Oleh: Afif Alhariri ( @bung_ucok ) | Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Badan Pusat Statistik Indonesia menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia sekarang mencapai 237.641.326 jiwa. Dengan jumlah laki – laki sekitar 119.630.913 jiwa, perempuan 118.010.413 jiwa. Usia ini kemudian digolongkan menjadi tiga kelompok yakni usia di bawah 15 tahun, usia di antara 15 – 64 tahun dan usia di atas 64 tahun. Untuk usia kategori menikah yakni 15 – 64 tahun, ditemukan perbandingan jumlah perempuan sebanyak 78.869.160 jiwa dan laki – laki 78.083.952 jiwa.

Jika diasumsikan bahwa setiap rata – rata wanita menikah dengan satu pria, maka akan ditemukan 785.208 pria yang kemungkinan besar akan menjadi jomblo permanen. Pembicaraan mengenai statistika jomblo permanen ini akan dibicarakan khusus nanti. Hal yang perlu diketahui bahwa jomblo – jomblo ini punya ciri khas yang sama yakni menjadikan sosok wanita di layar TV sebagai idola.

Jomblo – jomblo negara ini pernah menjadikan Dian Sastro sebagai “The Best Woman in Indonesia”. Puthut EA malah pernah menasbihkan bahwa seharusnya Dian Sastro menjadi presiden Indonesia karena pesonanya yang mampu membuat sosok Rangga tak memiliki kekasih selama 12 purnama di New York.

Lelaki mana coba yang bisa tahan godaan wanita cantik dan seksi di New York? Jelas itu sebuah anomali. Sosok Dian yang melejit melalui film “Ada Apa Dengan Cinta” sukses membawa jomblo – jomblo Indonesia ke dalam lamunan asmara tinggi menggapai langit khayalan. Cantik, pintar, ketua Mading, dan jago bikin puisi. Maka pesona mana lagi yang jomblo dustakan?

Namun, sebagaimana sebuah kompetisi, selalu ada pemenang.  Indraguna Sutowo, lelaki yang berani muncul menjadikan Dian Sastro sebagai kekasih dalam satu ikatan rumah tangga. Meninggalkan jomblo – jomblo yang kecewa dan akhirnya melupakan sosok Dian Sastro dalam hidupnya.

“Habis Gelap Terbitlah Terang” -RA Kartini

Kalimat tersebut adalah wejangan dari sosok bangsawati Jepara yang memberikan deskripsi bahwa di setiap masa sulit akan hadir masa kebahagiaan yang menyertainya. Jomblo – jomblo yang pernah mengalami kegamangan hidup karena ditinggalkan oleh Dian Sastro, akhirnya menemukan sosok pengganti.

Sosok yang jauh lebih muda, berambut panjang, dan memiliki lesung pipit yang memberi efek senyuman manis di wajahnya. Terlebih lagi, saat ia memutuskan berhijab membuat para jomblo menasbihkan diri sebagai jomblo syariah; mencintai sosoknya yang berhijab.

Wanita itu bernama Alyssa Soebandono. Menemukan sosok Alyssa, seperti membelah atmosfir berlapis – lapis, meluncur bareng paus akrobatis dan ngebut ke rasi bintang paling romantis. Tetapi, ngebut ke rasi bintang tidak cukup bertahan lama. Jomblo terjatuh dari atmosfir yang berlapis – lapis, terjepit di bawah paus akrobatis. Alyssa kemudian menerima pinangan Dude Herlino secara drastis. Mereka menikah dengan suasana yang islami dan romantis. Jomblo – jomblo murtad, tidak lagi menjadi jomblo syariah, merintih, menangis, meringis.

Dihempaskan dua kali, jomblo – jomblo negara ini berusaha bangkit. Ketika D’Masiv membuat sebuah video clip yang berjudul “Sudahi Perih Ini”, model yang digunakan adalah Revalina S Temat. Video ini menceritakan seorang polisi yang memiliki kekasih seorang aktivis dan harus dipertemukan dalam satu aksi demonstrasi. Ryan, sebagai seorang polisi harus menghadapi Revalina sang aktivis. Jomblo – jomblo yang mengaku aktivis, jendral lapangan demonstrasi, orator aksi kemudian menjadikan Revalina sebagai ikon wanita perjuangan.

Bayangkan, di tengah aksi demonstrasi yang panas, berdebu dan penuh asap, kulit Revalina seolah tidak ternoda sedikit pun. Pesona kecantikannya tidak mempan digempur gas air mata. Matanya tajam, menantang polisi anti huru hara. Sosoknya di video ini digadang – gadang mampu menyaingi ketenaran Camila Vallejo, ketua Persatuan Mahasiswa Chili (aktivis partai komunis, penyebab puluhan demonstrasi dan pemogokan buruh yang terjadi di Chili). Tetapi Revalina, seperti dua wanita sebelumnya (Dian dan Alyssa) akhirnya memutuskan untuk menikah bulan ini. Revalina seakan memaksa para jomblo untuk bernyanyi  “cukup sudah. Kau sakiti aku lagi. Serpihan perih ini. Akan kubawa mati”.

Semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang” wejangan ibu kita Kartini putri sejati, putri yang mulia, bukan harum namanya, telah merasuk ke dalam denyut – denyut nadi kaum jomblo. Sebuah semboyan yang setara dengan pekikan “Merdeka atau Mati” adalah penyemangat hidup kaum jomblo. Pertanyaannya adalah selepas Revalina, siapa lagi wanita yang bisa dijadikan khayalan asmara? Habis gelap, mentari mana lagi yang hadir membawa cahaya di bumi jomblo yang kering kerontang, tandus dari air hujan kasih sayang?

Seperti telah ditakdirkan dari langit, ini adalah momen yang tepat untuk mengangkat sosok Chelsea Islan. Terlebih lagi, Chelsea yang saat ini tengah ditempa badai masalah seputar video bugilnya yang beredar di dunia maya. Bukan berarti kemudian mesti ikut – ikutan me-download video tersebut, kemudian dijadikan bahan onani perenungan mendalam. Justru momen ini merupakan kesempatan buat para jomblo untuk menunjukkan bahwa jomblo – jomblo Indonesia itu anti perbuatan asusila.

Jomblo – jomblo anti perbuatan asusila harus bersatu padu menentang eksploitasi tubuh Chelsea Islan yang telah melanggar kemanusiaan. Sebab tubuh adalah hak prerogatif seseorang. Mengunggah dan mengunduh video bugil tanpa seizin pemilik tubuh yang bersangkutan adalah upaya untuk merendahkan martabat. Sebab, manusia tidak memiliki hak untuk memasuki wilayah privasi seseorang terlebih untuk perkara tubuh. Ditambah lagi dengan mencaci maki Chelsea perihal video tersebut. Mereka tidak menyadari bagaimana sekiranya video bugil yang mereka lihat adalah milik ibu atau saudara perempuannya.

Cukuplah kita sebagai jomblo – jomblo beradab menikmati Chelsea Islan melalui aksi perannya di layar kaca. Melupakan bahwa Chelsea pernah menjadi korban dari manusia – manusia tidak waras yang menempatkan pikirannya di tengah selangkangan. Korban kejahatan pornografi berhak dilindungi hak dan kehormatannya, kata Arman Dhani. Cukuplah bagi kita menikmati wajah bete-nya saat memarahi Bintang di serial Tetangga Masa Gitu. Atau membuka website Tokobagus untuk melihat Chelsea memakai baju hijau. Sebab mencintai dengan sederhana itu lebih indah. Mari mencintai Chelsea Islan dengan sederhana, bukan dengan berusaha memiliki otoritas atas privasi tubuhnya. []


 

Baca tulisan lainnya dari Afif Alhariri

Batu Akik dan Curhatan Anak Geologi

Tan Malaka, Bapak Jomblo Indonesia

Kembalilah ke Panggung Musik, Nuri!

Surat Terbuka Untuk Danny Pomanto