Teks: Jumardan Muhammad | Foto: Tim Media MIWF 2017

Hari ketiga Makassar International Writers Festival (MIWF) 2017 (19/5), mengingatkan says kepada E.H Gombrich di buku A Little History of The World: If you want to do anything new, you must first make sure you know what peope have tried before. Benang merah dari beberapa rangkaian kegiatan berusaha menjembatani orang-orang muda dengan tradisi dan kebudayaan yang ada di lingkungan mereka.

Agenda pertama adalah MIWF Goes to Campus: Bissu and other stories about minorities yang diadakan di Ballroom Menara Pinisi, Universitas Negeri Makassar pukul 10.00-11.30 WITA. Diskusi ini menghadirkan para pembicara dengan sudut pandang yang berbeda dalam mengalami minoritas. Adalah Yerry Wirawan (Indonesia), Halilintar Latief (Indonesia), Bénécdite Gorrillot (Prancis), dan Faisal Oddang (Indonesia) yang hadir sebagai pembicara. Perbincangan dibuka dengan penuturan Halilintar Latief yang telah meneliti Bissu selama bertahun-tahun di mana dia menjelaskan lebih dulu pengertian bissu, sejarah, dan tugas-tugasnya.

Peserta yang hadir di Gedung Phinisi di hari ketiga MIWF 2017. Ramai!

Babakan cerita eksistensi bissu dibaginya ke dalam empat bagian yakni, masa pra Islam, setelah Indonesia merdeka, gerakan DI/TII, masa G30S PKI, dan masa setelah reformasi. Bénécdite Gorrillot menyambungnya dengan menjelaskan pembagian puisi akademik dan puisi modern yang pada awalnya puisi modern dianggap sebagai minoritas. Bahwa persinggungan ini berlangsung sejak lama di Prancis dan kemudian membagi orang dalam kelompok-kelompok. Selanjutnya, Yerry Wirawan memaparkan sejarah Tionghoa di Makassar yang selama ini dianggap sebagai minoritas namun jika dirunut—apa yang ditemukannya ternyata berbeda sebab hadirnya Makassar hari ini adalah dibangun dari banyak minoritas-minoritas yang mengisi tiap-tiap wilayah di Makassar, sebut saja Kampung Melayu, Kampung Cina, dan Kampung Bali sebagai contoh. Diakhir, Faisal Oddang yang tampil sebagai pembicara termuda mengatakan bahwa karya-karya fiksi yang ditulisnya lahir dari penelitian panjang tentang sejarah-sejarah kaum minoritas.

Berikutnya di Hall DKM di Fort Rotterdam pukul 14.00-15.30 WITA program Writing The Traditions dengan menghadirkan orang-orang muda seperti Erni Aladjai (Indonesia), Shida Bazyar (Jerman), Faisal Oddang (Indonesia), dan Alfian Dippahatang (Indonesia) digelar. Seluruh penulis muda ini menjadikan tradisi dan kebudayaan yang ada di daerah mereka sebagai inspirasi dalam berkarya. Hal serupa juga disampaikan oleh penuturan para Emerging Writers yang hadir dalam diskusi tersebut. Sebab menurut Erni, kita akan terus berada dalam lingkungan tradisi dan budaya. Sumber daya inilah yang dimasukkan dalam proses kreatif dalam berkarya dan hasil yang disajikan adalah penafsiran-penafsiran baru yang akan membuat kita lebih kaya.

Di akhir diskusi, seorang peserta sahabat dari jauh—salah satu program MIWF yang ditujukan bagi anak-anak sekolah menengah, bertanya mengenai benturan antara tradisi masyarakat Bugis di daerahnya yang masih terpengaruh dari kepercayaan animisme serta dinamisme dan agama Islam yang dianutnya. Faisal Oddang yang banyak menulis tentang hal-hal seperti ini menyarankan untuk melihat banyak pandangan.

Seperti yang dicontohkan Alfian Dipahattang bahwa bagaimana ia kemudian selama ini menggabungkan mantra yang diberikan oleh orang tuanya dengan doa-doa yang ada di Al-Quran. Maria Pankratia salah seorang Emerging Writers MIWF 2017 dari Ende menambahkan bahwa kepercayaan yang orang-orang tua terdahulu anut ada baiknya kita hormati sebagai penghormatan terhadap mereka, sedangkan agama yang dianut oleh masyarakat adalah sebagai penghormatan terhadap Tuhan yang mengadakan segalanya.

Di penghujung forum-forum hari ketiga MIWF 2017, Yoris Sebastian (Indonesia) hadir dengan diskusi berjudul Instant VS Fast di Verandah 3 pukul 16.00-17.30 WITA. Generasi millenials adalah generasi yang saat ini hangat diperbincangkan karena kebiasaan mereka yang sangat berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Salah satunya adalah kecepatan yang dimiliki oleh generasi ini. Di awal diskusi Yoris dengan tegas mengatakan bahwa Millenials Indonesia yang kemudian dia terjemahkan sebagai Generasi Langgas, generasi yang bebas dalam memilih sekolah, jurusan, pekerjaan, dan usaha yang akan dijalankan—bukan generasi instan sebab instan cenderung berkonotasi negatif. Dia lebih suka menyebut generasi langgas sebagai generasi cepat.

Buku adalah contoh konkret dari hal tersebut. Dulu, kita harus ke perpustakaan untuk mencari buku yang kita inginkan, namun saat ini kita sudah punya Google yang bisa ditanyai kapan saja. Dia pun meramalkan kelak tiap orang bisa membuat bukunya sendiri dan bisa diakses oleh semua orang. Ketakutan akan generasi cepat yang justru eksistensinya juga tidak akan lama ini ditanggapi Irfan Ramli selaku moderator.

Contoh gamblang yang diberikan Yoris adalah Gojek. Bahwa sebelum muncul di smartphone, Gojek terlebih dahulu hadir dalam bentuk website. Permintaan pasar yang semakin tinggi, akhirnya membuat Gojek kemudian bisa diakses di ponsel cerdas. Proses menurutnya adalah hal yang paling utama—bahwa yang berproses itulah yang kemudian akan dapat terus bertahan. Olehnya itu, generasi langgas ia harapkan untuk terus belajar dan berproses.

Terkait pekerjaan yang dilakoni generasi ini di Indonesia yang sering sekali berpindah dan tidak betah di suatu pekerjaan, menurut penulis buku-buku kreativitas ini—ada baiknya jika tiap-tiap pekerjaan yang dijalani memiliki benang merah yang dapat ditarik sehingga kelak akan menjadi spesialis di suatu bidang tertentu. Lebih lanjut, keberlimpahan sumber daya dan kesempatan untuk memilih banyak pekerjaan saat ini bagi generasi langgas pun sudah sangat beragam.

Keinginan orang tua yang notabene sebagian besar merupakan generasi X, generasi sebelum generasi langgas, untuk menjadikan anaknya seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang menurut salah satu penanya di diskusi ini masih menjadi pertentangan, hal ini ditanggapi Yoris dengan teori IKIGAI. Empat hal yang harus ditanyakan ke diri sendiri sebelum berdiskusi dengan orang tua tentang sebuah pilihan yakni, What you love? What you are good at? What the world needs? What you can be paid for? Generasi langgas tidak boleh serta merta menolak keinginan orang tua sebab mereka hanya yang terbaik buat anaknya, maka dari itu pertanyaan-pertanyaan tersebut harus lebih dulu dijawab.

Sore hari ketiga MIWF 2017 di Fort Rotterdam: matahari kian ke barat, orang-orang muda pun kian ramai. Selain di Kids Corner yang digawangi Heru Dongeng yang riuh oleh anak-anak, di Taman Rasa pun menggempita oleh A Cup of Poetry an Afternoon yang dipandu Maman Suherman. Saya mengingat Yerry Wirawan disela diskusi Bissu and other stories about minorities—keberadaan orang-orang muda yang menghadiri festival penulis ini akan membuka peluang bagi mereka untuk memahami perbedaan dan meluaskan cara pandang.