Sumber Gambar: Liberty Films & RKO Pictures

“You see, George, you really have a wonderful life. Don’t you see what a mistake it would be to throw it away?”

Pernahkah kalian merasa begitu depresi dan hopeless, seakan-akan masalah yang kalian hadapi hanya berujung jalan buntu? Dan saking beratnya tekanan yang kalian rasakan, kalian hanya ingin mati?

George Bailey pernah. Saat itu malam Natal. Salju turun. Istri dan anak-anaknya di rumah, mendoakannya. George berdiri sendiri di ujung jembatan. Di bawahnya menunggu sungai dalam dengan arus deras. Dia baru saja akan lompat dari jembatan ketika seorang lelaki tua jatuh ke bawah sungai arus deras itu duluan. George tiba-tiba lupa rencana awalnya, tapi tetap meloncat. Hanya saja, saat dia loncat, dia tak ingin mati bunuh diri, tapi dia ingin secepatnya membantu lelaki tua yang meminta tolong itu.

Saking beratnya dengan tekanan hidup, George sempat berfikir untuk mengakhiri hidupnya dengan terjun dari jembatan.

Saking beratnya dengan tekanan hidup, George sempat berfikir untuk mengakhiri hidupnya dengan terjun dari jembatan.

Lelaki tua itu bernama Clarence. Clarence adalah Malaikat Pelindung George. Dia mengaku dikirim Tuhan untuk membantu George keluar dari masalahnya. Namun, seperti manusia waras lainnya, George tidak percaya. Tapi George tetap bertanya bagaimana Clarence akan menolongnya? Apakah kebetulan dia punya uang sejumlah $8.000 yang dibutuhkannya?

Clarence tentu tak punya, sebab di Surga tak mengenal uang. George makin depresi dan mengatakan, “I wish I’d never been born at all”.

Lalu permintaan George didengar Tuhan. Clarence membawanya berkeliling Bedford Falls, kota tempat tinggal George sejak kecil. Clarence ingin menunjukkan pada George, bagaimana keadaan kota itu jika George tak pernah ada, tak pernah lahir. Dan saat dibawa berkeliling itulah George panik luar biasa. Dia menyadari betapa berbedanya kehidupan saat dia ada dengan saat dia tak ada.

 Clarence adalah Malaikat Pelindung George. Dia mengaku dikirim Tuhan untuk membantu George keluar dari masalahnya.

Clarence adalah Malaikat Pelindung George. Dia mengaku dikirim Tuhan untuk membantu George keluar dari masalahnya.

Bedford Hills berubah nama menjadi Pottersville, dari Mr. Potter, penguasa kota yang jahat. Kota itu penuh dengan bar-bar dan tempat hiburan malam, klub, dan tempat pelacuran. Rumahnya dengan Mary dan anak-anaknya lenyap. Adiknya, Harry Bailey, meninggal saat berumur 9 tahun, yang jika dia ada, tentu masih hidup. Ibunya menjadi pemilik kos yang tak bahagia. Pamannya, Uncle Billy, dirawat di rumah sakit jiwa karena usahanya bangkrut. Dan Mary, yang semestinya menjadi istrinya, malah menjadi perawan tua yang mengurus perpustakaan kota. Sahabat-sahabatnya, Ernie supir taksi dan Bert polisi kota ataupun Martini dan Nick, tak mengenalinya. Kehidupan mereka semua jauh dari sejahtera.

Keadaan kota Bedford Falls ketika George tidak ada, enuh dengan bar-bar dan tempat hiburan malam, klub, dan tempat pelacuran.

Keadaan kota Bedford Hills bila saja George tidak ada, penuh dengan bar-bar dan tempat hiburan malam, klub, dan tempat pelacuran.

George akhirnya meminta agar Tuhan membuat semuanya, termasuk kehidupannya, kembali.

Strange, isn’t it? Each man’s life touches so many other lives. When he isn’t around he leaves an awful hole, doesn’t he?

It’s a Wonderful Life dirilis pada Desember tahun 1946. Film hitam putih ini disutradarai oleh Frank Chapra dan diangkat dari cerita pendek berjudul The Greatest Gift karya Philip Van Doren Stern yang dirilis pada 1945. Film ini menjadi populer sejak sejumlah stasiun televisi memutarnya pada 1980-an dan akhirnya sampai sekarang, menjadi tontonan wajib saat musim Natal tiba.

Film ini bercerita tentang George Bailey (diperankan oleh James Stewart), laki-laki yang menyerah mengejar mimpinya untuk membantu orang-orang di sekitarnya. Di suatu malam Natal, dia ingin bunuh diri tapi dicegah oleh Clarence (Henry Tavers). Clarence lalu menunjukkan pada George bagaimana dia telah menyentuh banyak sekali kehidupan di Bedford Falls dan betapa berbeda semuanya jika dia tak pernah lahir.

Film yang dinominasikan lima Academy Awards termasuk Best Picture ini telah diwarnai ulang  pada tahun 1989 dan diakui oleh American Film Institute sebagai satu dari 100 Film Amerika Terbaik yang pernah ada. Internet Movie Database memberi rating 8.6/10 dan Rotten Tomatoes memberinya 96%.

Salah satu adegan It's A Wonderful Life yang telah diwarnai ulang pada tahun 1989

Salah satu adegan It’s A Wonderful Life yang telah diwarnai ulang pada tahun 1989.

Adegan yang paling mengharukan tentu di bagian akhir film. Saat semua sahabat, keluarga dan tetangganya di Bedford Hills, datang ke rumahnya merayakan Natal sambil membawa sumbangan uang yang dibutuhkan George. Mereka bernyanyi dan berbahagia. Lalu, seperti yang dituliskan Clarence, “Remember, no man is a failure who has friends“.

Have a nice watching and Merry Christmas for you who celebrate it!

itsawonderfullife-ReviusSutradara: Frank Capra | Tanggal Rilis: 20 Desember 1946 | Genre: Comedy, Drama |Durasi: 135 menit | Rating: 4/4 Stars

 Baca ulasan film lainnya dari Riana Anwar

Mengenal Louis Zamperini

What’s Inside Your Head?

Belajar Tentang Hidup dari Pangeran Kecil

Menghargai Karya Seni Lewat Film