Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Artwork cover album nyaris ‘tersisih’ di era digitalisasi saat ini. Okelah kalau misalnya iTunes atau official digital record shop yang lain tetap memasang artwork single atau album musisi, tapi toh tetap beda sensasinya jika bentuk fisiknya dapat dirasakan secara langsung.

Itu bagi mereka yang betul-betul “gila” dengan musik. Bagi mereka yang bukan fanatik, mereka yang merasa cukup hanya dengan mendengarkan lagunya saja tanpa harus memiliki, artwork hanyalah faktor entah di nomor berapa untuk menikmati suatu sajian musik.

Ada ungkapan mainstream “don’t judge a book by its cover”. Kalau mau dilencengkan sedikit menjadi “judge an album by its cover”. Cover album sebetulnya berusaha menyampaikan pesan dari musisinya. Namun terkadang juga dipakai sebagai strategi agar pembeli (diusahakan) tertarik sebelum mendengarkan musiknya. Mungkin inilah mengapa kebanyakan musisi wanita menampilkan wajahnya di cover album. Karena selain menjual suara, mereka juga menjual tampilan.

Oleh karena itu, kami mengapresiasi musisi Kota Makassar yang bersusah payah menghasilkan rilisan fisik. Kami menginterviu illustrator dan desainer artwork CD lokal yang menarik perhatian. Artwork CD yang kami pilih adalah rilisan dari tahun 2014.

Untuk bagian pertama ini, silahkan simak dulu beberapa lagu dari band Wildhorse di sini. Wildhorse merilis EP pertamanya, Delirium, bulan April 2014.

IMG_3813

WIldhorse – Delirium (2014)

 

Artwork Delirium dieksekusi oleh Abrianto Syahrir atau Abe, seorang karyawan di salah satu badan usaha milik Negara. Dari kecil sudah hobi menggambar, tapi tidak pernah menjuarai lomba menggambar tingkat SD dan SMP. Tidak masalah. Artwork album Delirium adalah favorit saya di antara semua rilisan CD lokal Makassar tahun 2014.

IMG_3792

Apa alat dan media yang digunakan dalam pembuatan artwork ini?

Alat yang digunakan kertas sketch, pensil, dan drawing pen, di-scan, yah sudah jadi. Terus terang artwork itu belum jadi seutuhnya. Karena sibuk, saya nggak sempat melanjutkan dengan menambahkan detail atau warna. Jadinya seperti itu. Saya perlihatkan ke Remi, katanya begitu aja, yah sudah.. Hahaha..

Bagaimana ceritanya Abe bisa bekerjasama dengan Wildhorse?

Kebetulan saya berteman dengan Remi melalui Facebook. Jarang bertemu cuma chat. Dia sering bertanya referensi band baru apa nih yang bagus. Awalnya Remi BBM saya dan menanyakan (soal) bisa gambar. Dia minta dibuatkan gambar buat album EP-nya. Saya mau dia nentuin temanya apa, maunya gimana, dia bilang terserah, judulnya Delirium. Yah.. saya bingung jadinya saya gambar itu aja perempuan setengah tengkorak. Dengar-dengar Wildhorse akan mengeluarkan full album, Remi sudah menghubungi saya untuk minta dibuatkan artwork.

Apa yang menginspirasi Abe untuk bikin ini?

Kalau inspirasi, kebetulan saya suka yang berbau skull. Suka banget dengan karya-karya ilustrator Indonesia misal Ken Terror, Anggareza, Riandy K, dan banyak lagi. Ilustator luar, misal Pushead, Mike Stutfin, Mike Majewski, John Baizley, dan Aarik Roper .

Ada pesan yang ingin disampaikan dari artwork Delirium ini?

Pesan? Kayaknya nggak ada.. He he. Itu gambar yang menurut saya asal jadi. Ha ha.. Nggak ada pesan sama sekali. Cuma terlihat seperti orang yang berteriak. Sebenarnya ada beberapa artwork yang saya berikan kepada Remi. Ada juga artwork untuk single lagu Gun and Crow. Nggak tau kenapa dia pilih itu. Mungkin lebih terlihat psychedelic dibandingkan artwork lain yang agak sangar katanya.

Untuk artwork di CD nya sendiri, sebenarnya bukan untuk Wildhorse. Artwork perempuan hippies dengan ornamen ala psychedelic itu saya buat suka-suka saya. Kalau anda perhatikan itu adalah wajah seorang penyanyi/gitaris wanita Indonesia yang saya suka. Pas saya perlihatkan sama Remi, eh dia suka. Ambil saja. Hahahaha.. Oh iya waktu itu saya juga membuatkan sebuah poster artwork untuk released party-nya.

Ada yang bisa tebak ini siapa?

Ada yang bisa tebak ini siapa?

What’s your favorite track on Delirium?

Track favorit? Saya suka dengan lagu yang agak slow, White Sun, kalau nggak salah judulnya. Ada nuansa ballad ala The Rolling Stones di lagu itu.

Last, please give us tips how to draw a skull like you did in Delirium.

Tips? Ha ha.. Banyak tuh di Google, search saja. Hmm.. apa yah? Saya juga masih belajar nih belum bisa kasih tips. Terus belajar aja yah. Yuk, mari berkarya.