Film Athirah menjadi salah satu film Indonesia yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Bukan hanya karena mengangkat kisah dari tanah Sulawesi Selatan, namun dari kualitas keseluruhan sebagai satu film. Film tersebut merebut tempat paling banyak di daftar nominasi Festival Film Indonesia 2016.

Beberapa waktu lalu, Revius turut menyaksikan Athirah dalam Gala Premiere yang digelar di Makassar. Dan, sebagai bentuk apresiasi, kami memberi catatan tentang bermacam hal yang hadir setelah menyaksikan film produksi Miles Films tersebut. Berikut ulasan beberapa (((Kerabat Kerja))) Revius:

Andi Fatimah Azzahra
Beberapa komentar kakak-kakak usia 40-50 tahun mengatakan phasing film Athirah terlalu terburu-buru. Komentar lain dengan nada bertanya: Apakah akan ada sekuelnya? Film ini, menurut mereka, rasanya sebagai prolog saja, belum memasuki inti cerita. Saat menonton, di samping saya ada orang yang mengatakan lauk-pauk yang dihidangkan itu-itu saja.

Menurut saya, film ini sangat sabar dan hati-hati dalam menyampaikan sudut pandangnya terhadap kebudayaan Bugis-Makassar. Adapun makanan yang disediakan itu-itu saja, karena itulah satu dari sekian banyak rasa yang ingin ditekankan mengenai apa yang sering dihidangkan di meja kita. Ikan dan kue favorit setiap keluarga.

Menonton berbagai jenis film karya Riri Riza, bagi saya, ia selalu pas ketika membuat film keluarga. Sebut saja Eliana, Eliana (2002) yang segala teknis dan ceritanya sederhana, terasa dekat sekaligus mencekat tenggorokan di akhir cerita. Berkualitas tanpa direksi pemain yang berlebihan di setiap shot. Eliana Eliana dilirik oleh banyak festival film untuk ditonton banyak orang pada masanya. Tetangga nenek saya yang jarang menonton film Indonesia, sangat menyimpan film itu dalam memorinya. Kak Riri, di setiap film bertema keluarga terasa sangat sabar, mencicil poin-poin terpenting cerita dengan segala komposisi yang detail untuk setiap penontonnya yang memiliki pengalaman berbeda. Jika pun generasi yang terbiasa dengan film-film pop atau ritme cepat masih kurang paham, namun ingin menyelami sosok Ibu Athirah dan keluarga, lirik lagu dari soundtrack yang dibuat oleh Endah n Rhesa khusus untuk film ini cukup membantu untuk membuat penonton mengerti dengan apa yang dialami Ibu Athirah, terutama tentang apa yang ingin disampaikan oleh Riri Riza dan Alberthiene Endah di setiap guratan emosinya terhadap kisah seorang Ibu.

Kemal Putra
Jika ada satu hal yang mungkin layak dipetik dari Athirah, terutama untuk para pembuat film debutan di Makassar, mungkin itu adalah Sulawesi Selatan tetap bisa terlihat cantik di layar bioskop, walaupun di-shoot tanpa terlalu banyak menggunakan drone.

Tapi bagi saya, jika ada satu hal yang layak dikagumi dari film ini, maka itu adalah karena Riri Riza berhasil mewakili keresahan saya terhadap film-film reliji Indonesia yang kebanyakan menceramahi dan pro terhadap poligami. Karakter utamanya, Athirah, seorang perempuan, juga ibu, yang hidup dalam keluarga islami, namun ketika dimadu, ia tidak lantas pasrah dan ikhlas dan menurut pada suaminya sembari menjadikan agama sebagai tamengnya. Athirah membuktikan bahwa tanpa suaminya, ia masih bisa bekerja dan melanjutkan hidupnya, juga hidup anak-anaknya, tanpa terhalang gender, tanpa terhalang agama.

Jika Kartini selama ini menjadi simbol feminisme bagi perempuan Indonesia, lalu beberapa waktu lalu nama Colli’ Pujie juga kembali dimunculkan di MIWF 2016, maka saya pikir, kini Athirah mestinya juga bisa menjadi nama yang disetarakan dengan mereka berdua.

Achmad Nirwan
Hal pertama yang menjadi perhatian saya saat menyaksikan film Athirah adalah gubahan score film yang dibuat Juang Manyala. Suasana suka cita dan pilu yang membaur dibangun melalui petikan gitar dengan reverb dan delay yang berlapis-lapis, pui’-pui’, seksi strings dan permainan piano yang cantik, berpadu dengan gendang yang menghidupkan irama. Score film yang mampu mengaduk-aduk emosi saya semakin merinding sekaligus mesti menahan air mata jatuh ke pipi karena musiknya sungguh mengalir dalam mengikuti pergerakan cerita hingga filmnya berakhir. Dan secara magis, gubahan score ini alih-alih mengingatkan saya kepada momen bubarnya Melismatis, band yang dibentuk Juang bersama para sahabatnya dari masa kecil. Saya tak bisa lagi menahan air mata untuk jatuh jika mengingat momen tersebut.

 
“Ucu, subuh mi nak,” satu ucapan Ibu Athirah saat membangunkan Ucu remaja dalam Film Athirah (2016) yang membuat saya langsung tertegun saat menyaksikannya. Dari ucapan tersebut, inilah hal kedua yang menjadi perhatian saya tentang cerminan dari kebiasaan orang tua saya—terutama ibu, yang sampai saat ini masih sering mengetuk pintu kamar agar bisa membangunkan saya dalam bersegera untuk shalat subuh. Pada adegan lain, corak seragam sekolah yang dipakai Ucu remaja dan keinginan ibu Athirah membuat sekolah, membawa saya langsung mengingat masa bersekolah di Perguruan Islam Athirah Jalan Kajaolaliddo selama enam tahun. Sosok penggambaran Mama’ Aji (ibu Athirah) yang diperankan Cut Mini sepanjang film, juga kembali mengingatkan kepada sosok Mama’ Ajiku (ibu saya), seorang perempuan Bugis kelahiran Parepare 54 tahun silam, yang selalu cerewet dalam memberi nasihat, doa, dan curahan hati untuk kebaikan masa depan keluarganya.
 
Dari ingatan-ingatan sederhana di atas, Film Athirah mampu membungkus berbagai lika-liku perjalanan keluarga dari suku Bugis yang juga sebagian kisah di dalamnya pernah terjadi dalam keluarga saya. Dan, film ini juga bisa memberi interpretasi yang berbeda kepada saya bahwa film biopik tidak mesti harus ditampilkan dengan dialog yang panjang, terkadang  diam pun sudah menjadi sebuah bahasa yang dituturkan.
 
Arkil Akis
Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di kultur Bugis, Athirah mengikat saya untuk mengingat kampung halaman. Film ini menampilkan Bugis yang saya kenal secara utuh. Mulai dari dialog, sajian makanan, hingga kebiasaan tokoh-tokohnya. Meskipun, latar tempat utamanya terjadi di Makassar, namun latar waktu 50-60 an membuat hal-hal yang ditemui di film Athirah kebanyakan terjadi di daerah-daerah luar Makassar.
 
Hal lain yang membuat film ini Bugis banget adalah profesi Bapak Aji (Arman Dewarti) sebagai pedagang, penganut poligami, dialog simbolik suami-istri, diamnya Ibu Athirah, hingga kepercayaan kepada hal-hal mistis. Dan, hal yang paling melekat adalah adegan nenek (Jajang C Noer) bercerita kepada Ucu’. Itulah fragmen yang sering saya alami. Orang Bugis sepuh yang bercerita sambil mengingat-ingat diperankan dengan baik oleh Jajang.
 
Tetapi, Bugis bukan satu-satunya alasan film ini menjadi bagus. Kemampuan film Athirah keluar dari film biografi, cerita maupun hal teknis lainnya yang dikemas dalam porsi yang pas adalah alasan paling penting untuk menyaksikan film ini.
 
Akbar Zakaria
Hal pertama yang hadir di kepala saya saat menonton film Athirah adalah gumaman, “Ih, banyaknya temanku main di film ini. Kenapa saya nda diajak?” Padahal, saya bisaji berperan sebagai Ustadz dan memberi pesan moral secara gamblang. Agar film Athirah bisa seperti film Indonesia yang lain.
 
Kedua, scoring yang ditata apik oleh Juang Manyala. Alunan musik yang mengharukan. Banyak film yang mengharukan bagi saya, tapi haru yang dihasilkan oleh Athirah terutama musiknya, adalah haru yang sangat dekat. Saking dekatnya, sampai-sampai saya luput untuk mencari apa kekurangan film ini.
 
Ketiga, saya suka sekali bagaimana film ini menunjukkan kelezatan makanan khas kampung saya. Saya pun bertanya-tanya, kenapa city branding Makassar tidak ke kota kuliner saja ya? Rasanya akan jauh lebih jujur dan lezat ketimbang (((Makassar Smart City))) atau (((Makassar Kota Dunia)))
 
Terakhir, film ini berhasil membuat kepala saya penuh dengan ingatan tentang nenek saya. Semasa hidup, beliau juga adalah penjual sarung (sayangnya, pada masa itu belum ada online shop). Meskipun tidak mampu membeli emas sebanyak Athirah, dan (mungkin) tidak pernah bercita-cita untuk membangun sekolah, tapi saya merindukannya. Untuk kerinduan tersebut, saya perlu mengucapkan banyak terima kasih pada film ini.