Sumber Foto: Anatomy ( @anatomy_dm )

Death metal dan slam seperti dua sisi uang koin. Berbeda, namun tetap dalam satu tempat. Death metal terdengar sangat bergemuruh dengan permainan drum dan sentuhan melodi gitar dan bass yang bisa menghipnotis, sedangkan slam terdengar sangat memprovokasi pendengarnya untuk tidak tinggal diam, dan masuk ke ganasnya mosh pit.

Salah satu band yang membaurkan death metal dan slam yang saya ketahui adalah Anatomy dari Makassar. Band yang dipelopori oleh Ibnu dan Akbar ini terbentuk pada 23 Mei 2014. Anatomy sempat berganti-ganti personil, dan pada akhirnya mantap digawangi oleh Syahril (Vocal), Ibnu (Gitar), Feby (Bass), Yudi (Gitar), dan Akbar (Drum). Anatomy sudah meluncurkan 3 lagu yaitu Bangkai Penjilat Ludah, Gluttonous, dan Organ Tanpa Darah di akun Reverbnation resmi mereka. Melalui Anatomy pula, akhirnya saya bisa menyimak band death metal dari Makassar yang mengangkat tema Keserakahan dan kerakusan manusia, tidak lepas dari mayat atau jenazah yang membusuk dengan sentuhan slam.

Tanggal 22 Juni 2016, saya berkesempatan bertemu dan melontarkan beberapa pertanyaan kepada Anatomy, termasuk cara memadukan gemuruh death metal dengan slam yang provokatif. Yudi, sang gitaris berhalangan hadir karena sakit. Menurut pengakuan Ibnu, selain gonta-ganti personel, Anatomy juga sempat mengubah haluan bermusik mereka. Dari yang awalnya memainkan slam, mereka sekarang memainkan death metal dengan alasan, pada waktu itu, slam sangat menjamur sedangkan hanya segelintir band yang memainkan death metal. Kuintet ini sudah sering tampil di berbagai gigs musik cadas, baik di dalam maupun di luar kota Makasar. Tak heran jika banyak penikmat musik cadas sudah tidak asing dengan band ini. Melalui obrolan ini pula, saya baru mengetahui kalau Anatomy sengaja tidak membuat album promosi karena sedang menggarap full album mereka yang rencananya akan dirilis antara akhir tahun ini atau awal tahun depan. Saya semakin tak sabar menunggu rilis albumnya.

Dalam bermusik, masing-masing personil punya selera tersendiri. Misalnya Syahril, ia berkiblat kepada band-band slam seperti Condemned, Cephalotripsy, Necropsy, dan Miraculous. Ibnu berkiblat kepada band-band seperti Gorgasm, Disgorge, Nile, Dying Fetus. Untuk Akbar, ia berkiblat ke Obscura, dan Dying Fetus. Sedangkan Feby, ia lebih banyak mendengarkan band slam asal Australia, Disentomb. Akbar menambahkan bahwa Anatomy dalam bermusik tidak terpaku hanya pada death metal. Ia menambahkan slam agar terdengar lebih variatif. Jadi, kesan death metal dengan sentuhan slam memang disengaja.

Band ini juga membuat saya kagum dari sisi personelnya. Bagaimana tidak, Anatomy punya seorang bassist perempuan yang tidak memainkan bass guitar-nya dengan lemah lembut, namun sebaliknya, garang dan buas! Setelah bertanya kepada Feby, ia bercerita ringkas perihal bergabung dengan Anatomy. Pada awalnya ia hanya sering berkumpul dan pernah ikut Anatomy latihan, dan mengisi bass, karena ia tahu bahwa Anatomy lagi kekosongan posisi pemain bass. Kemudian Ibnu mengajak Feby untuk mengisi posisi tersebut di Anatomy. Sempat terlontar kata enggan, namun seiring waktu berjalan, ia perlahan mulai menikmati posisinya sebagai bassist.

Anatomy dalam perjalanannya juga tidak lepas dari orang-orang yang turut mendukung pergerakannya. Nama-nama ini saya rasa sudah tidak asing dalam skena musik metal di kota Makassar, misalnya Fuad (High Voltage), Oscar LoeJoe, kak Cada’, Ical (Harakiri, Emergency, Algore Corp). Selain nama-nama tersebut, Ibnu juga mengatakan bahwa crowd yang ikut dalam liarnya mosh pit saat Anatomy tampil live juga menjadi semangat tersendiri bagi mereka untuk tetap berkarya.

Sama seperti band-band lainnya, Anatomy juga berharap agar musik yang dibuat agar bisa diterima para penikmat musik cadas. Selain itu, Anatomy juga peka dalam melihat situasi dan kondisi gigs atau bahkan konser sekalipun yang tidak lepas dari yang namanya rusuh walaupun berskala kecil. Mereka berharap bahwa musik Metal itu bukanlah sebuah bentuk dari kekerasan atau media untuk melangsungkan kekerasan. Musik Metal pada dasarnya untuk bersenang-senang, untuk berkarya, dan untuk mempererat pertemanan atau bahkan kekeluargaan.

Beberapa waktu yang lalu, Anatomy juga merilis video klip berbentuk footage resmi untuk lagu Organ Tanpa Darah di akun YouTube mereka. Hampir sama dengan Theogony yang juga merilis footage mereka yang diambil saat sesi recording, Anatomy membuat footage mereka dengan mengumpulkan beberapa video dokumentasi saat mereka tampil live di dua gigs yang berbeda. Menurut Akbar, Organ Tanpa Darah mengisahkan betapa kejamnya keserakahan dan kerakusan manusia yang membabi buta. Simak videonya berikut ini.


Baca tulisan lainnya

Death Metal dengan Sentuhan Futuristik

30 Musik Ekstrem yang Beragam

Mengarungi Kegelapan yang Bernyawa

Meneruskan Konsistensi di Jalur Musik Metal

Selebrasi Monumental dan Sentimentil di Penghujung April