Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Setelah sukses mengelar pertunjukan “In The Wake Of The Crimson Eyes” pada 12 Desember 2015 di IFI Bandung, Sigmun kembali melanjutkan perayaan merilis album penuh pertamanya, Crimson Eyes dengan tur perdananya ke Pulau Sulawesi. Perjalanan tur grup psychedelic/ blues rock asal Bandung ini juga termasuk dalam rangkaian festival Rock In Celebes Satellite Show.  Kota pertama yang mereka datangi yaitu Makassar, 18 Desember 2015 dan keesokan harinya di Palu, 19 Desember 2015.

Sigmun yang terdiri dari Haikal Azizi (Vokal/Gitar), Nurachman Andika (Gitar), Mirfak Prabowo (Bass) dan Pratama Kusuma Putra (Drum) yang saya temui untuk mengobrol sejenak sebelum kuartet ini tampil di depan Chambers Shop pada 18 Desember lalu. Sigmun menganggap kedatangan mereka dalam waktu singkat ini karena ingin berinteraksi dengan pendengar-pendengar musik di Makassar selain menikmati kuliner khas kota Daeng. “Awalnya diajakin sama Ardy (Chambers) pas ketemu di RRREC Fest buat ke sini. Pengennya setelah itu, bisa ketemu orang-orang baru lagi yang senang dengan musiknya Sigmun. Saling bantu lah kalo mereka nanti juga ke Bandung,” jelas Haikal.

“Pas soundcheck di depan (Chambers Shop) tadi, udah banyak teman-teman yang datang, padahal kan belum main. Ternyata di Makassar ada juga yang dengerin Sigmun,” ungkap Haikal yang belum membayangkan crowdnya seperti apa, apakah ‘panas’ seperti Surabaya atau kritis kayak di Bandung. “Malah penasaran sama traffic depan toko pas kita main nanti, bakal berhenti atau tidak, hehehe” ujar Mirfak.

Tentang konser showcase untuk Crimson Eyes kemarin, Haikal bercerita beberapa hal yang menggembirakan selepas showcase untuk album penuh mereka yang pertama itu.  “Banyak yang ber-sing along ria pas (showcase) kemarin. first time tuh buat Sigmun, hehehe,” ujarnya. Nurachman Andika yang akrab dipanggil Jono punya impresi yang beda lagi. “Ada yang nyalamin pas manggung. hahaha,” disambut tawa personil Sigmun lainnya. Haikal menganggap showcase tersebut seperti sidang pertanggungjawaban mereka secara live. Mereka bahkan kaget kalau tiket showcasenya habis terjual, walaupun harga tiketnya cukup mahal menurut mereka.

Terkait seputar judul album  yang dinamakan Crimson Eyes yang bisa saja terinspirasi dari raja prog-rock di era tahun 70-an, King Crimson, Haikal juga merasakan ada pengaruhnya. Tetapi sebenarnya dia malah mendapatkan judul tersebut muncul di pikirannya begitu saja.”Kalau interpretasi gue, ngebayangin kata ini kayak Sauron (Lord Of  The Rings) nih, hehehe. Mata yang melihat semuanya di muka Bumi.” Walaupun begitu, mereka tidak ingin pemilihan nama Crimson Eyes jadi metafora tertentu. “Terserah pendengarnya (Sigmun) mau mengartikan seperti apa,” pungkas Haikal.

Proses pengerjaan 11 lagu yang termuat dalam Crimson Eyes yang dimulai dengan pengumpulan materi sejak 2012 ini menurut keempat personil Sigmun memang cukup lama karena mereka masih terus mengulik semua materi hingga betul-betul klop dibawakan pas manggung. Menyiasati lamanya proses tersebut dilakukan dengan mencoba merilis EP atau single dalam format fisik secara terbatas. “kayak surfer, cek ombak dulu deh,”ujar Tama, sang penggebuk drum. Haikal menganggap lamanya proses tersebut akibat ada fase keempat personil terlalu mengkritisi materi hingga jadinya molor karena masih ingin menambahkan bagian lagi. “Kalau di awal 2015 album gak jadi-jadi, mendingan (Sigmun) bubar aja kayaknya. Jadi dipangkas semua kritis-kritisnya, biar langsung direkam (materinya).”

Crimson Eyes yang dirilis dalam format CD, kaset pita dan vinyl ini juga ternyata dirilis dalam format kaset pita 8-track. Mirfak menjelaskan kalau rilisan dalam format tersebut sebenarnya dibuatkan oleh Vanilla Thunder Records dari Singapura dalam edisi terbatas, hanya 10 buah. “Yang collectible seperti (8-track) ini seru juga nih, ditawarin sama mereka, yaudah sikat aja, hehehe.”

Rilisan Crimson Eyes yang sedang ramai diperbincangkan di scene musik tidak serta merta membuat Sigmun merasa menjadi band yang termasuk dalam kategori overrated. “Gak lah, yang sedang-sedang aja, hehehe. Soalnya nanti malah sebaliknya. Kita juga belum pernah tur ke semua kota di Indonesia, kok,” jelas Haikal.

Sigmund

Alunan psychedelic/blues rock dari Sigmun di tengah hujan deras malam itu menggema di Rock In Celebes Satellite Show 2015 Makassar.

Wawancara malam itu yang seringkali diselingi tawa ini mengantarkan pada pertanyaan akhir saya tentang inspirasi mereka dalam berkarya berikut ini.

Musik

Haikal menyebutkan nama Son House, Bob Dylan, Jack White, Led Zeppelin, Black Sabbath,  dan Pink Floyd sebagai sumber inspirasinya dari akar musik blues. “Akhir-akhir ini lagi senang dengar Swans, sih,” ungkapnya. Sedangkan Tama dulunya sering mendengarkan Rage Against The Machine. “Sekarang sih karena banyak yang gue dengerin, jadi cari yang esensialnya aja di tiap genre.” Esensial dalam inspirasi bermusik untuk Sigmun juga dirasakan sama oleh Nurachman Andika yang dulunya sering mendengarkan genre heavy metal, speed metal dan stoner rock. Lalu, Mirfak mengawali sumber inspirasinya dari Nirvana, Blink-182, pas SMP, lambat laun dengar Led Zeppelin, musisi jazz dan electronik. Hingga akhirnya sekarang, Mirfak tidak mendengarkan lagu-lagu baru lagi, berhubung karena tidak alat untuk menyetelnya. “Jadi inspirasinya, ngikut sekitar aja. Lagunya Sigmun aja yang didengar sekarang ini, sambil ngapalin sekalian” tutupnya.

Buku & Puisi

“Al-Quran. itu yang paling atas sih, udah jelas,” kata Haikal dengan mantap. Karya-karya Haruki Murakami juga dibaca oleh Haikal. Tama lagi senang membaca One Punch Man. Jono lebih senang membaca buku-buku dari Kurt Vonnegut dan George Orwell. Sedangkan Mirfak senang membaca komik dan menyebutkan nama Eiichiro Oda, pembuat manga One Piece. “Prison School juga tuh menarik, walau agak berat dibaca,” tuturnya. Sedangkan keempatnya mengaku tidak terlalu mengikuti bacaan puisi.

Film

Pulp Fiction dan Inglorious Basterds karya Quentin Tarantino disebutkan Haikal untuk inspirasi berkaryanya dari film. “Dialog-dialognya remeh temeh, tapi asik nih diikutin.” Sedangkan Tama dulu suka menonton RoboCop dan Starship Troopers. “Pas kuliah baru ngeh kalo sutradara film-film itu Guillermo del Toro.” Jono mantap menyebutkan Lord of The Rings. Sedangkan Mirfak juga senang menonton film-film sci-fi.

Seni Rupa

“Kalau seni rupa sih, pastinya suka sama (Salvador) Dali dan (Joan) Miró,” Haikal menyebutkan seniman-seniman surealis yang disukainya. Sedangkan Tama menyebut nama Cutbu, Masdimboy dan Joan Cornella. Jono menyenangi Wassily Kadinsky dan seniman-seniman abstrak lainnya. “Karena kemarin pas kuliah di FSRD-ITB, saya beda studio kan (dengan Haikal). Jadi tahun ketiga mulai senang dengan yang abstrak-abstrak,” pungkasnya mantap. Sedangkan Mirfak menyebutkan nama Chuck Close,yang punya ciri khas realis ke abstrak, karena dia senang membuat patung atau figure seperti yang terlihat di akun Instagram-nya.

Situs Web

Jono mantap menyebut reddit.com sebagai situs yang sering dikunjunginya.  kuassa.com, renegadeoffun.com menjadi pilihan Tama dalam mencari informasi di dunia maya serta situs-situs komik manga lainnya yang juga diamini oleh Jono dan Mirfak. Haikal menyebutkan situs artsy.net.


Tulisan terkait dengan Rock In Celebes

Mengapa Kita Mesti ke Rock In Celebes 2015

Potret Gemerlap Musik Rock di Tanah Sulawesi

Momen Panggung Musik Cadas di Indonesia Timur

Pencapaian Nyaman Gelaran Musik Rock Indonesia Timur

Belanja dan Musik Hingga Tengah Malam