Foto: M. Farid Wajdi (@aiwajdi)

Mengetahui sejarah berkembangnya musik lebih banyak lagi dari masa ke masa menjadi daya tarik tersendiri bagi saya.  Ya, banyak momen yang terjadi dengan sepanjang sejarah kehidupan manusia pasti erat dengan musik. Umumnya musik berasal dari alat-alat sederhana yang terdapat di alam, kemudian dimodifikasi sedemikian rupa sehingga pantas untuk dikatakan sebagai instrumen musik.

Musik mulai mengalami tahapan yang cukup panjang sampai dikategorikan dengan istilah musik tradisional, modern dan kontemporer. Musik  pun menjadi salah satu bahasa pemersatu manusia dari berbagai kalangan yang paling ampuh sejauh ini, bahkan menyimpan banyak cerita untuk dibahas bersama dalam sebuah forum, yang baiknya juga disimak secara serempak sambil menambahkan apresiasi atau kritik masing-masing terhadap musik yang disimak.

Semangat membahas musik dan prosesnya dalam sebuah forum seperti itulah yang saya temukan di Bunyi-Bunyi PerHalaman yang merupakan sebuah music showcase. Gagasan diadakannya Bunyi-Bunyi Perhalaman berdasar siar persnya yakni pertunjukan musik lalu mendiskusikan hal-hal yang terjadi di dalamnya. Gagasan yang menitikberatkan pada keleluasaan musisi untuk membicarakan karya dan ide ke dalam ruang yang lebih terbuka dan santai. Karena itulah, gagasan Bunyi-Bunyi PerHalaman tidak hanya menyajikan pertunjukkan musik sebagai hiburan semata.

Pada edisi sebelumnya, music showcase serta diskusi interaktif selalu menjadi suguhan utama di setiap gelaran Bunyi-Bunyi PerHalaman. Musisi atau kelompoknya akan mempersentasikan karya dan di ikuti diskusi mengenai gagasan/ide selama berproses kreatif dan bagaimana gagasan tersebut di tuangkan kedalam karya. Proses kreatif inilah menjadi sesuatu yang menarik untuk didiskusikan setelah musisi tersebut menampilkan karyanya untuk didengarkan.

Bunyi-Bunyi Perhalaman sudah memasuki edisi ke-6 pada 15 Februari 2015 lalu. Bunyi-Bunyi PerHalaman yang sejauh ini selalu diadakan di Rumata’ Art Space, pada edisi ke-enam ini menampilkan TERTS, sebuah kelompok musik dari Makassar yang bernafas skiffle, sebuah genre yang semarak pada awal abad ke-20 di negeri Paman Sam. Lagi-lagi informasi ini saya dapat dari kabar pers Bunyi Bunyi PerHalaman edisi ini.

Muatan kata skiffle dari kabar siar pers itulah akhirnya yang membuat saya semakin penasaran untuk hadir menyimak mereka tampil. Lantaran sebelumnya saya menonton TERTS tampil di Musik Hutan 2014 dan ketika bermain pada gig Sergey Onischenko beberapa waktu lalu di sebuah kedai kopi–dimana mereka tampil akustik, saya lalu mengira mereka menampilkan corak musik indie pop yang berpadu dengan string section seperti violin dan cello.

Kalau ditilik informasinya dari Encyclopedia of Britannica,  skiffle adalah  gaya musik yang dimainkan pada instrumen sederhana, pertama kali dipopulerkan di Amerika Serikat pada tahun 1920-an, tetapi dihidupkan kembali oleh musisi Inggris di pertengahan 1950-an. Istilah ini awalnya diterapkan pada musik yang dimainkan oleh band-band yang mengunakan teko (selain teko, band-band ini menampilkan gitar, banjo, harmonika, dan gasing), pertama di Louisville, Kentucky, pada awal 1905.

Kemudian skiffle lebih menonjol di Memphis, Tennessee, di tahun 1920-an dan 30-an. Selain iramanya yang riang gembira karena digunakan untuk menghibur hati, skiffle pun  mengangkat sisi edukasi dalam bermusik, dimana musik ini rata-rata dimainkan oleh kaum kelas pekerja di Negeri Paman Sam.

Skiffle pun sempat terganti oleh musik yang ikut naik daun seperti jazz, blues, folk yang juga mengalami evolusi dari skiffle sendiri. Pada tahun 1955, Lonnie Donegan membawakan lagu “Rock Island Line” dalam irama musik skiffle. Lalu ada juga pemusik muda  waktu itu banyak yang tertarik dengan musik skiffle, termasuk John Lennon dan Paul McCartney.

Keduanya membentuk grup musik skiffle bernama The Quarrymen pada bulan Maret 1957. Kelompok The Quarrymen selanjutnya secara bertahap berkembang menjadi The Beatles. Sebagai tandingan bagi rock and roll Amerika, musisi Inggris menciptakan musik rock and roll gaya Inggris yang selanjutnya terkenal sebagai gerakan musik British Invasion, dan Britania Raya menjadi pusat rock and roll yang baru.

Melihat lika-liku sejarah musik skiffle yang cukup panjang dari masa ke masa itu, TERTS yang dibentuk semenjak tahun 2013 oleh  Armand Hamid (gitar), Bulan Arfa Purnama (Vokal), M. Gindo Doumandi (Keyboard), Rezki Ramadhan (Bass), M. Unsar (Biola), Vikran Marauna (Biola), Rezha Gachi (Cello), ingin menghadirkan nuansa skiffle tersebut di musik yang mereka buat dengan menggunakan instrumen musik modern sekarang ini.

Sebagai bentuk mereka bersungguh-sungguh dalam menghadirkan nuansa skiffle tersebut,  TERTS pun membuka penampilan mereka di Bunyi-Bunyi Perhalaman tepat pukul 16.00 dengan membawakan ulang lagu “I Will” dari The Beatles, yang sejatinya merupakan lagu folk gubahan Paul McCartney dari The White Album (1968).

TERTS pun cukup apik membawakan lagu tersebut dengan suara dari Bulan yang nyaman memasuki kuping telinga, walaupun saya melihat penampilan TERTS agak gugup membawakan lagu tersebut, hal itu mungkin bisa jadi karena lagu ini merupakan pembuka sebelum berlanjut ke set list lagu berikutnya.

TERTS pun cukup apik membawakan lagu "I Will" dari The Beatles, dengan suara dari Bulan yang nyaman memasuki kuping telinga saya dan mungkin beberapa audiens yang menikmati penampilan TERTS di Bunyi-Bunyi Perhalaman edisi ke-6 ini.

TERTS pun cukup apik membawakan lagu “I Will” dari The Beatles, dengan suara dari Bulan yang nyaman memasuki kuping telinga saya dan mungkin beberapa audiens yang menikmati penampilan TERTS di Bunyi-Bunyi Perhalaman edisi ke-6 ini.

Setelah TERTS membawakan lagu tersebut, Adam dari Vonis Media yang menjadi MC pun mempersilahkan audiens yang menyimak sambil duduk bersila, duduk di kursi maupun berdiri, untuk ikut berbagi pertanyaan maupun apa saja yang berkaitan dengan penampilan TERTS. Sebelum masuk ke sesi diskusi, Adam pun sempat menambahkan bahwa TERTS bukanlah ensemble dengan nada sederhana, mengingat latar belakang akademisi musik yang mempengaruhi sebagian besar anggotanya.

Setelah TERTS membawakan lagu tersebut, Adam dari Vonis Media yang menjadi MC pun mempersilahkan audiens yang menyimak sambil duduk bersila, duduk di kursi maupun berdiri, untuk ikut berbagi pertanyaan maupun apa saja yang berkaitan dengan penampilan TERTS.

Setelah TERTS membawakan lagu tersebut, Adam dari Vonis Media yang menjadi MC pun mempersilahkan audiens yang menyimak sambil duduk bersila, duduk di kursi maupun berdiri, untuk ikut berbagi pertanyaan maupun apa saja yang berkaitan dengan penampilan TERTS.

Ada beberapa yang bertanya tentang corak musik yang mereka mainkan, sampai yang bertanya ke hal yang cukup penting, seperti Juang Manyala dari pihak Vonis Media yang bertanya kepada TERTS tentang menghadirkan sebuah album penuh kelak. TERTS pun menjawab beberapa pertanyaan itu yang diwakili oleh Kiki, sang bassist yang cukup mampu memberikan tanggapan yang membahagiakan sekaligus mengaminkan bahwa TERTS punya cita-cita untuk menghadirkan karya mereka sendiri dan sedang dalam tahap mengumpulkan materi dan merangkumnya.

Ada beberapa yang bertanya tentang corak musik yang mereka mainkan, sampai yang bertanya ke hal yang cukup penting, seperti Juang Manyala dari pihak Vonis Media yang bertanya kepada TERTS tentang menghadirkan sebuah album penuh kelak.

Ada beberapa yang bertanya tentang corak musik yang mereka mainkan, sampai yang bertanya ke hal yang cukup penting, seperti Juang Manyala dari pihak Vonis Media yang bertanya kepada TERTS tentang menghadirkan sebuah album penuh kelak.

TERTS pun melanjutkan lagi penampilan mereka dengan membawakan lagu karya mereka sendiri, “Sepenggal Cerita”, yang bercerita tentang romantisme dua sejoli yang punya sepenggal kisah untuk dikenang–itu yang saya tangkap dari lirik yang dinyanyikan Bulan. Musik yang ditawarkan TERTS di lagu tersebut cukup menghadirkan nuansa skiffle, terlebih lagi permainan gitar apik penuh nuansa indie pop berbaur dengan akord-akord tujuh dari Armando Hamid, yang merupakan salah gitaris kidal favorit saya di scene musik Makassar beberapa tahun ini.

Setelah “Sepenggal Cerita” mereka pun membawakan ulang “Fuerteventura” dari Russian Red–nama panggung Lourdes Hernandez dari musisi asal Spanyol, yang pernah mereka bawakan juga di Musik Hutan 2014 lalu. Di lagu ini, aksi dari masing-masing personil yang memang merupakan akademisi dari bidang musik, mulai tampak dengan mereka mampu meramunya lagu musisi lain ini seolah-olah lagu mereka ini. Wah!

Kemudian sesi tanya jawab pun dimulai lagi. Saya sempat bertanya dari beberapa orang yang mengajukan pertanyaan kepada TERTS. Saya bertanya tentang mengapa TERTS mau memainkan corak musik ini, padahal musik seperti ini masih awam di telinga para penikmat musik di kota Makassar.

Saya pun menambahkan bahwa energi musik yang ditampilkan oleh TERTS ini pun serupa dengan yang ditampilkan oleh musisi-musisi yang menghadirkan skiffle dalam musiknya, semisal di Mocca di Bandung, Aurette and The Polska Seeking Carnival dari Jogja dan Afternoon Talk dari Lampung. TERTS pun menanggapi beberapa pertanyaan dan saran dari sesi diskusi bagian kedua yang secara keseluruhan cukup positif disambut oleh mereka, sama halnya dengan semangat mereka menghadirkan kembali nuansa skiffle yang belum di musisi-musisi kota Makassar generasi sekarang.

Setelah sesi diskusi kedua, TERTS pun dipersilahkan untuk menutup setlistnya dengan “Cerita Rindu” yang merupakan lagu karya mereka sendiri. Seperti halnya lagu mereka yang dinyanyikan sebelumnya, mereka pun masih berkutat dengan kisah romantis tapi seperti bermuatan long distance relationship. He he he.

Ternyata set list lagu TERTS sore itu masih perlu nomor pamungkas yang cukup legend dari soundtrack film Sound of Music yang dinyanyikan Julie Andrews, “Do Re Mi Fa”. Penampilan untuk lagu ini pun cukup istimewa karena kehadiran tiga penyanyi cilik yang merupakan siswi dari Purwacaraka Music Studio yang ikut bernyanyi bersama Bulan, menimpali liukan nada-nada yang dimainkan oleh personil lainnya.  Tak pelak setelah penampilan penutup itu, riuh rendah gemuruh tepuk tangan dari audiens pun menyambut penampilan TERTS di Bunyi-Bunyi Perhalaman edisi ke-enam.

Ternyata set list lagu TERTS sore itu masih perlu nomor pamungkas yang cukup legend dari soundtrack film Sound of Music yang dinyanyikan Julie Andrews, "Do Re Mi Fa". Penampilan untuk lagu ini pun cukup istimewa karena kehadiran tiga penyanyi cilik dari Purwacaraka Music School.

Ternyata set list lagu TERTS sore itu masih perlu nomor pamungkas yang cukup legend dari soundtrack film Sound of Music yang dinyanyikan Julie Andrews, “Do Re Mi Fa”. Penampilan untuk lagu ini pun cukup istimewa karena kehadiran tiga penyanyi cilik dari Purwacaraka Music Studio.

Audiens yang terpukau dengan kehadiran tiga siswi dari Purwacaraka Music School yang ikut bernyanyi bersama TERTS di lagu "Do Re Mi Fa".

Audiens yang terpukau dengan kehadiran tiga siswi dari Purwacaraka Music Studio yang ikut bernyanyi bersama TERTS di lagu “Do Re Mi Fa”.

Para personil TERTS dengan siswi dari Purwacaraka Music School yang ikut memeriahkan suasana penampilan mereka di Bunyi-Bunyi Perhalaman edisi ke-enam di Rumata' Art Space.

Para personil TERTS dengan tiga siswi dari Purwacaraka Music Studio yang ikut memeriahkan suasana penampilan mereka di Bunyi-Bunyi Perhalaman edisi ke-enam di Rumata’ Art Space.

Edisi Bunyi-Bunyi Perhalaman ini sah-sah saja dibatasi keterbatasan waktu untuk menyimak TERTS. Namun setelah menyimak kejutan-kejutan membahagiakan yang ditampilkan TERTS sore itu, saya semakin yakin kalau TERTS punya banyak potensi menjadi generasi penerus nafas musik skiffle selanjutnya jika mereka mau untuk serius menghadirkan dalam wujud nyata dari apa yang didiskusikan dalam forum Bunyi-Bunyi Perhalaman tadi. Saya percaya saja mereka mampu mengaungkan kembali corak musik skiffle dari wilayah Indonesia Timur. Mari dido’akan lancar selancar-lancarnya untuk TERTS ! []