Mulai dari masalah cinta, keretakan keluarga, kesulitan ekonomi, hingga isu penindasan dan kesewenang-wenangan. Dalam film-film arahannya, kita disuguhi deretan lagu yang indah, sarat makna, dan membekas (sampai ada yang unduh atau membelinya di iTunes mungkin). There is (Goddamn) Music in it.

Sing Street mengambil latar di Dublin, Irlandia, pada 1985. Krisis ekonomi parah yang melanda membuat banyak anak muda di sana hijrah ke Inggris untuk mendapatkan kehidupan lebih baik. Keadaan ini juga berimbas buruk pada kehidupan Conor, tokoh utama kita (diperankan dengan bagus sekali oleh Ferdia Walsh-Peelo). Keluarganya dilanda prahara. Kedua orang tuanya, Penny dan Robert (masing-masing diperankan oleh Maria Doyle Kennedy dan Aidan Gillen), sering bertengkar, terutama perkara keuangan. Sementara itu, Brendan, kakak Connor (diperankan dengan akting yang asik oleh Jack Reynor) harus drop out dari kampus dan memilih menghabiskan waktu dengan menghisap ganja.

Karena masalah keuangan pula, Conor harus pindah dari sekolah umum ke sekolah katolik yang dikontrol oleh pastur yang sadis, dan dipenuhi oleh murid-murid pria berandalan.

Pada saat bersamaan, para remaja dunia sedang dilanda sebuah tren. Fenomena baru bernama video musik. Termasuk, tentu saja, di Dublin. Fenomena ini membuat Connor dan Brendan tetap waras dan bisa menikmati hidup mereka yang sedang tidak bersahabat.

Carney dengan cermat berhasil menangkap momen tanpa kata saat Conor dan kakaknya menikmati video musik dari Duran Duran berjudul Rio, The Cure, atau dari band-band popular lainnya saat itu.

Conor akhirnya lebih termotivasi oleh musik dalam hidupnya, setelah bertemu dengan Raphina (Lucy Boynton penuh pesona berhasil menghidupkan layar setiap kali muncul), seorang gadis cantik yang ingin sekali menjadi model profesional di Inggris, dan selalu tertarik dengan pria yang lebih tua darinya. Dengan keberanian, Conor berusaha menarik perhatian Raphina yang dia sukai dengan trik klise tapi jitu. Dengan mengaku sebagai anak band, dan akan memproduksi sebuah video musik, dan dia membutuhkan seorang model untuk menjadi bintang di video musiknya. Gadis itu menyetujuinya.

Conor segera mencari cara supaya dia bisa mempunyai band, sumber daya untuk memproduksi  sebuah video musik. Dan, tentu saja, sebuah lagu.

Tapi, pada tahun 1985, selalu ada seseorang yang tahu seseorang lain bisa bermain alat musik seperti gitar, keyboard, bas, drum, bahkan pintar menciptakan lagu. Dan, sumpah, adegan-adegan pencarian anggota band ini lebih menarik dari berbagai adegan pencarian tujuh orang koboi di Magnificent Seven versi 2016 yang baru saja beredar di bioskop.

Conor  berhasil membentuk band bernama Sing Street. Penasihat kreatif bandnya adalah kakaknya sendiri. Brendan digambarkan tahu banyak hal, mulai lagu apa yang mesti dinyanyikan, cara menyanyikannya, sampai cara mendekati produser musik. Mengingat kerjaan dia sehari-hari hanya duduk dan menghisap ganja, nasihat tentang perempuan dan cara mengungkapkan cinta pun dia tahu. Sungguh menarik.

Raphina pun ternyata mengejutkan. Sebagai model, dia mengajarkan Conor dan bandnya cara berdandan, make-up, bahkan berpenampilan dengan gaya artistik Cosmo sesuai dengan zaman. Dimulailah petualangan Sing Street bersama perjalanan rasa cinta Conor ke Raphina lewat lagu-lagu yang dia ciptakan. Kita akan melihat pandangan penuh harap Connor ke pujaan hatinya dan perlawanan darinya lewat lagu yang dia ciptakan ke semua hal yang menjatuhkan moral dan hidupnya.

Ah, masa remaja dan band! Tidak peduli banyak rintangan dan halangan yang mendera, tetaplah sebuah perjalanan yang indah. Apalagi dalam film arahan John Carney. Sutradara ini berhasil membuat kita percaya pada karakter-karakter yang ada di film Sing Street. Film ini sendiri bukan hanya tentang membuat sesuatu, tetapi juga tentang mimpi-mimpi, perlawanan kepada keadaan, seni,  cinta remaja yang mentah (tapi bisa jadi kita pernah alami), dan sebuah penghormatan yang indah terhadap musik 80-an.

Lewat Sing Street kita juga akan melalui sirkuit kenangan yang membawa kita ke nama-nama seperti Joy Division, Depeche Mode, Phil Collins, bahkan Adam Ant (saya langsung mencari Wonderful di YouTube). Dan, adegan tentang musik The Cure yang didefinisikan sebagai musik “Happy-Sad” juga memberi arti tersendiri.

Salut untuk tim produksi film ini. Mereka mampu menghadirkan sudut-sudut Dublin era 80-an lengkap dengan situasi dan landscape.

Saya langsung membayangkan, kira-kira, kalau 30 tahun lagi akan ada film yang mengambil setting di Makassar hari ini, apakah akan bisa dihadirkan suasananya, apakah masih bisa dikenali sebagai Makassar, atau bahkan berubah namanya menjadi Neo Makassar, atau Great Makassar, atau Makassar apalah. Pengaruh kebanyakan nonton film Post Apocalyptic saya sepertinya.

Kita kembali ke Sing Street, yang  secara khusus mendedikasikan diri untuk semua “saudara laki-laki” di manapun mereka berada, dan saudara Carney sendiri meninggal saat film ini memasuki proses produksi. Untuk saya, film ini kembali mengingatkan pengaruh kakak saya terhadap selera musik dan film saya hari ini.

Pada akhirnya, Sing Street seperti lagu-lagu The Cure, Happy-Sad. Tapi, selain itu, jelas film ini adalah sebuah perayaan untuk musik dan hidup (juga cinta di dalamnya).

Nontonki nah!


Baca tulisan lainnya

Blake Lively dan Film Hiu yang Menyenangkan

Berlari dan Bertaruh Nyawa demi Obat Penyembuh

Madly in Love at Paper Towns

Merekam Kembali Film Uang Panai’

Suicide Squad yang Tidak Mematikan