Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Ramadan akan melangkahkan kakinya pergi sebentar lagi. Bersama itu pula, berbagai macam hal, fenomena, dan peristiwa yang terjadi. Ada yang berulang, ada pula yang baru mencuat. Uniknya, hal-hal tersebut biasanya juga terjadi di kehidupan sehari-hari. Berikut pengalaman dan pengamatan enam redaksi Revius tentang hal tersebut.


Aswan Pratama

Fenomena Diskon

Bulan Ramadan memang bulan penuh nikmat. Pada bulan ini orang berlomba-lomba mencari amal dengan beribadah dan lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. Namun, banyak yang tidak sadar pada bulan puasa, justru hasrat konsumtif kita juga ikut berpacu. Hal itu dimanfaatkan oleh pihak pedagang untuk menjalankan taktik yang sebenarnya umum digunakan di luar bulan puasa. namun jika tiba bulan puasa taktiknya bisa untuk berlipat ganda.

Seperti ketika saya pernah menemani seorang teman mencari pakaian muslim dan di toko langganan sebelum Ramadan. Di sana tertera papan diskon 30%, teman saya malah berkomentar, “kecil diskonnya”. Lucunya, saya melihat hal berbeda bisa terjadi saat Ramadan.Taktik penjualan “Promo Ramadan 30%” malam membuat banyak orang bisa saja kehilangan akalnya.

Tidak hanya pakaian, ini juga terjadi untuk bahan pokok salah satu contoh daging. Menurut informasi dari Oma saya, harga daging sekarang kurang lebih menyentuh Rp.150.000/kg. Kalau harga tersebut dipajang, pembeli pasti akan pikir-pikir dulu mengingat masih banyak kebutuhan lain selain daging.

Tapi untuk menyiasati itu, pihak Supermarket biasanya lebih memajang harga Rp.15.000/ons, yang entah kenapa selalu berhasil menarik minat pembeli. Bahkan saat saya menemani Oma belanja banyak yang beli lebih dari 10 ons, orang mudah mencap murah label harga yang tidak sampai 20 ribu. Ya, taktik penjualan digunakan pusat perbelanjaan dan supermarket pada bulan Ramadan bila kita cermat sebenarnya sama saja hanya dengan lebih banyak angin-angin surga dan kata promo diskon.

Rahmat Hidayat Husain

Ramadan adalah bulan yang penuh keuntungan. Untung buat para penimbun pahala agar masuk surga karena setiap ibadah di bulan ramadan pahalanya berlipat ganda. Juga buat para pemodal besar yang omsetnya berlipat ganda karena hidayah berupa THR turun di bulan ramadan dari mereka yang rela berjihad bersama di pusat perbelanjaan. Entah sejak kapan Ramadan dan laku konsumtif mempunyai hubungan mesra. Selain laku konsumtif itu, ada lagi fenomena-fenomena lainnya yang hits saat Ramadan berikut ini.

Busana muslim, peci, dan mukena karbitan

Selain pahala, adalagi yang berlipat ganda di bulan Ramadan ini, yaitu: pakaian muslim lengkap dengan peci dan mukena cetar. Karbitan ternyata bukan cuma milik selebriti macam Norman Kamaru atau band pop dengan lagu-lagu religinya, tapi juga milik pengguna busana muslim dan mukena di bulan Ramadan. Sejauh mata memandang, kita dengan mudah mendapatkan pengguna busana muslim lengkap dengan peci (termasuk peci branded) dan mukena cetarnya di pelbagai tempat. Di jalanan, khususnya yang mengendarai roda dua, sangat sering kita temui makhluk yang berkendara hanya memakai peci tanpa helm berboncengan dengan wanita memakai mukena dan juga tidak menggunakan helm, mungkin mereka berpikir, peci branded atau mukenah cetarnya itu bisa melindungi kepala dan otaknya dari kerasnya aspal jalan jika terjadi sesuatu. Naudzubillah. Belum sampai disitu, tidak mau kalah saing dengan iklan sirup, mereka menginvasi segala sudut kehidupan, termasuk di media sosial. Foto-foto mereka dengan busana muslim lengkap dengan peci branded dan mukenah cetarnya menghantui kehidupan media sosial saya, lengkap dengan caption-caption Islami. Kemunculannya hampir sama dengan foto Valak, si hantu The Conjuring 2. Mengerikan.

Buka bersama berkedok silaturahmi

Masih ada lagi yang hits di bulan Ramadan, silaturahmi. Undangan-undangan buka puasa bersama yang katanya untuk silaturahmi datang secara tiba-tiba dengan bersamaan. Mulai dari teman PAUD sampai teman kuliah mengadakan buka bersama berkedok silaturahmi ini. Niat yang sangat mulia. Tetapi, saya baru tahu kalau silaturahmi juga ternyata butuh waktu tersendiri, seperti bulan Ramadan ini. Untuk kasus ini, Anda bisa menjadikan unggahan foto buka bersama lengkap dengan check in-nya di media sosial sebagai indikatornya. Saya bingung menentukan antara silaturahmi dan tren.

Achmad Nirwan

Prokrastinasi yang Berlipat Ganda

Beraktivitas di bulan puasa yang seringkali mempengaruhi untuk mager alias malas bergerak, membuat saya berusaha mencegahnya dengan bekerja dua kali lipat dari biasanya. Bekerja apa saja dan menyibukkan diri. Selain target utama yaitu bisa menjalankan shalat tarawih sampai hari terakhir dan rajin membaca Al-Quran sampai khatam, saya ingin bisa meluangkan banyak waktu membaca beberapa buku yang saya beli. Namun, seiring menjelang kepergian Ramadan, saya masih saja menghadapi satu musuh besar bernama prokrastinasi. Sifat buruk dari kehidupan sehari-hari ini pun mengakibatkan saya semakin sulit merealisasikan semua target utama di bulan Ramadan tahun ini.

Entah mengapa, hal yang sama sepertinya sedang terjadi Kemensetneg RI. Kemensetneg masih menunda untuk mengungkapkan data dan informasi Tim Pencari Fakta kasus pembunuhan Munir yang dimiliki mereka, menurut informasi dari KontraS. Saya mengetahui hal ini setelah melihat sebuah cuitan dari akun di Twitter pada 22 Juni lalu yang memberi info tentang sidang pertama KontraS dalam Sengketa Informasi Publik tentang Munir. Di sidang pertama kemarin, Kemensetneg bahkan tidak hadir dalam sidang selaku termohon. Oh, come on, Kemensetneg.

Kemensetneg bahkan sempat berkilah tidak mengetahui keberadaan data dan badan publik yang mengetahui informasi tersebut. KontraS tentu saja bersikap gigih meminta informasi hasil penyelidikan TPF Munir, karena sesuai dengan Keppres no.111/2004 yang menjanjikan bahwa hasil penyelidikan harus diumumkan kepada masyarakat. Perlu diketahui, Tim Pencari Fakta Munir telah menyerahkan berkas penyelidikan kepada Presiden pada 11 Mei 2005. Namun hingga kini belum kunjung diumumkan. Dari fakta ini, saya pun tersadar dengan interpretasi Efek Rumah Kaca tentang Munir lewat lirik Di Udara. Kronologi pembunuhan Munir ternyata belum terungkap seluruhnya jika menilik dari informasi yang sering saya baca di media.

Melihat dalih Kemensetneg tersebut, alih-alih membuat saya mengoreksi diri sendiri. Apakah berkah Ramadan tahun ini tak cukup menggugah manusia untuk mengungkap kebenaran, seperti halnya saya yang masih suka menunda-nunda untuk hal yang baik?

Brandon Hilton

Sensasi yang Lebih Nikmat dari Es Pisang Ijo dan Es Buah

Walau saya tidak menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, pisang ijo dan es buah adalah kuliner sehari-hari yang menurut saya paling heboh dibicarakan selama di bulan Ramadan. Fenomena ini tentunya berkah bagi penjual es buah dan pisang ijo, dibandingkan bulan lainnya.  Karena faktor menahan lapar dan dahaga, membuat dua sejoli ini menjadi menu pilihan yang seakan spesial di bulan ramadan. Permainan warna yang aduhai, terutama es buah dengan segala yang terkandung di dalamnya, juga dengan hadirnya pelengkap yaitu es batu membuat es buah lebih menggugah dari bulan-bulan lainnya. Sedangkan es pisang ijo, kuahnya yg warna putih (saya tidak tahu apa namanya) dicampur dengan sirup DHT dan susu, membuat pisang ijo yang sederhana menjadi primadona. Glek!

Kemal Putra

Razia Warung Makan

Razia juga merupakan kegiatan yang populer di Bulan Ramadan. Biasanya dilakukan di tempat hiburan dan penjual minuman keras yang umumnya dilakukan oleh ormas yang mengatas-namakan Islam. Kecuali yang baru-baru ini terjadi, razia warung makan. Menariknya, bukan ormas, melainkan dijalankan oleh satpol PP atas perintah pemerintah daerah.

Saya sebenarnya tidaklah begitu paham dengan tujuan dari razia ini, mengingat Indonesia tidak pernah ditetapkan sebagai negara Islam. Jika sebuah daerah dikenai peraturan tidak boleh membuka warung makan selama bulan Ramadan, bukankah ini sama saja sebagai peraturan anti-demokrasi?

Tapi ada juga yang berpendapat bahwa tujuan dari razia ini adalah untuk menghormati orang yang berpuasa. Bagi saya pendapat seperti ini ibarat menyuruh perempuan untuk memakai pakaian tertutup agar tidak diperkosa oleh laki-laki. Kenapa bukan laki-lakinya yang diajari untuk tidak memperkosa? Kenapa bukan orang berpuasa yang diajari menahan diri? Toh, bukankah hakikat dari berpuasa adalah menahan hawa nafsu.

Jika bukanya warung-warung makan di bulan Ramadan dianggap pelecehan terhadap orang yang berpuasa, maka saya pikir dirazianya warung-warung makan ini juga sebenarnya adalah bentuk pelecehan pemerintah bagi orang yang berpuasa. Sebegitu lemahkah iman kita? Dianggap seremeh itukah iman kita? Hingga kita harus dilindungi dari berbagai godaan melalui cara razia?

Saya percaya razia warung makan ini jelas untuk menjaring muslim yang tidak berpuasa, tapi pasti memiliki dampak juga bagi non-muslim. Hanya karena Ramadan adalah bulan yang penting dan suci bagi umat muslim, bukan berarti memaksakan seluruh masyarakat Indonesia untuk meyucikan dan menganggapnya penting.

Fami Redwan

Cerita Horor

Mungkin karena kita betul-betul percaya kalau setan pasti dirantai, atau karena Ramadan memang adalah bulan yang mengakrabkan, kita jadi sering menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman. Mungkin karena efek buka puasa yang memberikan kita tiba-tiba banyak energi hingga kita mendadak jadi makhluk yang senang bercerita, entahlah. Mungkin semua benar adanya. Mungkin sebagian saja. Tapi sepengetahuan dan sepengamatan saya, kita jadi suka dengan cerita-cerita horor. Mungkin juga karena topik tentang lawan jenis atau yang menjurus ke arah pornografi/aksi, dilarang.

Awalnya cuma cerita-cerita hantu lokal. Suara-suara dari empang dekat rumah. Atau anak-anak nakal yang menabur garam di atas darah sisa kecelakaan di perempatan depan kompleks. Kemudian melebar ke level kota. Lapangan Karebosi jaman dulu, Sumiati, sampai ke penampakan legendaris kota ini di era internet. Hantu di Rumah Sakit Pelamonia yang sampai masuk koran segala, dan kuntilanak di atas pohon di Jln. Nuri. Sesekali topiknya juga menyentuh area science fiction. Hantu ATM yang berkeliaran di lokasi-lokasi acak kota Makassar. Namun hanya bisa terlihat oleh mata yang sebelumnya pernah menyaksikan film Interstellar saja. Apapun topik dan genrenya, kita tidak takut dengan cerita hantu, mistik, dan horor. Kalaupun bukan kita: Saya. Tidak takut. Cerita-cerita horor adalah genre hiburan utama saya di bulan puasa ini.

Namun cerita horor yang bagus adalah yang bagian seramnya datang tanpa perlu mengagetkan. Pelan-pelan. Dan pada saat disadari oleh sang korban, dia sudah terlambat untuk diselamatkan. Seperti tadi malam, PSM kalah lagi di kandang. Di depan keluarganya sendiri. Dalam stadion kebanggaan yang tribunnya ditumbuhi rerumputan. Dan setelah melihat statistik musim ini, ZING! Saya mulai sadar kalau sepertinya PSM salah asuhan. Dan semua pernyataan yang pernah dan akan kita baca di koran, hanyalah doa-doa yang tidak diaminkan. Sudahlah. Lebih baik saya pulang saja. Sebelum malam terlalu seram untuk diajak berkeliaran. Karena setelah mendengar berita baik soal TNI yang mau ikut turun menumpas begal, seharusnya mampu menjadi harapan besar, tiba-tiba ikut menjadi horor setelah pak gubernur kita bikin pernyataan kalau tattoo adalah salah satu penanda kriminal. Profilisasi. Dan terealisasi. Orang-orang di jalan diperiksa kulitnya. Ini situasi yang sudah horor juga namanya, terutama bagi saya yang kulit berwarna. Bukan karena saya harus selalu membawa satu objek dalam tas untuk membuktikan kalau saya bukan preman atau jambret atau semacamnya, namun karena dengan diterapkannya sistem yang menilai orang dari wujudnya, adalah pembuktian dalam skala besar kalau sebenarnya kita ini masih hidup di liga tarkam, metropolis kabupatensis, kota pantai yang penduduknya susah santai. Astaga.

Kenyataan selalu lebih horor dari film tentang setan.


Baca artikelnya lainnya

Sepuluh Tahun Kemudian

Makassar, In-The-Not-So-Distant Future

Dunia Nirkata Selepas Jatah 130 Kata

Lomba-Lomba yang Dirindukan

Mari Melihat Api Bekerja

Musisi Indie Makassar Favorit